Minggu, 25 November 2012

Sebuah Lagu Untukmu

Sebuah lagu berdendang di hatiku..
Lagu tentang rindu..
Lagu tentang cinta..
Lagu tentang dirimu..

Seperti Kerlip cahaya yang memenuhi kota ini..
Membutakan mataku untuk melihat bintang yang bersinar di langit malam..
Seperti itulah dirimu..
Seperti itulah dirimu..

Bibirku tersenyum saat mengingat dirimu..
dan Aku mulai bersenandung kecil..
Senandung indah tentang cinta..
Senandung indah tentang dirimu..

Tak akan ada lagi kata "jika"
Tak akan lagi ada kata "last story"
Tak akan ada lagi kata "shadow'
Senandungku saat ini hanya untukmu..
dan mungkin senandung ini untuk seterusnya hanya ada untuk dirimu..

Selasa, 04 September 2012

Life in a box


"Dunia luar itu indah", begitu pikirku.

Aku menatap langit yang membiru dari balik jendela kamar.
Andai Aku dapat menyentuh langit biru, andai Aku dapat terbang tinggi mengitari angkasa..
Aku seperti menghela nafas saat awan kelabu mulai menutupi langit indahku.
Aku menundukan wajahku perlahan.
Tak lama kemudian terdengar suara rintik hujan jatuh ke bumi.
Aku mendongakkan wajahku, kembali menatap dunia dari balik jendelaku.
Suara gemericik hujan yang jatuh membasahi bumi, jatuh diantara sela-sela pepohonan, jatuh diantara kelopak bunga yang menghiasi halaman di balik jendela terdengar seperti sebuah alunan lagu.
pepohonan dan bunga-bunga terlihat bagaikan menari..
begitu indah..
Andai saja Aku dapat bernyanyi bersama mereka,
Andai saja Aku dapat menari bersama mereka diantara rintik hujan.
Aku memejamkan mataku, mencoba untuk meresapi dunia yang sedang berpesta saat ini.

dan kemudian, rintik hujan berubah menjadi sebuah kesunyian.
Aku membuka mataku perlahan, menatap langit yang mulai gelap tanpa sang hujan dari balik jendela kamar.
Rupanya dunia telah berhenti berpesta dan malam mulai menjelang.
Aku merasakan dunia seperti sunyi, Apakah keindahannya hilang saat malam tiba?
"Andai saja dunia bisa selalu terlihat indah", begitu pikirku.

Aku kembali menatap langit malam yang gelap. Satu persatu lampu pekarangan mulai menyala temaram, dan suara jangkrik mulai membahana memenuhi dunia.
Ah..awan gelap mulai berlalu, dan kemudian rembulan muncul malu-malu menghiasi langit malam.
bintang-bintang mulai berkelip seakan mengedipkan sinarnya merayuku yang hanya mampu terduduk dibalik jendela kamar.
Ingin rasanya Aku terbang dan menghampiri mereka yang merayuku dengan kerlipan sinarnya yang nakal menggoda, tetapi, Aku tak mampu untuk beranjak.

Seketika Aku tersentak saat lampu kamar mulai menyala. seorang gadis kecil berjalan menghampiriku dan mengecup lembut keningku. Kemudian dia berjalan ke arah jendela kamar dan menutup tirai perlahan.
Gadis kecil itu kembali menghampiriku,
dia mengamit tangan kecilku dengan lembut dan merengkuhku kedalam pelukannya.
Kemudian dengan perlahan gadis kecil itu meletakkan aku diatas pembaringan dan kemudian berbaring disebelahku, memelukku dengan lembut.

Malam semakin larut, rembulan masigh saja berusaha menggodaku dari balik tirai.
Aku hanya bisa bergumam, "Selamat malam dunia, saat malam tiba tugasku menemani gadis kecilku untuk terlelap."
Aku tersenyum dan kemudian menatap cermin yang menghadap kearah pembaringan.
Terlihat seorang gadis kecil yang sedang terlelap sembari memeluk boneka kelinci mungil berwarna putih.

"Selamat malam dunia..."

Jumat, 13 April 2012

The Man Without 'R'

He's not Grey..
He's not a Saint..
He's just a little boy..
The boy who alwasy said that how 'Nice' he is..

No..
We never be a lover..
And we never close..
We just a FRIEND.
I've told that at many times..

No..
He's not Naive..
He's just full of him self..
He's just pretend that he's nice..
too much pretend behind his glasses..

He's a little boy who always running from the trouble he's made..

No..
He's not a man..
He's not a prince..
He's not the knight..
and He's not that nice..

He's just a fake..

Rabu, 21 Maret 2012

PARANOIA

92 jam, 5525 menit, 331520 detik berlalu kian menyiksa.
Kriiiiiiiinnnngggggggg.....
Arggghhhh....suara telepon itu mengejutkanku. Haruskah ku angkat ?? Ragu tanganku untuk menjamah gagang telepon..

'Bagaimana jika itu dia?'

Ku pejamkan sejenak mata dan kemudian aku menarik nafas panjang. 'Bismillah..', gumamku.

'Hallo ??'

Tuut tuuttt tuuuttt....
Aku menghembuskan nafas lega dan meletakkan gagang telepon sesegera mungkin. Tiba-tiba..
Krrrriinggg.....kriiiiiinnnggg....
Ku sambar gagang telepon..

"Hallo ??"

"zzzzzz...aaa....ak....kuuu......ssssrrrkkkkk...."

Wajahku memucat.. Terkejut... Secara refleks tanganku melempar gagang telepon.

"itu dia....dia....arggghhhhh."

Segera aku mencabut semua kabel penghubung telepon yang ada dirumah. Seharusnya ini aku lakukan sejak 2 hari yang lalu.
Aku memeriksa semua pintu dan jendela, setelah yakin semua tertutup dan terkunci dengan rapat, aku berlari menuju kamarku dan membaringkan tubuhku di tempat tidur. Meringkukkan tubuh kurusku dibawah selimut dan berharap ini segera berlalu.

Aku terbangun dengan sakit kepala yang hebat. Sinar matahari yang mengintip dan menyorot langsung kewajahku dr balik tirai kamarku malah membuat kepala berdenyut kian hebat.

"Fu**ing morning !" gerutuku.

Aku masih mengantuk dan rasanya malas untuk beranjak dr tempat tidurku. Tak mungkin hari ini aku memberi alasan sakit kepala kpd Bos ku agar aku tidak usah masuk kerja hari ini. Apalagi hari ini aku ada rapat penting yang notabene akan berpengaruh kepada kenaikan gaji yg mungkin akan diberikan padaku.
Dengan enggan aku beranjak menuju kamar mandi.

Ku lajukan sedan tuaku dengan kecepatan 60 km/jam. Beruntungnya pagi ini jalan di jakarta tak begitu padat seperti hari-hari biasanya. Suara david cook mengalun indah, mengiringi perjalananku dan aku pun mulai berdendang.

"Sila.....?!"

Aku terkejut dan tak sengaja kakiku menginjak pedal rem. saat mobilku berhenti secara mendadak, kepalaku terkantuk kejendela mobil. Aku menoleh ke arah kiri dan kebelakang. Sumpah mati ! Aku mendengar ada suara yang memanggil namaku. Aku mengucapkan istigfar berkali-kali.

Tiiiiiiinnnnnnnn....tttttiiiiinnnnn..

Arghhh..mobilku mulai diklakson oleh pengemudi-pengemudi dibelakangku.

"BERENGSEK!", gerutuku.

Ku lajukan kembali sedan tuaku secara perlahan. Aku melirik ke arah jam, masih ada 15 menit lagi sebelum jam masuk kantor dan aku masih punya waktu untuk membeli secangkir kopi untuk menenangkan otak ku ini. Mungkin td hanya imajiku saja karna aku kurang tidur.

Aku melangkah menuju ruanganku dengan secangkir kopi hangat ditanganku. Aku buka pintu ruanganku, di atas meja kerjaku, diantara tumpukan berkas, aku melihat sebuah kotak panjang yang berhiaskan pita berwarna emas.

"apa itu ??", pikirku.

" Bu Sila, tadi ada kurir dari toko bunga yang mengantarkan itu untuk ibu."

Suara Siska mengejutkan aku yg tertegun didepan dipintu.

"oh iya, makasih ya sis.", ujarku seraya tersenyum kepada Siska, sekretarisku.

Aku menatap kotak misterius yang berhiaskan pita emas itu. Ku raih kartu yang terselip diantara pita. Kubaca perlahan kata yang terangkai didalam kartu tersebut.

' Untukmu dari segenap jiwa dan ragaku.'

"Tak ada nama pengirim, aneh...".

Aku membuka perlahan kotak itu.

"Aaaaaa..", aku menjerit seraya menghempaskan kotak tersebut.

Beberapa tangkai Mawar putih yang berlumuran darah.
Ini semua mulai membuatku takut. Dari telepon2 aneh, kartu2 ucapan tanpa nama pengirim, hadiah2 yang mengerikan. Beberapa hari ini hanya ditujukan kerumahku saja, tp hari ini datang ke kantorku. Bahkan setiap aku berpergian, aku merasa tidak tenang. Seakan ada seseorang yang memperhatikan aku.

Kuraih telepon selularku dan aku menelepon sahabat karibku.

" Mona.....tolongin gw..plis...".

" Kenapa sil ?? ".

" Malem ini elo bisa nginep dirumah gw ga ?? Ntar gw ceritain semua ke elo ya..plis mon...?! ".

" Kebetulan banget, baru aja gw mo sms loe..mobil gw masuk bengkel. Berhubung rumah loe deket sama kantor gw, jd gw mo nginep di rumah loe sampe mobil gw keluar."

" alhamdulillah...ntar pulang kantor elo gw jemput. Thanks ya Mon.."

Aku menarik nafas lega dan cepat2 membereskan bingkisan terkutuk itu.
Aku berusaha menenangkan diri sembari menghirup kopi hangat yg ku beli td.

" fokus sil...jam 10 harus presentasi..fokus....".

Ku pejamkan mata sejenak saat sakit kepala menyerang kembali.
Ahhh...Sial...aku harus mempersiapkan bahan presentasi...fokus....fokus....hufhh....


*

Anggap saja presentasi tadi lancar. Saat ini Aku tak perduli dengan kenaikan gaji atau apapun. Yang aku perdulikan adalah kejadian2 aneh yg terjadi akhir-akhir ini.
Aku kemudikan sedan tuaku menuju cafe yang berada diseberang kantor Mona. Otakku mulai letih dengan kejadian2 ini.

Sedan tuaku berhenti didepan cafe, terlihat seorang wanita yang berperawakan kurus menghampiri sedanku.

" sorry lama, tadi macet banget.".

" gpp...eh, ini gw udah beli makanan buat dirumah..sama cemilan."

" asik..! Eh, ga kerumah loe dulu ngambil baju ??"

" ga usah ah, dirumah loe kan masih banyak baju gw waktu nginep kemaren kemaren."

" ok deh. "

Ku lajukan sedan tuaku menuju rumah sembari bercakap-cakap dengan Mona.



**

Mona menghampiri aku yang duduk didepan TV.

"Kenapa loe sil ??"

Aku menolehkan wajahku ke arah Mona dan mulai menceritakan kejadian2 aneh selama beberapa hari ini.

"hmmm.....ga ada orang yang loe curigain ??"

"Enggak ada. Makanya ini bener2 buat gw takut."

"Dulu elo juga pernah gini kan?? Hampir mirip kejadiannya. Setiap kita pergi, elo selalu bilang kl ada yg ngikutin kita, sampe elo ketakutan dan ga mau keluar rumah sebulan."

"Masa sih ? Kapan Mon ? "

"2 tahun lalu. Dan itu berlangsung selama 4 bulan. Akhirnya itu berhenti sendiri kan ?!"

"Hufhhh....entahlah, Ga begitu inget gw. Yang jelas kali ini menakutkan banget."

"Sabar ya sayang..kan sekarang ada gw. Gw temenin elo sminggu ini dirumah. Biar engga ada yg macem2 sama elo."

Aku tersenyum lega mendengarnya.
Semenjak Mona menginap, sudah 2 hari terlewati dengan tenang. Tak ada bingkisan2 aneh dan telepon2 aneh lagi. Aku merasa lega. Tak ada lagi takut dan was-was.

Hari ini aku & Mona berencana menghabiskan malam dengan menonton beberapa DVD yang baru saja aku beli. Aku keluarkan semua cemilan dan soda kaleng dari kulkas.

"Mon.....lama amat sih ditoilet??", teriakku.

"iya...sabar....".

Aku tersenyum geli. Tiba2 'Krrrrriiiiinnngggg.......
Aku tersentak, dengan ragu aku mengangkat telepon. Aku terdiam menunggu suara dr ujung sana, berharap kl itu bukan 'dia'
Tuut...tuttt....tutttt..

Kututup telepon dengan perasaan aneh.

Kriiinnnggggg kriiiiiiiinnnnnnggggg..... Kriiiinnnngggg

Aku tertegun menatap telepon.

Kemudian dengan cepat kusambar gagang telepon.

" ssssss....iiiii....llllll.....aaaaaaa.. "

Aku membanting telepon dan segera ku cabut kabel telepon.

"Kenapa loe sil ??kok di cabut sih kabelnya ??"

Aku terkejut, ternyata Mona sudah berdiri dibelakangku.

"i...ittt..u..."

"ya ampun..loe knp sih?? Pucet gt..minum dulu nih."

Mona menyodorkan gelas yg berisi air putih kepadaku. Dengan segera ku ambil gelas tersebut dan kuteguk habis isinya.

"Ada apa sih sil ??", selidik Mona.

"hhhhh....td telepon itu lagi."

"hah..?? Masa sih??"

"iya, td 'dia' nelepon lg. Agak lama berdering baru gw brani angkat."

"gw ga denger apa2 dr toilet??"

"hufhhh..."

"yawdah...mending kita nonton aja sil..ga usah dipikirin ya..", ujar Mona.



**

Paginya Aku terkejut oleh bingkisan yang tergeletak didepan rumah. Secara spontan Aku berlari masuk kekamar dan menyeret Mona yang baru bangun dr tidurnya.

"Apaan sih sil...??"

"Itu liat..ada bingkisan lagi..", ujarku sambil menunjuk kearah pintu.

"Mana ? Eh iya...bungkusnya cantik."

"Serem. Gw ga berani liat apa isinya."

"Sini..gw aja yg buka."

Mona berjongkok sambil mengambil bingkisan didepan pintu.

"Sila...lucu bgt ini." ujar Mona seraya mengancungkan boneka kelinci mungil yg ada di dalam bingkisan tersebut.

"Engga ada yang aneh Mon ?"

"Engga tuh. Liat aja."

Aku meraih boneka tersebut dari tangan Mona.
Sepertinya semua normal. Tak ada darah, belatung, jarum, silet atau apalah itu.

"Kalau elo ga mau, buat gw aja ya Sil."

"Hmmmpphhh...ambil aja deh Mon. Gw masih takut. Apalagi pengirimnya ga jelas."

"Elo aja kali yang parno ga jelas. Udah ah, gw masih ngantuk."

Mona pun berlalu dan menuju ke kamar sembari memeluk boneka kelinci itu.
aku termangu didepan tv. Sesekali aku menghela nafas. Sedikit bingung dengan kejadian pagi ini.

"ah....sudahlah."

"hey...."

Aku terkejut dan terlonjak dari sofa.

"Monaaaaa.....ngagetin gw aja loe...ahhhh."

Mona tersenyum nakal.

"Nih...gw habis buat jus jeruk."

Aku menyeruput jus jeruk dingin yg diberikan Mona.
Segar....
Seketika aku lupa dengan segala hal yg memenuhi benakku, dan aku sibuk bercengkrama dengan sahabatku itu.

Aku terbangun dengan peluh disekujur tubuhku. Mimpi buruk.
Mimpi masa lalu..kenangan masa lalu.
kenangan dari kesalahan yang ingin aku hilangkan selamanya.
aku menatap Mona yg tertidur pulas di sampingku.

Ingatanku terlempar kebeberapa tahun lalu. Saat dimana aku masih seorang Sila yang labil dan rapuh..mencintai Adrian..memberikan segalanya untuk pria tersebut..termasuk mengkhianati sahabatnya sendiri..karena pria tersebut merupakan calon suami Mona. Sila yang labil dan rapuh. Mengetahui dari awal bahwa Adrian adalah tunangan Mona. Tapi ternyata Logikanya kalah dengan perasaan cintanya sehingga nekat berkali-kali mendatangi Adrian hanya untuk mengemis cinta. Membuang harga dirinya dan menggoda Adrian dengan cara apapun. Hingga akhirnya, seminggu sebelum pernikahan, Mona memergoki Sila dan Adrian sedang berciuman diatas ranjang. Mona mengamuk dan hampir bunuh diri. Seketika Sila kembali dalam kenyataan dan sadar telah melakukan kesalahan besar.
 Sila menangis, merengek dan memohon maaf kepada Mona. Selama 4bulan Sila berusaha agar dia tak kehilangan sahabatnya. Mona pun memaafkan. Hingga sekarang Mona dan Sila tetap bersahabat.

"Maafin gw karna gw pernah ngancurin hidup loe Mon. Gw bodoh banget sampe ngerebut calon suami loe. Buat elo malu karna membatalkan perkawinan loe seminggu sebelum harinya."

Airmataku menetes, dan aku mencoba tidur kembali dengan perasaan galau.


***

Aku kesiangan.........
Dengan panik aku melompat dari ranjangku dan menyambar handukku. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku bergegas menuju garasi. Kulihat Mona dengan santainya mengunyah roti bakar sambil membaca koran.

"Mon, elo kok ga bangunin gw sih ?
 Lho....kok elo belum mandi, emangnya elo ga kerja ?"

"Ngapain gw kerja, kan sekarang tanggal merah Sil."

