Minggu, 23 Maret 2014
Minggu, 16 Maret 2014
Sirih Merah
Malam merayap kian larut. Bulan bintang bersembunyi dalam kegelapan malam. Tak tampak wujudnya walau sebentar. Miranti tertegun diruangan remang, dengan sekotak kayu antik yang berisikan peralatan menyirihnya. Sudah malam keberapa Miranti menekuni mengunyah sirih. Anehnya, hal itu dilakukan olehnya hanya pada malam hari.
Tubuh Miranti yang kurus kering terbungkus gaun tidur berwarna kehijauan, rambutnya yang tergelung terhiasi oleh tusuk konde kayu mungil, kulitnya yang pucat menatap pemandangan diluar jendela. Angin seakan tidak berhembus, semua terasa senyap, sepi.
Miranti menatap tangannya yang kurus, jemarinya yang seakan bagaikan ranting kering rapuh.
**
"ahh...", desah Miranti.
Miranti bukannya melakukan diet seperti gadis-gadis diluaran sana, Miranti hanya tidak bisa mengkonsumsi makanan seperti layaknya orang normal. Selama ini Miranti tumbuh besar hanya dengan mengunyah daun kemangi, kembang kantil, kopi hitam pahit dan air putih saja.
Pernah suatu ketika, saat Miranti masih berusia tujuh tahun, Bude-nya memaksa Miranti untuk makan nasi, roti dan makanan normal lainnya. Miranti muntah-muntah dan pingsan, sehingga Miranti harus dilarikan ke rumah sakit. Semenjak kejadian itu, seluruh anggota keluarga Miranti tidak pernah lagi memaksa Miranti untuk makan makanan seperti mereka.
"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."
Begitu orang-orang satu desa menjulukinya. Tak ada satupun anak gadis di desa yang mau berteman dengan Miranti, tak ada satupun pemuda di desa yang berani mendekati Miranti. Miranti terpaksa berhenti sekolah dan belajar dirumah, karena orang orang tua di desa melarang anak mereka bersekolah, jika Miranti masih duduk satu kelas dengan mereka. Miranti kecil hanya bisa menangis dipangkuan Bude, saat Romo menjemputnya disekolah dan berkata bahwa Miranti tak perlu bersekolah lagi. Miranti kecil tak tahu apa-apa, Bude-nya hanya berkata bahwa karena Miranti anak seorang tuan tanah, orang-orang desa segan terhadap Miranti, takut kepada Miranti. Miranti kecil menangis sepanjang malam dipangkuan Bude.
Kesedihan Miranti kecil tidak berlangsung lama, berberapa minggu kemudian, saat Romo pulang dari kota, Romo membawa seorang wanita cantik bergincu merah untuknya. Seorang guru untuknya, kata Romo. Wanita cantik itu mengajari Miranti membaca, menulis, berhitung, semua hal yang dipelajari di sekolah.
Kini usia Miranti telah beranjak 17 tahun, kulit tubuhnya pucat karena jarang keluar rumah. Wanita bergincu merah yang menjadi gurunya sudah jarang mengunjungi Miranti di pavilliun tempat Miranti tinggal.
"Bude, Miranti ingin sesekali mengunjungi Romo di perkebunan.", ujarnya suatu ketika.
Bude terkejut mendengar kata-kata Miranti. Kemudian Bude tersenyum, mengamit jemari Miranti dan mengajaknya berjalan keluar pavilliun.
Siang ini udara terasa lembab. Matahari mengintip malu-malu dari balik pepohonan yang memenuhi jalan setapak. Miranti menggenggam erat jemari Bude yang menuntunnya pelan. Sudah lebih dari 8 tahun Miranti menolak untuk keluar dari pavilliunnya. Tak ingin merepotkan Romo dan Bude katanya. Apalagi pandangan orang-orang desa seakan takut terhadapnya. Tapi kali ini berbeda, entah kenapa Miranti merasa rindu akan perkebunan dimana saat Miranti kecil bermain sendiri, memetik buah mangga dan jeruk diantara pepohonan rimbun dan teriknya mentari.
Miranti tersenyum riang saat melihat Romo berdiri tegap menyambutnya.
"Romo...", Miranti berjalan cepat dan mencium tangan Romo dengan santun.
Romo membelai lembut kepala Miranti.
"Tuan.."
Suara seorang pria mengejutkan Miranti. Membuatnya menoleh ke asal suara. Bola mata Miranti menatap sesesok pria tegap yang mengenakan kaos putih dan jins kebiruan yang terlihat cukup usang. Kulitnya terlihat berwarna kontras dengan kulit Miranti yang putih pucat, kulitnya terlihat kecoklatan terbakar sinar matahari, bola matanya berwarna coklat muda, rambutnya tersisir rapi, tampan, kekar.
Miranti tertegun, dan kemudian kembali memandang Romo, berpamitan untuk mengelilingi perkebunan.
Miranti berlari kecil laksana bocah yang kegirangan. Wajahnya tersenyum malu, rona merah terlihat kabur di pipinya yang tirus. Jantungnya berdebar kencang, bergemuruh.
