Senin, 26 Oktober 2015

Cermin

"Butuh berapa waktu untuk menyembuhkan luka hatimu, sayang?
Butuh berapa waktu untuk menghilangkan mimpi burukmu?
Butuh berapa waktu untuk memupuskan ketakutanmu, sayang?
Butuh berapa waktu lagi?
Adakah yang lebih sabar dari aku?
Adakah yang lebih setia daripada aku?
Adakah yang lebih sudi untuk menunggu hingga kamu siap?
Adakah yang lebih mengerti daripada aku?
Setiap airmata yang jatuh, tanganku yang menghapusnya.
Setiap mimpi burukmu datang, aku yang ada untuk memelukmu.
Setiap pikiranmu mulai sibuk berlalu lalang, aku yang ada untuk menenangkanmu.
Setiap kata maafmu meluncur, aku selalu memaafkanmu.
lalu, adakah yang lebih dari aku?
Mungkin, aku dan kamu diciptakan hanya untuk selalu bersama.
Mungkin, aku dan kamu diciptakan hanya untuk sendiri.
Ku katakan, ikhlaskan saja sayang.
Ku katakan saja, lepaskan saja sayang.
Ku katakan, maafkan saja sayang."

 Ku sentuh wajahnya yang pucat dibalik cermin dingin,
wajahku.

Kamis, 22 Oktober 2015

Senja Dua Hari


Melukis Senja

Sore ini, langit terlihat mendung. Warna kelabu bergelayut sendu diatas sana. Aku mulai bersenandung kecil, melangkahkan kakiku menuju dapur, menghidupkan kompor, merebus air untuk membuat kopi. Bukankan secangkir kopi panas cocok sekali dinikmati saat cuaca seperti ini datang?!
Langit mulai terlihat lebih gelap dari sore biasanya. Terlihat dari jendela dapur, Bude Nissa berlari dihalaman belakang berusaha menyelamatkan jemuran yang terbang tertiup angin. Aku tertawa kecil saat Bude Nissa mulai merutuk dalam bahasa Belanda. Kurasa memang sulit bagi Bude Nissa untuk mengucapkan bahasa indonesia saat dia sedang kesal dan marah.

Aku menyesap secangkir kopi hitam manis diteras rumah. Hujan tak kunjung turun, walaupun awan kelabu sudah memenuhi langit senja ini. Aku berhenti menyesap kopi dalam cangkirku saat Alsha, Sepupuku yang berusia 24 tahun, berjalan pelan menuju teras. wajahnya terlihat sendu, tangannya melambai diudara, terlihat seperti ingin menyentuh langit kelabu.
Aku meletakkan cangkir kopiku dan mendekati Alsha.

"Sebentar lagi hujan Alsha, anginnya terlalu kencang untukmu. Masuklah kedalam rumah.", ujarku lembut.

"Sebentar mas, Aku sedang melukis senja. Biar awan kelabu tak pernah datang, biar mereka tak pernah muncul.", ujar Alsha perlahan.

Aku menatap wajah Alsha dengan penuh tanda tanya. Hujan rintik pun turun, Aku meraih tubuh Alsha kedalam pelukku dan membawanya memasuki rumah.



Menghapus Senja


Alshshafq Jamil Anissa Putri, sudah 5 tahun berlalu semenjak aku melihat Alsha. Dulu, aku selalu menghabiskan liburanku 2 kali dalam setahun ditempat ini. Alsha yang cantik, kulitnya berwarna gading, hidungnya yang bangir, bibirnya yang berwarna muda, senyumnya yang begitu manis, tawanya yang renyah dulu membuatku tergila-gila. Berapa banyak teman-temanku mengatakan bahwa aku sudah gila, tergila-gila kepada sepupuku sendiri. Walaupun Aku menjelaskan bahwa Alsha adalah sepupu jauhku, Alsha adalah cicit dari adik perempuan kakek buyutku, tetap saja mereka mengatakan aku gila. Aku tidak gila, aku hanya jatuh cinta.

Aku tidak jatuh cinta sendiri, Alsha pun jatuh cinta kepadaku. Sudah berapa puluh ciuman yang ku layangkan dibibirnya secara sembunyi-sembunyi waktu dulu. Dan betapa murkanya kakek sewaktu memergokiku mencium bibir Alsha senja 5 tahun yang lalu. Kakek mengusirku, dan berusaha menjauhkanku dengan Alsha, yang teramat kakek sayangi, melebihi cucu kandungnya sendiri.
Hari ini, tepat 5 tahun 45 hari, aku melihat Alsha dengan cara yang berbeda. Alsha tidak lagi seperti dulu. Alsha masih tetap cantik, bibirnya masih tetap terlihat sama, hanya saja dirinya tidak lagi seriang dulu. Terkadang, aku melihatnya hanya duduk sembari melukis, aku jarang mendengarnya berbicara, aku tak lagi melihatnya tersenyum, aku tak tahu apa yang terjadi padanya selama 5 tahun berlalu.

Senja ini, matahari memancarkan semburat oranye yang indah dilangit. cahayanyaa menembus jendela, menyinari wajah Alsha yang sedang menikmati kanvasnya. Sejenak Alsha menengok melihat keluar jendela, kuas dijemari tangannya diletakkan secara kasar, Alsha meraih kain bekas thinner dipangkuannya. Alsha berlari menuju pekarangan. Tubuhnya mengejang kaku, jemarinya yang memengang kain bekas thinner melambai diudara, bergerak secara acak.

30 menit berlalu, Alsha masih melakukan gerakan yang sama, tetapi jemarinya semakin lama semakin cepat dan mantap. Aku menghampiri Alsha.

"Sebentar lagi magrib tiba Alsha, masuklah kedalam rumah.", ujarku dengan sabar.

