Kamis, 02 November 2017

Senja : Ibu

Ah, Tidak.
Senja tidak pernah mempunyai impian untuk menjadi seorang ibu.
Baginya, menjadi ‘Ibu’ adalah kata yang menggelikan untuknya. ‘Ibu’ dengan segala otoritasnya yang terkadang menjadi absolut. Begitu menakutkan sesosok yang dinamakan ‘Ibu’, berbekal dengan kata ‘surga ditelapak kaki ibu’, ‘Kau lahir dari rahimku’, menjadikan sosok ‘Ibu’ mampu untuk menyakiti mentalmu berulang-ulang kali, dan kau tak bisa lepas dari label ‘anak’.

Ya, Senja tidak pernah mempunyai impian untuk menjadi seorang Ibu. Senja tidak ingin menjadi seorang Ibu. Walaupun Ironisnya, Senja adalah seorang Ibu. Seorang Ibu dari anak yang tak sempat dia lahirkan, dia susui, dia timang.
Apa kalian pikir Senja menggugurkan janinnya?!

Tidak.
Senja tidak seperti lelaki yang menghamilinya dan kemudian pergi untuk bersenang-senang dengan dunianya.

Senja mencintai janinnya. Janin yang tumbuh didalam tubuhnya dan perlahan mulai menggerogoti tubuhnya. Melemahkan fisiknya perlahan demi perlahan. Senja mencintai janinnya, hingga akhirnya tubuhnya tidak kuat menjaga janin yang dia ingin lahirkan dan besarkan.

Senja menangis berhari-hari meratapi janinnya yang hancur.

Ya, Senja sangat kenal dengan rasa kehilangan dan patah hati. Senja tidak lagi akan menjadi seorang Ibu. Senja tidak ingin menjadi seorang ibu lagi.

‘Untuk kau yang belum sempat ku lahirkan, ku timang, ku susui, anakku.”

Selasa, 03 Oktober 2017

Sekat

Hatimu kebas,
Kau ingin bebas.
Aku ingin lekas,
Hatiku apa terbebas.

Mungkin kamu tak tahu rasanya sepi.
Atau aku yang tak tahu caranya mencintai?
Mungkin kamu enggan untuk menggenggam,
Atau aku yang tak ingin kau genggam?

Ini bukan hanya tentang aku,
Ini bukan hanya tentang kamu.
Harusnya tak ada jerat,
Harusnya tak ada sekat.

Jiwa

Apa warnamu?
Merah?
Kuning?
Hijau?
Jingga?
Ataukah warnamu adalah polikromatik yang terdiri dari beberapa spektrum warna?
Seperti pelangi yang tercipta dari bias cahaya mentari oleh butir-butir air.

Apa warnamu?
Warnaku, merah.