Astaga, aku benar2 lupa kalau hari ini tanggal merah.
Aku melangkah lesu dan mendaratkan tubuhku ke kursi.
Mona melirikku dan tersenyum geli.
Ku lepas sepatuku, kemudian aku melangkah menuju ranjangku kembali.

Aku menggeliat malas diatas ranjang. Ku kerjapkan mataku perlahan. Sinar matahari bermain-main dikelopak mataku. Aku melirik jam mungil yang tergeletak diatas meja. Rupanya hari sudah siang dan aku tertidur sangat nyenyak.
Dengan gontai aku melangkah ke dapur, mengambil beberapa lembar roti tawar serta segelas susu.

Kringgggggg....

Aku meraih telepon.

"Hallo..."

Tak ada suara disebrang sana.

"Hallo...ini siapa??"

Masih tak ada suara yang terdengar. Dengan segera aku letakkan kembali gagang telepon.
Kriiiinnnnngggggggg..
Kriiiiiiiiinnnnnngggggggggg...

"Hallo...??"

Tutttt ttuuuuuutttt....
Ahhhh....
Kriiiinnnnggggg...

"Hallo.....ini siapa??"

"Akkkkk....aaaaaaa....akkkkkuuuuuu....beeennnnnn.....ciiiii...iiii.....kkkka.....mmmmuuuuuuu".
Seketika wajahku memucat..Aku lempar telepon dari tanganku.
Dengan panik aku menjauh dari telepon dan mencoba mencari Mona.
Tetapi Mona tidak ada.
Aku menarik nafas panjang, mencoba untuk menenangkan diri.
Ujung mataku menangkap secarik kertas asing berwarna biru muda diatas meja makan. Ku raih perlahan kertas itu.

' Sila sayang, gw kerumah nyokap sebentar. Td gw mau bangunin elo tp elonya tidur nyenyak banget..ga tega gw bangunin loe. Nanti kita shopping yuk...udah lama ga shopping bareng. Jam 3 gw tunggu di mall biasa ya. Mona.'

Aku menatap kertas biru muda ditanganku. Sepertinya aku sering melihat kertas yg seperti ini.
Tatapan mataku berhenti pada sebuah kotak kado yg tergeletak disamping vas bunga. Ku buka perlahan kotak itu.
Aku menjerit tertahan.
Kotak itu berisikan gaun putih yang penuh dengan bercak darah. Tanganku gemetar saat aku menemukan sebuah surat yang terselip didalamnya.

'Cecilia..aku sangat membenci kamu'

Nafasku tercekat diantara bau anyir darah yang menyeruak dari kotak tersebut.
Segera aku lemparkan kotak tersebut ke tempat sampah.
Aku berlari masuk ke kamar, aku raih tas, sepatu dan kunci mobilku. Aku bergegas menuju garasi, menyalakan mobil dan pergi dari rumah.

Nafasku mulai terasa normal, aku berusaha menenangkan diriku sendiri.
Tiba2 otakku menangkap ada kejanggalan.
Kertas surat2 terkutuk yg aku terima selama ini, berasal dan berwarna sama dengan kertas yg Mona tuliskan tadi.
Ah....tidak mungkin....
Tunggu dulu...
Setiap telepon dirumah berdering, Mona tidak pernah ada di samping atau didekatku, dan dia selalu berkata bahwa dia tidak mendengar ada dering telepon.
Enggak.....enggak mungkin itu Mona...

Pikiranku semakin kacau...
Aku harus memastikan kl yg menteror aku selama ini bukan Mona.

Sepulang dari shopping dengan Mona, otakku masih saja kacau.
Akupun memutuskan untuk mandi.
Tadi di mall, dia bersikap biasa saja.
Tak ada yang aneh.

Ahhh......aku tak ingin berfikiran macam2 lagi. Otak ku terasa berdenyut karena terlalu memikirkan hal ini.
Segar aku rasakan saat aku sudah selesai berpakaian. Dengan gontai aku melangkah keluar kamar dan menghampiri Mona yang sedang menonton tv.

"eh.....elo udah selesai, sekarang giliran gw mandi yah. Badan gw lengket bgt rasanya."

Mona berlari kecil ke dalam kamar dan mengambil peralatan mandinya.
Aku lihat Mona menggenggam sebotol lulur dan memasuki kamar mandi.
Tiba2 terlintas kembali kecurigaanku terhadapnya. Dalam otakku tersirat untuk memeriksa tas Mona.
Aku melangkah dengan hati2 menuju kamar.
Tas Mona tergeletak diujung ranjang.
Aku buka hati2 dan memeriksa barang2 Mona.
Aku tercekat..Sebuah map berwarna biru menyembul dari dalam tas.
Banyak kartu ucapan yg masih kosong, kertas berwarna biru muda, diary dan beberapa bon yang tertanggal sehari sebelum teror dimulai.
Aku buka perlahan diary itu.

Seketika air mataku menggenang saat membaca selembar kertas yang menggambarkan bahwa Mona masih membenci aku.
Akalku sulit untuk menerimanya.
Hingga saat aku membuka sebuah kotak yang berisikan jarum pentul, silet dan beberapa tabung yang berisikan cairan berwarna darah.

Kriiinngggggg.....
Kriiiiiiinnngggg...

Aku tersentak..
Seketika otakku berkata untuk memastikan bahwa kecurigaanku tidak beralasan, aku harus memastikan bahwa handphone Mona seharusnya ada dikamar.
Aku mencari..dan mencari, tapi tak aku temukan handphone Mona.



****

Aku terus mencari hingga kesudut kamar.
Aku meraih handphoneku.

Krinnngggggggg......
Kriiiiinnngggggg....

Telepon rumah berdering kembali,
Ku tekan nomer Mona

' telepon yang anda tuju sedang menerima panggilan, silahkan hubungi beberapa saat lagi.'
Sibuk........

Telepon Rumahku kembali berdering, dan aku berusaha menelepon handphone Mona kembali.
Masih tetap sibuk.
Dengan galau aku mengangkat telepon

"Hallo??"

"Aaaaaa...kkk..kuuuu....bbeeee...nnnn....ciiiiii......kkkkkaaaa....mmmuuuuu......seeeeehhhhaaaaarrruuussssnnnyaaa..kaaaamm...mmmuuu....mmmmmaaattttiiiii....ssssaaaaa...jjjjaaaa...."

Jantungku berdegup kencang...
Suara wanita, aku yakin itu adalah suara wanita.
Pikiranku kacau...kata2 itu sama persis dengan beberapa kata yang ku baca dalam diary Mona.
Seketika alam sadarku lenyap, aku berlari menuju dapur dan meraih pisau daging.
Aku kalut, aku berteriak dan menggedor pintu kamar mandi.

"Monaaaaaaaa.......keluuuuaaaarrrr loeeee......!! Ga usah pura2 lagi....gw udah tau semuanya.....keluar...!!"

Mona keluar dari kamar mandi dengan wajah bingung, dan seketika berubah pucat saat melihat pisau ditanganku.

"Sila......ada apa ini?"

"GA USAH PURA2 LAGI LOE..."

"Pura2 apa Sil?"

"SELAMA INI ELO YANG TEROR GW, SEMUA BINGKISAN, SEMUA TELEPON, ELO BENCI SAMA GW SAMPE PENGEN GW MATI ? BUNUH AJA GW SEKALIAN, GA USAH PURA2 LAGI JD SAHABAT YANG BAIK LOE!!", Aku berteriak, menangis seraya mengancungkan pisau ke depan wajah Mona.

Mona terkejut dan dengan refleks mundur ke belakang.

"Gw ga ngerti Sil, sumpah gw ga tau apa yang elo omongin..Pliz Sil...tenang.."

Aku semakin kalut mendengar penjelasan Mona. Semua palsu, aku tak bisa lagi mempercayainya, dengan segala bukti2 yang aku peroleh, aku terluka..Mona...sahabatku...sekaligus musuhku.
Aku kibaskan pisau daging itu secara membabi buta.
Darah menetes dari lengan Mona.
Aku berteriak kencang.
Ada seseorang memelukku erat dari belakang. Pisau dapur terlepas dari tanganku, Aku terus menjerit, hingga akhirnya aku terkulai dan hilang kesadaran.


**

Bau antiseptik menyeruak keseluruh ruangan. Tampak Mona dengan tangannya yang diperban duduk dengan wajah lelah.

"Mon, maafin gw. Seharusnya gw ga datang terlambat."

"Sebenarnya, ada apa ini. Tolong jelasin sama gw har."

Hary menghela nafas.

"Maafin kak Sila, Mon. Gw dateng karena td siang kak Sila telepon gw dan cerita ttg teror yang dihadapinya. Saat itu gw tau pasti ada yang ga beres. Tapi gw ga nyangka kalo jadi kayak gini."
Hary menunduk lesu.

"Dari awal, tidak pernah ada teror. Tidak pernah ada telepon dan bahkan kartu ucapan atau apapun itu yang diterima kak Sila, semuanya ga nyata."

Mona tertegun dan Hary menitikkan airmata. Koridor Rumah sakit kian sunyi seakan ikut membisu bersama mereka.


***

Aku mengerjapkan mata, mencoba bangun dari atas ranjang.
Tapi tubuhku tak juga dapat bergerak.
Aku mencoba menggerakkan tanganku.
Tapi tanganku terikat.
Aku menjerit...
menjerit sekuat tenaga..

Hey...
Namaku Cecilia.
Aku wanita anggun dan mempesona.
Aku wanita pintar dan kuat.
Dan tak ada wanita yang seperti aku.
Orang2 iri padaku dan rela berbuat apa saja untuk menjadi seperti aku.
Aku tahu orang2 selalu berusaha menjatuhkan aku dengan berbagai cara. Bahkan sahabatku termasuk ke dalam golongan orang2 tersebut.

Hey..
Namaku Cecilia.
Aku wanita bodoh yang terlena oleh emosi yang bernama cinta. Wanita bodoh yang mengkhianati sahabatnya sendiri.
Wanita yang hina dan seharusnya tak pantas hidup.
Aku menjerit

"AKUUU CECILIA, DAN AKU TIDAK GILA!"

Selasa, 20 Maret 2012

Anomali

Siang ini, Matahari bersinar terik. Suara klakson kendaraan tak henti-hentinya membahana, bising yang terbalut oleh debu dan polusi yang menyeruak diantara jalan ibukota Jakarta.
Terpaksa Aku turun dari taksi yang Aku tumpangi, karena sudah hampir 30 menit waktu berjalan, tetapi taksi yang Aku tumpangi masih saja diam tak bergerak.
Kapan Jakarta bisa terbebas dari kemacetan yang memuakan ini??

Aku bergegas sembari membawa berkas-berkas yang memenuhi kedua tanganku. Toh percuma jika Aku harus mencari ojek untuk mengantarku ke kantor. Hanya 15 menit berjalan kaki, Aku bisa tiba di kantorku.
Aku mengabaikan pandanganku dari padatnya jalan raya siang ini. Sesekali Aku terbatuk oleh debu dan asap kendaraan yang tertiup angin, menyeruak ke dalam saluran pernafasanku. Rasanya Aku butuh libur, dan pergi dari kota ini. Tetapi dengan cepat Aku hapus pikiran itu saat memandang berkas-berkas ditanganku. Banyak yang masih Aku kerjakan, tanggung jawab yang tak bisa Aku tinggalkan, walaupun terkadang Aku ingin bersikap tak perduli. Bekerja 80 jam per minggu membuatku seakan diperbudak oleh pekerjaan, tetapi entah mengapa Aku menikmatinya..sangat menikmatinya.

Aku menarik nafasku perlahan dan menghapus peluh yang bercucuran dikeningku. Udara kantor begitu segar, berbeda dengan udara luar. Jika diibaratkan, diluar sana seperti Neraka dan di gedung ini seperti Neraka yang terbungkus oleh udara Surga. Ironis.

Aku menghempaskan tubuhku ke bangku kerjaku, dan kemudian berkutat dengan pekerjaanku. Harus Aku akui bahwa perkerjaanku cukup menarik, seorang Pengacara.
Yah..seorang Pengacara. Mungkin terdengar begitu menjijikkan profesi ini, tetapi Aku menikmatinya.

Aku memandang berkas-berkas yang minggu lalu baru Aku selesaikan.
Kadang Aku berfikir Manusia itu makhluk-makhluk Bangsat, Biadab dan Serakah.
Makhluk-makhluk bangsat yang selalu menuntut akan sebuah keadilan, padahal mereka sendiri tidak tahu apa itu keadilan. Yang mereka inginkan hanyalah keadilan untuk mereka sendiri dan golongannya, bukan untuk umum. Lalu saat itu terjadi, pro dan kontra selalu muncul.
Mereka menginginkan kedamaian, tetapi mereka sendiri yang menciptakan pertikaian.
Dan kemudian, saat Kami menyelesaikan pertikaian-pertikaian kotor mereka, Kami disebut Bajingan. Ya..ya..ya..Dunia tidak pernah menjadi kejam, hanya Manusia yang membuat dunia terlihat kejam dan kotor. Lalu salahkan jika Aku berfikir bahwa Manusia adalah makhluk Bangsat, Biadab dan Serakah. Ironisnya, Aku juga salah satu dari jenis yang bernama Manusia. Dan Aku mengakui Aku memang Bangsat.


Aku ingat pertama kali Aku mulai bekerja sebagai seorang Pengacara, Aku yang mempunyai idealisme tinggi, yang bertekad untuk tak akan kalah oleh sistem-sistem keparat yang berjalan diluar sana. Selama 3 tahun, Aku dan Idealisme itu ada. Tetapi apa yang terjadi, Aku tak dihargai, Aku luntang-luntung dan tak punya apa-apa. Ironisnya, keluargaku menjadi taruhannya. Hingga akhirnya Idealisme Aku luluh lantak saat Ayahku tewas, ditembak mati, hanya karena Aku tak mengindahkan ancaman demi ancaman dari Manusia-manusia yang bergelimangan harta untuk berhenti membela Manusia-manusia yang mereka anggap seperti sampah.
Dan hebatnya, Manusia-manusia yang Aku bela hingga mengorbankan banyak hal, tak ada satupun yang datang dan ikut berdiri disampingku setelah Ayahku tercinta wafat. Mereka berlari seperti seorang pengecut. Aku seperti tercampakkan dan tersia-sia, demi mereka dan demi idealisme konyol.
Dan kemudian Aku mulai mempertanyakan Idealime yang Aku pegang teguh selama ini. Tidak, Aku tidak butuh penghargaan, Aku hanya butuh mereka berjalan disampingku dan berjuang bersamaku. Tetapi toh kenyataan berkata lain.


Aku tertawa, ya..ya..ya..
Manusia memang makhluk-makhluk Bangsat, Biadab dan Serakah. Mereka menyerukan keadilan, tetapi Apa itu keadilan??
Yang mereka ingin hanyalah keadilan untuk diri sendiri dan golongan mereka.
Dan Ironisnya..Aku merupakan salah satu dari mereka..salah satu dari makhluk yang dinamakan Manusia.

Kamis, 15 Maret 2012

Sleeping Knight

Alkisah seorang ksatria tampan..
Ksatria yang tertidur diatas ranjang kokoh
Ranjang yang berselimut beludru merah..
dan bercahaya oleh ribuan berlian

Alkisah seorang ksatria tampan..
Ksatria yang tertidur selama ribuan tahun didalam sebuah istana.
tangannya menggenggam erat pedang indah yang bertahtakan emas permata..
menunggu kecupan seorang putri untuk membangunkan dirinya dari tidur panjangnya.

Wahai ksatria tampan..
Bagaimana sang putri sanggup untuk membangunkanmu..
sedangkan engkau memasang semak belukar disekeliling istanamu..
semak belukar yang sanggup untuk merobek dan menghancurkan tubuh..

Wahai ksatria tampan..
Bagaimana mungkin sang putri sanggup untuk mengecup lembut bibirmu..
saat Istanamu berdiri kokoh diantara jurang terjal..
Jurang terjal yang sulit untuk dilewati..

Wahai ksatria tampan..
Bagaimana mungkin engkau mengharapkan sang putri untuk datang kepadamu..
sedangkan engkau hanya bisa diam tertidur diantara semak belukar dan jurang yang engkau buat..??
Wahai ksatria tampan..
Wahai ksatria tampanku yang tertidur..

Koma ( memory..where should i keep you? )

Hari ini Mena terbangun dengan perasaan yang berantakan. Diraih telepon genggamnya yang tergeletak disamping bantalnya. Jam 7 pagi..masih jam 7 pagi dan Mena baru tidur selama 2 jam. Mena menarik guling dan mencoba untuk tidur kembali, tapi Mena tak dapat memejamkan matanya.

Akhirnya Mena menyerah, bangun dari ranjangnya dan menghidupkan laptopnya. Lagu Abdul & the coffee theory mulai melantun dari winampnya. Dan Mena mulai bersenandung, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Cukup setengah jam Mena habiskan untuk mandi dan berdandan rapi. Mena meraih tas dan kunci motor dari atas meja belajarnya. Bergegas Mena melangkah turun menuju ruang makan.
"Kamu mau kemana sayang, tumben jam segini udah rapi ?", Ujar Bunda yang sedang menemani Papa sarapan.
Mena menghampiri Bunda, duduk dan mengambil beberapa roti tawar, telur dan mentega.
"Mo kerumah Aria nih nda..iseng dirumah. Kan seminggu ini Mena ga kemana-mana.", ujar Mena sembari mengunyah perlahan roti tawarnya.
"Jangan pulang sampai tengah malem ya sayang.", Papa menyahut dari ujung meja.
"Siap pa..Mena kan ga pernah pulang sampe tengah malem..hehehe.."
"Iya..iya.." ujar papa sembari memeluk putri semata wayangnya.

Selesai sarapan, Mena mencium kening Bunda dan melangkahkan kaki kecilnya menuju garasi.

'Pagi yang cerah untuk jiwa gw yang sepi.', batin Mena. Dikenakan headphones-nya, lagu Peterpan mengalun perlahan membelai lembut indera pendengarannya. Mena tersenyum dan melajukan motornya, menembus jalanan yang mulai ramai.

