Minggu, 13 Desember 2015

Sentuh

Aku tak ingin menyentuh tubuhmu, sayang.
Aku hanya ingin menyentuh jiwamu, hatimu.
Aku hanya inginkan hatimu, untukku.

Sabtu, 05 Desember 2015

Apa

Apa aku masih kamu sebut disetiap doa-mu?
Aku masih.
Apa aku masih ada didalam hati-mu?
Aku masih.
Apa aku masih ada dipikiran-mu sepanjang hari?
Aku masih.
Apa aku masih ingin kau halalkan?
Aku..
Apa aku masih mencintai-mu?

Kamis, 26 November 2015

Disorder

Cutter, pisau, silet. Tiga benda diatas meja yang sedang aku pandang saat ini. Tiga pilihan yang sulit, aku harus memilih salah satu dari mereka dengan hati-hati.
Ah, baiklah. Aku telah menetapkan pilihan.
Aku raih cutter perlahan, silet terlalu kecil untuk ku pegang, sedangkan pisau terlalu besar untuk kugenggam saat ini.
Pandanganku teralih kepadanya. Sesosok wanita dengan tubuh yang berukuran sedang. Rambut hitamnya terkulai dibahunya yang terbuka.
Aku tersenyum, dia tersenyum.
Ku torehkan perlahan mata cutter yang tajam ke lengannya yang kecil. Bola matanya menatapku, wajahnya melihat ke wajahku, tak ada rasa sakit yang terpancar disana. Wajahnya seakan bertanya, 
"apa yang terjadi?".
Aku tersenyum, dia tidak tersenyum.
Aku raih kembali tangannya.
Ku torehkan perlahan mata cutter yang tajam ke lengannya yang kecil. wajahnya masih menatapku. Tak terpancar sedikitpun rasa nyeri disana.
Aku merasakan jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Debaran yang merupakan reaksi dari rasa ngeri dan keingintahuan.

Aku torehkan mata cutter berkali-kali ke kedua tangannya. Kali ini dengan cepat. Darahnya yang berwarna merah pekat mengalir dari torehan cutter-ku. Aku terlonjak kegirangan melihat banyaknya warna merah pekat yang merembes keluar. Wangi anyir, manis menyeruak di indera penciumanku.
Aku melirik kearahnya, tetapi raut wajahnya masih tetap sama.
Jantungku kembali memompa darah dengan kecepatan yang lebih dari biasanya. Aku tahu itu adalah reaksi dari rasa keiingintahuanku yang semakin tinggi, dan rasa ngeri akan wajahnya yang tanpa ekspresi.

Aku menarik nafas panjang.
"Aku tau kamu hidup sayang. Manusiakan dirimu. Menjerit, berteriaklah jika kamu mulai merasakan sakitnya.", gumamku pelan.

Aku menorehkan ujung cutter ke seluruh tubuhnya. Tangannya, bahunya, pahanya, betisnya.
Pakaiannya mulai basah dengan darah.
Tetapi aku tidak dapat berhenti menorehkan ujung cutter ketubuhnya.
Begitu menyenangkan, begitu mengasyikkan, begitu menjadi candu. Aku menginginkannya lagi, lagi dan lagi.
Gerak tanganku terhenti saat mulai terasa lelah, nafasku terengah. Aku mencoba menarik nafas panjang, memenuhi rongga paru-paruku dengan banyak oksigen. Berusaha menenangkan euforia yang bergaung diotak dan tubuhku.
Aku menatap wajahnya. Dia masih berdiri dengan wajah tanpa senyuman, tanpa raut kesakitan, tanpa ekspresi. tubuhnya penuh luka yang tertutup warna merah segar yang pekat.
aku menyentuh wajahnya yang terlihat pucat tanpa ekspresi.
Kubelai rambutnya yang hitam, kubelai dahinya, kubelai matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, dagunya, lehernya, bahunya, payudaranya, perutnya, pinggulnya, kubelai seluruh tubuhnya.
Tetapi dia hanya diam, diam tanpa ekspresi, hanya nafasnya saja yang memberikan isyarat kepadaku bahwa dia bernyawa.

"Aku menyukaimu, sangat. Aku mencintaimu, benar. tetapi aku juga membencimu. Apa kau tau reaksi yang terjadi saat kedua rasa itu saling tarik menarik dan kemudian berbenturan menjadi satu?", tanyaku.

Dia menatapku dalam diam, bola matanya yang coklat pekat seakan menarik jiwaku kedalam isi otaknya yang tidak ingin dia utarakan. Aku sungguh membenci kebisuannya. Ku lempar cutter ditanganku dengan kesal. Ku cekik lehernya yang kecil dan kubenturkan tubuhnya berkali-kali ketembok. Wajahnya memerah, bibirnya bergerak-gerak berusaha menghirup udara, tetapi tubuhnya tidak meronta, tidak melawanku. Ah, ku lepas cengkraman jemariku dari lehernya. Kupeluk tubuhnya erat, begitu erat. Dalam saat yang bersamaan, aku ingin mencabik-cabik tubuhnya dengan kedua tanganku. aku ingin mengambil jantungnya, aku ingin mengorek isi otaknya agar aku tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.

Kulepas pelukanku saat merasakan airmata menetes dibahuku. Kutatap wajahnya yang masih bersih tanpa luka. Matanya basah oleh airmata.

"Maaf, maaf...maaf....maafkan aku.", ujarku pelan.

"Jangan menangis sayang...maafkan aku.", ujarku parau.

Aku membelai pipinya yang basah oleh airmata. aku usap matanya yang panas dan basah oleh airmata. wajahnya memerah oleh darah yang berlumuran dijemariku.

"Kamu, terlhat begitu indah saat ini..", ujarku tersenyum.

Ya, dia terlihat begitu indah saat ini. Begitu cantik dengan warna merah pekat yang menghiasi wajahnya diantara airmatanya yang kian deras. Dia begitu indah dan cantik dengan luka-luka disekujur tubuhnya yang basah oleh darah yang berwarna merah pekat.

Aku tersenyum, dia tersenyum diantara airmatanya yang mengalir deras.

Aku ingin merasakannya lagi.
Aku sungguh ingin merasakan euforia ini lagi.

Ku raih pisau yang tergeletak diatas meja. Ku tikam tubuhnya berkali-kali dengan pisau. Perutnya, dadanya, pahanya. Warna merah pekat seakan menari diudara, menebarkan aroma anyir, manis dihidungku.

Euforia kembali mendatangiku.
Euforia kembali menghampiriku.
Dan aku menatap tubuhnya yang masih berdiri menatapku.