Selasa, 20 Juni 2017

Devil in a Shell

Ada sesosok iblis, dia berawal dari sebuah embryo dan kemudian dalam beberapa hari berubah menjadi fetus. Beberapa minggu kemudian, dia menetas kedalam bentuk yang sempurna. Wujud yang menyerupai manusia dan juga menyerupai hewan. Kulitnya berwarna putih keperakan, matanya menyerupai mata seekor kucing, tangannya menyerupai tangan manusia, tetapi kukunya terlalu runcing dan terlihat seperti sebuah cakar. Rambutnya berwarna coklat keemasan, daun telinganya mempunyai sudut 45 derajad. Dahinya rata dan ada sebuah tanduk yang terhias disana.
Hari ini hari kelahirannya, tubuhnya masih terbalut oleh lendir yang menyelimutinya di dalam cangkang.
Ah, Iblis menggeliat dan menjilat habis lendir-lendir yang menempel di tubuhnya.
"Ada cahaya.", ujarnya sembari mengintip dari dalam cangkang.
Bola matanya berbinar saat mengintip dunia dari dalam cangkangnya. Begitu banyak cahaya, begitu banyak manusia, begitu indah, begitu menakjubkan. Rasa ingin tahunya mengelitik dalam hati, tapi apa daya, iblis betina masih belum berwujud sempurna. Tubuhnya masih terbalut lendir yang pekat, tubuhnya masih belum cukup kuat untuk keluar dari cangkangnya. Tubuhnya masih belum sempurna untuk menjelajahi isi dunia.
Iblis betina melenguh pelan, binar matanya terlihat begitu indah, berkilat misterius diantara sinar lampu kota yang menembus diantara sela-sela cangkang.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Iblis betina menunggu dengan sabar didalam cangkang. Waktu demi waktu yang terlewati, Iblis betina tetap saja memperhatikan dunia manusia dari dalam cangkangnya. Rasa ingin tahunya bertambah besar, bertambah kuat, seperti luapan api yang berkobar kian hebat. Dan kini, sudah 365 hari terlewati, Iblis betina tumbuh dengan sempurna.
Perlahan Iblis betina mengangkat cangkang yang selama ini menjadi pelindungnya, menjadi rumah baginya. Kakinya yang jenjang, betisnya yang bagai butir padi, terlihat bersinar keperakan diterpa sinar lampu kota malam ini. Iblis betina membawa tubuhnya yang telanjang menyusuri jalan menuju kota.
Binar mata Iblis betina terlihat takjub memandang dunia manusia saat ini, dunia yang selama ini hanya ia dapat lihat melalui dalam cangkang, kini ia berjalan diantaranya. Tubuhnya yang telanjang berjalan melewati manusia-manusia yang berlalu-lalang. Mata mereka memandang Iblis betina dengan aneh. Iblis betina merasa heran dan memandang manusia-manusia yang menatapnya, kemudian menatap ke tubuhnya sendiri.
Ah, Iblis betina sadar, manusia-manusia itu memakai sesuatu untuk menutupi tubuhnya.
Iblis betina berjalan sedemikian cepat, mencari tempat sepi untuk bersembunyi, mencari tempat dimana ia dapat menemukan sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
**
Iblis betina berjalan menyusuri kota dimalam hari, melewati kerumaunan orang yang berjalan lalu lalang di tepi jalan. Tubuhnya kini telah ditutupi oleh gaun putih tipis yang begitu ringan, hingga saat dia berjalan, gaunnya tertiup indah oleh semilir angin malam.
Iblis betina merasa bagaikan hidup, rasa ingin tahunya yang tak bertepi kini menjadi kenyataan. Kakinya bagaikan menari, diantara sinar lampu. Bibirnya tersenyum melihat keindahan dunia manusia. Bibirnya tersenyum menikmati ajaibnya dunia manusia.
"Manusia begitu menarik, manusia begitu beragam, manusia begitu menakjubkan.", begitu pikirnya.
Kakinya masih terlihat seakan menari menyusuri jalan, tanpa lelah, seakan berusaha memenuhi rasa ingin tahunya yang tanpa tepi.
"Aku ingin menjadi Manusia...Aku ingin menjadi manusia...", gumam iblis betina.