**
"Ariaaa....bangun...udah pagi nihhh..!!", Mena berteriak sembari menggoyangkan tubuh Aria yang masih bergelung dibalik selimut. Aria menggeliat perlahan. Dilihatnya Mena, Anton, Okta dan Galih berdiri disamping ranjangnya.
Aria menggeliat dan meraih jam weker yang bertengger manis di atas meja kecil yang terletak disisi ranjang, masih jam setengah 9 pagi, dan teman-temannya berbondong membangunkan tidur nyenyaknya.

"wake up sleepyhead..", ujar Galih.
"Uh...gw masih ngantuk..", jawab Aria perlahan sembari menarik kembali selimutnya.
"Eh..anak perempuan ga baik bangun siang2 tau..", ujar Anton.
Mena dan Okta menarik selimut Aria dan menyeret Aria turun dari atas ranjang.

"iyaaaa...aaarggghhh..", Aria melangkahkan kakinya ke toilet dan membasuh wajahnya.

"Ngapain loe semua pagi2 kerumah gw?"
"Lha..kan kemaren elo yang bilang kalau hari ini ngumpul dirumah loe..gimana sih?! Masih muda udah pikun.", ujar Okta.
"Eh, iya ya..heee..gw lupa..", Aria menyeringai lebar.
Anton mengucek perlahan poni Aria yang masih basah.
Aria membuka jendela kamarnya, Sinar mentari menyinari kamar Aria yang berwarna merah terang.

"Gw lagi seneng..jadi gw mo cerita ke kalian semua..", ujar Aria sembari menghampiri Mena yang duduk diatas ranjang. Anton, Okta dan Galih mengikuti Aria dan duduk diatas ranjang.

"Akhirnya gw punya pacar..heeee..", ujar Aria.
"Akhirnyaaaa...", ujar Mena.
"Siapa pria yang tidak beruntung itu?", ujar Okta.
"Gw kira selama ini loe ga doyan cowok. Eh..ntar dulu..pacar loe cowok kan?!" Galih menambahkan.
"Ahhh..rese' loe semua ! Gw kan normal. Dan dia itu cowok beruntung karena dia jadi pacar pertama gw. Ummm..Inget Andre kan?! Cowok yang sering gw ceritain. Dia pacar gw.", Aria tersenyum bahagia.
Mena, Okta, Anton dan Galih tersenyum melihat Aria yang berbinar.
"Siang ini, gw mo ngenalin Andre sama kalian, sekalian mo traktir kalian makan."
"Waaaaaa..asik ditraktirrrrr...", Mena berteriak kegirangan.
"Jangan lupa bawa pasangan masing-masing ya...", ujar Aria.
"Sippp..", Anton dan Galih menjawab serentak.
Mena dan Okta terdiam.
"Aria..gw sama Okta kan ga punya pacar..", ujar Mena mengingatkan.
"Oh iya..gw lupa..maap..maap..hehehe..Loe berdua jangan jomblo kelamaan dong..kalo ga ada yang cocok loe berdua jadian aja..hahahaha..", Ujar Aria.
"Bener tu..kalian berdua kan deket banget..hahaha..", ujar Galih menambahkan.
Mena dan Okta saling berpandangan dan kemudian memandang Aria, Galih dan Anton yang masih saja tertawa.
"iiihhh...ogah gw pacaran sama dia..", ujar Mena sembari menunjuk Okta yang duduk disebelahnya.
"Gw juga ogah pacaran sama cewek jadi-jadian macem dia..", ujar Okta sembari menjauh dari Mena.
Anton, Aria dan Galih tertawa semakin kencang.
"Hati-hati kena tulah lho..ntar kalian malah jadi jatuh cinta..", Aria mengikik geli, menggoda Mena dan Okta yang makin sebal.
Mena melempar Aria dengan bantal. Tapi Tawa Aria tak kunjung berhenti.

"Udah..mending loe mandi sana daripada ngomong ga jelas.", Ujar Okta yang masih sebal.
"Siap Bang...!!!", Aria melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, menutup pintu kamar mandi, tapi kemudian kepala Aria menyembul dari balik pintu kamar mandi.
"Elo semua kecuali Mena, Keluar dari kamar gw..tungguin di Meja makan aja sana.", Aria kembali menutup pintu kamar mandi.
Anton, Galih dan Okta melangkahkan kakinya keluar dari kamar, meninggalkan Mena yang masih duduk diatas ranjang sendirian.

**
Mena memandang keluar jendela, Jalanan mulai terlihat sepi. Mena menghela nafas perlahan. Sudah 1 tahun semenjak Mena putus dengan Pras, Mena tak pernah lagi dekat dengan seorang pria pun. Yah..Anton, Galih dan Okta memang tak dihitung sebagai pria olehnya. Terlalu lama mereka berlima bersahabat. Sudah 3 tahun..ya..sudah 3 tahun mereka bersahabat.

Ingatan Mena terlempar kedalam kenangan 1 tahun yang lalu. Kenangan tentang Pras, Kenangan yang tak hanya indah, tetapi juga menorehkan sekelumit luka, perih..sakit.
Lamunan Mena memudar saat Aria mendekati dan menepuk bahunya.

"Still remember about him?", tanya Aria.
Mena menoleh dan menatap Aria, Mena kemudian menggeleng lemah dan tersenyum.
"Cepetan gih siap-siap."
Aria memeluk Mena dan membelai lembut rambut Mena yang mulai memanjang.

**
"Andre kenalin sahabat-sahabat terbaik aku.", ujar Aria tersenyum.
Andre tersenyum menatap Aria yang terlihat begitu manis hari ini.

"eh, kita mo makan dimana nih?", ujar Galih.
"Ditempat biasa aja ya, tempatnya kan nyaman banget, dan kita rame-rame gini.", ujar Anton.
"sip..sip..", Aria menyatakan persetujuannya.
"Kalau gitu, gw sama Galih jemput pacar dulu ya. Kita ketemuan disana aja."
"Ok deh, Okta sama Mena bareng gw sama Andre ya. mobil sama motor kalian tinggal aja dirumah gw."
Mena dan Okta mengangguk setuju.

**
Suasana restoran siang ini cukup ramai, beruntung Aria, Andre, Mena dan Okta mendapat tempat duduk yang nyaman. Tak berapa lama kemudian Anton dan Galih tiba bersama pasangan mereka masing-masing.

Mereka berbincang dan tetawa. Tak banyak waktu yang terlewati bagi Andre untuk menyesuaikan diri bersama mereka.

Mena memandang Aria yang terlihat penuh dengan binar bahagia. Mena tersenyum, Aria adalah satu-satunya sahabat wanita yang dia miliki. Aria cantik, putih dan menyenangkan. Walaupun usianya paling kecil diantara mereka berlima, Aria mampu berfikir dewasa.
Mena menatap Andre yang membelai lembut rambut Aria. Sepertinya Andre pria yang baik, dan cocok untuk bersanding dengan Aria.

Mena mengalihkan pandangannya ke arah Anton yang menggenggam jemari Sinta. Bagi Mena, Anton dan Sinta adalah pasangan serasi dan menyenangkan. Anton sudah seperti kakak laki-laki baginya, dan Sinta bagaikan kakak perempuan yang Mena impikan. Walaupun kadang Anton sering bersikap menyebalkan, tetapi Anton selalu bisa membuat Mena tertawa.

Mena menatap Galih yang sedang duduk merangkul Dinda. Pasangan ajaib yang selalu membuat Mena iri. Galih yang cuek dan terkesan berantakan bersanding dengan Dinda yang sangat feminim. Mena tersenyum kecil, Walaupun Galih terlihat cuek, tetapi Galih merupakan seorang teman yang sangat memperhatikan sahabat-sahabatnya. Dan bagi Mena Galih terkesan seperti seorang ayah.

Kemudian Mena memandang Okta. Okta yang terkesan pendiam, tetapi cerewet jika sedang berkumpul bersama mereka, Okta terkesan garang, tetapi hatinya sangat lembut dan ternyata rapuh. Okta yang selalu menemaninya saat Pras meninggalkannya demi wanita lain. Tiba-tiba sesuatu menggelitik hati Mena. Mena tersentak saat Okta menatapnya, Mena mengalihkan pandangannya dan meraih orange juice-nya yang masih tersisa.

'Ah..beruntungnya gw punya sahabat seperti mereka. Mereka tak pernah mencampuri urusan gw kl gw ga memintanya, mereka ga pernah menyindir atau mencoba mencari tau ataupun sok tau dengan apa yang gw rasain. Gw sayang banget sama mereka.'

Mena hampir saja terlonjak dari kusinya saat Aria melempar segumpal tissue ke arahnya.
"Jangan bengong aja donk..dari tadi diajak ngomong tapi ga nyaut-nyaut deh..", ujar Aria sambil merengut.
Mena menatap Aria..dan menatap mejanya yang hanya ada gelas orange juice-nya yang mulai kosong.
"Gw laper..makanan gw belom dateng..", ujar Mena lirih sembari memasang muka memelas.
Aria, Andre, Anton, Sinta, Galih, Dinda dan Okta tertawa. Mena hanya bisa memonyongkan bibirnya dan kemudian tertawa bersama mereka.

**
Mena mulai terbiasa melihat Okta datang setiap pagi untuk menjemputnya, sarapan dirumah bersama bunda dan papanya, terbiasa dengan suara Okta yg selalu mengucapkan selamat tidur untuknya. Toh ternyata tanpa terasa sudah 5 bulan terlewati dan semua berjalan sempurna, begitu sempurna. Sebenarnya tak ada yang berbeda dari saat mereka bersahabat ataupun seperti sekarang ini.

'Toh, ini hanyalah pacaran kontrak. Hehehe..aneh ya?! Pacaran kontrak. Tapi kenapa jantung gw ga pernah berhenti berdebar kl Okta ada dideket gw. plis jantung..gw ga mau merusak semuanya. Inget rules-nya..inget rules-nya!!!!', jerit Mena dalam hati.

Mena tersentak saat blackberrynya berbunyi nyaring. Dengan semangat menggebu Mena meraih Blackberrynya, berharap itu telepon dari Okta.
Mena terdiam memandang layar, dengan ragu Mena menjawab panggilan tersebut.
"Hallo..."
"Hallo..Mena??"
"Iya..ini Mena.."
"Mena..apa kabar?"
"Baik..ada apa?"
"Aku kangen kamu..Aku mau minta maaf..minta maaf untuk semua kesalahan Aku. Aku baru sadar kalau Aku sayang banget sama kamu, Aku ga bisa kalau kamu jauh dari aku. Mena..Aku.."
Mena terdiam, rasa sakit dan perih yang Mena kira telah hilang, kini menyeruak kembali dihatinya.
"Maaf Pras, Udah malem. Gw udah ngantuk. Bye!"

Airmata Mena menetes perlahan.
'Gw ga boleh nangis!! Gw ga boleh nangis!!!!!'
Blackberry-nya kembali berbunyi, dengan suara parau Mena menjawab panggilan tersebut.
"Mena, please..jangan dimatiin dulu telponnya. Aku mau kamu kasi aku kesempatan buat menebus semua kesalahan aku yang dulu. Aku ga minta balikan..aku mau nunjukin kalau aku nyesel, dan aku masih sayang banget sama kamu. Aku...."
Mena mematikan kembali teleponnya, tetapi blackberry-nya terus berdering..
Tak henti..
Mena mengangkat panggilan tersebut dengan gusar.

"NGERTI BAHASA INDONESIA? GW MAU TIDUR. ANNOYING BANGET LOE SAMPE MISSCALLS 5 KALI MALEM-MALEM GINI!!!", Teriak Mena.
"Marah-marah kenapa loe? Gw baru aja nelpon loe dah kayaknya."
"Ehh...uhhh..Okta..maaf..gw kira tadi..."
"Siapa? Emang ada yang gangguin loe malem-malem gini?
"Hufh..ga kok..bukan siapa-siapa ta."
"Ya kalo ga mau cerita sih gak apa2."
"Hee..maaf Ta...!! Eh iya..elo kenapa telpon?"
"eh iya, selama sminggu ini gw ga bisa anter jemput loe kekampus. Soalnya gw mesti ke Jogja ada acara keluarga."
"Kok mendadak sih Ta?"
"Nyokap gw baru bilang tadi sama gw. Gw aja kaget."
"Hufh..."
"Kenapa loe? Takut kangen sama gw ya?? Hahahaha."
"Yeeeee..pedeh loe!! Oktaaaa....jangan lupa oleh-oleh ya buat gw."
"Hahaha..kirain gitu. Mau oleh-oleh apa loe?"
"Mau gelang etnik sama batik tulis donggg.."
"Sip..sip..ntar gw bawain. Um...Mena?!"
"Yap? Knp Ta??"
"Ah..ga kenapa-kenapa..heee. Tidur loe..udah malem. Night Mena..sleep tight will ya?!"
"Thank you Okta..sweet dream ya Ta."

Mena mematikan teleponnya dan memandang layar blackberrynya sembari berkata, "I'm gonna miss you so much Okta."

Disebuah rumah yang berjarak beberapa km dari rumah Mena, Okta duduk diatas ranjangnya, menatap layar blackberry-nya, kemudian menghela nafas panjang.
"I'm gonna miss you so damn much Mena."


**
Pagi ini, hujan turun dengan lebatnya. Mena menggeliat diatas ranjang dengan malas dan ditarik selimutnya kembali.

'Hujan..males banget deh..hoooaaahmmm..terpaksa bawa mobil deh ini.'

knock knock..
"Non.."
"Iya Bi..?!"
"Ada temennya jemput, Non.."
Mena menyeritkan dahinya.
'Lho..bukannya hari ini Okta ga kuliah ya? Semalem kayaknya dia bilang mo ke Jogja hari ini.', batin Mena.
Ditatapnya jam weker yang baru saja berdering, waktu sudah menunjukkan pukul 7.15

"Suruh tunggu aja Bi, Mena mo mandi dulu."
"Baik Non."

Mena segera beranjak dari atas ranjang.

'Mungkin hari ini Okta masih bisa kekampus bareng gw, berarti nanti siang dia baru jalan. Yes..hari ini masih bisa ketemu.'

**
Setelah selesai bersiap-siap, Mena berlari kecil menuju ruang makan. Tapi tak ditemukan sosok Bunda, Papanya, maupun sosok Okta.

"Bi...Bunda sama Papa mana? Kok tumben pagi ini belum sarapan?"
"Bapak sama Ibu, tadi berangkat jam stengah 7 non. Kata Ibu, mau ke Bandung."
"Yah..kok Mena ga dikasi tau sih?"
"Tadi Non dibangunin Ibu, tapi Non Mena ga bangun-bangun."
"Uhhh..trus temen saya mana Bi?"
"Nunggu di ruang tamu Non."

'Lho, tumben-tumbenan Okta nunggu diruang tamu, biasanya diruang makan.',pikir Mena.

Mena melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, raut wajah Mena terkejut.

"Hai Mena.."
"Pras?! Ngapain disini?"
"Aku mo jemput kamu, nganterin kamu kekampus."
"Enggak perlu, bisa pergi sendiri."
"Diluar hujan deras, Aku tau kamu paling males bawa mobil, apalagi cuaca kayak gini."
"Orang bisa berubah Pras!"
"Mena..please..setidaknya hargain aku yang jemput kamu pagi ini."

Mena menghela nafas panjang.
'Ya Tuhan, gw berharap ada Okta disini.'

"Mena, yuk berangkat, udah jam segini."
Mena mengangguk lesu, dan berujar
"Gw ikut karena ngehargain elo ya. Besok ga usah repot-repot kayak gini lagi."
"Iya.."

"Bi..Mena berangkat ya.."

Mena pun berangkat ke kampus diantar Pras.
'Gw bete pagi ini, sangat bete. Arggghhh..gw ga berharap bisa ketemu lagi sama loe, Pras. Dan kenapa elo harus dateng kerumah gw. Hufhhh..gw bener-bener berharap Okta ada disini, dia pasti bisa buat gw lebih tenang.', batin Mena

**
Sepanjang perjalanan, Mena hanya membisu. Pras melirik Mena yang duduk disebelahnya.
"Kok, diem aja?", celetuk Pras.
"Ga ada bahan pembicaraan.", jawab Mena ketus.
"Kamu ga mau tanya kabar aku atau apa gitu?!"
"Keliatannya elo baik-baik aja, jadi ga usah ditanya kan?!"
"Oh..mmmm...Mena..Kamu masih marah sama aku?"
"Penting ya buat dijawab?!"
"Maaf...."
"Ga usah minta maaf. Ngapain pake acara jemput segala?"
"Aku mau memperbaiki semuanya, tentang kamu dan aku."
"Ga ada yang perlu diperbaikin. Udah berakhir dari 1 stengah tahun lalu kan?!"
"Aku sama Angela udah putus.."
"........", Mena terdiam
"Aku ternyata ga sesayang itu sama Angela. Dia ga bisa seperti kamu, selama pacaran sama Angela, Aku selalu mikirin kamu. Nyesel, kenapa aku harus ninggalin wanita seperti kamu hanya untuk Angela."
"...........", Mena kembali terdiam.
"Mena, aku bener-bener nyesel. Aku masih sayang......"
"Eh, udah sampe, gw turun ya. Harus buru-buru. Gw udah telat masuk kelas. Makasi tumpangannya.", potong Mena. Dengan segera Mena melepas seat belt-nya, membuka pintu dan berlari keluar mobil.

**
Mena melangkahkan kakinya menuju ruangan. Mena melirik ke arah jendela dikoridor, langit masih saja terlihat mendung, dan hujan turun walau tidak sederas pagi tadi. Mena menghela nafas perlahan. Mena merogoh tasnya, mencoba mencari Blackberry-nya.