Tubuhku basah oleh warna merah pekat segar. Rasa nyeri menjalar disetiap tubuhku; kelelahan.
Bola matanya memandangku dengan pertanyaan, 'mengapa?'. 
Nafasku tercekat. rasa nyeri menderu kian pekat.
Kutatap tubuhnya yang basah oleh darah. Kutatap tubuhku yang juga basah oleh darah.
Kutatap kedua tangannya yang basah oleh darah. Kutatap juga tanganku yang basah oleh darah.
Euforia-ku terhenti.
Tubuhku jatuh kelantai, tubuhnya jatuh kelantai.
Aku menatapnya, mencoba menggapainya.
Dia menatapku, mencoba juga untuk menggapaiku.
Aku meraba perutku yang terasa nyeri.
Dia juga meraba perutnya yang basah oleh darah.
Aku tersenyum, dia tersenyum.
Aku menutup mataku perlahan, dengan senyum yang tak akan aku pupuskan.
Aku dan dia sehati.
Aku dan dia sejiwa.
Aku tak lagi sendiri.

Sayup-sayup kudengar suara menjerit dan suara derap kaki yang riuh mendekatiku. Ku buka mataku perlahan, orang-orang berbaju putih riuh mengelilingiku. Aku menatap tubuhnya yang juga dikelilingi orang-orang berbaju putih.
Tubuhnya bergoyang, orang-orang berbaju putih yang mengelilinginya ikut bergoyang.
Kemudian kulihat tubuhnya pecah, menjadi serpihan kecil, begitupun orang-orang berbaju putih yang mengelilinginya.
ah, cerminku pecah.
Tak lagi dapat kulihat dia disana. Aku memejamkan mataku yang terasa berat.
Tak bisa lagi ku lihat dia disana, diriku.

Senin, 26 Oktober 2015

Cermin

"Butuh berapa waktu untuk menyembuhkan luka hatimu, sayang?
Butuh berapa waktu untuk menghilangkan mimpi burukmu?
Butuh berapa waktu untuk memupuskan ketakutanmu, sayang?
Butuh berapa waktu lagi?
Adakah yang lebih sabar dari aku?
Adakah yang lebih setia daripada aku?
Adakah yang lebih sudi untuk menunggu hingga kamu siap?
Adakah yang lebih mengerti daripada aku?
Setiap airmata yang jatuh, tanganku yang menghapusnya.
Setiap mimpi burukmu datang, aku yang ada untuk memelukmu.
Setiap pikiranmu mulai sibuk berlalu lalang, aku yang ada untuk menenangkanmu.
Setiap kata maafmu meluncur, aku selalu memaafkanmu.
lalu, adakah yang lebih dari aku?
Mungkin, aku dan kamu diciptakan hanya untuk selalu bersama.
Mungkin, aku dan kamu diciptakan hanya untuk sendiri.
Ku katakan, ikhlaskan saja sayang.
Ku katakan saja, lepaskan saja sayang.
Ku katakan, maafkan saja sayang."

 Ku sentuh wajahnya yang pucat dibalik cermin dingin,
wajahku.

Kamis, 22 Oktober 2015

Senja Dua Hari


Melukis Senja

Sore ini, langit terlihat mendung. Warna kelabu bergelayut sendu diatas sana. Aku mulai bersenandung kecil, melangkahkan kakiku menuju dapur, menghidupkan kompor, merebus air untuk membuat kopi. Bukankan secangkir kopi panas cocok sekali dinikmati saat cuaca seperti ini datang?!
Langit mulai terlihat lebih gelap dari sore biasanya. Terlihat dari jendela dapur, Bude Nissa berlari dihalaman belakang berusaha menyelamatkan jemuran yang terbang tertiup angin. Aku tertawa kecil saat Bude Nissa mulai merutuk dalam bahasa Belanda. Kurasa memang sulit bagi Bude Nissa untuk mengucapkan bahasa indonesia saat dia sedang kesal dan marah.

Aku menyesap secangkir kopi hitam manis diteras rumah. Hujan tak kunjung turun, walaupun awan kelabu sudah memenuhi langit senja ini. Aku berhenti menyesap kopi dalam cangkirku saat Alsha, Sepupuku yang berusia 24 tahun, berjalan pelan menuju teras. wajahnya terlihat sendu, tangannya melambai diudara, terlihat seperti ingin menyentuh langit kelabu.
Aku meletakkan cangkir kopiku dan mendekati Alsha.

"Sebentar lagi hujan Alsha, anginnya terlalu kencang untukmu. Masuklah kedalam rumah.", ujarku lembut.

"Sebentar mas, Aku sedang melukis senja. Biar awan kelabu tak pernah datang, biar mereka tak pernah muncul.", ujar Alsha perlahan.

Aku menatap wajah Alsha dengan penuh tanda tanya. Hujan rintik pun turun, Aku meraih tubuh Alsha kedalam pelukku dan membawanya memasuki rumah.



Menghapus Senja


Alshshafq Jamil Anissa Putri, sudah 5 tahun berlalu semenjak aku melihat Alsha. Dulu, aku selalu menghabiskan liburanku 2 kali dalam setahun ditempat ini. Alsha yang cantik, kulitnya berwarna gading, hidungnya yang bangir, bibirnya yang berwarna muda, senyumnya yang begitu manis, tawanya yang renyah dulu membuatku tergila-gila. Berapa banyak teman-temanku mengatakan bahwa aku sudah gila, tergila-gila kepada sepupuku sendiri. Walaupun Aku menjelaskan bahwa Alsha adalah sepupu jauhku, Alsha adalah cicit dari adik perempuan kakek buyutku, tetap saja mereka mengatakan aku gila. Aku tidak gila, aku hanya jatuh cinta.

Aku tidak jatuh cinta sendiri, Alsha pun jatuh cinta kepadaku. Sudah berapa puluh ciuman yang ku layangkan dibibirnya secara sembunyi-sembunyi waktu dulu. Dan betapa murkanya kakek sewaktu memergokiku mencium bibir Alsha senja 5 tahun yang lalu. Kakek mengusirku, dan berusaha menjauhkanku dengan Alsha, yang teramat kakek sayangi, melebihi cucu kandungnya sendiri.
Hari ini, tepat 5 tahun 45 hari, aku melihat Alsha dengan cara yang berbeda. Alsha tidak lagi seperti dulu. Alsha masih tetap cantik, bibirnya masih tetap terlihat sama, hanya saja dirinya tidak lagi seriang dulu. Terkadang, aku melihatnya hanya duduk sembari melukis, aku jarang mendengarnya berbicara, aku tak lagi melihatnya tersenyum, aku tak tahu apa yang terjadi padanya selama 5 tahun berlalu.