**
Malam ini Miranti meringkuk diatas ranjangnya. Lampu meja masih menerangi ruangan malam ini. Miranti membolak-balik lembar demi lembar buku yang harusnya dia selesaikan. Tetapi apa daya,Miranti tidak bisa fokus untuk membaca kata demi kata yang tertuang diatas kertas. Pikirannya berkelana kesosok pria yang dia lihat tadi siang.
Dari Bude, Miranti mengetahui bahwa pria tersebut adalah salah satu pria kepercayaan Romo. Pria itu berasal dari kota seberang. Pemuda tampan yang pintar, lulusan terbaik di universitas negeri. Pria tampan yang bernama Putra.
Miranti menutup wajahnya yang merona dengan selimut.
Apa ini pikirnya.
Hatinya berdentang tak teratur hanya dengan mengingat sosok pemuda tersebut. Sepertinya Miranti remaja jatuh cinta, hanya saja dia belum menyadari hal tersebut.
**
Sudah berminggu-minggu berlalu, Miranti remaja mulai sering mengunjungi perkebunan. Untuk mengamati pekerkebunan, membaca buku di antara pepohonan rindang, dan melirik ke arah pemuda itu. Ada rasa aneh yang menggelitik dihati Miranti saat pemuda itu tersenyum kepadanya, ataupun membawakannya segelas air putih atau kopi hitam. Miranti baru menyadari bahwa pemuda itu tidak seperti pekerja-pekerja lain di perkebunan yang menghindar saat melihatnya. Miranti tidak melihat binar takut di bola mata pemuda itu. Pemuda itu berbeda, begitu berdeda.
Dan saat ini, pemuda itu, Putra, menemani Miranti yang duduk diantara pepohonan rindang, sinar mentari mengintip dari balik dedaunan yang bergemerisik tertiup angin.
Mereka bercengkrama walaupun tidak banyak kata yang bisa Minarti ucap diantara debar jantungnya.
Minarti menikmati cerita-cerita Putra tentang kota, tentang perkebunan, tentang apa yang Romo, Putra dan pekerja lainnya lakukan di perkebunan.
Bulan berganti bulan. Miranti tertegun saat Putra mengecup jemarinya yang kurus kering diantara bunga-bunga bakung dan mentari yang mulai tenggelam di sisi barat.
"Aku menyukaimu..Sepertinya Aku jatuh cinta kepadamu Ranti.", ujar Putra.
Jantung Miranti seakan melompat keluar, ini seperti cerita romantis yang kerap dia baca di novel-novel yang menggunung di kamarnya. Wajah Miranti menunduk, langit senja tak mampu menyembunyikan rona merah diwajahnya yang putih pucat. Perkebunan mulai sepi, hanya ada angin semilir yang berlalu lalang diantara pepohonan rimbun dan langit senja yang kemerahan.
Miranti sudah remaja, Miranti sudah berusia 17 tahun. Miranti sudah remaja, Miranti kini berusia 17 tahun. Miranti remaja kini jatuh cinta, Miranti kini berusia 17 tahun dan merasakan ciuman pertamanya diantara pepohonan rindang, angin yang bertiup semilir dan langit senja yang berwarna kemerahan. Rasanya...manis..
**
"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."
Kata-kata itu mulai bergaung ditelinga Miranti.
Miranti menggelengkan kepalanya, nafasnya memburu, lelah. Kakinya tak berhenti berlari menembus perkebunan menuju pavilliunnya. Peluh bercucuran ditubuhnya yang kurus. Kulitnya yang pucat terlihat semakin pucat diantara sinar bulan purnama yang berpijar sedih malam ini.
"Sebentar lagi kita sampai sayang.", ujar pemuda itu lembut.
Miranti menguatkan dirinya yang kelelahan, memandang punggung Putra yang berlari menggenggam jemarinya menembus malam.
Laju lari mereka terhenti didepan pavilliun. Romo, wanita bergincu merah yang sering Miranti sebut guru, Bude, dan beberapa pekerja perkebunan sudah berdiri menunggu mereka disana. Wajah Romo tampak murka. Bude hanya bisa menangis menatap Miranti dan Putra yang terengah masih berpegangan tangan.
Dengan kasar Romo menarik jemari Miranti, melepaskan pegangan tangan mereka. Miranti menangis, menjerit, memohon kepada Romo agar jangan memisahkan dirinya dengan Putra. Wanita bergincu merah, berwajah tidak lebih murka, menyeret Miranti dan menamparnya. Airmata membasahi wajah wanita bergincu merah.
"Kalian bersaudara, kalian saudara, kalian sedarah, kalian seayah, kalian tidak bisa saling bersama, kalian tidak boleh saling mencinta.", ujarnya pilu sembari menampar Miranti dan Putra.