'Aria, dimana?'
'Gw baru mo jalan kerumah Okta.'
'Ohh..elo ikut ke Jogja juga?'
'Iya, keluarga gw sama Anton jg ke Jogja.'
'Yah..gw sendirian dong..mana Galih lagi sibuk ditempat magangnya pula.'
'hehehe..sabar ya Mena sayang..ntar gw bawain oleh-oleh yang banyak kok. ☺ '
'Beneran ya.. \('-'.\) (/'-'.)/ \('-'.\)'

'Okta, lg apa?'
'Lg nungguin Aria sama Anton, baru keluar kelas ya?'
'Iya..Gw sendirian deh..hufh.'
'Cep cep cep..cuma seminggu kok perginya. Tadi kekampus naik apa loe?'
'mmm..naik mobil..'
'oh..untung aja loe ga nekat naik motor.'
'yeee..kan ujan Ta..ga mungkinlah gw naik motor kekampus.'
'Loe kan kadang-kadang suka ajaib.'
'sihal kau....!!'
'нɑнɑнɑ, masih hujan ya?'
'Iya..emang dirumah loe ga hujan?'
'Cuma gerimis aja.'
'Okta..'
'Yap?'
'Jangan lupa oleh-olehnya ya..heeee.'
'Iya Mena sayang..'
'Jeh..'
'hahahaha.'

"Mena..."
"Ngapain loe masih disini?"
"Nungguin kamu keluar kelas."
"Gw bisa pulang sendiri."
"Mena, tolong jangan kejam sama gw."
"Kejam? Elo apa gw yang kejam?! Pras, elo annoying banget. Sadar ga sih!! Elo udah selingkuhin gw dan ninggalin gw setahun yang lalu demi ce lain. Dan sekarang loe tiba-tiba muncul gitu aja didepan gw. Sok perhatian, minta maaf dan sebagainya. BASI BANGET LOE!!!"
"Mena..maafin Aku, please..aku harus gimana supaya kamu mau maafin aku. aku khilaf waktu itu."
"KHILAF??? HEBAT BANGET LOE KHILAF SELINGKUHIN GW SELAMA 4 BULAN. DAMN YOU PRAS!!"
"Maafin aku Mena.", airmata Pras mengalir.
"Gw udah maafin loe, tp tolong jangan ganggu gw lagi. Gw udah bahagia tanpa elo!"
Pras mendongakan wajahnya dan mengamit jemari Mena.
"Aku mohon Mena..Mohon banget. Aku sayang banget sama kamu. Aku ga bisa lupain kamu. Cuma kamu yang aku sayang..aku...", Airmata Pras mulai deras bercucuran.
Setiap orang yang lewat mulai melirik Mena dan Pras. Mena mulai merasa terganggu. Mena menarik tangannya yang digenggam Pras.
"Jangan kayak gini. Buat malu gw loe! Ayo pulang!!", Ujar Mena lirih.

Mena melangkah menerobos gerimis menuju tempat parkir, Pras berjalan mengikutinya dari belakang. Mena menarik nafas dalam-dalam.

'Hari ini sucks banget..i hate this day!!', batin Mena

**
Selama seminggu ini, Pras selalu setia mengantar Mena kekampus, menunggu Mena hingga pulang. Membuat Mena kian bingung, terjebak diantara rasa yang entah dia sendiri tak mengerti.

'Gw pengen cerita, tapi gw ga tau harus cerita ke siapa. Gw bingung..gw benci perasaan kayak gini.', Mena menghela nafas.

"Non..Ada temennya dateng Non."
"Suruh tunggu sebentar ya Bi, jangan lupa dibuatin minum."
"Iya Non."

'Siapa yang dateng malem-malem gini, masa Pras dateng lagi?! Kan tadi siang dia baru dari sini bawaain gw coklat.', batin Mena.
Mena melangkahkan kakinya dengan enggan menuju ruang tamu.

"Oktaaa..", jerit Mena.
Okta tersenyum menatap Mena.
"Loe kapan pulang dari Jogja..? Kok ga ngabarin gw sih?", ujar Mena sembari menghempaskan dirinya disofa.
"Tadi sore, gw emang sengaja ga bilang. kan gw mo ngasi kejutan."
"Gaya loe..sok ngasi kejutan. Ini kan udah malem ta..harusnya elo istirahat dirumah dulu, besok baru ke rumah gw. Kangen gw yaaaa??", Ujar Mena sembari tersenyum jahil.
"PD banget loe..ni oleh-oleh buat loe, nyokap, bokap sama bibi. Gw males bawain besok, banyak banget soalnya."
Mena melirik beberapa kantong belanja yang berada di kaki sofa.
"Banyak banget Ta.."
"Gw ga tau mana yang loe suka, jadi gw beliin aja yang banyak, biar loe ga rewel."
"Ah..elo Ta..kan ga gitu-gitu banget."
"hahaha.."
Mena terdiam, pikirannya tentang seminggu ini tak kunjung hilang.
"Mikirin apa loe?"
"gw lg bingung.."
"Bingung kenapa?"
"Pras.."
"Kenapa Pras?", Okta menyeritkan dahinya, tak menyangka nama Pras terlontar kembali dari bibir Mena.
"Selama elo ke Jogja, dia tiba-tiba muncul lagi. Minta maaf sama gw."
"Hmmm..trus loe bingung kenapa?"
"Apa yang harus gw lakuin?"
"Mena.."
"hufhhh..iya Ta?!"
"Elo masih sayang sama Pras?"
"Gw ga tau, yang gw tau selama beberapa bulan ini gw udah ga mikirin dia lagi. Tapi entah kenapa waktu dia muncul, perasaan gw sakit lagi."
"Mena..coba lihat apa yang sebenernya elo mau, gw cuma mau elo seneng. Ga sedih. Dan anak-anak juga pasti akan bilang hal yang sama kayak gw."
"Iya.."
"Gw pulang ya."
"Yah..kok cepet banget sih?!"
"Kan gw kesini cuma mo nganterin oleh-oleh aja. Ga enak kan udah jam segini gw masih bertamu kerumah orang."
"Kan elo udah biasa Ta, nyokap bokap gw juga ga bakal kenapa-kenapa kok."
"Ya..tadi kata loe gw harusnya istirahat dirumah aja..gimana sih? Sekarang gw mo pulang malah elo tahan..bilang aja kalo masih kangen sama gw kan?!", canda Okta.
"Ah..sihal loe..udah sana pulang. Makasi ya Ta oleh-olehnya."
"Sama-sama tuan putri."
"Tuhhh kan..ahhh..", ujar Mena sembari mencubit lengan Okta.

**
Okta menyetir sembari melihat ke arah kursi desebelahnya. Ada bingkisan kecil terbungkus manis tergeletak disana.
'Mungkin ini cuma bisa gw simpen aja, ga akan bisa gw kasi ke Mena. Hufh...Gw emang cuma bisa jadi sahabat aja buat dia. Seharusnya gw ga boleh mengharapkan hal yang lebih. Gw bodoh karena tiba-tiba kepikiran buatin dia liontin kayak gini.', Batin Okta.
Okta menatap liontin yang terukir wajah Mena dan terukir kata-kata 'always be with you'.

Okta menghela nafas dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seketika perasaan lelah mengelayuti hatinya.

**
'Emang cuma Okta yang bisa gw aja sharing. Mungkin gw sebenernya masih sayang sama Pras. Mungkin gw bisa kasi dia kesempatan kedua.', dan Mena pun terlelap.

**
Mena mulai membuka hatinya perlahan kepada Pras. Memulai kembali dari awal. Hanya saja perasaan Mena tak juga membaik. Seakan ada beban yang menghimpit di hatinya. Sudah 3 minggu berlalu, 2 hari lagi, Pacaran kontraknya dengan Okta akan berakhir. Mena meraih Blackberry-nya dan menelepon Okta. Okta yang baik, Okta yang selalu mendengarkan ceritanya tentang Pras.

"Hallo.."
"Hallo..knp Mena?"
"Lagi ngapain Ta?"
"Ga lagi ngapa-ngapain."
"Gw mo cerita dunkkkkk...."
"Cerita apa Mena?"
"Pras.."
"Oh..Kenapa sama Pras?"
"Hari ini gw jalan sama Pras. Dia baik banget. Gw dibawain coklat dan bunga mawar buat gw."
"oh..it's good for you."
"Yeap..he so nice Ta. Sepertinya dia bener-bener nyesel dan bener-bener mo balikan lagi."
"Trus??"
"Hmm..cuma gw belum yakin aja?!"
"Ohhhh..."
"Ahhh..respon loe jelek banget sih?!"
"Gw kan dengerin elo ngomong."
"Trus besok gw mau pergi sama Pras. Dia ngajakin gw dinner. Okta..he so sweet. And i love him when he doing a sweet things to me. Makes me happy. Pras jadi lebih manis daripada Pras yang dulu. Kmarin dia juga kecup kening gw. Its make me fly. Okta.........Pras baik banget. Pras...."
"Mena...stop it!! Bisa ga elo ga usah lagi ngomongin Pras."
"........Elo lagi bethe ya Ta? Gw ganggu ya??"
"hufhh..maaf Mena..gw gak apa-apa.."
"Beneran gak apa-apa? Hmmm..."
"yeap..gw cuma lagi capek aja. Trus Pras kenapa?"
"Kapan-kapan deh gw cerita lagi. Elo lagi ga mood dengerin cerita gw kayaknya. Mmm..besok elo mo kemana Ta?"
"Gak apa-apa. Ceritalah. Gw dengerin kok. Besok gw mo ke bengkel."
"oh. Yakin mo dengerin soal Pras?!"
"Bukannya dari kemarin-kemarin elo selalu cerita tentang Pras ya sama gw?! Pras begini..Pras begitu.."
"Iya sih..Okta..elo lg bethe banget ya?Gw ganggu banget ya?"
"Bukan elo yang ganggu gw Mena."
"Trus? kok gw yang kena sih?!"
"Gw bethe elo cerita Pras terus sama gw. Pras begini..Pras begitu..semua cerita loe selalu tentang Pras. Gw Muak..tolong sedikit aja loe hargain perasaan gw."
"Maaf Ta..gw ga tau kalo elo segitu ga sukanya sama Pras. Maaf."
"Gezz..why you so stupid Mena. Arggghhh.."
"Iya..gw bego..maaf Ta."
"ARGGGHHH..Never mind."
Tut tut tut...

**
Hari ini tepat 6 bulan Mena dan Okta bersama, walaupun hanya pacaran kontrak. Tapi sudah 2 hari ini Mena dan Okta tak bertegur sapa. Mena merasa kehilangan. Tapi terlalu gengsi walaupun hanya untuk menegur duluan.

'Bodo ah..sapa suruh ga sopan, waktu itu main matiin telpon gitu aja. Okta bodoh..gw..gw kangen..arggghhh..mending gw siap-siap deh, gw kan mau ngumpul sama Aria, Anton, Galih trus..Okta..hufhh'

Mena segera bersiap-siap, Gaun biru tuanya yang manis tergeletak diatas ranjang. Mena mengenakan gaunnya, mematut dirinya didepan cermin. Mengenakan highheels dan kemudian melangkah menuju garasi.

**
Mena terpana saat turun dari Mobilnya.
'Itu Pras..sama Angela..Damn!!'

Mena kembali masuk ke mobil dan mengambil Blackberry-nya didalam tas.
'Lagi dimana Pras?'
Mena mengintip dari jendela mobilnya.
'Aku lagi dirumah. Kangen kamu.'
'Oh..ga kemana-mana hari ini?'
'Enggak. Maunya ngajak kamu pergi, tapi kamu ga bisa, jadi ya dirumah aja.'

Mena mengintip Pras dari jendela mobilnya lagi. Pras bergandengan mesra dengan Angela, sesekali Pras mengecup kening Angela. Perasaan geram menyeruak ke dalam hati Mena, tapi entah mengapa rasa lega seakan melepaskan beban yang Mena tahan selama ini.
'Sekarang gw tau apa yang harus gw lakukan.'

Mena Turun dari mobil dan melangkah menuju arah Pras dan Angela yang sedang berpelukan mesra.
"Hai.."
Pras dan Angela terkejut mendengar suara mereka yang menyapa mereka.
"Mena.."
"Ga sengaja ya ketemu disini, kayaknya makin mesra aja."
Pras menatap Mena dengan tatapan bingung, dan Angela hanya tersenyum sinis melihat Mena.
"Udah ya, gw harus nyamperin temen-temen gw disana. Bye..have a nice night for you two.", Mena berlalu sembari tersenyum.

"Mena tunggu....biar gw jelasin semuanya..", Pras melepas pelukannya dari pinggang Angela dan berlari mengejar Mena.
Mena menoleh kearah jalan raya, berharap jalanan sepi sehingga Mena dapat menyebrang.
Pras mengamit lengan Mena.
"Mena..Please jangan salah paham.."
"........", mena tetap diam mengacuhkan Pras dan menepis tangan Pras yang mengamit lengannya.
"Pras..apa-apaan ini?", Jerit Angela.
"Enggak ada apa-apa kok Angel.", ujar Mena.
"Bohong!! Gw tau elo pasti berusaha ngerebut Pras lagi. Stay away from him Mena! Dia cuma sayang sama gw.", teriak Angela.
"Oh..well..he said that he'd broke with you. And wanted me to come back to his life.", Ujar Mena.
"Pras..apa-apan ini? JAWABBB...!!!"
".......", Pras terdiam dan menunduk.
Angela melempar tas tangannya ke arah Pras dan mendorong Mena dari trotoar. Mena terjatuh tepat dipinggir jalan. Kakinya terkilir.

"Ah...fuck kalian berdua. Jangan libatin gw dalam pertengkaran kalian ya. Kalian tu sama aja. Sama-sama Ular.", Mena berusaha berdiri dan menepis tangan Pras yang mencoba menolongnya.

"Enough!!! Stay away from me okay!!", Mena berjalan tertatih. Seketika tubuhnya menegang, seakan kaku dan hancur. Semuanya mulai mengabur dan Mena tak sadarkan diri.

**
Okta menatap tubuh Mena yang terbaring diatas ranjang. Aria menyentuh pundak Okta.
"Gw udah telpon nyokapnya Mena tadi, mereka segera kesini Ta."
"Ini salah gw..seharusnya tadi gw jemput Mena, seharusnya ini ga terjadi Aria.."
"Ini bukan salah loe Ta..", Aria menangis dan memeluk Okta.
"Mena udah sadar??", ujar Anton.
"Belum..darimana loe Ton?", ujar Okta.
"Gw habis dari ruang dokter, nanya keadaan Mena. Tapi gw disuruh nunggu sampe Nyokap Bokapnya Mena dateng."
"Galih mana Ton?", tanya Aria.
"Ke mini market beli makanan buat kita."

Tak beberapa lama Galih datang membawa bungkusan berisi sandwich, air mineral dan beberapa cemilan.
"Ada yang laper ga?"
"Gw...", Aria langsung menyerbu ke arah Galih.
"Gw mau sandwichnya dong Lih.", ujar Anton.
"Elo ga mau Ta?", ujar Aria sembari mengunyah sandwichnya.
"Gw ga laper...", ujar Okta lirih.
"Jangan kayak gitu, elo belom makan dari tadi siang, kalo elo mo ngejagain Mena, elo harus makan biar ada tenaga.", Ujar Anton.
"Bener kata Anton, Ta. Elo harus makan.", ujar Galih.
Aria dengan mulut penuh sandwich mengangguk setuju.

Dengan enggan Okta meraih sandwich yang disodorkan Galih. Okta mengunyah perlahan sandwich ditangannya dan menatap Mena yang terbaring.

Tak berapa lama Bunda dan Papa Mena tiba. Anton menemani Papa Mena menemui dokter, sedangkan Bunda ditemani Aria, Galih dan Okta diruangan Mena.

Setengah jam kemudian, Papa Mena dan Anton kembali keruangan. Bunda menatap Papa, berharap mendengar kabar baik. Tapi Papa hanya terdiam, dan memeluk Bunda.

"Pa..Mena pa..kenapa Mena? Kenapa Mena belum sadar pa? Apa kata dokter pa?", ujar Bunda sembari menangis.
"Mena gegar otak ringan Ma, tak ada yang patah, tapi dokter masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut lagi."
"Tapi kenapa Mena belum sadar Pa? Kalau hanya gegar otak ringan?!"

Papa hanya menggeleng lemah dan kembali memeluk Bunda.

"Lebih baik kalian pulang, ini sudah malam, nanti orang tua kalian khawatir lho.", Ujar Papa kepada Aria, Anton, Galih dan Okta.

"Gak apa-apa kok Om, Mama sama Papa Aria lagi pergi ke Surabaya dan Aria juga udah bilang kok ke Mama kalau hari ini Aria menginap disini."
"Anton juga udah bilang ke Mama kok Om, Mama yang nyuruh Anton buat nginep disini malahan."
"Kalo Galih kan rencananya nginep di rumah Okta Om, jadi ya Galih nginep disini nemenin mereka semua."
"Okta udah izin ke Orangtua kok Om kalo mo nginep disini.".
"Yasudah kalau begitu, yang penting kalian sudah izin ke orang tua kalian. Mena beruntung mempunyai sahabat seperti kalian.", isak Bunda.

**
Mena memandang awan yang bergerak cepat, Mena seakan terhisap kelangit. Matanya seakan berkunang-kunang. Dilayangkan pandangannya, hanya padang bunga. Beberapa orang berlalu-lalang ke arah barat, namun mereka seakan tak mengubris keberadaan Mena.

'Dimana gw?' batinnya.

Mena mencoba menyapa orang-orang yang berlalu-lalang, tetapi mereka tetap tak menggubris Mena. Mena memutuskan untuk mencoba mengikuti orang-orang tersebut. Mena terkejut saat orang-orang tersebut lenyap satu-persatu saat menyentuh sebuah benda bersinar.

'kemana mereka pergi?', Mena keheranan.

Hatinya tergelitik untuk menyentuh benda bersinar tersebut. Jemarinya terangkat perlahan, berusaha menjangkau benda bersinar itu. Namun jemari Mena terhenti saat seseorang menyentuh pundaknya. Mena menoleh perlahan.

