Minggu, 23 Juni 2013

Frozen Flower



Hatiku beku, tak bisa lagi Aku merasakan cinta. seperti saat ini, melihat dirinya yang berdiri dihadapanku, menggenggam jemariku dengan erat. Bola matanya menatap mataku dengan binar yang menakjubkan. Aku hanya bisa berdiri disana, terpaku..terdiam...bibirku kelu.
Kata-kata yang terucap dari bibirnya terdengar bagaikan sebuah bisikan..rancu..
Yang bisa Aku tangkap hanyalah sebuah kalimat, "Aku mencintaimu dengan sangat."
Dan Aku masih saja terpaku, bibirku kelu, otak ku terasa kaku.
Ketika tubuhnya mendekat dan mendekap tubuhku dengan erat, mencium bibirku dengan lembut, tubuhku merasakan hangat tubuhnya. Tubuhku bereaksi, tetapi tidak dengan hatiku. Yang ada hanya kosong, tak ada getaran yang dulu Aku rasakan saat bersama dirinya. Tak ada gejolak dari gairah yang membara di dalam sini. Hanya ada kehampaan yang tak bertepi, dan bibirku masih saja terasa kelu.

**
Andai saja janji tidak pernah terucap, janji yang hanya untuk seseorang. Janji yang terucap karena lelah yang terasa di dalam hati. Sebuah janji yang terus saja tergenggam erat, meski rasa cinta itu tak bisa terasa lagi.
Lumintang duduk terdiam, menatap Maliq yang terlelap diatas ranjang. Bola mata Lumintang menatap tubuh Maliq yang telanjang di atas ranjang, menyusuri lekuk demi lekuk tubuh Maliq yang terlelap bagai bayi. Entah sudah berapa malam Lumintang selalu terbangun di waktu yang sama, melakukan hal yang sama. Hanya duduk terdiam disamping ranjang, menatap tubuh Maliq yang terlelap. Bukan sebuah ketakutan yang Lumintang rasakan, bukan sebuah ketakutan akan kehilangan Maliq kembali. Hanya saja otaknya terus saja bekerja. berusaha meyakinkan dirinya, bahwa yang Lumintang jalani bukanlah sebuah mimpi, tetapi sebuah kenyataan.
Tetapi, mengapa setiap detik yang berlalu, setiap jam, hari, minggu, bulan dan tahun yang berlalu, Lumintang tak bisa merasakan, merasakan apa yang harusnya menghangatkan hatinya. Hatinya tetap tidak bergetar, tetap tidak bergejolak. Tak ada gairah yang terasa, tak ada percikan disana. Yang terasa hanyalah kosong. Sedangkan setiap Maliq menatapnya, terlihat binar indah disana, gejolak disana, terlihat gelora disana, terlihat percikan disana..terlihat indah, keindahan yang tak bisa menjangkau hatinya yang seakan mati.
Semua ini bagaikan mimpi yang tak berjiwa, kosong, hampa..

Tidak, Lumintang tidak pernah mencintai seseorang lagi setelah keberadaan Maliq. Lumintang sudah berjanji untuk mencintainya, walaupun seberapa berat dan menyakitkan berada disisi Maliq, walaupun betapa hancur hatinya karena menunggu seorang Maliq. Dan kemudian sebuah janji terucap kala itu, Janji untuk selalu untuk Maliq, menunggunya untuk kembali kepadanya, setelah semua petualangan Maliq berakhir. Walau orang-orang berkata janji hanyalah sebuah janji, sebuah janji bodoh yang tak harus Lumintang genggam sedemikian erat.
Mungkin mereka tak bisa mengerti, untuk seorang Lumintang, janji itu suci, janji itu tak mungkin dipatahkan oleh siapapun. Namun, ternyata hatinya pun membatu, saat Lumintang menghentikan hatinya untuk belajar mencintai kembali, Maliq muncul dihadapannya dan meminta janjinya.
"Aku bosan berpetualang ditumpukkan wanita-wanita jalang itu sayang, Aku kembali kepadamu..kembali kepadamu untuk mewujudkan mimpi kita berdua. janji kita berdua.", begitu ujar Maliq.

