Aku tak ingin menyentuh tubuhmu, sayang.
Aku hanya ingin menyentuh jiwamu, hatimu.
Aku hanya inginkan hatimu, untukku.
Minggu, 13 Desember 2015
Sentuh
Sabtu, 05 Desember 2015
Apa
Aku masih.
Apa aku masih ada didalam hati-mu?
Aku masih.
Apa aku masih ada dipikiran-mu sepanjang hari?
Aku masih.
Apa aku masih ingin kau halalkan?
Aku..
Apa aku masih mencintai-mu?
Kamis, 26 November 2015
Disorder
Ah, baiklah. Aku telah menetapkan pilihan.
Aku raih cutter perlahan, silet terlalu kecil untuk ku pegang, sedangkan pisau terlalu besar untuk kugenggam saat ini.
Ku torehkan perlahan mata cutter yang tajam ke lengannya yang kecil. Bola matanya menatapku, wajahnya melihat ke wajahku, tak ada rasa sakit yang terpancar disana. Wajahnya seakan bertanya,
Ku torehkan perlahan mata cutter yang tajam ke lengannya yang kecil. wajahnya masih menatapku. Tak terpancar sedikitpun rasa nyeri disana.
Aku merasakan jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Debaran yang merupakan reaksi dari rasa ngeri dan keingintahuan.
Aku melirik kearahnya, tetapi raut wajahnya masih tetap sama.
Pakaiannya mulai basah dengan darah.
Tetapi aku tidak dapat berhenti menorehkan ujung cutter ketubuhnya.
Begitu menyenangkan, begitu mengasyikkan, begitu menjadi candu. Aku menginginkannya lagi, lagi dan lagi.
Dia menatapku dalam diam, bola matanya yang coklat pekat seakan menarik jiwaku kedalam isi otaknya yang tidak ingin dia utarakan. Aku sungguh membenci kebisuannya. Ku lempar cutter ditanganku dengan kesal. Ku cekik lehernya yang kecil dan kubenturkan tubuhnya berkali-kali ketembok. Wajahnya memerah, bibirnya bergerak-gerak berusaha menghirup udara, tetapi tubuhnya tidak meronta, tidak melawanku. Ah, ku lepas cengkraman jemariku dari lehernya. Kupeluk tubuhnya erat, begitu erat. Dalam saat yang bersamaan, aku ingin mencabik-cabik tubuhnya dengan kedua tanganku. aku ingin mengambil jantungnya, aku ingin mengorek isi otaknya agar aku tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.
Dan aku menatap tubuhnya yang masih berdiri menatapku.
Senin, 26 Oktober 2015
Cermin
"Butuh berapa waktu untuk menyembuhkan luka hatimu, sayang?
Butuh berapa waktu untuk menghilangkan mimpi burukmu?
Butuh berapa waktu untuk memupuskan ketakutanmu, sayang?
Butuh berapa waktu lagi?
Adakah yang lebih sabar dari aku?
Adakah yang lebih setia daripada aku?
Adakah yang lebih sudi untuk menunggu hingga kamu siap?
Adakah yang lebih mengerti daripada aku?
Setiap airmata yang jatuh, tanganku yang menghapusnya.
Setiap mimpi burukmu datang, aku yang ada untuk memelukmu.
Setiap pikiranmu mulai sibuk berlalu lalang, aku yang ada untuk menenangkanmu.
Setiap kata maafmu meluncur, aku selalu memaafkanmu.
lalu, adakah yang lebih dari aku?
Mungkin, aku dan kamu diciptakan hanya untuk selalu bersama.
Mungkin, aku dan kamu diciptakan hanya untuk sendiri.
Ku katakan, ikhlaskan saja sayang.
Ku katakan saja, lepaskan saja sayang.
Ku katakan, maafkan saja sayang."
Ku sentuh wajahnya yang pucat dibalik cermin dingin,
wajahku.
Kamis, 22 Oktober 2015
Senja Dua Hari
Langit mulai terlihat lebih gelap dari sore biasanya. Terlihat dari jendela dapur, Bude Nissa berlari dihalaman belakang berusaha menyelamatkan jemuran yang terbang tertiup angin. Aku tertawa kecil saat Bude Nissa mulai merutuk dalam bahasa Belanda. Kurasa memang sulit bagi Bude Nissa untuk mengucapkan bahasa indonesia saat dia sedang kesal dan marah.