"Okta..."
"Jangan pergi Mena."
Mena menandang Okta dengan ragu, memandang benda bersinar dan kemudian memandang sosok Okta yang masih berdiri disampingnya.

"Coba tengoklah kebelakang jika kamu pergi, lihatlah orang-orang yang akan kamu tinggalkan."

Sosok Okta menoleh kebelakang, Mena dengan refleks ikut menoleh. Mena melihat Bundanya yang menangis sedang dipeluk Papa. Mena melihat Aria, Anton dan Galih yang meneteskan airmata. Mena menoleh kembali ke arah Okta.

"Ayo kita pulang.", ujar Okta tersenyum sembari mengulurkan tangannya ke arah Mena.
Mena mengamit tangan Okta yang kemudian membawanya menjauhi benda putih bersinar itu..membawanya pulang.

**
Okta terbangun dari tidurnya, keringatnya bercucuran. Okta bermimpi tentang Mena yang berada di sebuah padang bunga dan Okta mengamit tangan Mena untuk membawanya pulang.

Okta membasuh peluhnya yang membasahi pakaiannya.
'Ah..iya..gw dirumah. Malam ini gw ga dirumah sakit. Jam berapa ini?', Okta menatap jam dindingnya..sudah jam 6 pagi. Tiba-tiba Okta dikejutkan oleh suara ringtone Blackberry-nya. Okta mengangkatnya perlahan. Okta terlonjak dari atas ranjang. Raut wajahnya menampakkan kegembiraan yang teramat sangat. Setelah menutup telepon, Okta berlari menyambar handuk dan bergegas mandi.

**
Mena mengerang lirih, kepalanya terasa sangat sakit. Dilihat Bundanya yang masih saja memeluknya. Ditatap Papanya yang membelai lembut keningnya. Dilayangkan pandangannya keseluruh ruangan yang asing. Bau antiseptik menyeruak, tak ada yang Mena ingat, hanya sebuah mimpi yang Mena ingat. Mimpi tentang padang bunga, disana ada orang-orang yang disayanginya.

**
Okta, Aria, Galih dan Anton datang dan segera memeluk Mena yang sedang mengunyah jeruk yang disuap oleh Bunda. Mena tersenyum menatap sahabat-sahabatnya satu-persatu. Tubuhnya masih terasa kaku akibat koma selama 3 hari ini. Tapi semuanya tetap membaik. Rasa hangat mengalir dihatinya. Mena tersenyum dan merasa bagaikan orang yang paling beruntung, hidupnya bahagia dan hangat oleh orang-orang yang disayanginya.

'Tuhan baik banget sama gw..hanya saja kadang gw kurang bersyukur. Tapi kini gw sadar dan bersyukur, gw dikasi kesempatan lagi buat ada ditengah-tengah orang-orang yang gw sayang, orang-orang yang berarti dalam hidup gw. Gw bersyukur dikasi kesempatan menghirup udara dan menjalani hidup gw kembali. Makasi Tuhan.', batin Mena.

**
Sudah 3 bulan berlalu semenjak kejadian itu. Hari-hari Mena berjalan normal, Okta kembali seperti dulu, menjemputnya saat Mena berangkat kekampus atau saat Mena akan pergi bersama Aria, Anton dan Galih.

Perasaan Mena kian besar terhadap Okta, entah mengapa seakan tenggelam kedalam rasa hangat yang mengebu. Wajah Mena selalu merona saat berdekatan dengan Okta. Jantungnya berdegup kian kencang saat Okta menatapnya. Dan hari ini, Mena begitu merindukan keberadaan Okta yang sudah seminggu ini jarang muncul.

Mena meneguk strawberry floatnya perlahan, angin sepoi-sepoi seakan membelai kulit Mena yang putih bersih.

"Bengong aja loe?!"
Mena terkejut saat Aria menegurnya.
"ehhh..iya..anginnya enak banget.", ujar Mena.
"Hmmm..mikirin apa loe?"
"Ga mikirin siapa-siapa Aria..", Ujar Mena.
"Ga mikirin siapa-siapa??", tanya Aria.
"Ehhh...uhhhh..", Mena berusaha menutupi kegelisahannya karena salah menjawab.
"Mena...."
"Kenapa Aria sayang??"
"Akhir-akhir ini gw ngeliat ada yang aneh sama loe?!"
"Apa yang aneh? Perasaan biasa aja deh."
"I smell something fishy..hmmm"
"Apaan sih Ariaaaa...", ujar Mena panik.
"You're in love right..", tebak Aria.
"Whattt??? In love with who?? Sok tau dehhh..", Mena menjadi lebih panik.
"Okta kan?!"
".............."
"Oh Mena..thats so obvious. Silly you..", seloroh Aria.
"Jelas banget ya keliatan?!"
"Yeap..i can see it clearly Mena.", jawab Aria yakin.
"Gw ga tau sejak kapan, tapi gw ga mau ngakuinnya. Gw takut kalo Okta tau, persahabatan kita jadi berantakan. Gw
Cuma bisa nyimpen ini sendiri. Gw bahagia dan nyaman banget ada dideket Okta, gw kangen kalo dia ga ada Aria. Tapi gw harus sadar kalo dia nganggap gw cuma sahabat, kayak adiknya, ga ada yang lebih.", ujar Mena lirih.
"Ohhhh...Menaaaa..."
"Please jangan sampe ada yang tau ya Aria.."
"Arggghhh..kenapa sih elo berdua bego banget."
Mena terkejut mendengar suara Anton.
"Anton..Galih..kalian kapan dateng?!"
"Gw sama Anton denger kok dari saat elo bilang kalo elo nyaman dan bahagia dan bla..bla..bla..."
"Arggghhhhh Aria...kok elo ga ngasi tau gw sih kalo mereka ada dibelakang gw!?"
Aria hanya bisa menyegir, Cengiran khasnya.
Anton dan Galih duduk mengapit Mena.
"Mena..elo sama Okta tuh bener-bener bego ya?!", Ujar Anton.
"Bego kenapa?", tanya Mena.
"Elo berdua tu saling jatuh cinta, tapi ga mau ngakuin perasaan kalian. Kalian tolol. Sumpah..gw gemes banget sama kalian berdua.", Ujar Anton sambil mengacak rambut Mena.
"Okta..in love with me to??"
"Iya Mena..cuma elo doang yang ga tau."
"Trus gw harus gimana?", Wajah Mena merona dan jatungnya berdegup kencang.
"Apanya yang gimana?",tanya Aria
"yaaaaa..."
"Tell him Mena..tell that you're in love with him. Kita ga apa-apa kok. Kita semua seneng kl elo berdua bahagia."
Aria dan Anton mengangguk, menyetujui perkataan Galih.

Hati Mena berbunga, dan bahagia.

**
Okta mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Malam ini Okta akan menemui Mena, tapi urusannya di Bandung membuatnya agak tertahan hingga sore. Sekarang sudah jam 7 dan Okta baru saja memasuki wilayah Jakarta.
'Aahhh..damn..gw ga sempet pulang dan mandi dulu. Untung gw bawa baju ganti. 1jam lagi gw harus sampai disana.'

**
Mena duduk manis menyeruput chocolatte float-nya. Perasaannya gelisah. Sudah jam 8 lewat 15 menit, tapi Okta tak kunjung datang.

'Tadi Okta bilang bakal dateng telat sih..eeerrrghhh..rasanya gw mau kabur pulang..jantung gw ga berhenti nyiksa gw..Gw malu..tapi gw kangen Okta..'

Mena memandang langit yang dihiasi rembulan. Mena tersenyum saat rembulan seakan menggodanya.

Satu jam berlalu, dan Okta masih saja belum muncul. Mena semakin gelisah.
Waktu berjalan kian lambat, Mena sudah menghabiskan Chocolate float-nya yang ke 5. Dan 4 jam pun berlalu, Okta belum juga muncul.
'Mungkin Okta kecapean dan tertidur, apa mungkin Okta udah ga punya perasaan itu lagi. Huffhhh..Okta..dimana loe..udah 4 jam gw disini dan elo belum juga dateng. Gw telpon tapi handphone loe mati.', gumam Mena.

Mena menyeruput kembali Chocolatte float-nya yang tersisa. Memanggil waiters, membayar bill dan memutuskan untuk pulang.

Mena melangkah menuju tempat parkir dengan gontai, rasa kecewa menggelayut di hatinya.

"Mena..."
Mena menoleh dan mendapat sosok Aria yang memucat dibelakangnya.
"Okta ga dateng Aria, mungkin cuma gw doang yang terlalu berharap."
"Mena..Okta kecelakaan, sekarang Okta dirumah sakit. Gw nyusulin elo kesini naik taksi soalnya elo susah dihubungin."

Wajah Mena memucat dan kemudian meloncat ke kursi kemudi yang disusul Aria masuk ke mobil. Mena mengemudi dengan kecepatan tinggi.
'How come..??please GOD..be nicer with me will ya?'

**
"Okta meninggal Mena..", Ujar Anton.
Tubuh Mena kaku, berlari ke ruang UGD dan menatap tubuh Okta yang terbaring..tak bergerak.
"Ga mungkin..baru aja gw mau bilang sama dia kalo gw sayang sama dia..gw mau dia tau..Taaa.....bangun..jangan ngerjain gw..elo ga mungkin pergi..Okta...bangunnnnn...banguuunnnn....", Mena menjerit histeris sembari menggoyangkan tubuh Okta yang terbaring tak bergerak. Airmatanya mengalir deras. Anton memeluk Mena yang masih saja mencoba membangunkan Okta.
Mena menjerit dan meronta..Airmatanya mengalir kian deras. Aria dan Galih memeluk Mena dan berusaha menenangkan Mena.
Mena menangis kian kencang.

**
Mata Mena yang sembab tersembunyi dibalik kacamata hitamnya. Mena menatap tanah merah gembur tempat dimana Okta baru saja dimakamkan.

'Okta..elo egois!! Elo pergi saat gw mulai sadar akan perasaan gw. Elo pergi sebelum gw sempat mengungkapkan isi hati gw. Lalu apa bedanya sekarang dengan kondisi koma? Kemana gw harus menyimpan semua kenangan tentang elo? Gw bodoh..teramat sangat bodoh. Seharusnya gw sadar lebih awal sebelum semuanya terlambat.'

"Mena.."
Mena menoleh menatap Anton. Anton membelai rambut Mena perlahan dan menyodorkan sebuah liontin.
"Ini liontin dari Okta. Sebelum Okta meninggal, dia bilang sama gw buat kasi ini ke elo. Okta juga bilang supaya elo harus selalu senyum, dan Okta sayang banget sama elo. Elo ga akan pernah sendirian Mena."
Mena meraih Liontin yang disodorkan Anton.
'Always be with you'
Airmata Mena mengalir. Anton memeluk Mena dengan erat.

'Yeap..you always be with me..hanya saja gw terlalu buta untuk menyadari itu..tapi saat gw sadar..semua udah terlambat.'

Minggu, 04 Maret 2012

Tiga Dalam Cinta

*
Nasya termangu menatap malam dari teras rumahnya. Hanya suara kendaraan yang sesekali terdengar memecah kesunyian malam. Nasya menghela nafas, malam kian larut tetapi suaminya tak kunjung pulang. Kekhawatiran menusuk dalam hati Nasya. Bukannya Nasya tak mencoba untuk menghubungi suaminya. 5 jam yang lalu Nasya mencoba menghubungi telepon genggam suaminya, tetapi hanya kotak suara yang Nasya dapatkan. Saat Nasya menghubungi telepon kantornya, Satpam kantor berkata bahwa suaminya sudah pulang dari 5 menit yang lalu. "Dimana kamu sayang ? Tak ingatkah bahwa hari ini adalah hari yang istimewa ? Hari perkawinan kita yang ke 4 tahun ?". Nasya memejamkan matanya perlahan dan merapatkan sweater khasmir kesayangannya. Dinginnya malam mulai menusuk karena hujan tak kunjung berhenti.

Nasya terbangun saat merasa tubuhnya seakan terayun diudara. Aroma yang tak asing menyeruak kedalam hidungnya yang bangir.
"ah..maaf aku membangunkanmu sayang. Dan maaf karena aku pulang terlalu malam, membuatmu menungguku didepan teras hingga selarut ini."
Nasya tersenyum melihat wajah suaminya yang ternyata menggendongnya menuju kamar.
"Tak apa sayang." ujar Nasya lirih.
Nasya memejamkan mata saat suaminya mengecup lembut keningnya.
"Aku, sudah menyiapkan makan malam untukmu sayang, mungkin sudah dingin. Biar aku hangatkan untukmu."
"Nasya, aku tak lapar. Aku hanya lelah. Maaf."
"Ah..sudahlah, biar aku rapikan makanan di meja makan terlebih dahulu. Aku sudah menyiapkan piyamamu diatas ranjang. pergilah mandi dan tidurlah sayang."
Nasya sedikit kecewa, sepertinya makanan yang dia siapkan tersia2, dan sepertinya Sofyan juga tidak mengingat hari istimewa ini.

Nasya terbangun oleh sinar mentari yang bermain di wajahnya. Perlahan Nasya menggeliat dan menoleh ke sisi ranjang. Kosong..tak ada sofyan disisinya. Nasya duduk perlahan, menatap jam dinding, sudah jam 7 pagi. Hampa..tetapi kicau burung seakan mengejek Nasya pagi ini. Nasya beranjak dari ranjang menuju ruang makan. Nasya menatap meja makan yang rupanya telah tersedia sarapan, bingkisan kecil dan sebuah kartu. Perlahan Nasya meraih kartu tersebut dan membacanya.
"Maafkan aku sayang karena melupakan hari perkawinan kita kemarin, maafkan aku sayang karena tidak membangunkanmu pagi ini dan mengecupmu saat aku akan berangkat kerja, maafkan aku sayang karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, maafkan aku sayang karena aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu. Terimakasih karena telah menjadi bagian dari hidupku.. Aku mencintaimu. Suamimu."
Airmata Nasya merebak perlahan, mungkin Sofyan bukan suami yang romantis, tetapi Sofyan tetaplah Sofyan yang amat Nasya cintai. Nasya membuka bingkisan dan kemudian terkejut. Sebuah kejutan yang indah, gaun berwarna merah dan sillueto yang indah. Nasya berlari kecil dan bergegas mencoba gaun tersebut. Gaun tersebut melekat dengan sempurna dalam tubuh Nasya. Nasya meraih teleponnya dan menghubungi suaminya.
"Sayang..terimakasih..aku juga mencintaimu, maaf karena aku terlambat bangun hari ini."
"Tak apa sayang. Aku tidak tega membangunkan kamu yang tidur dengan pulasnya. jadi aku hanya bs membuatkanmu sarapan."
"Ah..terima kasih sayang. Selamat bekerja hari ini. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Nasya melepas gaun indah itu dan menggantungnya dilemari. Nasya bergegas menghabiskan sarapannya dan memulai rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.
Saat Nasya merapikan kamar, tiba2 terdengar suara telepon, tapi Nasya yakin itu bukan miliknya. Nasya mencari sumber suara tersebut. Ternyata itu reminder dari telepon selular suaminya yang tertinggal dikamar. Nasya tertegun saat melihat isi reminder tersebut. 'ingat memesan hotel seta di Bandung untuk hari sabtu selama 3 hari.'
Ah..mungkin Sofyan lupa mengatakan padanya bahwa hari sabtu Sofyan harus keluar kota. Saat Nasya mematikan reminder, Nasya kembali tertegun. Dilayar terpampang jelas photo suaminya dengan seorang wanita yang cukup dikenalnya. Nasya terduduk lesu, pikirannya bingung. Nasya memberanikan diri untuk memeriksa telepon selular tersebut. Inbox dan gallery berisikan hal yang cukup mencengangkan baginya. Tetapi Sofyan tidak mungkin berselingkuh. Nasya begitu yakin Sofyan tidak mungkin berselingkuh karena Sofyan sangat mencintai Nasya.

Malam harinya, Nasya menyambut kepulangan Sofyan dengan gaun merah barunya. Nasya mengecup lembut kening Sofyan yang mengagumi betapa cantiknya Nasya dalam balutan gaun tersebut.
"Kemarin, kita tidak sempat merayakan ulang tahun pernikahan kita. Tapi tidak ada kata terlambat sayang. Aku sudah menyiapkan makan malam yg istimewa untukmu."
Nasya mengamit lengan suaminya dengan mesra. Seakan bernostalgia, mereka menikmati makan malam dengan gembira. Mengulang kembali kisah sewaktu mereka belum menikah. Setelah itu mereka duduk berpelukan menikmati malam. Nasya merasa bahagia, bahagia karena memiliki suami selembut dan sebaik Sofyan.
"Sayang, sabtu pagi aku harus pergi ke Bandung. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku tangani sendiri."
Nasya menatap wajah suaminya dengan lembut.
"Selama berapa hari sayang?"
"Aku usahakan hari minggu malam aku sudah kembali ke Jakarta."
"Bolehkah aku ikut bersamamu? Sudah lama aku tidak pergi ke Bandung?".
"ah..sayang..maaf, tapi aku tak enak dengan staff yang lain jika kamu ikut serta. Lain kali aku akan mengajakmu liburan kesana."
Nasya memandang suaminya dengan perasaan khawatir, seketika Nasya teringat photo2 mesra suaminya dengan wanita itu.

"Siapa saja staff kamu yang ikut serta sayang?"
"Lina dan beberapa pegawai baru yang harus aku berikan banyak pengarahan mengenai proyek ini."
Nasya menghela nafas. Lina, sekertaris suaminya semenjak 2tahun lalu. Lina, wanita yang menawan tapi membuat Nasya cemas hari ini karena Lina adalah wanita yang ada diphoto itu.
"Aku pasti akan menyempatkan diri untuk membelikan kesukaanmu."
Nasya tersenyum dan mengecup lembut pipi suaminya.
"Tidurlah sayang, besok kamu harus bekerja."
Nasya beranjak menuju kamar dan disusul oleh suaminya.