Senja ini, matahari memancarkan semburat oranye yang indah dilangit. cahayanyaa menembus jendela, menyinari wajah Alsha yang sedang menikmati kanvasnya. Sejenak Alsha menengok melihat keluar jendela, kuas dijemari tangannya diletakkan secara kasar, Alsha meraih kain bekas thinner dipangkuannya. Alsha berlari menuju pekarangan. Tubuhnya mengejang kaku, jemarinya yang memengang kain bekas thinner melambai diudara, bergerak secara acak.

30 menit berlalu, Alsha masih melakukan gerakan yang sama, tetapi jemarinya semakin lama semakin cepat dan mantap. Aku menghampiri Alsha.

"Sebentar lagi magrib tiba Alsha, masuklah kedalam rumah.", ujarku dengan sabar.

"Aku sedang menghapus senja mas, agar senja seperti ini tidak pernah datang.",ujar Alsha.

"Kenapa..?", tanyaku lirih.

"Karena saat senja berwana seperti ini, mas pergi, dan tak pernah kembali.", ujarnya pilu.

 Aku tersentak, kemudian merengkuh Alsha kedalam pelukku. Alsha sepupuku tersayangku. Entah apa yang terjadi kepadanya selama 5 tahun ini.



Senja 1870 Hari yang Lalu


**

Aku mengemas pakaianku kedalam koper dan pergi dalam keadaan tergesa dari rumah kakek. Hanya nenek dan bude Nissa yang mengantarku sampai kestasiun kereta. Mereka menatapku dengan pandangan menyesal dan memelukku tanpa suara.
melepas kepergianku dengan kata, "Hati-hati dijalan nak, sampaikan salam kami kepada ayah ibumu.".

Aku tersenyum getir, memandang senja berwarna oranye dari jendela kereta.


**

Alsha bergegas meninggalkan rumah. Senja oranye mulai berganti dengan awan kelabu, Jalanan mulai sepi, Alsha terengah dipinggir jalan dan memutuskan untuk beristirahat sebentar. Tak berapa lama, terlihat gerombolan pemuda yang berjalan kearah Alsha.

"Mbak, maaf, apa ada penginapan didekat sini?", ujar salah seorang pemuda tersebut.

Alsha menoleh, " Kira-kira 20 menit kearah kiri, ada beberapa penginapan mas. Tidak jauh dari stasiun kereta.", ujar Alsha.

Mereka meminta Alsha dengan sopan untuk mengantar hingga stasiun. Alsha mengangguk mengiyakan karena mereka akan berjalan searah.

Pemuda-pemuda ramah yang berasal dari kota, itu pikir Alsha.

10 menit mereka berjalan kaki, melewati taman rimbun yang sepi, senja oranye berganti dengan awan yang kian kelabu. Pemuda-pemuda tersebut tiba-tiba menarik Alsha menuju taman. Mendorong tubuh Alsha ditimbunan semak belukar yang tertutup pepohonan. Pakaian Alsha dilucuti paksa, Alsha menjerit, berteriak, tapi suaranya tak keluar bebas karena dibekap oleh tangan kasar mereka. Saat seorang pemuda menindih tubuhnya yang telanjang bulat, Alsha merasakan sakit yang luar biasa dikemaluannya. Seakan tubuhnya ditusuk belati tumpul, seakan tubuhnya dirobek dengan penuh marah. Alsha menjerit ketakutan, airmatanya tak berhenti mengalir.

Satu pemuda, pemuda kedua, pemuda ketiga, pemuda keempat, bergantian memperkosa Alsha senja itu. Hujan rintik mulai turun, dan Alsha tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kemaluannya.

4 jam kemudian, tubuh Alsha yang telanjang bulat ditemukan oleh pasangan tua yang melewati taman itu. Mereka mengenali Alsha dan langsung melarikan Alsha kerumah sakit.

Semenjak itu Alsha tak pernah sama lagi.


Rabu, 07 Oktober 2015

Diam

Gadis kopi tak lagi bersuara. Hatinya yang luka kian terluka. Tak ada secangkir kopi, gadis kopi ingin berhenti menjadi gadis kopi. Tak ada secangkir kopi, gadis kopi terlalu lelah untuk menyesap secangkir kopi.
Hari ini ( dan entah sampai kapan ), gadis kopi hanya ingin sendiri. Melindungi dirinya dari luka, membuat perlindungan kian tinggi bagi dirinya.
Gadis kopi bergelung, menjauhkan dirinya dari dunia.
Gadis kopi ingin dicintai, tetapi dirinya terlalu takut untuk terluka.
Berapa banyak mimpi buruk yang menghantui gadis kopi disetiap malam, tak terhitung berapa kali gadis kopi terbangun disetiap malam dengan airmata yang mengalir.
Tak ada secangkir kopi, hatinya kembali merapuh. Gadis kopi tak ingin terluka ataupun melukai hati lainnya.
Gadis kopi hanya ingin sendiri.
Gadis kopi tanpa kopi, bagikan pemimpi tanpa mimpi.
Gadis kopi berhenti bermimpi.

Kamis, 01 Oktober 2015

Menunggu

"Aku tak ingin bicara tentang hati, aku bosan bicara tentang cinta.", ujar gadis kopi.

Tukang kopi tersenyum dan menatap gadis kopi dengan lembut. Tangannya merengkuh kepala gadis kopi untuk bersandar dibahunya. Gadis kopi menghela nafas dan memejamkan matanya.
Jemari gadis kopi menyentuh dahi, mata, pipi, hidung, bibir tukang kopi.

"Aku ada, tapi siapa yang kau bayangkan saat ini?", ujar tukang kopi lirih.

Gadis kopi tersentak, jemarinya terhenti.

"Dia...", ujar gadis kopi pilu.

Sesaat ada luka yang terpancar dimata tukang kopi. Tetapi yang tukang kopi bisa lakukan hanyalah membelai lembut rambut gadis kopi dengan jemarinya.

"Jangan menjatuhkan hatimu padaku lebih dari ini. Menyakitkan.", ujar gadis kopi lirih.

"Biarlah begitu. Aku tak berharap banyak, hanya ingin menikmati waktu saat hati ini jatuh kepadamu. Pura-pura saja jatuh hati kepadaku, hingga kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.", ujar tukang kopi.