Aku menyesap secangkir kopi hitam manis diteras rumah. Hujan tak kunjung turun, walaupun awan kelabu sudah memenuhi langit senja ini. Aku berhenti menyesap kopi dalam cangkirku saat Alsha, Sepupuku yang berusia 24 tahun, berjalan pelan menuju teras. wajahnya terlihat sendu, tangannya melambai diudara, terlihat seperti ingin menyentuh langit kelabu.
Aku meletakkan cangkir kopiku dan mendekati Alsha.
"Sebentar lagi hujan Alsha, anginnya terlalu kencang untukmu. Masuklah kedalam rumah.", ujarku lembut.
"Sebentar mas, Aku sedang melukis senja. Biar awan kelabu tak pernah datang, biar mereka tak pernah muncul.", ujar Alsha perlahan.
Aku menatap wajah Alsha dengan penuh tanda tanya. Hujan rintik pun turun, Aku meraih tubuh Alsha kedalam pelukku dan membawanya memasuki rumah.
Alshshafq Jamil Anissa Putri, sudah 5 tahun berlalu semenjak aku melihat Alsha. Dulu, aku selalu menghabiskan liburanku 2 kali dalam setahun ditempat ini. Alsha yang cantik, kulitnya berwarna gading, hidungnya yang bangir, bibirnya yang berwarna muda, senyumnya yang begitu manis, tawanya yang renyah dulu membuatku tergila-gila. Berapa banyak teman-temanku mengatakan bahwa aku sudah gila, tergila-gila kepada sepupuku sendiri. Walaupun Aku menjelaskan bahwa Alsha adalah sepupu jauhku, Alsha adalah cicit dari adik perempuan kakek buyutku, tetap saja mereka mengatakan aku gila. Aku tidak gila, aku hanya jatuh cinta.
Aku tidak jatuh cinta sendiri, Alsha pun jatuh cinta kepadaku. Sudah berapa puluh ciuman yang ku layangkan dibibirnya secara sembunyi-sembunyi waktu dulu. Dan betapa murkanya kakek sewaktu memergokiku mencium bibir Alsha senja 5 tahun yang lalu. Kakek mengusirku, dan berusaha menjauhkanku dengan Alsha, yang teramat kakek sayangi, melebihi cucu kandungnya sendiri.
Hari ini, tepat 5 tahun 45 hari, aku melihat Alsha dengan cara yang berbeda. Alsha tidak lagi seperti dulu. Alsha masih tetap cantik, bibirnya masih tetap terlihat sama, hanya saja dirinya tidak lagi seriang dulu. Terkadang, aku melihatnya hanya duduk sembari melukis, aku jarang mendengarnya berbicara, aku tak lagi melihatnya tersenyum, aku tak tahu apa yang terjadi padanya selama 5 tahun berlalu.
Senja ini, matahari memancarkan semburat oranye yang indah dilangit. cahayanyaa menembus jendela, menyinari wajah Alsha yang sedang menikmati kanvasnya. Sejenak Alsha menengok melihat keluar jendela, kuas dijemari tangannya diletakkan secara kasar, Alsha meraih kain bekas thinner dipangkuannya. Alsha berlari menuju pekarangan. Tubuhnya mengejang kaku, jemarinya yang memengang kain bekas thinner melambai diudara, bergerak secara acak.
30 menit berlalu, Alsha masih melakukan gerakan yang sama, tetapi jemarinya semakin lama semakin cepat dan mantap. Aku menghampiri Alsha.
"Sebentar lagi magrib tiba Alsha, masuklah kedalam rumah.", ujarku dengan sabar.
"Aku sedang menghapus senja mas, agar senja seperti ini tidak pernah datang.",ujar Alsha.
"Kenapa..?", tanyaku lirih.
"Karena saat senja berwana seperti ini, mas pergi, dan tak pernah kembali.", ujarnya pilu.
Aku tersentak, kemudian merengkuh Alsha kedalam pelukku. Alsha sepupuku tersayangku. Entah apa yang terjadi kepadanya selama 5 tahun ini.
"Mbak, maaf, apa ada penginapan didekat sini?", ujar salah seorang pemuda tersebut.
Alsha menoleh, " Kira-kira 20 menit kearah kiri, ada beberapa penginapan mas. Tidak jauh dari stasiun kereta.", ujar Alsha.
Mereka meminta Alsha dengan sopan untuk mengantar hingga stasiun. Alsha mengangguk mengiyakan karena mereka akan berjalan searah.