Tidak seperti biasanya Nasya berdandan siang ini. Dikenakannya jeans hitam, kaus berwarna abu kesukaannya dan dipadukan dengan kets kesayangannya. Nasya pun beranjak menuju garasi. Tiba-tiba saja Nasya ingin berbelanja dan menghabiskan waktunya diluar rumah hingga sore nanti, sesuatu hal yang amat sangat jarang dilakukannya selama setahun terakhir ini.
Nasya tiba disebuah Mall dan bergegas menuju butik-butik ternama yang berada disana.
Tak kurang dari satu jam, Nasya sudah membawa beberapa kantung dikedua tangannya. Setelah merasa puas berbelanja, Nasya merasakan perutnya mulai menuntut untuk diisi makanan. Nasya melangkahkan kakinya menuju tempat makan favoritnya bersama suaminya sewaktu mereka masih berpacaran. Tiba-tiba Nasya menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah pucat dan kemudian Nasya berlalu.

Sesampainya dirumah Nasya melempar semua kantung belanjaannya. Pikirannya kacau, Nasya berusaha menenangkan dirinya dan berusaha memungkiri apa yang tadi dilihat oleh kedua matanya.

Waktu berjalan kian cepat, dan hari Sabtu pun tiba. Nasya berdiri didepan rumah mengantarkan kepergian suaminya ke Bandung. Pikirannya melayang dan kian kacau.
Saat kendaraan suaminya menghilang dari pandangannya, Nasya melangkah masuk ke dalam rumah.
Nasya menghenyakkan tubuhnya ke dalam rengkuhan sofa.
Matanya yang indah sesekali menatap jam dinding yang bedetak memecah ruangan.
Tak tahan dengan segala dilema yang membuncah disanubarinya, Nasya bergegas membasuh tubuhnya di kamar mandi, menyiapkan tas jinjingnya dan memanaskan sedannya.
Nasya nekat menyusul sofyan ke Bandung.

Udara Bandung siang ini cukup panas, Nasya hanya bisa menahan geram karena ternyata Hotel yang dicari tak mudah untuk ditemukan. Setelah 2 jam berputar dan bertanya kepada orang sekitar, akhirnya Nasya menemukan Hotel tersebut. Hotel kecil yang cukup cantik. Seketika hati Nasya meragu, 'Apa yang sebenarnya aku lakukan? Seharusnya aku mempercayai suamiku.'
Nasya kembali menghidupkan sedannya, tapi kemudian matanya menangkap sosok suaminya yang bergandengan mesra dengan seorang wanita. Mereka terlihat bahagia dan sesekali jemari Sofyan mengelus rambut wanita itu.
Airmata Nasya menggenang dipelupuk matanya.
Nasya bergegas turun dan mengikuti Sofyan, menunggu hingga Sofyan dan wanita itu menaiki lift. Nasya menunggu dan menunggu. Hingga akhirnya Nasya melangkah dengan berat menaiki Lift.
Nasya menguatkan dirinya saat memergoki Sofyan berciuman mesra dengan wanita itu di depan pintu kamar hotel.
Nasya berdiri cukup lama di belakang mereka, sampai sofyan akhirnya menyadari kehadiran Nasya.
Nasya hanya tersenyum pahit dan kemudian berlalu. Nasya sempat melihat Sofyan berlari mengejarnya. Tapi Nasya tak perduli, yang Nasya inginkan hanyalah pulang ke rumah.

**
Sofyan memacu kendaraannya dengan cukup kencang. Senyum masih menghiasi bibirnya yang dihiasi kumis tipis. Hari yang menyenangkan untuknya. Menghabiskan waktu dengan Lina. Sofyan melemparkan pandangannya ke belakang, dilihatnya sebuah bingkisan yang berisikan sebuah gaun. Gaun yang baru saja Sofyan belikan untuk Lina. Gaun indah yang akan sangat cantik sekali jika Lina mengenakannya. Sofyan kemudian menatap jam tangannya, sudah jam 11 malam. Sofyan melajukan mobilnya semakin kencang, sudah terlalu larut dan Nasya hanya sendirian dirumah. Seketika hatinya diliputi perasaan bersalah, bersalah karena mengkhianati Istrinya.

Sesampainya dirumah, Sofyan melihat Nasya tertidur di teras. Hatinya kian diliputi rasa bersalah. Sofyan mengangkat tubuh Nasya perlahan, seakan takut untuk membangunkan Nasya.

Tapi ternyata Nasya terbangun, mengejutkannya. Ditatap wajah Nasya dengan lembut saat Nasya mengecup lembut dirinya.
'Tidurlah sayang' ujarnya.

Sofyan membaringkan tubuh Nasya dengan lembut keatas ranjang. Sofyan menatap lekat wajah Nasya yang tertidur pulas.
'Bidadariku tersayang, maafkan aku.'
Sofyan mengecup lembut kening Istrinya, dan melangkah keluar kamar. Sofyan melangkahkan kakinya menuju dapur, seketika tubuhnya kaku saat menatap meja makan. Sebuah kue coklat kesukaannya dengan ukiran indah terhidang diatas meja.
Sofyan kian diliputi perasaan bersalah, melupakan ulang tahun pernikahannya yang ke 4 dengan Nasya. Sofyan benar-benar melupakan hari penting ini.
Sofyan melangkahkan kakinya menuju garasi. Diraihnya bingkisan yang seharusnya Sofyan berikan untuk Lina.
'Biarlah gaun ini aku berikan untuk Nasya.' pikirnya.

Bukannya Sofyan tidak mencintai Nasya. Sofyan mencintai Nasya dengan sepenuh hatinya. Segalanya akan Sofyan berikan untuk Nasya. Menikahi Nasya adalah Impian dan kebahagiaan terbesar untuknya.
Tetapi saat ini cintanya terbagi, untuk Nasya dan juga untuk Lina.
Lina adalah seorang wanita yang sangat berbeda. Pertemuannya pertama kali saat Sofyan menjadikan Lina sebagai sekretarisnya. Lina wanita cerdas dan mandiri, membuat Sofyan bergetar saat menatapnya. Hal yang sama saat Sofyan menatap Nasya.
Sofyan berusaha menepis segala hal yang dirasakannya untuk Lina. Hingga saat Sofyan tanpa sadar merapatkan bibirnya kedalam bibir Lina. Lina menangis dan Sofyan hanya tertegun, meraih Lina ke pelukannya. Semenjak hari itu Sofyan menjalin hubungan dengan Lina.

Sofyan menggeliatkan tubuhnya disofa dan kemudian tertidur pulas.

Keesokannya, saat Sofyan pulang dari kantor, Nasya menyambutnya dengan riang. Nasya mengenakan gaun itu. Sangat cantik. Betapa Sofyan mencintai Nasya, dulu, esok dan seterusnya.
Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang2, bernostalgia tentang dahulu. Sofyan bahagia, menginginkan kebahagiaan ini untuk selamanya. Tetapi sosok Lina terus saja melekat dipikirannya. Nasya bagaikan Bidadari langit dan Lina bagaikan Dewi bumi. Sofyan menderita, sangat menderita, karena Sofya mencintai mereka sekaligus dan Sofyan membutuhkan mereka.

Sabtu ini Sofyan berangkat ke Bandung. Ditatap wajah Nasya yang mengantar kepergiannya. Hatinya resah, kian merasa menderita. Tetapi Sofyan tidak sanggup untuk memilih, terlalu pengecut untuk kehilangan salah satu dari mereka.

Sofyan melajukan mobilnya menjemput Lina dan melajukan mobilnya menuju Bandung. Sepanjang perjalanan Sofyan hanya terdiam sambil sesekali menatap Lina yang duduk terdiam di sampingnya. Tidak seperti biasanya Sofyan melihat Lina terdiam seperti ini.
Sofyan menggenggam lembut jemari Lina yang lentik. Sofyan menangkap perasaan gelisah dalam wajah Lina.
'Mas, aku merasa bersalah sama mbak Nasya. Aku wanita jahat, merebut kamu dari sisinya.'
Sofyan terhenyuh, dan kemudian berujar 'Aku yang bersalah karena mencintai kalian berdua, aku yang bersalah karena aku membutuhkan kalian.'
Dan mereka pun terdiam sepanjang perjalanan.

Sesampainya di Bandung, Sofyan memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah restoran. Sembari menikmati makanan yang mulai terhidang, Sofyan membicarakan banyak hal kepada Lina, membuat Lina kembali tersenyum.
Setelah mereka menghabiskan waktu berbelanja di wilayah Dago, Sofyan dan Lina memutuskan untuk ke Hotel yang sudah di pesan Sofyan beberapa hari yang lalu.

Sesampainya di Hotel, Lina menggandeng lengan Sofyan dan sesekali mengelus rambut Lina denga mesra. Sofyan bahagia menatap wajah Lina yang berbinar manja.
Sofyan mengecup bibir Lina di depan pintu kamar, merasakan hangatnya bibir yang lembut Lina bersentuhan dengan bibirnya.
Seketika Sofyan terkejut saat merasakan seseorang menatap mereka. Sofyan memalingkan wajahnya dan menatap Nasya yang berdiri di belakangnya. Nasya hanya tersenyum dan berlari meninggalkan Sofyan yang masih memeluk Lina.
Saat Sofyan tersadar, Sofya bergegas mengejar Nasya tapi Nasya sudah menghilang. Sofyan merasakan kepedihan yang kian lian mengerogoti hatinya. Penyesalan jauh lebih besar terasa.

***
Lina merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Senyum tak lepas dari bibirnya yang ranum, mengingat waktu yang dihabiskannya bersama Sofyan hari ini.
Lina menatap langit yang kian mendung dari balik jendela kamarnya. Tiba-tiba hatinya gelisah.
Pikirannya kembali ke dalam kenangan setahun yang lalu.
Pertemuannya yang pertama dengan Sofyan.

Dimata Lina, Sofyan adalah lelaki yang tampan dan sopan. Lelaki cerdas yang hidupnya sempurna. Lelaki yang dikaguminya dan Lina juga mengagumi Istri Sofyan, Nasya. Sofyan dan Nasya adalah pasangan yang serasi, mereka sempurnya. Terkadang Lina ingin menjadi sosok yang seperti Nasya. Cerdas, anggun dan mandiri. Dan Lina ingin mempunyai seorang pendamping seperti Sofyan. Entah sejak kapan perasaan Lina berubah dari mengagumi Sofyan menjadi perasaan cinta. Tetapi Lina berusaha menepis perasaannya, karena Lina cukup tahu diri bahwa dia tak mungkin memiliki Sofyan yang sudah memiliki seorang istri.
Hingga suatu ketika, Lina tanpa sadar mendapati bibirnya bersentuhan dengan bibir Sofyan. Lina tertegun dan menangis. Dirinya tak sanggup lagi menahan perasaannya yang kian membesar dari hari ke hari.
Perasaannya sakit saat Sofyan kemudian memeluknya dengan erat, dan semenjak itu Lina mulai berhubungan dengan Sofyan.

Lina memang bahagia bersama Sofyan, tetapi perasaan bersalahnya kian hari kian bertambah besar. Jujur saja Lina bingung harus berbuat apa. Hatinya menjerit dan meronta, logikanya berkata untuk meninggalkan Sofyan, tetapi Lina merasa tak sanggup. Cintanya kepada Sofyan begitu besar.

Sabtu ini Lina menunggu Sofyan menjemputnya untuk pergi ke Bandung. Lina teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Lina dan Sofyan memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang terletak di salah satu Mall besar. Saat itu Lina menggandeng mesra lengan Sofyan. Tetapi kemudian Lina seperti melihat sosok Nasya menatap mereka dari kejauhan. Lina tidak bisa meyakinkan dirinya apakah itu hanyalah sebuah halusinasi karena rasa bersalahnya, ataukah itu nyata.
Seketika lamunan Lina buyar oleh suara klakson mobil. Lina mengangkat wajahnya dan melihat Sofyan yang sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya.

Sepanjang perjalanan Lina hanya bisa terdiam dan Sofyan pun terdiam. Lina terkejut saat Sofyan mengenggam lembut jemarinya.
'Mas, aku merasa bersalah kepada mbak Nasya. Aku wanita jahat merebut kamu dari sisinya.'
'Aku yang bersalah karena aku mencintai kalian berdua, aku yang bersalah karena membutuhkan kalian.'
Kemudian mereka kembali terdiam sepanjang perjalanan.

Lina berusaha menahan airmata yang memberontak liar dipelupuk matanya. Sepertinya Sofyan menyadari hal itu karena Sofyan mengajaknya untuk menyantap makanan disebuah restoran dan membuatnya tertawa oleh celotehan2 lucu. Perasaan Lina mulai membaik, tetapi rasa bersalah tak juga hilang dari hatinya.

Setelah menghabiskan waktu dengan berbelanja, mereka pun menuju hotel yang telah di pesan beberapa waktu yang lalu. Lina menggandeng manja di lengan Sofyan yang kekar. Sesekali Jemari Sofyan mengelus lembut rambut Lina yang halus. Membuai Lina dalam kebahagiaan yang tidak terhingga. Sesampai didepan pintu kamar, Lina merasakan Sofyan merengkuhnya ke dalam pelukan dan mengecup bibirnya dengan Lembut. Lina merasa bagaikan di awang2. Seketika Lina merasakan tubuh Sofyan menegang dan melepaskan ciumannya. Lina mengalihkan wajahnya yang memerah kearah wajah Sofyan. Baru Lina Menyadari bahwa Sofyan memandang ke arah lain. Nasya..Nasya berdiri di sana..menatap Lina dan Sofyan. Lina melihat Nasya tersenyum sedih dan kemudian Nasya Berlari, pergi.
Airmata Lina merebak dan jatuh dengan deras, perasaannya kian berdosa saat Sofyan melepaskannya dan berlari mengejar Nasya. Bukan ini yang diinginkan Lina, Lina tidak pernah berniat menghancurkan rumah tangga orang yang dikaguminya, Lina tidak pernah ingin menjadi orang ketiga.

****
Semenjak kejadian di Bandung sabtu lalu, Nasya tetap bersikap seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk suaminya, menyambut kepulangan suaminya setiap sore. Hanya saja ada yang berbeda. Nasya dan Sofyan jarang berbicara dan Sofyan pun hanya terdiam dan menyibukkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan di kamar setiap malamnya.
Sesekali Nasya memergoki suaminya menatap sesuatu sambil berurai airmata. Nasya hanya bisa berlalu dan menenggelamkan dirinya dalam buku-buku.

Dua bula berlalu setelah kejadian itu, tubuh Sofyan kian mengurus, dan lingkar hitam di matanya kian terlihat.
Nasya melangkah perlahan menghampiri suaminya yang tenggelam dalam pekerjaannya.
'Apakah kamu begitu mencintainya?'
Tetapi Sofyan hanya terdiam menatap Nasya dan airmatanya mulai merebak. Nasya memeluk suaminya dengan perasaan sayang dan hancur. Kemudian Nasya membimbing suaminya yang masih saja berurai airmata. Dipeluk tubuh suaminya dengan kasih, dibelain rambut suaminya dengan lembut hingga suaminya tertidur.

Nasya melajukan sedannya memecah kesunyian malam.
Batinnya merasakan kelelahan yang teramat sangat.
Nasya menghentikan sedannya disebuah rumah. Dengan sedikit ragu, Nasya menekan bel.

Lina terkejut mendapati Nasya didepan rumahnya malam ini. Dengan ragu Lina mempersilahkan Nasya untuk masuk, tetapi Nasya menolak dengan halus dan memilih untuk duduk di teras.
'Cintakah kamu kepada suamiku?'
Pertanyaan Nasya membuat Lina berurai airmata. Tak ada kata yang bs terucap dari bibirnya. Seketika dirasakan sebuah tangan memeluknya dengan lembut. Nasya memeluknya dengan kasih dan mereka menangis dalam heningnya malam.

Nasya tidak perlu sebuah jawaban malam itu. Baginya sudah cukup jelas apa yang dirasakan oleh Sofyan dan Lina. Nasya juga tak mungkin berpisah dari Sofyan. Ditatapnya perutnya yang mulai membuncit. Nasya sudah mengandung selama 5 minggu. Mungkin ini jalan yang terbaik.
Ditatapnya hiasan dan janur yang menghiasi rumahnya. Ditatapnya ranjang yang dihiasi kelopak mawar. Ini hari bahagia untuk suaminya dan Lina.
Nasya hanyalah seorang wanita biasa yang merelakan suaminya berbagi dalam cinta..Tiga cinta.

Senin, 27 Februari 2012

Ini Sebuah Kebebasan

Pernahkah kamu merasakan telanjang mengitari kamarmu..??
benar-benar telanjang..
tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhmu..
dan hanya ada dirimu sendiri dengan tubuhmu yang telanjang..

Pernahkah kamu memperhatikan setiap lekuk tubuhmu dengan seksama ??
merasakan teksturnya..
merasakan setiap sudutnya..
merasakan dirimu sendiri tanpa rasa jengah ??

Ah..Jangan berfikiran kotor..
Rasakan saja tubuhmu sendiri..
tanpa ada maksud untuk memuaskan nafsu akan birahi..
tanpa ada maksud untuk melampiaskan nafsu akan birahi..
Rasakan saja..
sentuh saja..
hanya untuk benar-benar mengenali dirimu sendiri.

Setelah kamu menyentuh dan merasakan..
pernahkah kamu berfikir..
seberapa sering kamu memperhatikan dirimu..
bersyukur akan tubuhmu..
mencintai dirimu sendiri..??

Pernahkah kamu berfikir bahwa tubuhmu itu seperti sebuah kanvas..??
setiap kerutan..
setiap bekas luka..
setiap lekuk..
mereka mempunyai cerita tersendiri..
cerita tentang dirimu..