Gadis kopi bersandar dibahu tukang kopi. Gadis kopi bukan milik tukang kopi, hatinya pun bukan milik tukang kopi.
Sampai kapan?
Ah, biarkan saja saat ini seperti ini. Biarlah ini tetap menjadi urusan mereka.

Minggu, 27 September 2015

Untuk Gadis Kopi-ku

Setidaknya harus disadari bahwa saat mencintai seseorang, bukan hanya rasa senang saja yang akan dirasakan,
tetapi juga rasa sedih, cemburu dan tidak tenang.
Dan ternyata rasa cinta itu luas.
Setia itu bukan jaminan, selalu berusaha menyenangkan itupun bukan sebuah jaminan. Belajar untuk berbagi tentang apa yang dirasakan masing-masing, belajar untuk percaya, belajar untuk berkomunikasi dengan baik, belajar untuk berkomitmen.
Kecocokan itu harus dibangun bersama, walau terkadang rasa jenuh dan bosan datang, tidak harus saling berpaling dan pergi bukan?
Sederhana memang, terlihat sepele memang, tapi itu yang bisa membuat masing-masing dapat terus berjalan bersama.

Gadis Kopi dan Tukang Kopi

"Aku mencintaimu, itu urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, itu adalah urusanmu."

Kutipan Notes Tera Errau dari Pidi Baiq ini terdengar manis saat diucap tukang kopi. Matanya berbicara tulus.
Gadis kopi tertegun, ini seperti Deja-vu.
Masa lampau, gadis kopi sepertinya pernah melihat tatapan setulus itu.
Sesaat gadis kopi tersadar, selama ini dia terlalu sering melihat bentuk cinta yang begitu egois.
Gadis kopi tersenyum tipis, hanya saja hatinya sudah terlalu mengering. Tak mampu tergerak, walau hanya sekedar untuk tergelitik.

Gadis kopi dan tukang kopi duduk bersisian menikmati riuhnya pasar jajanan malam itu. Mereka punya rasa yang berbeda, hati yang berbeda. Hanya saja, biarkan saat ini seperti ini. Biarlah itu menjadi urusan mereka masing-masing.

Minggu, 20 September 2015

Rahasia yang Tak Perlu Dunia Tau

Ku tak mau kau tau, aku rindu.
Ku tak mau kau tau, aku cemburu.
Aku diam, agar kau tak tau.
Ku tak mau kau tau, aku sayang.
Ku tak mau kau tau, aku mau...
kamu.
Cuma kamu,
Hanya kamu.

Kamis, 10 September 2015

Selimut Senja

Senja bilang, dia butuh selimut besar untuk dia tidur. Dia butuh selimut besar untuk dia pakai membungkus tubuhnya agar dapat tidur. Dia bilang selimut membuatnya merasa aman, merasa nyaman, merasa terlindungi. Bagaikan sebuah pelukan seorang Ibu yang sering kali Senja damba.
Senja bilang, sekarang dia tidak butuh manusia untuk menemaninya hingga tua nanti. Berikan saja Senja selimut. Karena selimut tidak akan pergi, tidak akan menghakimi, dan selimut akan selalu ada untuk mendengarkannya, membuatnya merasa aman, merasa nyaman, merasa terlindungi.

Rabu, 19 Agustus 2015

Mengeja Rindu

Jika berjauhan, ada rasa ingin berdekatan.
Jika tak bertemu, ada rasa yang kurang.
Jika bersama, ada rasa ingin menghentikan waktu.
Mungkin terdengar begitu serakah.
Hingga ku eja rasa ini, dia disebut rindu.
Dan aku rindu padamu.

Surat Cinta Gadis kopi Kepada Bukan Pemuda Kopi

Ya, aku mencintai kopi. Sangat.
Tetapi aku tak ingin mencintaimu seperti aku mencintai kopi, yang hanya aku sesap saat aku ingin, dan ampasnya ku buang ke tempat sampah.

Senin, 10 Agustus 2015

Canting ( Senja yang Redup diufuk Timur ; Chapter I )

" Senja.", ujarnya tersenyum tipis.

Saat itu Canting terpana melihat sosok Senja. Perawakannya mungil, kulitnya putih kekuningan yang pucat, hidungnya yang kecil, matanya yang tipis, bola mata yang hitam pekat, rambutnya yang tergerai sebahu berwarna anggur lembut, dan tulang rahang yang terpahat sempurna. Senja persis seperti peri dalam imajinasi Canting.
Dari beberapa kali pertemuan yang tidak disengaja, membuat Canting dan Senja menjadi dekat. Hingga Senja mengajak Canting untuk membagi sewa apartemen berdua, karena Senja mulai kewalahan membayar sewa semenjak teman sekamarnya menikah.

Awal tinggal bersama terasa begitu berbeda, Senja terlihat sulit untuk didekati, terlalu banyak jarak, terlalu banyak senyum, dan terlalu banyak rahasia. Sulit untuk Canting tinggal satu atap dengan Senja. Senja yang perfeksionis, terkadang berlalu lalang didalam kamar apartemen dengan setengah telanjang, Senja yang mempunyai kebiasaan merokok parah, Senja dengan nafsu makan yang luar biasa besar yang membuat Canting kadang terkagum-kagum dengan asupan makanan Senja yang mirip dengan seekor anak gajah, tetapi tetap mempunyai tubuh yang mungil seperti itu. Lama kelamaan, Canting mulai terbiasa tinggal dalam satu atap bersama Senja. Senja yang Introvert sedikit Ambivert, Senja yang tidak mengkonsumsi alkohol, selalu menyukai kesunyian dan suasana tenang, Senja yang sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca, menggambar dan mendengarkan musik dibandingkan bersenang-senang keluar, Senja yang selalu tahu untuk bersenang-senang dan menikmati waktu luangnya sendirian. Dan Canting mulai menyukai karakter Senja yang terkadang terlihat kompleks.

Sore ini Senja pulang kerja lebih awal dari biasanya. Asing bagi Canting melihat Senja duduk di beranda tanpa sebuah buku seperti saat ini. Canting menarik kursi dan duduk bersisian dengan Senja.

"Hei..".

Senja menoleh melihat Canting sekilas, tersenyum tipis dan kemudian kembali menatap bangunan-bangunan yang terlihat dari beranda.

"Sekarang sabtu malam. Kamu ndak keluar?", tanya Canting.

"Nope. Sabtu malam terlalu melelahkan untuk dinikmati diluar sana.", ujar Senja pelan.