Pemuda-pemuda ramah yang berasal dari kota, itu pikir Alsha.
10 menit mereka berjalan kaki, melewati taman rimbun yang sepi, senja oranye berganti dengan awan yang kian kelabu. Pemuda-pemuda tersebut tiba-tiba menarik Alsha menuju taman. Mendorong tubuh Alsha ditimbunan semak belukar yang tertutup pepohonan. Pakaian Alsha dilucuti paksa, Alsha menjerit, berteriak, tapi suaranya tak keluar bebas karena dibekap oleh tangan kasar mereka. Saat seorang pemuda menindih tubuhnya yang telanjang bulat, Alsha merasakan sakit yang luar biasa dikemaluannya. Seakan tubuhnya ditusuk belati tumpul, seakan tubuhnya dirobek dengan penuh marah. Alsha menjerit ketakutan, airmatanya tak berhenti mengalir.
Satu pemuda, pemuda kedua, pemuda ketiga, pemuda keempat, bergantian memperkosa Alsha senja itu. Hujan rintik mulai turun, dan Alsha tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kemaluannya.
4 jam kemudian, tubuh Alsha yang telanjang bulat ditemukan oleh pasangan tua yang melewati taman itu. Mereka mengenali Alsha dan langsung melarikan Alsha kerumah sakit.
Semenjak itu Alsha tak pernah sama lagi.
Rabu, 07 Oktober 2015
Diam
Gadis kopi tak lagi bersuara. Hatinya yang luka kian terluka. Tak ada secangkir kopi, gadis kopi ingin berhenti menjadi gadis kopi. Tak ada secangkir kopi, gadis kopi terlalu lelah untuk menyesap secangkir kopi.
Hari ini ( dan entah sampai kapan ), gadis kopi hanya ingin sendiri. Melindungi dirinya dari luka, membuat perlindungan kian tinggi bagi dirinya.
Gadis kopi bergelung, menjauhkan dirinya dari dunia.
Gadis kopi ingin dicintai, tetapi dirinya terlalu takut untuk terluka.
Berapa banyak mimpi buruk yang menghantui gadis kopi disetiap malam, tak terhitung berapa kali gadis kopi terbangun disetiap malam dengan airmata yang mengalir.
Tak ada secangkir kopi, hatinya kembali merapuh. Gadis kopi tak ingin terluka ataupun melukai hati lainnya.
Gadis kopi hanya ingin sendiri.
Gadis kopi tanpa kopi, bagikan pemimpi tanpa mimpi.
Gadis kopi berhenti bermimpi.
Kamis, 01 Oktober 2015
Menunggu
"Aku tak ingin bicara tentang hati, aku bosan bicara tentang cinta.", ujar gadis kopi.
Tukang kopi tersenyum dan menatap gadis kopi dengan lembut. Tangannya merengkuh kepala gadis kopi untuk bersandar dibahunya. Gadis kopi menghela nafas dan memejamkan matanya.
Jemari gadis kopi menyentuh dahi, mata, pipi, hidung, bibir tukang kopi.
"Aku ada, tapi siapa yang kau bayangkan saat ini?", ujar tukang kopi lirih.
Gadis kopi tersentak, jemarinya terhenti.
"Dia...", ujar gadis kopi pilu.
Sesaat ada luka yang terpancar dimata tukang kopi. Tetapi yang tukang kopi bisa lakukan hanyalah membelai lembut rambut gadis kopi dengan jemarinya.
"Jangan menjatuhkan hatimu padaku lebih dari ini. Menyakitkan.", ujar gadis kopi lirih.
"Biarlah begitu. Aku tak berharap banyak, hanya ingin menikmati waktu saat hati ini jatuh kepadamu. Pura-pura saja jatuh hati kepadaku, hingga kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.", ujar tukang kopi.
Gadis kopi bersandar dibahu tukang kopi. Gadis kopi bukan milik tukang kopi, hatinya pun bukan milik tukang kopi.
Sampai kapan?
Ah, biarkan saja saat ini seperti ini. Biarlah ini tetap menjadi urusan mereka.
Minggu, 27 September 2015
Untuk Gadis Kopi-ku
tetapi juga rasa sedih, cemburu dan tidak tenang.
Dan ternyata rasa cinta itu luas.
Setia itu bukan jaminan, selalu berusaha menyenangkan itupun bukan sebuah jaminan. Belajar untuk berbagi tentang apa yang dirasakan masing-masing, belajar untuk percaya, belajar untuk berkomunikasi dengan baik, belajar untuk berkomitmen.