Tubuhmu itu seperti seorang sahabat..
sahabatmu yang dapat berbagi setiap cerita yang tak bisa kamu bagi kepada yang lain..

Pernahkah kamu berfikir bahwa tubuhmu itu selalu indah..
walaupun setiap cerita yang tubuhmu bisa ceritakan dapat membuatmu menangis ataupun tersenyum..
tubuhmu tetaplah indah..

Walaupun kamu berusaha menghilangkan setiap luka ditubuhmu..
semua kisah dalam hidupmu tak akan bisa hilang..
dan semakin kamu berusaha menghilangkan luka dan kisah itu..
kamu akan semakin terjerat..
lekat..
erat..
dan kamu akan tetap terperangkap dalam kisah - kisah kelam..
terpenjara didalamnya..

maka belajarlah untuk mencintailah dirimu sendiri..
Cintailah kenanganmu sendiri..
karena itulah arti kebebasan yang sebenarnya..

Minggu, 26 Februari 2012

Naked

Jemariku menyentuh kulitku perlahan..terasa lembut dan halus..
Kemudian Ku sentuh kulit di wajahku..
leherku..
payudaraku..
pinggangku..
pahaku..
betisku yang bagaikan butir padi..
Ahhh...indah..
begitu indah..

Aku mengagumi segala yang ada pada diriku..

Jemariku menyentuh setiap lekuk yang ada di tubuhku..
Sempurna..
itu pikirku..

Dan kemudian Aku menyentuh tubuhnya..
wajahnya..
matanya..
hidungnya..
bibirnya...
lehernya..
ototnya yang terbungkus halus di lengannya..
dadanya..
pinggangnya..
Aku menikmati segala apa yang Aku sentuh dari dirinya..
setiap lekuknya menbuatku begitu mabuk..
mabuk akan dirinya..

Aku tak perlu mata untuk melihat..
Cukup dengan jemariku..sentuhanku..
Aku tahu Tuhan menciptakan Aku dan Dia begitu sempurna..
Yah..
Aku memang tak perlu mata untuk melihat..
Karena Tuhan menciptakan mata hati untukku melihat lebih jelas..
melihat lebih jelas bahwa Aku lebih sempurna dibandingkan mereka yang sempurna.

Sabtu, 25 Februari 2012

Koma

Ida membuka matanya perlahan. Sunyi, sepi, tak ada suara. Ida melangkahkan kakinya menyusuri lorong panjang, cahaya temaram menghiasi lorong putih itu. Sunyi, senyap, tak ada suara.
Langkah Ida terhenti disebuah pintu. Dengan ragu Ida membuka pintu itu perlahan. Suara-suara mulai menyerang gendang telinganya. Bising.

Ida menatap sebuah tubuh yang tebaring lemah dalam sebuah ranjang. Selang oksigen, infus dan alat denyut jantung seakan berkata 'kami yang menyambung hidupnya saat ini.'
Ida menghela nafas.
'siapa dia?'
Ida melangkahkan kakinya menghampiri ranjang.
Perlahan disibakan rambutnya yang menutupi matanya, agar dapat melihat dengan jelas wajah tubuh yang terbaring diatas ranjang tersebut.
Wajah Ida berubah pucat, kaku, tubuhnya bergetar hebat.
Ida mencoba menyentuh wajah tubuh dalam ranjang dan kemudian menyentuh wajahnya sendiri.
Ida mengenalnya, tak mungkin Ida salah. Tubuh itu adalah Dirinya.

Tubuh Ida bergetar kian hebat,
'Apa yang terjadi?'

Ida berusaha keras mengingat apa yang terjadi. Ingatannya terlempar disebuah kenangan.

Malam, sunyi, Ida mencoba menepis sepi dengan menghidupkan messengernya.

Tring..

And13 : Hi Da, tumben online?

Dreamer : Hei.. :)

And13 : senyum aja?

Dreamer : :) :)

And13 : lg Bad mood??

Dreamer : mungkin. :)

And13 : ?? Elo kenapa Da? Ceritalah.

Dreamer : nothing..just missing him. :)

And13 : oh..dia lagi.
              Sms lah orangnya. Bilang kl elo kangen

Dreamer : udah. Tp td brantem :)

And13 : brantem kenapa?

Dreamer : Salah gw, gw yang mulai duluan. :(

And13 : hmm..
              Seharusnya elo udahin semuanya Da.
              Lagipula loe sama dia udah putus lama.

Dreamer : gw masih sayang.

And13 : ya ya ya..
             Sampai kapan elo mau nungguin dia?
             Sadarlah ! Itu cuma nyakitin diri loe sendiri.

Dreamer : udah lah, ganti topik aja.

And13 : You know something funny?

Dreamer : apa?

And13 : gw sayang sama loe, udah lama.

Dreamer : Dimana lucunya?

And13 : elo ga pernah sadar itu, walaupun gw tau elo masih nungguin dia.
              Gw masih tetep sayang sama elo.

Dreamer : itu ga lucu. Itu pathetic !

And13 : kita sama elo juga pathetic!

Dreamer : thanks!

And13 : sampai kapan elo mo nungguin dia?

Dreamer : Ok then. Bye !!

And13 : elo marah? elo tau sendiri kl dia ga akan kembali sama elo.

Klik..

Ida menghapus nickname And13 dari contact list messengernya.

'Gw hapus elo dari hidup gw. Gw ga butuh temen yang ga bisa untuk bener2 temenan.'


Ah..bukan..bukan hal itu yang harusnya Ida ingat. Ida berusaha memacu otaknya, mengingat kepingan kenangan yang berputar dipikirannya. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, hingga Ida terbaring seperti ini. Ingatan Ida kembali melayang ke sebuah kenangan.

"Lihat gw! Sentuh gw! Gw bukan mimpi! Gw NYATA!"

"Elo cuma mimpi, ga akan bisa jadi nyata!"

"Apa selama ini gw diri didepan loe, gw ngomong sama loe, elo sentuh gw, itu semua cuma mimpi buat elo?"

"Iya. Semuanya cuma mimpi."

"HENDRA !! GW NYATA, GA CUMA SEKEDAR MIMPI! LIHAT GW..LIHAT!!"

"Selama ini elo cuma ngasi gw mimpi, elo ga pernah ngelihat gw sama sekali. Sekarang gw sadar kl elo cuma mimpi belaka."

"Gw lihat elo, gw ga pernah menganggap elo mimpi, tp elo ga pernah sadar."

"ELO YANG GA PERNAH SADAR! ELO EGOIS, ELO KERAS, ELO GA PERDULI SAMA GW. APA ARTINYA GW BUAT ELO SELAMA INI DA?"

"DAN SEKARANG ELO NGEBALES SEMUA HAL YG ADA DIPIKIRAN LOE TTG GW? ELO MINTA SEMUA MULAI LAGI DARI AWAL, TAPI LIHAT SEKARANG!"

"Semuanya udah terlambat, elo yang buat gw jadi kayak gini."

"Mungkin kalo gw mati, elo baru sadar kl semua ini bukan tenteng balas dendam, tp ttg mulai semua dari awal lagi!"

 Ida berlalu, airmatanya mengalir deras. Semuanya hanya mimpi, benar..semuanya memang hanya mimpi.

Ida membasuh wajahnya yang berurai airmata. Tak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Ida menghapus airmatanya.

'Gw benci airmata.'

Ida melajukan kendaraannya dengan kencang. Ida, memarkirkan kendaraannya di sebuah mini market untuk membeli persediaan rokoknya yang mulai menipis dikamar. Saat Ida melangkahkan kakinya keluar dari mini market, Ida melihat seorang anak kecil yang terjatuh di pinggir jalan. Ida berlari, menghampiri sosok anak tersebut. Ida membantu anak itu berdiri. Ida berusaha menenangkan anak tersebut yang mulai menangis kencang.

Ujung mata Ida menangkap sesuatu yang melaju kencang, dengan refleks Ida mendorong anak itu menjauh. Tiba-tiba semua gelap. Suara kendaraan mulai mengabur, tergantikan oleh jeritan asing dan suara-suara mulai mengabur.

Ida tersentak, Ditatap tubuhnya yang terbaring lemah diranjang. Airmatanya seakan berlomba untuk keluar, tapi saat Ida menyentuh wajahnya, tak ada airmata.

'Inikah rasanya koma?'

Ida memandang tubuhnya yang terbaring lemah. Disentuhnya perlahan wajah tubuhnya yang pucat. Dilayangkan pandangannya mengitari ruangan. Tak ada satupun keluarga yang menungguinya saat ini.
Sudah sebulan sejak kejadian itu. Sudah sebulan Ida terbaring koma disini. Apakah selama sebulan ini terus seperti ini?

'Apa yang harus aku lakukan?'

Ida tersentak saat merasakan sentuhan halus dipundaknya. Ida menoleh, dan menatap sesosok lelaki yang tersenyum kearahnya.

"kamu siapa?", tanya Ida. Tetapi lelaki itu hanya tersenyum lembut kepadanya.

"Apakah kamu juga hantu seperti aku?".

"Aku bukan hantu dan Aku juga bukan manusia."

"Malaikatkah?", ujar Ida terkesima.

"Mungkin dan mungkin juga Aku adalah iblis."

Ida tersentak saat lelaki itu menjawab pertanyaannya. Ditatapnya lelaki itu dengan ragu.

'Malaikat itu bersinar, tetapi lelaki itu tidak. Iblis itu menakutkan, tetapi dia tidak. Hufhh..okelah gw belum pernah liat wujud Malaikat dan Iblis. Tapi bukannya di semua cerita Iblis & Malaikat digambarkan begitu?! Kl dia bukan Iblis, Malaikat ataupun Hantu lalu?'

Lelaki itu tersenyum dan kemudian berkata, "Aku cuma salah satu makhluk kasat mata ciptaan Tuhan."

Ida tersenyum masam mendengar kata yang dilontarkan lelaki itu.

"Aku disini hanya untuk menemanimu."

"Menemani Aku? Untuk apa?"

"Untuk melihat."

"Aku tidak buta."

Lelaki itu tersenyum kembali dan berkata, "Bukan secara harafiah, tetapi menggunakan hati."

Jujur saat ini Ida diliputi oleh kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa yang ingin Dia perlihatkan kepada Ida?

Banyak pertanyaan yang berputar di pikirannya. Seakan Lelaki itu dapat membaca apa yang Ida pikirkan, lelaki itu berkata, "Hanya waktu yang bisa Aku berikan. Agar kamu bisa benar-benar melihat."

Ida menolak tegas, saat ini Ida hanya ingin berada disini, dikamar ini, bersama tubuhnya yang sekarat. Tetapi lelaki itu tak juga jera. Selama seminggu ini, lelaki itu terus muncul, hanya duduk, tersenyum dan memandang Ida yang tak mau pergi dari sisi ranjang.
Hingga akhirnya Ida menyerah, dan berkata.

"Oke, Mau loe apa sebenernya?"

"Ikut aku..", ujar pria itu sembari tersenyum.

"Gw ga mau. Gw mau disini, nemenin diri gw sendiri."

"Kenapa?"

"Karena engga ada satupun selama seminggu ini keluarga gw ada buat nungguin gw. Setidaknya biar tubuh gw engga ngerasa kesepian."

"Tubuh itu cuma tubuh, hati dan perasaan hanya ada di kamu seorang. Ikut Aku, agar kamu dapat melihat dengan hatimu."

"Emangnya apa sih yang mau elo tunjukin ke gw?"

Lelaki itu mengulurkan tangannya ke Ida. Dengan ragu Ida mengamit tangan lelaki itu. Perlahan rasa nyaman seakan mendekap Ida dengan lembut. Ida terbuai dalam rasa nyaman yang sudah lama tidak dirasakannya. Langkahnya terasa ringan saat Ida menyusuri lorong bersama lelaki itu.

Mereka tiba di taman rumah sakit.

"Matahari hari ini indah ya?", ujar lelaki itu.

Ida mendongakkan kepalanya, mencoba memandang matahari. Tak ada silau, tak ada sakit yang menyerang mata. Matahari terlihat jelas di matanya. Sesuatu yang tidak pernah Ida lihat selama hidupnya dengan mata telanjang, dan kini Ida dapat melakukannya.kemudian Ida hanya mengangguk pelan.

Lelaki itu mengamit tangan Ida yang masih terpaku memandang matahari. Pemandangan terlihat mulai mengabur, seperti mereka berjalan melintasi ruang waktu dengan kecepatan tinggi.

Mereka berhenti di sebuah ruangan. Ruangan yang tak asing untuk Ida.

"Ma, hari ini tolong jenguk Ida dirumah sakit."

Suara itu mengejutkan Ida, Dipalingkan wajahnya, berusaha mencari asal suara tersebut, suara papanya.

"Papi kan tau, hari ini Mama sibuk, kerjaan Mama tidak bisa ditinggalkan. Kenapa bukan Papi aja yang jenguk Ida, itu kan anak Papi bukan anak Mama."

Ida terhenyak saat mendengar kata2 itu, Matanya menatap sosok mamanya yang muncul dari balik pintu.

"Ma, Ida anakmu juga, bukan hanya anakku. Hari ini Aku harus keluar kota. Ah..mungkin aku bisa menyempatkan waktu sebentar saja untuk menjenguknya."

"Ida bukan anakku, dia anak kamu dengan mantan istrimu yang dulu. Aku mencoba menyayangi dia seperti anakku sendiri, tapi Ida tidak pernah menganggapku sebagai Mamanya."

"Tapi setidaknya Ma, jenguklah Ida walau hanya sekali. Hanya Ida anak kita satu2nya." ujar papa lirih.

Ida merasakan hatinya perih. Mungkin apa yang dikatakan oleh Tante Mira benar. Berapa kali Tante Mira berusaha mendekatkan dirinya kepada Ida, tetapi Ida selalu menolak. Baginya Tante Mira tidak akan bisa menjadi Mamanya, Baginya Tante Mira hanyalah wanita perusak rumah tangga mama dan papanya. Dan Ida selalu menolak saat Papa-nya meminta Ida untuk memanggil Tante Mira dengan sebutan Mama.

Ditatapnya sosok Papa-nya yang muncul dari balik pintu kamar mandi. Gurat-gurat halus mulai muncul diwajahnya. Ingin rasanya Ida memeluk Papa-nya, tetapi saat Ida berusaha menyentuh, Ida hanya menembus sosok papa-nya.

Lelaki itu mengelus rambut Ida perlahan dan mengamit kembali jemari Ida.

"Ayo kita pergi dari sini."

Mereka pun berlalu. Ida kembali merasakan sensasi nyaman dalam dirinya.

"eh, elo siapa sih sebenernya? Ya kalo ga mau bilang, setidaknya elo kasi tau nama loe. Biar gw enak manggilnya. Kan ga mungkin elo gw panggil eh eh terus."

"Aku ga punya nama."

"lho, kok gitu? Nama gw Sefrida Ananta Setiani, elo bisa panggil gw Ida."

"iya, aku tau."

"uh..nama loe siapa?"

"Kamu bisa panggil Aku sesuka hati kamu."

"mmmm...kalo gitu, mulai sekarang elo gw panggil Fahmi ya?!"

"Nama yang bagus." ujar lelaki itu sembari tersenyum.

"Sekarang kita mau kemana nih?"

"Lihat saja nanti."

Ida memejamkan matanya saat pemandangan mulai mengabur karena kecepatan yang kian lekat. Tapi perasaan nyaman itu tak kunjung hilang. Ida semakin terbuai, berharap saat ini waktu dapat berhenti.

Langkah mereka terhenti disebuah kamar. Ida melihat sekeliling, ujung matanya terhenti disebuah pigura yang bertengger di atas rak buku.

'Hendra..'

Ida melepaskan genggaman Fahmi dari tangannya. Melangkahkan kakinya dan menyetuh photo Hendra.

'ah..andai aku dapat menyentuh..'

Ida melihat sebuah agenda tergeletak setengah terbuka disamping pigura. Ida dapat melihat tulisan dan sebuah photo dalam agenda tersebut.
Hatinya tergelitik ingin membaca isi agenda tersebut. Tapi apa daya, Ida tak dapat menyentuh apapun. Hanya Fahmi yang dapat Ida sentuh.

"Sini Aku bantu."

Fahmi perlahan mengambil Agenda tersebut. Membukanya perlahan.
Ida terkesiap melihat ternyata photonya terpasang disana. Dibacanya perlahan tulisan-tulisan itu.

'Kamu..kamu hanya mimpi..mimpi indah yang aku inginkan menjadi sebuah kenyataan.
Kamu..kamu adalah cinta..tapi hanyalah cinta dalam mimpi..
Apakah kamu tau..seberapa besar perasaan ini?
Kamu..kamu mengambil semuanya..
Dan pergi..
Membawa harapan, cinta dan mimpiku.
Jika membenci semudah itu..
Aku ingin membencimu..
Tapi ternyata..cinta ini membutakan aku..
dan mengalahkan rasa benciku padamu.
Lihatlah aku..
Bodohkah aku..?
apa aku yang terlalu larut dalam mimpiku..
atau aku yang memang tak pantas untuk menggenggam hatimu?'

Andai saja Ida dapat mengeluarkan airmata, mungkin saat ini airmata Ida sudah deras mengalir. Ida memalingkan wajahnya, mencoba menghapus luka dihatinya yang kian menganga lebar.

Apa itukah yang Hendra rasakan?!
Apa Hendra juga tau apa yang dirasakannya tak jauh berbeda?
Apa yang salah disini?
Apaaaa?????

Ingin rasanya Ida berteriak kencang hanya untuk mengeluarkan beban yang dirasakannya saat ini. Tapi apakah semua ada gunanya?!

Fahmi meletakkan agenda tersebut kembali pada tempatnya. Kemudian Fahmi merengkuh Ida ke dalam pelukannya.

Pelukan Fahmi begitu hangat, seakan menghapus semua kepedihan yang Ida rasakan saat ini.

"Lebih baik kita kembali kerumah sakit.", ujar Fahmi.

Ida mengangguk perlahan.