Canting terdiam dan kemudian ikut menatap bangunan-bangunan yang mulai bercahaya saat matahari mulai turun di ufuk barat.

"Hidup itu terkadang lucu ya?!", gumam Senja pelan.

"Iya...", ujar Canting.

Saat itu Canting merasa seakan mengerti maksud perkataan Senja. Saat itu Canting seakan mempunyai pikiran yang sama dengan Senja. Hidup itu terkadang lucu.


**
Canting mulai merasakan kedekatan yang lebih kepada Senja. Bahkan, Canting mulai mengerti mengapa dengan usia yang sudah cukup umur untuk menikah, Senja masih saja belum mempunyai pasangan. Mungkin orang-orang berfikir Senja terlalu pemilih, Senja mencari kesempurnaan, atau mungkin Senja pembenci lelaki. Ah, itu terlalu konyol sebenarnya jika mereka tahu kebenarannya.
Senja, anak pertama dari tiga bersaudara. Masa kecilnya dia habiskan dengan bermain di sawah, hutan, pantai. Senja pernah mengalami pelecehan seksual saat usianya baru 8 tahun. Senja ditelanjangi 3 orang lelaki di gang sempit tempat biasa ia lewati. Tubuh kecilnya dijamah, diraba dan diciumi paksa. Senja kecil menangis meronta, menendang dan berhasil kabur walaupun harus meninggalkan sepeda tuanya disana. Hal itu menghantuinya setiap malam.
Dan kemudian, saat Senja berusia 12 tahun, Senja kembali mengalami pelecehan seksual. Hanya saja saat itu, pelakunya adalah guru dimana tempat Senja bersekolah. Kejadiannya terjadi saat Senja mencari obat merah untuk temannya di UKS. Sang guru masuk ke UKS, menghampiri Senja, mengajak Senja mengobrol kemudian tubuh Senja dipeluk dengan erat, wajahnya yang dipenuhi kumis dan janggut mendekat kewajah Senja. Wajah dan leher Senja diciumi dengan penuh nafsu oleh sang guru. Senja meronta, saat tangan sang guru menyusup kebalik seragam sekolah dan meremas payudara Senja yang baru tumbuh saat itu, Senja meronta kian kencang, memukul, mencakar, menendang. Dan Senja berhasil menyelamatkan dirinya saat itu.

Hal-hal seperti itu kian menghantui Senja setiap malam. Mungkin bagi kebanyakan orang, usia-usia seperti itu adalah usia yang masih wajar untuk menangis pulang dan mengadu kepada ayah ibu. Tetapi tidak dengan Senja. Ayahnya sibuk bekerja, dan ibunya pun bekerja. Sedangkan setelah pulang bekerjapun, ibu Senja tidak ada waktu untuk memberi perhatian kepada Senja. Bagi ibunya, Senja seperti pelampiasan amarahnya. Dari usia mulai bisa berjalan, berbicara dan mengerti akan emosi, Senja terbiasa dicubit, dipukul dengan tangan, sapu lidi, atau bahkan gagang sapu ijuk. Pernah suatu ketika, Senja belum mandi sore, ibunya menyeret Senja ke kamar mandi dan menyiram Senja dengan air dingin. Senja juga pernah disiram air panas, dilempar piring, didorong dari tangga, dijambak, wajahnya di balur dengan nasi yang baru tanak. Saat Senja mulai ingin protes, ibunya menggunakan hak istimewa dari Tuhan, yaitu kata 'durhaka'. Kata yang membuat Senja bungkam, dan hanya dapat menangis terngungu dikamarnya sembari mengusap memar-memar ditubuhnya.

Apa Tuhan itu adil?
Tuhan memberikan hak bagi seorang ibu untuk melontarkan kata 'durhaka' bagi anaknya. Bahkan jika kata 'durhaka' sudah terlontar dari mulut sang ibu, anak mereka akan jauh dari syurga. Dan kata 'durhaka' seakan menjadi senjata terampuh untuk mengintimidasi anak mereka.

Sekejam itukah Tuhan?
Bahkan jika seorang ibu tidak menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu. Yang dia tunaikan hanya pada saat mengandung dan menyusui, apakah kata 'durhaka' dapat dengan mudah jatuh kepada sang anak?
Begitu benak Senja saat itu.

Sedangkan Senja belajar untuk merawat dirinya sendiri sedari kecil, saat sakit panas ranjangnya hanya ada dirinya sendiri, saat Senja terjatuh dan kepalanya bocor, yang ada hanya guru TKnya saat itu, dan entah berapa sakit yang Senja lewati, ibunya tidak pernah ada disisinya. Sedangkan ayahnya terlalu sibuk bekerja, saat pulang kelelahan dirumah, ibunya selalu tersenyum dan mengatakan kondisi dirumah baik-baik saja, hingga ayah tidak perlu khawatir. Akhirnya Senja belajar untuk menghadapi semuanya sendiri, Senja tidak percaya dengan label keluarga, karena biar bagaimanapun manusia akan meninggal sendirian. Senja belajar seperti itu sedari dia kecil.

Toh setelah beranjak dewasapun, Senja tidak luput dari kekerasan oleh orang-orang terdekatnya. Pertama kali Senja mempunyai pacar, dibulan pertama ia amat baik, manis, hingga entah darimana perangai buruknya keluar. Beberapa kali Senja dipukul, tubuh mungilnya dilempar ketembok, dicekik, kepalanya dihantam ketembok, dan semua itu berakhir dengan uraian airmata lelaki itu sembari menyembah, meminta maaf kepada Senja. Cinta yang membuatnya begitu, kata lelaki (nya). Senja berulang kali memaafkan lelaki (nya), berharap kejadian itu tidak akan terulang. Akan tetapi kejadian tersebut kembali terulang, berkali-kali. Senja melarikan diri dari lelaki (nya), seperti bermain petak umpet, hanya saja Senja tidak ingin ditemukan lagi oleh lelaki (nya). Terkadang Senja terpaksa pulang memutar jalan, mengambil rute yang tidak biasa untuknya, pulang lebih larut dari biasanya karena lelaki (nya) menunggu Senja berjam-jam ditempat dimana Senja menghabiskan waktu, bahkan menunggu didepan rumah. Hal itu memaksa Senja untuk pindah mencari kontrakan baru, permainan petak umpet tersebut berlangsung selama setahun, hingga lelaki (nya) tidak lagi terlihat.