Miranti terjatuh ke tanah, Putra berlari dan berlutut sembari memeluk tubuh Miranti yang kurus. Romo terlihat kian murka. Diambilnya sapu yang bertangkai bambu, dan dipukulinya tubuh Putra dan Miranti berkali-kali. Dari balik gaun Miranti yang putih, darah mengucur deras. Kemaluannya mengeluarkan darah. Miranti menjerit kesakitan.
"TUAN HENTIKAN!!! MIRANTI SEDANG MENGANDUNG...MIRANTI SEDANG MENGANDUNG ANAKKU!!!", jerit Putra.
Romo tersentak, tubuhnya kemudian limbung. Romo menangis pilu.
"Ini salahku, ini kutukanku.", erang Romo pilu.
Dengan tubuhnya yang penuh lebam, Putra menggendong tubuh Miranti yang masih saja mengeluarkan darah. Bude berlari kearah mereka, tak dia perdulikan lagi kemurkaan Romo dan wanita bergincu merah. Bagi Bude, Minarti sudah seperti anaknya sendiri, walaupun Miranti tidak dia kandung dalam rahimnya, walaupun Miranti tidak dia lahirkan dari lubang vaginanya sendiri.
Wanita bergincu merah menatap nanar, bibirnya bergetar, kata-kata yang sanggup keluar dari bibirnya terdengar tidak teratur.
"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."
Diambil parang dan diarahkan kearah Miranti.
"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."
"Miranti harus mati."
Rembulan terlihat begitu bulat malam ini, rembulan terlihat begitu sedih malam ini, rembulan terlihat begitu pilu malam ini. Malam kian terasa pilu diantara jerit tangis Miranti yang memilukan diantara darah yang masih mengucur dari kemaluannya, diantara darah yang mengalir dari kepala Putra.
**
Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, itu yang Putra ajarkan kepada Miranti dulu.
Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, lalu kunyah perlahan, rasakan dengan indra perasamu. Disana ada rasa asam, pahit dan sedikit manis yang bergumul menjadi satu. Seperti itu kata-kata Putra waktu itu.
Sudah 3 tahun berlalu dari malam itu. Sudah 3 tahun berlalu semenjak Putra mati didepan matanya.
Dalam waktu 3 tahun, akhirnya Miranti mengetahui bahwa wanita bergincu yang Miranti sebut guru itu adalah gundik Romo. Mereka berhubungan jauh sebelum Miranti lahir, jauh sebelum ibu Miranti meninggal. Putra adalah anak hasil hubungan mereka. Putra tidak pernah tahu siapa ayahnya, Putra hanya tahu bahwa Romo adalah seorang tuan tanah yang berbaik hati kepada ibunya dan memberikan mereka pekerjaan.
Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, itu yang Putra ajarkan kepada Miranti dulu.
Segerus
kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu,
lalu kunyah perlahan, rasakan dengan indra perasamu. Disana ada rasa
asam, pahit dan sedikit manis yang bergumul menjadi satu. Seperti itu
kata-kata Putra waktu itu.
Miranti tertegun diruangan remang dengan sekotak kayu antik yang
berisikan peralatan menyirihnya. Sudah malam keberapa Miranti menekuni
mengunyah sirih, Miranti sudah lupa. Malam ini rembulan kembali bersinar pilu. Miranti mengambil segerus kapur, sejumput tembakau, menambahkan sedikit pinang kedalam daun sirihnya. Dimasukkan perlahan kedalam bibirnya yang kemerahan oleh sisa-sisa kunyahan sirih selama bertahun-tahun, kemudian dikunyahnya perlahan demi perlahan.
Malam ini rembulan terlihat begitu bulat, malam ini rembulan terlihat begitu sedih, malam ini rembulan terlihat begitu pilu. Terlihat sosok tubuh wanita didalam ruangan dengan sekotak kayu antik yang berisikan peralatan menyirihnya. Air matanya mengalir, meratapi kekasihnya yang tiada, meratapi kekasihnya yang tiada.
Malam ini rembulan terlihat begitu bulat, malam ini rembulan terlihat begitu sedih, malam ini rembulan terlihat begitu pilu. Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu,
lalu kunyah perlahan, rasakan dengan indra perasamu. Disana ada rasa
asam, pahit dan sedikit manis yang bergumul menjadi satu. Kemudian, ingatlah diriku..selalu.
Sabtu, 15 Maret 2014
Heart in a Jar
Satu langkah,
Dua langkah,
Tiga langkah,
Kemudian terhenti.
Apa terlalu cepat ?
Apa terlalu lambat ?
Apa terlalu dekat ?
Apa masih kurang dekat ?
Apa terlalu dekat ?
Apa masih kurang dekat ?
Haruskan melangkah kembali ?
Haruskah ?
Minggu, 09 Maret 2014
The Painting
Biarkan lukisan itu tetap menjadi lukisan.
Biarkan saja itu terlukis disana, diatas dinding.
Tak perlu pigura, tak perlu hiasan.
Biarkan lukisan itu tetap menjadi sebuah lukisan.
Biarkan lukisan itu ada disana hingga lamur termakan waktu.
Langganan:
Postingan (Atom)