Kecocokan itu harus dibangun bersama, walau terkadang rasa jenuh dan bosan datang, tidak harus saling berpaling dan pergi bukan?
Sederhana memang, terlihat sepele memang, tapi itu yang bisa membuat masing-masing dapat terus berjalan bersama.
Gadis Kopi dan Tukang Kopi
Kutipan Notes Tera Errau dari Pidi Baiq ini terdengar manis saat diucap tukang kopi. Matanya berbicara tulus.
Gadis kopi tertegun, ini seperti Deja-vu.
Masa lampau, gadis kopi sepertinya pernah melihat tatapan setulus itu.
Sesaat gadis kopi tersadar, selama ini dia terlalu sering melihat bentuk cinta yang begitu egois.
Gadis kopi tersenyum tipis, hanya saja hatinya sudah terlalu mengering. Tak mampu tergerak, walau hanya sekedar untuk tergelitik.
Gadis kopi dan tukang kopi duduk bersisian menikmati riuhnya pasar jajanan malam itu. Mereka punya rasa yang berbeda, hati yang berbeda. Hanya saja, biarkan saat ini seperti ini. Biarlah itu menjadi urusan mereka masing-masing.
Minggu, 20 September 2015
Rahasia yang Tak Perlu Dunia Tau
Ku tak mau kau tau, aku cemburu.
Aku diam, agar kau tak tau.
Ku tak mau kau tau, aku sayang.
Ku tak mau kau tau, aku mau...
kamu.
Cuma kamu,
Hanya kamu.
Kamis, 10 September 2015
Selimut Senja
Senja bilang, sekarang dia tidak butuh manusia untuk menemaninya hingga tua nanti. Berikan saja Senja selimut. Karena selimut tidak akan pergi, tidak akan menghakimi, dan selimut akan selalu ada untuk mendengarkannya, membuatnya merasa aman, merasa nyaman, merasa terlindungi.
Kamis, 27 Agustus 2015
Rabu, 19 Agustus 2015
Mengeja Rindu
Jika berjauhan, ada rasa ingin berdekatan.
Jika tak bertemu, ada rasa yang kurang.
Jika bersama, ada rasa ingin menghentikan waktu.
Mungkin terdengar begitu serakah.
Hingga ku eja rasa ini, dia disebut rindu.
Dan aku rindu padamu.
Surat Cinta Gadis kopi Kepada Bukan Pemuda Kopi
Tetapi aku tak ingin mencintaimu seperti aku mencintai kopi, yang hanya aku sesap saat aku ingin, dan ampasnya ku buang ke tempat sampah.
Senin, 10 Agustus 2015
Canting ( Senja yang Redup diufuk Timur ; Chapter I )
Tuhan memberikan hak bagi seorang ibu untuk melontarkan kata 'durhaka' bagi anaknya. Bahkan jika kata 'durhaka' sudah terlontar dari mulut sang ibu, anak mereka akan jauh dari syurga. Dan kata 'durhaka' seakan menjadi senjata terampuh untuk mengintimidasi anak mereka.
Bahkan jika seorang ibu tidak menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu. Yang dia tunaikan hanya pada saat mengandung dan menyusui, apakah kata 'durhaka' dapat dengan mudah jatuh kepada sang anak?
Begitu benak Senja saat itu.
Senja memilih sendiri, dinding yang dia bangun didirinya kian menjulang tinggi, melindungi dirinya dari luka. Terkadang mekanisme otak manusia mempunyai caranya sendiri untuk melindungi diri, dan itulah yang terjadi dengan Senja. Senja melindungi dirinya dengan memasang tembok lebih tinggi disekitarnya, agar tidak terluka lebih jauh dari sebelumnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergaung dalam benak Canting.
Namun, hal tersebutlah yang membuat Canting merasakan kedekatan yang lebih dari biasanya kepada Senja. Kedekatan yang tidak pernah Canting rasakan terhadap orang lain selain kepada Pena.
Roti panggang, telur mata sapi, kentang goreng, buncis rebus, wortel rebus serta dada ayam dipotong dadu menjadi sarapan mereka pagi ini.