Senja kembali mendepatkan kekerasan dari lelaki baru yang menjadi pacarnya selang beberapa tahun berlalu, tidak jauh berbeda dari yang kemarin-kemarin. Hanya saja kali ini lelaki baru (nya) ternyata memang berperangai kasar. Acap kali Senja menelan pahit diduakan, menemukan photo-photo setengah telanjang, pesan-pesan nakal ditelepon genggam lelaki baru (nya), jika Senja menanyakan dengan baik, Senja kembali diperlakukan kasar, bahkan saat Senja berusaha meninggalkan lelaki baru (nya), Senja ditarik, ditampar, dipukul hingga memar.

Ironis bukan, justru orang-orang yang berjanji tidak akan menyakiti, tidak akan membuat bersedih dan menangis, adalah orang-orang yang justru menyakiti Senja dalam konteks yang lebih ekstrim.
Senja memilih sendiri, dinding yang dia bangun didirinya kian menjulang tinggi, melindungi dirinya dari luka. Terkadang mekanisme otak manusia mempunyai caranya sendiri untuk melindungi diri, dan itulah yang terjadi dengan Senja. Senja melindungi dirinya dengan memasang tembok lebih tinggi disekitarnya, agar tidak terluka lebih jauh dari sebelumnya.

Canting begitu terpesona dengan ketegaran hati Senja, begitu banyak hal yang terjadi dengan Senja, tidak membuat Senja menjadi monster seperti dirinya. Ataukah, monster didalam diri Senja disembunyikan rapi seperti miliknya? Begitu rapi hingga tidak terlihat?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergaung dalam benak Canting.
Namun, hal tersebutlah yang membuat Canting merasakan kedekatan yang lebih dari biasanya kepada Senja. Kedekatan yang tidak pernah Canting rasakan terhadap orang lain selain kepada Pena.

**
'Canting...aku cinta kau...Canting.....'

Canting terbangun dari tidurnya. Peluh membasahi tubuh dan pakaiannya. Canting kembali bermimpi, tentang Pena. Canting meraih gelas minumnya ditepi ranjang, meneguknya dengan cepat. Matanya menatap jam dinding yang bertengger manis disana. Pukul 3 pagi, masih pukul 3 pagi. Hawa panas menyelimuti tubuh Canting, tenggorokannya seperti terbakar, wajahnya pucat. Canting tau ini waktunya apa. Canting berganti pakaian dan mengendap-endap keluar dari apartemen dan kembali sebelum subuh datang.

**
Pagi ini Senja terlihat sedang menyiapkan sarapan didapur, Canting berjalan mendekati Senja.

"Hei, morning. Aku lagi siapin sarapan buat kita berdua.", ujar Senja.

Canting tersenyum dan dengan sigap duduk dikursi menunggu sarapan.
Roti panggang, telur mata sapi, kentang goreng, buncis rebus, wortel rebus serta dada ayam dipotong dadu menjadi sarapan mereka pagi ini.

Canting dan Senja menikmati sarapan dengan  menonton berita pagi.

"Seorang pria ditemukan meninggal, jatung dan hatinya menghilang. Diduga pria tersebut adalah korban pembunuhan. Saat ini polisi sedang menyelidiki kasus pembunuhan tersebut lebih lanjut."

Canting bergidik melihat berita tersebut.

"Dunia yang makin kejam atau manusia yang semakin kejam? Atau dunia yang memaksa manusia menjadi kejam ya?", celetuk Senja.

"Mungkin dunia yang memaksa manusia menjadi kejam.", ujar Canting parau.

Senja mengedikkan bahunya dan kemudian menyuap buncis terakhir dipiringnya.

"Aku yang cuci piring. Kamu mandi sana, udah jam segini. Hari senin traffic-nya kacau, nanti kamu terlambat kekantor.", sergah Canting.

"Oke, thank you dear.", Senja tersenyum dan berlari menuju kamar mandi.

Canting menyuap pelan wortel-wortel yang tersisa diatas piringnya. Setelah itu membawa piring dan gelas kotor kedapur untuk dicuci. Bibirnya tersenyum tipis dan kemudian bersenandung riang, senandung riang dengan lirik yang sedih.

Sabtu, 08 Agustus 2015

( Dia ) Dan Masa Lalu

Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu, mengumpulkan kisah-kisah antara kalian berdua dalam satu kotak kemudian membakarnya hingga hangus.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Tak ada lagi sketsa-sketsa tentangmu,
Tak ada lagi cerita-cerita yang dia tulis tentangmu,
Tak ada lagi rasa cinta untukmu.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Tidak akan ada lagi perbincangan kecil,
Tidak akan ada lagi pesan-pesan random dalam telepon genggammu,
Tidak akan lagi dia membalas pesanmu.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Tak kan lagi dia menunggumu,
Tak kan lagi dia berjuang untukmu,
Tak kan lagi dia mendoakanmu disetiap harinya.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Dan dia menghilang, melupakanmu selamanya.

Senin, 03 Agustus 2015

Langit dan Bumi

Kamu?
Ku sebut dalam doaku.
Selalu?
Bahkan dalam diam maupun dalam keramaian.
Jatuh hati?
Entah bagaimana kamu menyebutnya.
Sampai?
Semampuku.
Mampu?
Menunggu waktu ( tidak dengan resah ) hanya dengan sabar.
Karena?
Ku ingin kamu bukan hanya kebetulan yang singgah sementara, bukan hanya kebetulan yang menjadi sebuah ketidak-mungkinan.
Rasa?
Kusebut saja bahwa hati bisa kamu genggam selamanya. Tanpa ada akhir walau dunia tidak lagi sama.
Kesempatan?
Tak ada kesempatan kedua, ku hanya ingin menjadi halal bagimu dan kamu menjadi halal bagiku.
Harap?
Dalam dunia setelah hidup itu kita masih bergandeng tangan dan saling jatuh hati.
Ah, omong kosong!

Minggu, 02 Agustus 2015

I ( roni )

Trina sebenarnya masih ingat sewaktu kelaminnya disusupi berulang kali, waktu itu dia mendesah kenikmatan. Tapi saat beberapa bulan lelakinya mulai bosan dan meninggalkannya, Trina menangis, menjerit, berteriak bahwa kelaminnya disusupi secara paksa berbulan-bulan. Kelaminnya diperkosa berbulan-bulan.
Padahal sewaktu kelaminnya disusupi, ada asas konsensual diantara dia dan lelakinya. Padahal sewaktu kelaminnya disusupi berbulan-bulan, dia mendesah kenikmatan dan lupa akan dosa. Cinta katanya. Itu karena cinta katanya.