Suara rintik hujan terdengar lembut membasahi jendela kamar, dan Lumintang masih saja duduk terdiam, memandangi tubuh Maliq yang terlelap. Hanya suara rintik hujan dan detik jam yang memenuhi ruangan. Dan kemudian hujan turun dengan deras membasahi bumi. Tubuh Lumintang menggigil kedinginan, rasa lelah dan lemah menjalar ditubuhnya yang terlihat begitu rapuh.
Lumintang beranjak dari duduknya dan kemudian bergelung dibalik pelukan Maliq. Hangat tubuh Maliq menghangatkan tubuhnya, tetapi entah mengapa hatinya tetap saja terasa dingin, terasa kosong.

**
Matahari menatap malu-malu dari balik jendela pagi ini. Lumintang berdiri disisi jendela, menatap alam yang masih basah oleh hujan semalam. Sunyi, sepi, tak ada gelak tawa yang terdengar seperti biasa. Lumintang memalingkan wajahnya perlahan, menatap tumpukan pakaian di atas ranjang. Tumpukan pakaian yang disusunnya sedemikian rupa. Perlahan Lumintang melangkah dan membelai lembut pakaian itu satu demi satu, membelai lembut ranjang dimana tempat biasanya dirinya berlindung dibawah kehangatan tubuh Maliq. Ditatapnya buku yang biasa Maliq bacakan untuknya, sebagai dongeng sebelum Lumintang tertidur. Kemudian jemari Lumintang membelai lembut photo Maliq yang tersenyum lembut. Entah mengapa hati Lumintang ikut bergetar dengan lembut.
"Apa ini?", pikir Lumintang.
Lumintang berjalan perlahan menuju cermin. Ditatap refleksi dirinya saat ini. Wajahnya yang berkeriput, rambutnya yang sudah memutih.
Ah...iya...waktu tak terasa berlalu saat kita berada di negeri mimpi bukan?!
Hingga 30 tahun berlalu, tanpa terasa.
Angannya kembali membawanya ke masa lalu, masa dimana saat Maliq masih ada disini. memeluknya dengan erat dari belakang didepan cermin. membelai lembut rambutnya, dari waktu ke waktu. Membisikkan kata cinta dan betapa cantiknya Lumintang, walaupun usia tua menggerogoti tubuhnya.
Lumintang memeluk photo Maliq dengan erat.
Hari ini sepi, hari ini sunyi.
Tak akan ada gelak tawa Maliq lagi disetiap harinya.
Semilir angin bertiup lembut memasuki kamar, menerpa rambut Lumintang yang memutih.
Semilir angin bertiup dengan lembut, seakan membawa suara Maliq yang berbisik lembut ditelinga Lumintang..
"Aku mencintaimu Lumintang, sampai kapanpun Aku tetap mencintaimu.".
Airmata Lumintang mengalir dengan deras, hatinya yang membeku pun kemudian mencair.

Minggu, 16 Juni 2013

Surat untuk Ibu

Ibu, tak tahukah engkau, betapa Aku menantikan saat itu?
Saat Aku dapat melihat wajahmu, melihat senyummu, saat Aku dapat menyentuh dirimu, saat Aku dapat tertidur dipelukanmu yang hangat.
Ibu,Aku dapat merasakan perasaanmu dari sini,
Perasaan sedihmu, bahagiamu, resahmu, amarahmu.
Tak sabar rasanya Aku berada disana untuk menemanimu disetiap harinya.
Ibu, Apakah kamu tahu, bahwa manusia tidak bisa memilih siapa anak maupun orang tua mereka. siapa pasangan mereka, karena itu sudah di takdirkan oleh Tuhan?!
Begitupun juga denga ndiriku.
Aku tidak pernah memilih untuk menjadi anakmu, tetapi Aku tahu bahwa sejak saat ada, Aku mencintaimu, menyayangimu dengan tulus

Ibu, walaupun engkau memilih untuk meniadakanku, menyakitiku, bahkan sebelum engkau melihat rupaku, Aku masih tetap menyayangimu dengan tulus.
Ibu, mungkin saat ini belum saatnya Aku ada dalam pelukanmu, menemani harimu dan menjagamu.
Ibu, jika Aku adalah bentuk sebuah dosamu, bentuk dari kesalahanmu, bentuk dari ketakutanmu, dan engkau menghukum diriku dengan cara seperti ini..menggugurkan Aku, yang bahkan tidak engkau coba untuk mempertahankannya. Lalu, Apakah harus mengutuk segala perbuatanmu yang membunuhku, bahkan disaat Aku belum pernah melihat apa itu dunia, disaat Aku mulai hidup dan berkembang di dalam dirimu.
Ibu, tidakkah engkau merasakan kesakitanku?
Tidakkah engkau merasakan sakitku?
Tidakkah engkau merasakan dukaku?
Tidakkah engkau mencintaiku?
Tidakkah engkau merasakan bahwa Aku masih berbentuk sebuah jiwa murni yang hanya inginkan hidup untuk menjadi anakmu??

