Minggu, 27 September 2015

Untuk Gadis Kopi-ku

Setidaknya harus disadari bahwa saat mencintai seseorang, bukan hanya rasa senang saja yang akan dirasakan,
tetapi juga rasa sedih, cemburu dan tidak tenang.
Dan ternyata rasa cinta itu luas.
Setia itu bukan jaminan, selalu berusaha menyenangkan itupun bukan sebuah jaminan. Belajar untuk berbagi tentang apa yang dirasakan masing-masing, belajar untuk percaya, belajar untuk berkomunikasi dengan baik, belajar untuk berkomitmen.
Kecocokan itu harus dibangun bersama, walau terkadang rasa jenuh dan bosan datang, tidak harus saling berpaling dan pergi bukan?
Sederhana memang, terlihat sepele memang, tapi itu yang bisa membuat masing-masing dapat terus berjalan bersama.

Gadis Kopi dan Tukang Kopi

"Aku mencintaimu, itu urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, itu adalah urusanmu."

Kutipan Notes Tera Errau dari Pidi Baiq ini terdengar manis saat diucap tukang kopi. Matanya berbicara tulus.
Gadis kopi tertegun, ini seperti Deja-vu.
Masa lampau, gadis kopi sepertinya pernah melihat tatapan setulus itu.
Sesaat gadis kopi tersadar, selama ini dia terlalu sering melihat bentuk cinta yang begitu egois.
Gadis kopi tersenyum tipis, hanya saja hatinya sudah terlalu mengering. Tak mampu tergerak, walau hanya sekedar untuk tergelitik.

Gadis kopi dan tukang kopi duduk bersisian menikmati riuhnya pasar jajanan malam itu. Mereka punya rasa yang berbeda, hati yang berbeda. Hanya saja, biarkan saat ini seperti ini. Biarlah itu menjadi urusan mereka masing-masing.

Minggu, 20 September 2015

Rahasia yang Tak Perlu Dunia Tau

Ku tak mau kau tau, aku rindu.
Ku tak mau kau tau, aku cemburu.
Aku diam, agar kau tak tau.
Ku tak mau kau tau, aku sayang.
Ku tak mau kau tau, aku mau...
kamu.
Cuma kamu,
Hanya kamu.

Kamis, 10 September 2015

Selimut Senja

Senja bilang, dia butuh selimut besar untuk dia tidur. Dia butuh selimut besar untuk dia pakai membungkus tubuhnya agar dapat tidur. Dia bilang selimut membuatnya merasa aman, merasa nyaman, merasa terlindungi. Bagaikan sebuah pelukan seorang Ibu yang sering kali Senja damba.
Senja bilang, sekarang dia tidak butuh manusia untuk menemaninya hingga tua nanti. Berikan saja Senja selimut. Karena selimut tidak akan pergi, tidak akan menghakimi, dan selimut akan selalu ada untuk mendengarkannya, membuatnya merasa aman, merasa nyaman, merasa terlindungi.