Lalu mengapa sekarang saat lelakinya bosan dan pergi meninggalkannya, Dia menangis menjerit, berteriak bahwa kelaminnya diperkosa berbulan-bulan. Dia bilang itu juga karena cinta dan tak bisa kehilangan.
Ah, ini bukan kisah tragis, tapi kebodohan, apa bisa disebut sebagai ironi?

"Wanita"



Coba kamu katakan padaku, darimana datangnya rasa cemburu.
Cemburu akan waktu yang terlewati saat kamu tak ‘ada’ disini.
Cemburu akan waktu yang terlewati saat kamu ‘hilang’.
Cemburu akan waktu yang terlewat saat kamu pergi.

Coba kamu katakan padaku, bagaimana ‘menunggu’ itu.
Menunggu kamu tanpa tahu kapan kamu kembali ada.
Menunggu kamu yang ‘hilang’ tanpa permisi.
Menunggu kamu pulang, tanpa tahu kapan waktu itu tiba.

Coba kamu katakan padaku, apa itu cinta.
Coba katakan padaku, bagaimana cara untuk mencintai.
Coba katakan padaku, bagaimana itu dicintai.
Dan kemudian coba katakan padaku..apa ‘aku’ bagimu.

Minggu, 05 Juli 2015

Canting ( Jika Kata Cukup itu Tidak Cukup )

Canting saat ini berada dalam titik jenuh dihidupnya. Jenuh akan romantisme yang tak pernah kunjung usai. Orang-orang cenderung hanya dapat berkomentar bahwa Canting terlalu menutup diri, terlalu keras terhadap dirinya sendiri, tidak mau berusaha untuk mencari pasangan. Sejujurnya, Canting bukan hanya sekali dua kali mencoba, bukan hanya sekali dua kali berusaha, membuka hatinya untuk seseorang, tetapi Canting malah mendapatkan hatinya kian terluka, dan pada akhirnya Canting tidak bisa untuk mempercayai laki-laki lagi, mungkin untuk seumur hidupnya.

Canting jenuh dengan bualan-bualan, Canting jenuh dengan lelaki-lelaki yang datang mencoba meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak akan lari seperti pengecut, bahwa mereka akan mendedikasikan diri mereka untuk sebuah komitmen yang halal dihadapan Tuhan. Para lelaki yang begitu mudah untuk berjanji, begitu mudah untuk mengucapkan ribuan kata dan kemudian mereka pula yang mengingkari janji dan kata-kata mereka, bahkan mereka dapat menggunakan cara yang paling busuk sekalipun.

Bahkan, saat Canting terluka, terpuruk, dan memperlihatkan sisi terburuk dari kemarahannya pun, mereka lari dan berkata bahwa Canting adalah perempuan yang mengerikan. Ironisnya, tak ada satupun dari mereka yang meminta maaf karena membuat Canting terluka dan terbungkus dengan amarah. Mereka menuntut Canting untuk meminta maaf karena menjadi seorang monster nyata dihadapan mereka, tetapi mereka tak pernah mengucapkan sedikitpun permintaan maaf kepada Canting.

Canting berkata cukup. semua petualangan ini harusnya sudah menjadi cukup. Dan jika kata cukup itu tidak cukup, Canting akan berhenti. Berhenti membuka hatinya untuk siapapun. Seperti para tetua berkata bahwa Tuhan telah menciptakan manusia untuk berpasangan, mungkin tidak semua manusia akan menemukan pasangannya di dunia, mungkin Tuhan menyimpan pasangan mereka di dunia setelah kehidupan berakhir. mungkin ada benarnya seperti itu.

Jumat, 03 Juli 2015

Cerita

Satu cangkir cinta,
Dua cangkir imajinasi,
Tiga cangkir logika,
Empat cangkir keheningan.

Di Antara

Cangkir kopi berdenting,
Dinding kamar berbicara,
Kemudian malam kembali sunyi.

Sabtu, 06 Juni 2015

Satu Pemuda Diwaktu Yang ( Tidak Pernah ) Tepat



Suatu waktu dia datang membawa secangkir kopi hitam panas untuk disesap sembari berbincang disetiap malam.

“Tak perlu gula.”, ujarnya.

“Lebih nikmat tanpa gula.”, ujarku.

Dan perbincangan mengalir begitu saja tanpa sanggup untuk terhenti.

Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam, enam jam, tujuh jam, delapan jam, Sembilan jam, dan kemudian sunyi.

Cangkir kopi telah kosong, pagi telah tiba, dia sunyi, aku senyap. Yang terdengar hanyalah suara manusia lain yang memulai aktivitas pagi.

Suatu waktu dia datang membawa secangkir kopi hitam panas untuk dinikmati sembari berbincang disetiap malam.

“Tanpa gula.”, ujarnya tersenyum.

“Favoritku.”, aku tersenyum.

Dan perbincangan kembali mengalir, hanya saja malam ini lebih beritme.

“Kunyanyikan sebuah lagu, agar kamu tertidur.”, ujarnya.

Suaranya mengalun manis diantara alunan gitar yang lembut, aku tersenyum, memejamkan mata, kemudian senyap.

Lima puluh sembilan menit, tiga puluh lima detik, aku terbangun, dia sunyi. Hanya dengkuran halusnya yang terdengar. Aku meneguk kopi yang telah dingin dari cangkir. Suara cangkir berdenting saat aku letakan diatas meja kaca. Dia terbangun.

“Tidurlah kembali.”, ujarku.

“Berdongenglah hingga aku terlelap.”, ujarnya.

Dan aku pun berdongeng lembut ditelinganya. Membuai malamnya dengan manis, diantara cangkir kopi yang telah dingin saat ini. Lima belas menit berlalu, dia kembali sunyi, suara nafasnya terdengar halus dan teratur malam ini, dan aku masih tetap berdongeng untuknya hingga pagi datang, dan kemudian aku senyap.

Suatu waktu dia datang lagi membawa secangkir kopi hitam panas untuk diminum sembari berbincang disetiap malam.

“Favoritmu.”, ujarnya tersenyum.

“Selalu.”, ujarku tersenyum.

Dan malam ini perbincangan terasa berbeda. Ada rasa yang seakan menjadi candu melebihi secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Rasanya nyaman yang melekat, bahkan saat perbincangan menjadi sunyi.

“Suaramu…menenangkan.”, ujarku.

“Begitupun kamu.”, ujarnya.

Malam ini memang berbeda, perbincangan mengalir begitu saja, cangkir kopi masih penuh tanpa sempat untuk disesap, walaupun saat dia sunyi, bahkan saat aku senyap, cangkir kopi tak tersentuh dan mulai dingin.