Apakah Aku hanyalah sebuah kesalahan?
Apakah Aku hanyalah sebuah bentuk dari penyesalan?
Apakah Aku hanyalah bentuk dari ketakutanmu??
Apakah Aku hanyalah bentuk dari sebuah dosamu?? Ibu??


Note : Please stop illegal ABORTION !!!

Sabtu, 08 Juni 2013

Love in A Summer Day



Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik jendela kamarku. Membangunkanku yang masih mengantuk. Aku menggeliat perlahan di atas ranjang, menguap dan mengusap wajahku yang tergelitik oleh sinar mentari pagi.
"It's a good day..i hope so..".
Aku menggerakkan tubuhku perlahan dari atas ranjang, dan berjalan menuju jendela kamarku. Ku buka tirai perlahan, mentari begitu terlihat ceria pagi ini. Bias sinarnya menggelitik tubuhku, terasa begitu hangat, seakan bumi ini penuh dengan kehangatan cinta.
"It's summer girl..", ujarku kepada diriku sendiri.
Seketika Aku tersenyum dan memejamkan mataku, menikmati hangatnya sinar mentari pagi.
Aku melangkahkan kakiku menuju teras rumah. Laut terlihat begitu bercahaya dengan indah. Semilir angin membelai lembut wajahku, dan sinar mentari masih saja menerpa tubuhku dengan sinarnya yang hangat. Aku meregangkan tubuhku perlahan, dan kemudian melangkahkan kakiku menyusuri pantai.
"Ini surga!!".
Aku tersenyum lembut saat semilir angin menghantarkan aroma nikmat yang Aku kenal. Aroma kopi..Aroma kopi yang memabukkan.
Aku menoleh saat secangkir kopi hitam hangat muncul di depanku, Seseorang yang Aku cinta tersenyum hangat , sehangat dunia saat ini, mengantarkan kopi pertamaku pagi ini.
"Good morning bee..", ujarnya lembut sembari mengecup lembut keningku.
"Good morning bee..thank's for the coffee.", ujarku sembari mengecup lembut bibirnya.

It's summer day..a perfect morning in a summer day.