Dan kemudian jalan mulai terlihat sepi. Manusia yang berlalu lalang kini terlihat berbeda. Iblis betina melihat sekeliling. Ada kakek tua yang tertidur di pinggir jalan. Tubuhnya terlihat lusuh dan berbau busuk. Ada pemuda yang berjalan sempoyongan, wajahnya rupawan, memikat kaum hawa. Tapi aroma tubuhnya tercium harum nechtar yang memabukkan. Iblis betina menatap pemuda tersebut dengan pandangan heran.
Harum nechtar begitu kuat menggelitik penciuman iblis betina. Harumnya menggoda sekaligus memuakkan. Iblis betina menatap pemuda tersebut dengan tatapan takjub.
'Inikah yang terjadi apabila manusia meminum minuman kaumnya?', pikirnya.
Pemuda tersebut melangkah sempoyongan ke arah Iblis betina. Wangi nechtar yang memuakkan tercium kian pekat. Iblis betina terperajat saat pemuda tersebut menyentakkan tangannya, menarik Iblis betina begitu kuat kearahnya.
"Ahhh...Wanita, semua wanita itu adalah makhluk jalang. Dan kamu adalah wanita...jalang.", ujar pemuda tersebut.
Jemari pemuda tersebut mencengkram rambut Iblis betina dengan kuat dan kemudian menghempaskan tubuh Iblis betina ke tepi jalan. Pemuda tersebut kembali mencengkram rambut Iblis betina, dengan rakus bibir pemuda tersebut menciumi wajah Iblis betina. Iblis betina meronta, menepis tubuh pemuda tersebut hingga terjengkal. Iblis betina kemudian berlari menjauh, rasa takut menjalar ditubuhnya.
Iblis betina terus berlari menjauh, hingga nafasnya menderu kelelahan. Kakinya terhenti, iblis betina mengatur nafasnya perlahan. Seketika iblis betina tersadar, sekitarnya cahaya temaram. Matanya menangkap tubuh-tubuh sensual merayu dipinggir jalan. Pakaian yang minim, bibir yang memerah, kulit yang oranye tertimpa sinar lampu jalan. Wangi parfum begitu kuat bercampur aduk hingga busuk.
Iblis betina terperangah.
Ada suara dengusan, desahan manja, suara ciuman, suara kulit yang saling bergesekan ditengah riuhnya gerombolan wanita-wanita sensual yang berjejer dipinggir jalan.
Indah, pikir iblis betina.
Sebuah ritual yang biasa dilakukan manusiakah?
Tanya iblis betina dalam hati.
Kakinya kembali melangkah. Disekian banyak orang-orang yang berlalu lalang, mereka tak kunjung jengah dengan pemandangan yang cukup asing bagi Iblis betina.
Iblis betina terus saja melangkah, mengagumi pemandangan sekitarnya. Cahaya lampu, bangunan-bangunan kaca, sampah-sampah bergeletakan dipojokan, gerombolan orang yang terlihat seperti berpesta hingga tergeletak dan terluka, gerombolan orang dengan sumpah serapah didepan sebuah bangunan. Begitu banyak hal yang Iblis betina lihat waktu ini.
Seketika Iblis betina menghentikan langkahnya disebuah bangunan kecil berjendela kaca besar. Iblis betina menatap ke dalam. Sebuah proyeksi akan 2 manusia dewasa dan satu manusia kecil.
Itu ayah, itu ibu, dan itu anak.
"Ayah?"
"Ibu?"
"Anak?"
Gumam Iblis betina.
Proyeksi yang seketika menggelitik sesuatu didalam tubuhnya. Tubuh Iblis betina menghangat, sesuatu itu seperti berdenyut. Dan kemudian matanya mengeluarkan airmata.
"Aku ingin pulang.", pikirnya.
"Aku ingin pulang.", gumamnya.
Iblis betina melangkahkan kakinya cepat sembari memeluk tubuhnya sendiri, seakan takut akan kehangatan yang ia rasakan tadi menghilang.
Angin membantunya, aroma cangkang kehidupannya terjejak dalam angin.
Iblis betina pulang, walau ia tak mengerti apa itu pulang.
**
Cangkangnya masih ada disana, cangkangnya terlihat begitu teduh, nyaman dan berbeda dengan yang ia lihat pertama kali membuka mata. Iblis betina perlahan masuk kembali kedalam cangkangnya, menggelung tubuhnya dengan liat dan menutup matanya perlahan.
Sebuah tangan menyentuh rambutnya perlahan. Iblis betina membuka matanya. Diantara cangkang yang pecah, Iblis betina melihat dua sosok yang menyerupai sosoknya.
"Ayah?!", ujarnya
"Ibu?!", katanya
Tubuh Iblis betina menghangat, sesuatu didalam tubuhnya kembali tergelitik. Kali ini dengan irama yang berbeda.
"Aku pulang. Akhirnya aku pulang.", Iblis betina menangis lega.