Suatu waktu dia tak lagi datang. Tak ada lagi secangkir kopi hitam panas tanpa gula . Tak ada lagi perbincangan dari malam hingga pagi menjelang. Tak ada lagi sunyi senyap yang menenangkan.

**


Secangkir kopi hitam panas tanpa gula, dua cangkir kopi hitam panas tanpa gula, tiga cangkir kopi hitam panas tanpa gula, empat cangkir kopi hitam panas tanpa gula, lima cangkir kopi hitam panas tanpa gula, enam cangkir kopi hitam panas tanpa gula, tujuh cangkir kopi hitam panas tanpa gula, dan sang gadis terhenti di delapan cangkir kopi hitam panas tanpa gula. Itulah yang yang terjadi disela aktivitasnya setiap hari. Entah kenapa tak pernah ada cangkir kesembilan untuknya, walaupun dia menginginkan cangkir kesembilan untuk dia sesap.

Waktu berlalu sedemikian cepat, setahun, dua tahun, delapan cangkir kopi hitam panas tanpa gula masih menemani aktivitas sang gadis tanpa jemu disetiap hari. Cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula bagaikan candu yang meresap disetiap pembuluh darahnya. Sepertinya tanpa mereka, dia tak sanggup menjalani harinya. Suara cangkir kopi yang berdenting, harum kopi hitam panas yang khas bagaikan melodi sempurna yang menenangkan, bahkan dihari yang riuh dan melelahkan, cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula bersenandung kepadanya, menenangkan. Candu, seperti sebuah candu.

Suatu waktu sang pemuda datang kembali tanpa secangkir kopi hitam panas tanpa gula ditangannya.

“Tak ada kopi malam ini.”, ujarnya.

 Sang gadis hanya sunyi, kemudian berlalu tanpa suara.

**

Secangkir kopi hitam panas tanpa gula, dan beberapa cangkir kopi hitam panas tanpa gula untuk sang pemuda. Tak terhitung berapa cangkir kopi hitam panas tanpa gula yang dia nikmati disetiap harinya. Tubuhnya selalu bergerak untuk menginginkan cangkir kopi hitam panas tanpa gula, hanya untuk menenangkan harinya, menenangkan malamnya yang gelisah.

“Favoritku…”, gumamnya sembari menyesap cangkir kopi hitam panasnya.

Dia tak ingin berhitung tentang cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula yang dia sesap disetiap harinya, berhitung hanya membuat dirinya kembali gelisah, berhitung tidak akan menenangkan dirinya disetiap hari yang riuh dan biasa. Berhitung hanya akan membuatnya kembali datang kedalam waktu yang terasa bagaikan mimpi yang tak bisa dia gapai. Berhitung itu melelahkan.

Setahun, dua tahun berlalu sedemikian cepat. Tak terhitung berapa cangkir kopi panas yang dia sesap disetiap harinya, hingga tanpa dia sadari, dirinya menghitung cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula. Dirinya mencoba menghadirkan kembali mimpi yang tak dapat dia gapai dulu.

“Tak ada kopi malam ini.”, ujarnya kepada sang gadis.

Sang gadis hanya sunyi, memandangnya dengan tatapan yang membuatnya kian gelisah, kemudian berlalu tanpa suara. Sang pemuda terdiam, tak ada perbincangan hingga pagi menjelang malam ini, tak ada yang menenangkan malam ini, tak ada suara denting cangkir kopi malam ini seperti dua tahun lalu. Hanya sunyi dan senyap malam ini.

**

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun berlalu, kini cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula tak lagi menjadi candu bagi sang gadis. Sang gadis membebaskan dirinya dari candu cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula.

“Cukup secangkir dua cangkir kopi hitam panas tanpa gula disetiap minggu.”, gumamnya.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun sudah berlalu, cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula masih saja menemani hari sang pemuda. Cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula yang tak ingin lagi dia hitung.

“Berhitung itu melelahkan.”, ujarnya.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun terlewati. Cangkir-cangkir kopi kembali berdenting lembut. Sang pemuda datang kembali, tetapi dengan cangkir kopi yang kosong.

“Apa kamu ingin secangkir kopi?”, Tanya sang pemuda.

“Hanya secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Hanya secangkir kecil saja.”, jawab sang gadis.

Sang pemuda mengisi cangkir-cangkir dengan kopi hitam panas tanpa gula. Satu untuknya, satu untuk sang gadis, dan kemudian mereka berbincang, seakan jeda perbincangan mereka selama 5 tahun tidak pernah terjadi. Mereka hanya berbincang hingga sunyi dan senyap datang.

Lagu Simons Adam mengalun lembut malam ini.


Far away,
Far away from where we were
Each of us were hiding
For so long

Sang gadis dan sang pemuda kembali berbincang hangat. Berbincang tentang hari-hari mereka, berbincang tentang waktu yang terlupa, berbincang tentang hidup.

“Kamu masih tetap membuatku merasa nyaman.”, ujar sang pemuda.

“Kamu pun masih tetap begitu.”, ujar sang gadis.

 
If I told what I could not say,
If I showed all and let you in,

“Dan aku takut.”, gumam sang pemuda.

“Takut?”, tanya sang gadis.

“Aku takut jatuh hati. Seperti dulu, aku jatuh hati kepadamu.”, jawab sang pemuda.

Sang gadis tersenyum jengah.

“Kamu seperti mimpi...yang ingin aku raih tapi tanganku tak mampu menggapaimu.”, gumam sang pemuda, pelan, nyaris tak terdengar.

Sang pemuda ikut membisu.


When well end up being more than friends
Well go hand in hand
Til you understand
Here I am


Malam kian larut. Sang gadis sunyi, sang pemuda senyap. Tak ada denting cangkir-cangkir kopi lagi. Hanya sunyi dan senyap.

Hari-hari sang gadis kembali riuh dan biasa. Tak ada lagi cangkir-cangkir kopi hitam yang berdenting, tak ada lagi perbincangan hangat disetiap malam, tak ada lagi suara-suara nyaman yang menyelimuti jiwanya dengan hangat. Tak ada lagi sang pemuda.

Hari-hari sang pemuda  kembali riuh dan biasa. Tak ada lagi cangkir-cangkir kopi hitam yang berdenting, tak ada lagi perbincangan hangat disetiap malam, tak ada lagi suara yang membalut dirinya dengan nyaman. Tak ada lagi sang gadis.


Far way
Far away from where we were


Dan cangkir-cangkir kopi hitam panas tak pernah lagi berdenting lembut.