Sabtu, 08 Agustus 2015
( Dia ) Dan Masa Lalu
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu, mengumpulkan kisah-kisah antara kalian berdua dalam satu kotak kemudian membakarnya hingga hangus.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Tak ada lagi sketsa-sketsa tentangmu,
Tak ada lagi cerita-cerita yang dia tulis tentangmu,
Tak ada lagi rasa cinta untukmu.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Tidak akan ada lagi perbincangan kecil,
Tidak akan ada lagi pesan-pesan random dalam telepon genggammu,
Tidak akan lagi dia membalas pesanmu.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Tak kan lagi dia menunggumu,
Tak kan lagi dia berjuang untukmu,
Tak kan lagi dia mendoakanmu disetiap harinya.
Dia seterusnya akan menyebutmu masa lalu,
Dan dia menghilang, melupakanmu selamanya.
Senin, 03 Agustus 2015
Langit dan Bumi
Kamu?
Ku sebut dalam doaku.
Selalu?
Bahkan dalam diam maupun dalam keramaian.
Jatuh hati?
Entah bagaimana kamu menyebutnya.
Sampai?
Semampuku.
Mampu?
Menunggu waktu ( tidak dengan resah ) hanya dengan sabar.
Karena?
Ku ingin kamu bukan hanya kebetulan yang singgah sementara, bukan hanya kebetulan yang menjadi sebuah ketidak-mungkinan.
Rasa?
Kusebut saja bahwa hati bisa kamu genggam selamanya. Tanpa ada akhir walau dunia tidak lagi sama.
Kesempatan?
Tak ada kesempatan kedua, ku hanya ingin menjadi halal bagimu dan kamu menjadi halal bagiku.
Harap?
Dalam dunia setelah hidup itu kita masih bergandeng tangan dan saling jatuh hati.
Ah, omong kosong!
Minggu, 02 Agustus 2015
I ( roni )
Trina sebenarnya masih ingat sewaktu kelaminnya disusupi berulang kali, waktu itu dia mendesah kenikmatan. Tapi saat beberapa bulan lelakinya mulai bosan dan meninggalkannya, Trina menangis, menjerit, berteriak bahwa kelaminnya disusupi secara paksa berbulan-bulan. Kelaminnya diperkosa berbulan-bulan.
Padahal sewaktu kelaminnya disusupi, ada asas konsensual diantara dia dan lelakinya. Padahal sewaktu kelaminnya disusupi berbulan-bulan, dia mendesah kenikmatan dan lupa akan dosa. Cinta katanya. Itu karena cinta katanya.
Lalu mengapa sekarang saat lelakinya bosan dan pergi meninggalkannya, Dia menangis menjerit, berteriak bahwa kelaminnya diperkosa berbulan-bulan. Dia bilang itu juga karena cinta dan tak bisa kehilangan.
Ah, ini bukan kisah tragis, tapi kebodohan, apa bisa disebut sebagai ironi?
"Wanita"
Minggu, 05 Juli 2015
Canting ( Jika Kata Cukup itu Tidak Cukup )
Canting jenuh dengan bualan-bualan, Canting jenuh dengan lelaki-lelaki yang datang mencoba meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak akan lari seperti pengecut, bahwa mereka akan mendedikasikan diri mereka untuk sebuah komitmen yang halal dihadapan Tuhan. Para lelaki yang begitu mudah untuk berjanji, begitu mudah untuk mengucapkan ribuan kata dan kemudian mereka pula yang mengingkari janji dan kata-kata mereka, bahkan mereka dapat menggunakan cara yang paling busuk sekalipun.
Bahkan, saat Canting terluka, terpuruk, dan memperlihatkan sisi terburuk dari kemarahannya pun, mereka lari dan berkata bahwa Canting adalah perempuan yang mengerikan. Ironisnya, tak ada satupun dari mereka yang meminta maaf karena membuat Canting terluka dan terbungkus dengan amarah. Mereka menuntut Canting untuk meminta maaf karena menjadi seorang monster nyata dihadapan mereka, tetapi mereka tak pernah mengucapkan sedikitpun permintaan maaf kepada Canting.
Canting berkata cukup. semua petualangan ini harusnya sudah menjadi cukup. Dan jika kata cukup itu tidak cukup, Canting akan berhenti. Berhenti membuka hatinya untuk siapapun. Seperti para tetua berkata bahwa Tuhan telah menciptakan manusia untuk berpasangan, mungkin tidak semua manusia akan menemukan pasangannya di dunia, mungkin Tuhan menyimpan pasangan mereka di dunia setelah kehidupan berakhir. mungkin ada benarnya seperti itu.