Mereka kembali melangkah, dan Fahmi tak juga melepaskan pelukannya.
Ida merasa tentram dan damai. Tetapi pikirannya tak juga berhenti menyiksanya.

'Andai waktu dapat kembali pada saat itu. gw mau mulai semuanya dari awal.'

Ida merasakan tubuhnya melayang. Ditatapnya Fahmi yang masih mendekapnya erat. Sesampainya dirumah sakit. Dekapan Fahmi mengendur dan lepas. Ida menatap Fahmi.

"Makasi ya hari ini."

Fahmi hanya tersenyum.

"Sama-sama."

"eh iya, tadi waktu ditempat Hendra, elo bisa nyentuh barang. Elo bisa nyentuh yang lain gitu?", tanya Ida heran.

"Iya, Aku bisa menyentuh benda berwujud."

"oh...enak ya..?! Tapi kenapa gw ga bisa kayak gitu?."

"Karena aku dan kamu berbeda Ida?."

"Apanya yang beda? Elo bukan manusia, elo juga bukan hantu. Gw juga bukan hantu kan?! Buktinya tubuh gw masih bernyawa disana.", ujar Ida sembari menunjuk tubuhnya yang terbaring koma diatas ranjang.

"Nanti..ada saatnya kamu akan tau siapa aku.", Fahmi tersenyum dan kemudian menghilang.

Ida memonyongkan bibirnya saat menyadari Fahmi hilang dari pandangannya.

'huhh..susah amat sih hanya untuk bilang dia itu siapa?! Bikin penasaran aja.'

Ida tersentak saat derit pintu mengganggu lamunannya. Papa Ida berdiri didepan pintu dan melangkah perlahan. Hati Ida bergetar, ingin memeluk Papa-nya.
Rindu..rindu..rindu..rindu..

Perlahan Papa Ida melangkah menuju ranjang, membelai rambut Ida yang tergerai diatas bantal dan mengecup keningnya perlahan.

Ida seakan merasakan kebuah kecupan hangat dikeningnya saat Papa mengecup kening tubuhnya yang terbaring koma.

"Cepat sembuh sayang, cepat sadar dari tidurmu..papa rindu gelak tawamu. Papa rindu anak kesayangan Papa."

Ida dapat melihat Papa-nya menitikkan Airmata.
Ida terhenyuh

'Ida juga kangen Papa.', ujar Ida lirih.

Setelah meletakkan beberapa kuntum mawar putih ke dalam vas, Papa Ida mengecup kembali kening Ida.

"Papa bawakan bunga kesukaan kamu. Maafkan Papa sayang. Hari ini Papa belum bisa menemani kamu dirumah sakit. Papa harus keluar kota untuk beberapa hari."

Papa membelai lembut kening Ida, dan kemudian melangkah pergi.

Ida menatap punggung papanya dari pinggir ranjang. Apa pekerjaan memang lebih penting daripada dirinya? Ida hanya berharap, sekali saja, hanya untuk kali ini, Papanya lebih mengutamakannya dibanding pekerjaan.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Itu hanyalah harapan yang tak mungkin terjadi.

Ida menatap jarum jam yang berdetik didinding. Dan memandang tubuhnya yang terbaring koma. Perasaan kasihan menyeruak dihatinya.

'kasihan ya loe..udah seminggu gw disini, tapi yang gw liat cuma suster dan dokter yang lalu lalang ke kamar loe. Dan baru hari ini gw liat bokap kesini, dan itupun cuma sebentar. Sebenernya ada dan engga ada elo, semua tetep sama aja. Engga ada yang berubah dan engga ada yang ngerasa kehilangan.'

Ida memalingkan wajahnya dari ranjang, melangkah menuju jendela dan menatap keluar. Kerlip lampu menghiasi langit yang mulai gelap. Rembulan dengan malu-malu menampakkan wujudnya, sinarnya lembut dan sedih. Seperti hati Ida saat ini.

Ida terkejut oleh suara derit pintu. Ida menoleh dan menatap sosok Tante Mira yang melangkah kesisi tubuhnya yang koma diatas ranjang. Tante Mira membelai lembut rambut Ida yang terurai.

"Maaf sayang, Mama..eh..tante baru bisa jenguk kamu lagi."

Tante Mira menyeret sofa yang berada diujung ruangan ke dekat ranjang.

"Ah, Rupanya hari ini, papa menyempatkan dirinya untuk menjengukmu." ujar tante Mira setelah melihat rangkaian mawar putih yang terangkai indah di atas meja. Tante Mira tersenyum.

"Kamu tau sayang? Dokter mengatakan bahwa jika ada seseorang mengajakmu berbicara, walaupun kamu ada dalam keadaan koma sekalipun, kamu dapat mendengar.
Sudah seminggu lebih mama..eh..tante tidak berbicara denganmu.
Maaf, tante sibuk mengurus kerjaan tante.
Uh..sebenarnya agak janggal mama..eh..
Ah..sudahlah..
Tante sayang kamu Ida..
Ingin sekali Tante mendengar kamu memanggil dengan sebutan Mama.
Tante sudah anggap kamu sebagai anak Tante sendiri.
Tapi kamu selalu menolak.
Kadang itu sangat menyakitkan buat tante.
ahh..kenapa tante malah curhat sama kamu?!" Tante mira tersenyum, tetapi ida dapat melihat mata tante Mira yang berkaca-kaca.

"Hari ini, rumah masih tetap sepi tanpa ada kamu.
Papamu masih saja sibuk dengan urusan kantornya.
Kadang tante kagum dengan kamu yang bisa mengerti keadaan papamu yang selalu sibuk dan jarang dirumah.
Tante Mira kadang ngambek sama Papamu..hehehe..mungkin tante memang kekanakan..tapi tante kesepian sayang..
Ah...kenapa tante jadi curhat lagi.."

Ida menatap tante Mira yang berbicara dengan tubuh Ida yang koma. Didengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Tante Mira secara perlahan.

Sekejam itukah Ida terhadap Tante Mira?
Selama ini, Ida hanya menganggap Tante Mira penuh kepura-puraan. Tak pernah tulus. Karena sakit hati lebih menguasainya dari waktu ke waktu. Saat Ida menghadapi perceraian orangtuanya karena orang ketiga diantara mereka. Dan orang ketiga itu adalah Tante Mira.

"Tante bingung harus cerita tentang apa lagi.", mata tante Mira terlihat menerawang.

"Apa kamu mau mendengar awal pertemuan tante sama papamu?
Papamu dulu sering datang kerestoran tante untuk makan siang, sama rekan-rekan kerjanya.
Tante melihat kalau papamu orangnya cukup kikuk.
Anehnya wibawanya terpancar dari dirinya.
Tante berteman dengan Papamu semenjak papamu tak sengaja menjatuhkan saus steak ke baju tante.
Waktu itu, wajah papamu dipenuhi dengan rasa bersalah sayang.
Lucu, tante melihatnya Papamu seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan oleh gurunya saat itu." Tante Mira tertawa kecil dan meneguk air mineral yang ada digenggamannya.

"semenjak saat itu Tante Mira berteman dengan Papamu.
Papamu sering bercerita tentang kamu..
Anak gadis satu-satunya yang sangat dia sayangi.
Papamu bercerita tentang mamamu..
Wanita yang dia cintai saat itu.
Tante berteman dengan Papamu selama 2 tahun. Tak pernah sekalipun Tante dan papamu bertemu ditempat lain.
Hanya direstoran pada saat makan siang.
Bagi tante, pertemanan itu hanya seperti tante yang pemilik restoran dan Papamu adalah pengunjung tetapnya.
Tak lebih.
Tante terbiasa mendengar cerita-cerita pengunjung yang datang.
Waktu itu, tante hanya punya satu restoran.
Tante sempat tidak berbincang dengan papamu selama hampir 8 bulan karena Tante sibuk mengurus pembukaan cabang restoran tante.
Saat tante bertemu kembali dengan Papamu, wajahnya terlihat sedih.
Awalnya papamu hanya terdiam dan berusaha menceritakan tentang pekerjaannya.
Tapi saat Tante bertanya tentang kabar keluarga kalian,
Wajah papamu terlihat sangat sedih.
Dan akhirnya papamu bercerita tentang masalah rumah tangganya.
Tante hanya bisa berempati.
Dan dua bulan kemudian papamu datang kerestoran dan bercerita bahwa papa dan mamamu telah bercerai.
Itulah pertama kalinya tante melihat papamu menangis dihadapan tante.
Sebulan setelah perceraian itu, Mamamu datang ke restoran tante..memaki-maki tante..mengatakan bahwa tantelah perusak rumah tangga mereka.
Saat itu juga pertama kalinya tante bertemu kamu..", Tante Mira terlihat menerawang jauh.

Ida mencoba mengingat kenangannya sendiri.

Saat itu Ida berumur 15 tahun. Tiba-tiba saat pulang sekolah mama menjemputnya. Wajah mamanya saat itu dipenuhi dengan amarah. Saat mereka tiba di sebuah restoran, Ida melihat mamanya menghampiri seorang wanita. Mama menampar wanita tersebut, jeritan..makian mama terdengar jelas saat itu. Ida melerai dan menyeret mamanya pergi. Mama menangis didalam mobil, berkata bahwa wanita itu yang membuat mama bercerai dengan papa. Papa yang berselingkuh dengan wanita penggoda. Papa yang selama ini begitu dibanggakan oleh Ida dan sosok kebanggaannya mulai tergantikan oleh rasa kecewa.

"Kamu tau sayang, papamu tidak pernah sekalipun berselingkuh,
Tante akui bahwa papamu seorang pria yang tampan dan pasti banyak wanita yang tertarik kepadanya.
Tetapi untuk berselingkuh, papamu tak akan terbersit keinginannya untuk itu.
Banyak hal yang papamu sembunyikan darimu..tentang mamamu..
Papamu tidak ingin kamu membenci mamamu.
Karena tante tau, jauh dilubuk hatinya, papamu masih menyayangi mamamu.", Tante Mira tersenyum masam.

"Sejujurnya, alasan papamu bercerai dengan mamamu..
Karena mamamu berselingkuh dengan rekan kerja papamu.
Dan papamu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Dan ternyata hal itu terjadi berulang kali..dengan orang yang sama.
papamu diam dan memaafkan mamamu karena mamamu menangis dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Papamu memikirkan kamu..
Tapi saat itu perselingkuhan kembali terjadi, dan papamu melihatnya sendiri.
Akhirnya papamu memutuskan untuk bercerai.
Papamu tau kamu kecewa saat itu terhadapnya. Tapi papamu tak ingin membebanimu dengan semua kenyataan itu."

Ida tersentak, benarkah itu semua?
Seingat Ida, memang ada salah seorang rekan kerja papa yang sering berkunjung kerumah. Dan kebetulan dia adalah teman mama sewaktu kuliah dulu.
Sehingga Ida tak menghiraukan jika saat pulang kerumah, Pria itu juga beberapa kali berada dirumah, berbincang dengan mamanya diruang tengah.
Lalu..mana yang harus dia percaya. Semua hal yang dianggapnya benar selama 7 tahun ini, bahwa papanya berselingkuh seakan menjadi absurd.

Tante Mira masih saja berceloteh, tetapi Ida tak dapat mendengarkan dengan jelas. Pikirannya mulai kacau seakan serpihan kenangan mulai mengikatnya kuat dan Ida merasa sesak dihatinya.

"Setahun setelah perceraian itu, Papamu meminta Tante untuk menikah dengannya.
Dengan cara yang teramat lucu..
Papamu berdiri didepan tante.. Wajahnya memerah..
Dan berkata 'menikahlah denganku'
anehnya saat itu tante hanya bisa terdiam, selama 33 tahun tante hidup, tak pernah ada seorang priapun yang berkata ingin menikahi tante.
Papamu hanya menatap tante dengan wajahnya yang memerah.
Setengah jam berlalu dalam kesunyian.
Dan akhirnya tante mengangguk..
Mengiyakan lamaran papamu.", Binar mata Tante Mira saat ini terlihat begitu indah, seakan penuh dengan cinta.

'Tante Mira cantik, penyabar dan hebat..sekarang gw mengerti mengapa papa memilihnya sebagai pengganti mama. Walaupun mama memang tak akan pernah tergantikan dihati gw maupun papa.'

Ida menatap Tante Mira yang tertidur sembari menggenggam jemari Ida yang terbaring diatas ranjang.
Tiba-tiba Ida merasakan sentuhan hangat dipundaknya. Ida menoleh menangkap sosok Fahmi yang berdiri disebelahnya.

"Fahmi?"

"Sudah cukupkah kamu melihat?"

"Iya, gw sekarang tau semuanya."

"Sekarang semua tergantung kamu."

"Maksud loe?"

"Sekarang semua terserah apa keputusan kamu, ingin melanjutkan hidupmu atau berhenti sampai disini.", ujar Fahmi sembari tersenyum.

"Tapi gw sekarat disana!", Ida berkata dengan suara tercekat sembari menunjuk ke ranjang.

"Semua tergantung Kamu. Kamu tak dapat kembali jika keinginanmu untuk hidup pun tak ada. Dan itu yang terjadi denganmu selama ini."

Ucapan Fahmi membuat Ida tertegun. Memang selama ini rasa enggan untuk kembali kerumah atau apapun itu mengukung Ida untuk tetap seperti ini.

'kalau gw cuma mimpi dan ga bisa menjadi kenyataan, biarlah semua tetap seperti ini. Biarlah gw cuma bisa menjadi mimpi selamanya.'

Ida menatap Fahmi yang masih menatapnya denga tatapan itu. Tatapan yang seakan menentramkan jiwanya. Nyaman..damai..seakan menghapuskan segala keresahan hatinya..seakan memeluknya kedalam perasaan kasih yang tulus.

"Kasi gw waktu sebentar lagi. Gw masih butuh sedikit waktu lagi."

Ida menatap Fahmi dengan ragu. Dan kemudian berkata, "Tolong antar gw ke suatu tempat. Tempat dimana dia berada."

Fahmi tersenyum dan mengamit jemari Ida yang terulur kearahnya.
Mereka kembali melangkah, menembus waktu..menembus malam.

Ida melihat sosok Hendra yang terduduk diam dikamarnya. Sosok Hendra terlihat sedih.

"Ida..gw kangen..tapi gw ga tau apa yang harus gw lakukan lagi..kalau yang namanya cinta sesakit ini, gw ga mau mencintai elo. Tapi kenapa gw ga bisa berhenti? Gw mau elo jadi kenyataan, apa segitu sulitnya? Apa gw ga bisa jadi kenyataan buat elo? gw emang pengecut, ga bisa ngeliat elo terbaring disana. Ga ga kuat kalo gini terus-terusan. apa jadinya kalo elo ga ada lagi?! Gimana gw menjalani hidup gw? Semuanya kosong dan ga berarti. Gw bisa ketawa diluar sana. Tapi hati gw engga. Tuhan, apa elo emang bener-bener ada?"

Hendra menangis tanpa suara. Dan Ida pun menangis dalam hatinya. Direngkuhnya Hendra kedalam pelukannya, walaupun Ida tau itu akan menjadi hal yang sia-sia, karena Ida tidak dapat menyentuh.

'Tuhan..tolong sekali ini saja..izinkan gw buat merasakan..', jerit Ida dalam hati.

Hangatnya tubuh Hendra dipelukannya menghangatkan tubuh Ida.

'Terima kasih Tuhan..terima kasih.' dan Ida pun menangis.


**

Fahmi menatap Ida yang berdiri dihadapannya.

"Fahmi, makasi ya buat semuanya. Sekarang gw sadar dan gw tau apa yang harus gw lakuin."
Fahmi tersenyum,

"eh..Fahmi..apa kita bisa ketemu lagi?"

"Ada saatnya nanti kita bisa ketemu lagi..ada saatnya nanti."

Fahmi mengecup lembut kening Ida. Ida memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian Ida merasakan tubuhnya bagai tersedot lubang hitam.


***

Matahari mengintip malu-malu dari balik jendela rumah sakit. Ida mengerjapkan matanya perlahan, ujung matanya menatap sosok Tante Mira yang masih tertidur disisian ranjang. Ida melepaskan jemarinya yang digenggam hangat oleh Tante Mira. Tangannya membelai lembut rambut Tante mira yang terurai..hangat.

"Mama..", ujar Ida lirih.

Tante Mira terbangun dan menatap Ida dengan terkejut. Seketika Tante Mira menangis melihat Ida yang telah membuka matanya. Tante Mira memeluk erat tubuh Ida. Hangat..seperti hangatnya pelukan seorang Ibu.

"Mama..", ujar Ida kembali.

"Ini Tante sayang.."

"Iya..tante Aku yang sekarang menjadi Mamaku."

Tante Mira menatap Ida dan kemudian memeluknya kembali. Airmata terus mengalir deras dikelopak matanya yang indah.

"Iya sayang..Aku mama kamu..mamamu.."

Tante Mira melepaskan pelukannya dan bergegas memanggil dokter.


****

Seorang bayi laki-laki mungil berada dipelukan Ida saat ini. Tatapan hangat dan senyumnya yang menghangatkan hati Ida. Ingatan Ida terlempar kesebuah kenangan 4 tahun lalu yang mulai memudar. Tentang seorang lelaki..yang mempunyai senyuman seperti ini, matanya, bibirnya dan saat Ida mendekap bayi mungil itu, Ida seakan kembali merasakan hal yang sama saat lelaki itu mendekapnya erat.

"Mau kamu beri nama apa anak kita sayang?"

Ida menatap sosok suaminya yang berdiri disisi ranjangnya..sosok suami yang sangat Ida cintai dengan sepenuh hati. Kemarin, esok dan seterusnya..Hendra.

"Fahmi..namanya Fahmi..", ujar Ida tersenyum dan mengecup lembut tubuh bayi mungilnya.

Kemudian Ida berbisik lembut,

'kamu benar..ada saatnya nanti kita bisa ketemu..ada saatnya nanti..'