"Aku sedang menghapus senja mas, agar senja seperti ini tidak pernah datang.",ujar Alsha.

"Kenapa..?", tanyaku lirih.

"Karena saat senja berwana seperti ini, mas pergi, dan tak pernah kembali.", ujarnya pilu.

 Aku tersentak, kemudian merengkuh Alsha kedalam pelukku. Alsha sepupuku tersayangku. Entah apa yang terjadi kepadanya selama 5 tahun ini.



Senja 1870 Hari yang Lalu


**

Aku mengemas pakaianku kedalam koper dan pergi dalam keadaan tergesa dari rumah kakek. Hanya nenek dan bude Nissa yang mengantarku sampai kestasiun kereta. Mereka menatapku dengan pandangan menyesal dan memelukku tanpa suara.
melepas kepergianku dengan kata, "Hati-hati dijalan nak, sampaikan salam kami kepada ayah ibumu.".

Aku tersenyum getir, memandang senja berwarna oranye dari jendela kereta.


**

Alsha bergegas meninggalkan rumah. Senja oranye mulai berganti dengan awan kelabu, Jalanan mulai sepi, Alsha terengah dipinggir jalan dan memutuskan untuk beristirahat sebentar. Tak berapa lama, terlihat gerombolan pemuda yang berjalan kearah Alsha.

"Mbak, maaf, apa ada penginapan didekat sini?", ujar salah seorang pemuda tersebut.

Alsha menoleh, " Kira-kira 20 menit kearah kiri, ada beberapa penginapan mas. Tidak jauh dari stasiun kereta.", ujar Alsha.

Mereka meminta Alsha dengan sopan untuk mengantar hingga stasiun. Alsha mengangguk mengiyakan karena mereka akan berjalan searah.

Pemuda-pemuda ramah yang berasal dari kota, itu pikir Alsha.

10 menit mereka berjalan kaki, melewati taman rimbun yang sepi, senja oranye berganti dengan awan yang kian kelabu. Pemuda-pemuda tersebut tiba-tiba menarik Alsha menuju taman. Mendorong tubuh Alsha ditimbunan semak belukar yang tertutup pepohonan. Pakaian Alsha dilucuti paksa, Alsha menjerit, berteriak, tapi suaranya tak keluar bebas karena dibekap oleh tangan kasar mereka. Saat seorang pemuda menindih tubuhnya yang telanjang bulat, Alsha merasakan sakit yang luar biasa dikemaluannya. Seakan tubuhnya ditusuk belati tumpul, seakan tubuhnya dirobek dengan penuh marah. Alsha menjerit ketakutan, airmatanya tak berhenti mengalir.

Satu pemuda, pemuda kedua, pemuda ketiga, pemuda keempat, bergantian memperkosa Alsha senja itu. Hujan rintik mulai turun, dan Alsha tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kemaluannya.

4 jam kemudian, tubuh Alsha yang telanjang bulat ditemukan oleh pasangan tua yang melewati taman itu. Mereka mengenali Alsha dan langsung melarikan Alsha kerumah sakit.

Semenjak itu Alsha tak pernah sama lagi.


Rabu, 07 Oktober 2015

Diam

Gadis kopi tak lagi bersuara. Hatinya yang luka kian terluka. Tak ada secangkir kopi, gadis kopi ingin berhenti menjadi gadis kopi. Tak ada secangkir kopi, gadis kopi terlalu lelah untuk menyesap secangkir kopi.
Hari ini ( dan entah sampai kapan ), gadis kopi hanya ingin sendiri. Melindungi dirinya dari luka, membuat perlindungan kian tinggi bagi dirinya.
Gadis kopi bergelung, menjauhkan dirinya dari dunia.
Gadis kopi ingin dicintai, tetapi dirinya terlalu takut untuk terluka.
Berapa banyak mimpi buruk yang menghantui gadis kopi disetiap malam, tak terhitung berapa kali gadis kopi terbangun disetiap malam dengan airmata yang mengalir.
Tak ada secangkir kopi, hatinya kembali merapuh. Gadis kopi tak ingin terluka ataupun melukai hati lainnya.
Gadis kopi hanya ingin sendiri.
Gadis kopi tanpa kopi, bagikan pemimpi tanpa mimpi.
Gadis kopi berhenti bermimpi.

Kamis, 01 Oktober 2015

Menunggu

"Aku tak ingin bicara tentang hati, aku bosan bicara tentang cinta.", ujar gadis kopi.

Tukang kopi tersenyum dan menatap gadis kopi dengan lembut. Tangannya merengkuh kepala gadis kopi untuk bersandar dibahunya. Gadis kopi menghela nafas dan memejamkan matanya.
Jemari gadis kopi menyentuh dahi, mata, pipi, hidung, bibir tukang kopi.

"Aku ada, tapi siapa yang kau bayangkan saat ini?", ujar tukang kopi lirih.

Gadis kopi tersentak, jemarinya terhenti.

"Dia...", ujar gadis kopi pilu.

Sesaat ada luka yang terpancar dimata tukang kopi. Tetapi yang tukang kopi bisa lakukan hanyalah membelai lembut rambut gadis kopi dengan jemarinya.

"Jangan menjatuhkan hatimu padaku lebih dari ini. Menyakitkan.", ujar gadis kopi lirih.

"Biarlah begitu. Aku tak berharap banyak, hanya ingin menikmati waktu saat hati ini jatuh kepadamu. Pura-pura saja jatuh hati kepadaku, hingga kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.", ujar tukang kopi.

Gadis kopi bersandar dibahu tukang kopi. Gadis kopi bukan milik tukang kopi, hatinya pun bukan milik tukang kopi.
Sampai kapan?
Ah, biarkan saja saat ini seperti ini. Biarlah ini tetap menjadi urusan mereka.