Rabu, 05 Juni 2013

Fairy World



Saat hujan mulai reda, butir-butir air berjatuhan lembut dari pucuk dedaunan. Aku menghela nafas dalam, "Ya Tuhan, Aku tersesat.", batinku.
Aku memejamkan mataku perlahan dan menarik nafas, berusaha menenangkan hatiku yang mulai resah. Sayup-sayup, gendang telingaku mendengar nyanyian, betapa merdunya, membuai hatiku dalam perasaan yang damai. kemudian cuping hidungku mencium wewangian manis yang membuat air liurku berlomba memenuhi rongga mulutku.
Aku membuka mata perlahan, dan kemudian terpesona oleh apa yang tertangkap oleh indera pengelihatanku.
Betapa indahnya, betapa mempesonanya. Tanpa sadar Aku berdecak kagum.
Pelangi membentang, langit terlihat begitu berseri, dedaunan seakan bersinar oleh butir-butir air, bunga-bunga bermekaran dengan indah, dan peri-peri mengepakkan sayapnya seakan menari sembari bernyanyi. Aku tersenyum, menikmati pemandangan di depan mataku. Indah dan mempesona.
Seketika Aku tersentak, terkejut saat peri-peri itu terbang menghampiriku. Mereka menggodaku dengan sayapnya yang terlihat rapuh, dengan nyanyian mereka yang merdu, mereka menggodaku, mengajakku untuk ikut berpesta dengan mereka, berpesta menikmati keindahan alam.
Betapa memabukkan dunia ini, penuh dengan keindahan, penuh dengan kebahagiaan. Andai saja Aku terus bisa berada di sini.
Aku melihat peri-peri itu terus saja bernyanyi, terbang kesana-kemari sembari menebar serbuk bunga, menebar kehidupan di tempat ini. Burung-burung pun ikut bernyanyi gembira, sang kodok tak hentinya bersuara dengan irama yang indah, kupu-kupu terbang dengan gembira, mencoba untuk meminum sari manis dari bunga-bunga yang seakan berdasa, bergemerincing dengan merdu.
Aku kembali berdecak dengan kagum.
Seketika Aku terkejut saat tumbuhan sekelilingku mulai layu, pepohonan mulai mengering, burung-burung berjatuhan, pelangi mulai menghilang, kupu-kupu kehilangan sayapnya, kodok-kodok mulai berhamburan kesana-kemari, dan peri-peri itu mulai kehilangan sayapnya, berjatuhan satu persatu, mereka berjatuhan dan mati hanya dalam sekejap mata.
Aku tercengang, dalam sekejap surga ini menghilang..dalam sekejap semuanya menghilang.
Kemudian Aku mendengar suara isak tangis yang menyayat hati. Aku berjalan perlahan, berusaha mencari asal tangisan tersebut. Aku mendapati peri yang menangis dengan sayapnya yang mengering, mengerikan. Tanganku menggapainya perlahan dan membelainya dengan lembut.
"Apa yang terjadi pada kalian semua? Mengapa surga ini menghilang dalam sekejap mata?", ujarku.
"Manusia..semua ulah manusia.", ujarnya, diantara tubuhnya yang sekarat.
"Aku tak mengerti..?!".
"Manusia membuat dunia kami menghilang, manusia membuat kami menghilang dan musnah. Karena keserakahan manusia surga kami menghilang. Manusia, makhluk egois yang menganggap bumi ini hanya milik mereka. Mereka menebang pohon sesuka hatinya, membuang limbah ke air kehidupan kami, menyingkirkan setiap unsur-unsur alam yang harusnya mereka ikut jaga. Kini, tak ada lagi pelang, tak ada lagi kunang-kunang, tak ada lagi pesta kehidupan kami. Manusia melupakan kami, Manusia memusnahkan kami.", ujarnya terisak.
Aku terdiam memandang tubuh mungil peri itu dalam telapak tanganku. Seketika bibirku kelu saat melihat peri itu mulai layu, mengering dan mati. Semilir angin bertiup lembut, namun tanpa ada aroma manis, tanpa ada lantunan lagu, tanpa ada irama yang menyenangkan, menerbangkan tubuh peri yang mengering dan mati.
Aku menghela nafasku, terasa berat dan sesak. Aku memejamkan mataku perlahan, dan mencoba menghirup udara sebanyak yang Aku mampu. Yang terasa hanyalah kosong.
Suara dentuman dan klakson mulai terdengar bising ditelingaku, nafasku kembali terasa sesak. aku membuka mataku yang terpejam, memandang jalanan yang padat oleh hewan-hewan besi yang berlalu lalang di depanku. Langit begitu terlihat kelabu, Tak ada pelangi yang menghiasi, yang Aku lihat hanya kerlip lampu ibukota. Tak ada udara manis yang memenuhi pemandangan ini, yang ada hanya udara penuh dengan wewangian busuk oleh polusi. Aku tercengang, ini duniaku..dunia yang sangat jauh berbeda dengan surga itu.
"Aku telah kembali..", desahku.
Kemudian Aku melangkahkan kakiku, menyusuri jalanan yang kering dan berdebu..yang ada hanya kosong..yang ada hanyalah hampa.

Minggu, 02 Juni 2013

The Art of Lust



Imajiku begitu romantis tentangnya.
Imajiku yang menggeluti tubuh telanjangmu dengan pisau dan belati.
Indah..bergelora.

Imajiku begitu romantis tentangnya.
Imajiku yang memecut tubuh telanjangnya dengan cambuk kulit terhalus.
Liar..namun berirama.

Imajiku selalu menjadi begitu romantis tentangnya.
Imajiku yang mengikat tangannya dengan seuntai tali,
Lembut..halus..

Dan selalu saja Imajiku bermain di alam fikirku..
Imajiku yang begitu romantis..
Imajiku yang melayangkan begitu banyak kecupan..
Imajiku yang melayangkan begitu banyak gigitan..
Imajiku yang menikmati setiap lekuk tubuhmu yang mengerang dengan nikmat.
Imajiku yang sangat mengetahui bahwa dirimu mencintaiku dengan segala dominasiku.
Imajiku yang begitu romantis dan liar tentangmu.

ini imajiku sayang..ini imajiku yang romantis tentang dirimu.