Kamis, 20 September 2018

Hening

Pagi ini, ku lihat dirinya duduk di sofa favoritnya. Sofa berwarna merah yang menghadap ke arah jendela. Kepalanya menunduk, menatap buku yg yang terbuka diantara tangannya yg pucat.

"Pagi sayang.", ujarku.

Dia hening, tak bereaksi, seakan terlalu asyik dengan dunianya.

Aku melangkah mendekatinya, merapikan helai rambutnya yang jatuh tertiup angin sepoi melalui jendela. Ku eratkan sweater abu yang selalu ia pakai. Ku tutup daun jendela perlahan. Ku kecup keningnya dengan lembut.

"Aku berangkat kerja sayang."

**
Sore ini, aku bergegas pulang ke rumah. Khawatir dia akan kesepian tanpaku.

Ku buka pintu ruang tamu perlahan. Kulihat dirinya yang  duduk disofa merah yang sama seperti tadi pagi.

"Aku pulang sayang.", ujarku lirih.

Aku mendekatinya perlahan, menatap wajahnya yang tertidur pulas. Ku kecup keningnya, dan kuangkat tubuhnya ke kamar tidur. Kurebahkan dirinya dan kuselimuti tubuhnya agar tidak kedinginan.

Hari ini, kembali rumah ini tanpa suaranya seperti hari-hari kemarin.
Aku rindu suaranya yang berceloteh hangat kepadaku disetiap harinya. Seperti waktu itu, seperti dulu.

**

Sabtu pagi ini berbeda.
Ku lihat dia duduk dimeja makan, menungguku untuk sarapan bersama. Aku tersenyum, sekilas aku melihat bibirnya jg tersenyum. Ku hampiri dirinya, kukecup lembut keningnya.

"Selamat pagi sayang.", ujarku lembut.

Sabtu siang ini berbeda.
Biasanya aku dan dia hanya duduk bersisian tanpa suara. Kali ini aku berceloteh tanpa henti, menceritakan hari-hariku dikantor. Dia tetap diam, hening, tanpa suara. Tapi aku tak keberatan, karena aku tahu dia mendengarkan ceritaku, selalu mendengarkan keluh kesahku.

Sabtu malam ini berbeda dari sabtu malam kemarin.
Biasanya dia hanya duduk di sofa favoritnya, dan aku sibuk menonton televisi. Kali ini, aku dapat membelai setiap helai rambutnya dipangkuanku. Kali ini, aku dapat melihat wajahnya yg tertidur pulas dipangkuanku. Cantik, akan selalu terlihat cantik bagiku.

**

Hari ini aku resah. Ku tatap dirinya yang duduk di sofa merah favoritnya. Aku melangkah menghampirinya, menatap wajahnya.

"Sampai kapan kamu akan diam seperti ini sayang. Sudah sebulan kau membisu. Aku salah, maafkan aku. Jangan hukum aku seperti ini.", dan air mataku pun jatuh.

Aku menangis bagai anak kecil. Hening ini mulai menyiksaku. Aku membutuhkan suara dan gelak tawanya. Rumah ini begitu sepi, aku begitu kesepian.

**

"Aku sudah tidak sanggup lagi hidup denganmu. Kau sibuk dengan duniamu. Aku istrimu, dan kau lebih mendahulukan kesenanganmu daripada aku?! Bahkan saat aku sakit pun, kamu lebih memilih keluar dengan teman-temanmu. Aku tak pernah mengekangmu, tapi kalau kau masih ingin bebas, untuk apa kau menikah?.", jeritnya.

Ku tatap wajahnya yang basah oleh airmata. Aku hanya tersenyum sinis menatapnya. Pertengkaran ini bukan yang pertama, berapa kali dia mengancam akan pergi, tapi aku tahu, dia tak punya tempat untuk pergi.

Dia melangkah masuk ke kamar tidur. Aku menghela nafas lega.

"Dasar wanita.", gumamku dan aku kembali asik menonton televisi.

Aku mendengar suara langkah kaki. Aku masih asik mengabaikannya. Saat ku dengar suara yang berbeda, aku menoleh. Aku melihatnya melangkah menjinjing koper. Aku tersentak. Seketika aku bangun dari sofa dan menariknya sebelum dia mencapai pintu ruang tamu.

"Mau kemana kamu?, tanyaku kasar.

"Pergi dari rumah ini. Lebih baik kita bercerai.", ujarnya.

"Siapa yang memberimu izin untuk pergi hah? Kamu istriku!!"

"Aku sudah tidak tahan lagi tinggal denganmu!!", teriaknya.

Ku cengkram tangannya, dia meronta, mencoba melepaskan genggamanku.

"Sudah cukup kau paksakan egomu denganku. Aku muak!!", jeritnya.

Seketika emosiku memuncak. Ku tampar wajahnya. Kulihat darah menetes dari sela bibirnya. Dia menatapku tajam, dan kemudian membalas tamparanku. Emosiku memuncak, kutarik tangannya dan kuhempaskan tubuhnya ke ruang tengah. Tubuhnya terjatuh membentur lemari jati. Aku menghampirinya, mencengkram erat rambutnya.

"Setelah sekian banyak cinta yang kuberikan kepadamu, seenaknya kau bilang ingin pergi? Aku mencintaimu, maka itu aku menikahimu. Dan sekarang dengan angkuhnya kau mengancamku?!", ujarku kasar.

Kuhempaskan kepalanya ke lantai. Terdengar isak dan erangannya pelan.

"Diam!!"

Dan kemudian hening mencekam.
Aku menoleh menatap tubuhnya.
Aku tertegun, lantai memerah.
Aku meraih tubuhnya, mengguncang tubuhnya, memanggil namanya. Tetapi tak ada suara, bahkan nafasnya pun tak terdengar. Bahkan detak jantungnya pun tak terasa.

Aku menangis, memeluk tubuhnya dengan erat.

"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku."

**
Minggu pagi ini terasa berbeda.
Aku menyisir rambutnya yang hitam sebahu dengan lembut. Ku ganti pakaiannya dengan warna favoritnya.
Tetapi dia tetap saja hening.

Aku ingat pertama kalinya aku memandikannya. Warna merah memenuhi lantai kamar mandi. Ku gosok tubuhnya dengan sabun dan pemutih. Ku bersihkan pelan, ku dandani dia agar tetap terlihat cantik seperti awal aku dan dia bertemu.
Seperti saat ini, walaupun hening, tak akan lagi ada pertengkaran, dia tidak akan meninggalkanku. Selamanya.

"Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu.".