Rabu, 14 Juni 2017

Belu-belai

Coba kau diam sejenak,
Jangan terlalu banyak kau bicara.
Kadang kau perlu sejenak saja tanpa suara.
Kadang yang kau perlukan sejenak saja mendengar agar tak pekak.

Kadang dunia butuh diam sejenak,
Begitupun dengan kamu.
Agar kau tak tertelan omong kosongmu sendiri,
Agar kau tak tertelan keangkuhanmu sendiri.

Solitario

Kupeluk sepiku sendiri.
Karena kupikir sepi itu bagus,
Sepi itu menyenangkan,
Sepi itu indah.

Karena pada sepi, aku tak pernah gundah.
Pada sepi, aku tak pernah jatuh.
Pada sepi, aku tak pernah patah.
Pada sepi, aku tak pernah sendiri.

#5 Tanyakan Dirimu

Apakah hidupmu hanyalah imajinasi?

Rabu, 07 Juni 2017

Tidak Ada Filosofi Kopi Untukku

Apa kau butuh filosofi untuk meminum secangkir, dua cangkir kopi, ataupun bercangkir-cangkir kopi?
Kau ibaratkan rasa kopi seperti hidupmu?
Kau ibaratkan kopi yang kau minum seperti cinta?
Atau seperti apakah kau ibaratkan kopi yang kau minum?
Aku?
Aku tak perlu filosofi untuk meminum secangkir, dua cangkir ataupun bercangkir-cangkir kopi.
Yang ku tau, aku menikmati rasa kopi itu sendiri.
Tentu saja kopi tanpa gula.

Kopi tanpa gula?
Pahit kau rasa, tapi manis ku sesap.
Terlalu pahit kau kata,
tetapi tetap saja bagiku kopi hitam tanpa gula nikmat untuk ku sesap.
Ini hanyalah masalah selera.
Bukankah setiap orang punya kadar toleransi yang berbeda dalam indera perasanya?!
Bukan berarti jika kau tak menyukai rasa kopi hitam tanpa gula yang ku sesap membuat kau memusuhiku ataupun membenciku bukan?

Kupikir, seperti itulah perbedaan.
Berbeda bukan berarti kita harus saling membenci satu dengan yang lain.
Kupikir, berbeda itu yang membuat hidup jadi lebih menarik.
Kupikir, aku dapat menghargai perbedaan asal tak ada kebencian yang tersirat.
Kupikir, aku masih dapat belajar dari orang-orang yang berbeda.
Toh baik dan buruknya tetap harus aku pilah dengan akal sehat serta norma yang berlaku.
Kupikir, kita semua masih harus sama-sama belajar.
Bukankah dalam hidup itu, manusia tak berhenti belajar?

Kupikir, menyesap kopi bersama sambil berbincang tentang pendapat yang berbeda itu baik.
Asal jangan kau tanam kebencian disana.
Asal jangan kau sebar kebencian disana.
Asal jangan kau melontarkan kebencian disana.

Senin, 01 Mei 2017

Kali Ini, Aku...

Rindu tak pernah membunuh seseorang.
Aku tahu itu.
Hanya saja kali ini, aku ingin membunuh rasa rinduku.

Karena kali ini, kubenci riduku sendiri.
Kali ini, kubenci kepura-puraanku untuk membencimu.
Kali ini, kubenci hangatnya pelukanmu yang masih saja kuingat tanpa muak.
Kali ini, kubenci harum tubuhmu yang masih saja tercium di setiap inci kulitku.
Kali ini, kubenci rasa nyaman yang selalu datang saat kau membelai rambutku dengan lembut.

Rasa rindu itu tidak pernah membuat orang mati, sayang.
Aku selalu tahu itu.
Hanya saja, rasa rindu kali ini,
Sepi....

Minggu, 30 April 2017

Romansa Hujan

Kupikir dulu ada romantisme antara aku, hujan dan dia.
Menerjang malam ditengah derasnya hujan berdua.
Ada tawa dan basah.
Syahdu tak sendu.

Dan kupikir sekarang romantisme itu masih tetap ada.
Antara aku dan hujan,
tanpa dia tentunya.
Menerjang malam ditengah derasnya hujan, sendiri.
Basah, menenangkan.
Dan syahdu yang tak pernah jadi sendu.

Romansa hujan masih tetap ada, hanya saja ceritanya berbeda.

Selasa, 31 Januari 2017

Sepimu, dan Sepiku

Apa kamu begitu membenci sepimu sendiri,
sedangkan hampir disetiap malam
ku habiskan waktu berbincang dengan sepimu
untuk membunuh rinduku.

Senin, 02 Januari 2017

#4 Tanyakan Dirimu

Apa rasa rindumu hanya berbatas pada kemaluanmu saja?

Rapat

Berdiri bersebelahan.
Rapat, merapat.
Duduk bersebelahan.
Rapat, merapat.
Lelakinya, lelakiku.
Wanitanya, aku tak tahu.
Disetiap kejadian, mereka bersebelahan.
Disetiap kesempatan mereka merapat.
Lelakinya, lelakiku (?).
Wanitanya asing bagiku.

Usang

Aku sudah tidak punya sajak untukmu.
Aku sudah tidak punya cerita tentangmu.