Senin, 27 Februari 2012

Ini Sebuah Kebebasan

Pernahkah kamu merasakan telanjang mengitari kamarmu..??
benar-benar telanjang..
tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhmu..
dan hanya ada dirimu sendiri dengan tubuhmu yang telanjang..

Pernahkah kamu memperhatikan setiap lekuk tubuhmu dengan seksama ??
merasakan teksturnya..
merasakan setiap sudutnya..
merasakan dirimu sendiri tanpa rasa jengah ??

Ah..Jangan berfikiran kotor..
Rasakan saja tubuhmu sendiri..
tanpa ada maksud untuk memuaskan nafsu akan birahi..
tanpa ada maksud untuk melampiaskan nafsu akan birahi..
Rasakan saja..
sentuh saja..
hanya untuk benar-benar mengenali dirimu sendiri.

Setelah kamu menyentuh dan merasakan..
pernahkah kamu berfikir..
seberapa sering kamu memperhatikan dirimu..
bersyukur akan tubuhmu..
mencintai dirimu sendiri..??

Pernahkah kamu berfikir bahwa tubuhmu itu seperti sebuah kanvas..??
setiap kerutan..
setiap bekas luka..
setiap lekuk..
mereka mempunyai cerita tersendiri..
cerita tentang dirimu..

Tubuhmu itu seperti seorang sahabat..
sahabatmu yang dapat berbagi setiap cerita yang tak bisa kamu bagi kepada yang lain..

Pernahkah kamu berfikir bahwa tubuhmu itu selalu indah..
walaupun setiap cerita yang tubuhmu bisa ceritakan dapat membuatmu menangis ataupun tersenyum..
tubuhmu tetaplah indah..

Walaupun kamu berusaha menghilangkan setiap luka ditubuhmu..
semua kisah dalam hidupmu tak akan bisa hilang..
dan semakin kamu berusaha menghilangkan luka dan kisah itu..
kamu akan semakin terjerat..
lekat..
erat..
dan kamu akan tetap terperangkap dalam kisah - kisah kelam..
terpenjara didalamnya..

maka belajarlah untuk mencintailah dirimu sendiri..
Cintailah kenanganmu sendiri..
karena itulah arti kebebasan yang sebenarnya..

Minggu, 26 Februari 2012

Naked

Jemariku menyentuh kulitku perlahan..terasa lembut dan halus..
Kemudian Ku sentuh kulit di wajahku..
leherku..
payudaraku..
pinggangku..
pahaku..
betisku yang bagaikan butir padi..
Ahhh...indah..
begitu indah..

Aku mengagumi segala yang ada pada diriku..

Jemariku menyentuh setiap lekuk yang ada di tubuhku..
Sempurna..
itu pikirku..

Dan kemudian Aku menyentuh tubuhnya..
wajahnya..
matanya..
hidungnya..
bibirnya...
lehernya..
ototnya yang terbungkus halus di lengannya..
dadanya..
pinggangnya..
Aku menikmati segala apa yang Aku sentuh dari dirinya..
setiap lekuknya menbuatku begitu mabuk..
mabuk akan dirinya..

Aku tak perlu mata untuk melihat..
Cukup dengan jemariku..sentuhanku..
Aku tahu Tuhan menciptakan Aku dan Dia begitu sempurna..
Yah..
Aku memang tak perlu mata untuk melihat..
Karena Tuhan menciptakan mata hati untukku melihat lebih jelas..
melihat lebih jelas bahwa Aku lebih sempurna dibandingkan mereka yang sempurna.

Sabtu, 25 Februari 2012

Koma

Ida membuka matanya perlahan. Sunyi, sepi, tak ada suara. Ida melangkahkan kakinya menyusuri lorong panjang, cahaya temaram menghiasi lorong putih itu. Sunyi, senyap, tak ada suara.
Langkah Ida terhenti disebuah pintu. Dengan ragu Ida membuka pintu itu perlahan. Suara-suara mulai menyerang gendang telinganya. Bising.

Ida menatap sebuah tubuh yang tebaring lemah dalam sebuah ranjang. Selang oksigen, infus dan alat denyut jantung seakan berkata 'kami yang menyambung hidupnya saat ini.'
Ida menghela nafas.
'siapa dia?'
Ida melangkahkan kakinya menghampiri ranjang.
Perlahan disibakan rambutnya yang menutupi matanya, agar dapat melihat dengan jelas wajah tubuh yang terbaring diatas ranjang tersebut.
Wajah Ida berubah pucat, kaku, tubuhnya bergetar hebat.
Ida mencoba menyentuh wajah tubuh dalam ranjang dan kemudian menyentuh wajahnya sendiri.
Ida mengenalnya, tak mungkin Ida salah. Tubuh itu adalah Dirinya.

Tubuh Ida bergetar kian hebat,
'Apa yang terjadi?'

Ida berusaha keras mengingat apa yang terjadi. Ingatannya terlempar disebuah kenangan.

Malam, sunyi, Ida mencoba menepis sepi dengan menghidupkan messengernya.

Tring..

And13 : Hi Da, tumben online?

Dreamer : Hei.. :)

And13 : senyum aja?

Dreamer : :) :)

And13 : lg Bad mood??

Dreamer : mungkin. :)

And13 : ?? Elo kenapa Da? Ceritalah.

Dreamer : nothing..just missing him. :)

And13 : oh..dia lagi.
              Sms lah orangnya. Bilang kl elo kangen

Dreamer : udah. Tp td brantem :)

And13 : brantem kenapa?

Dreamer : Salah gw, gw yang mulai duluan. :(

And13 : hmm..
              Seharusnya elo udahin semuanya Da.
              Lagipula loe sama dia udah putus lama.

Dreamer : gw masih sayang.

And13 : ya ya ya..
             Sampai kapan elo mau nungguin dia?
             Sadarlah ! Itu cuma nyakitin diri loe sendiri.

Dreamer : udah lah, ganti topik aja.

And13 : You know something funny?

Dreamer : apa?

And13 : gw sayang sama loe, udah lama.

Dreamer : Dimana lucunya?

And13 : elo ga pernah sadar itu, walaupun gw tau elo masih nungguin dia.
              Gw masih tetep sayang sama elo.

Dreamer : itu ga lucu. Itu pathetic !

And13 : kita sama elo juga pathetic!

Dreamer : thanks!

And13 : sampai kapan elo mo nungguin dia?

Dreamer : Ok then. Bye !!

And13 : elo marah? elo tau sendiri kl dia ga akan kembali sama elo.

Klik..

Ida menghapus nickname And13 dari contact list messengernya.

'Gw hapus elo dari hidup gw. Gw ga butuh temen yang ga bisa untuk bener2 temenan.'


Ah..bukan..bukan hal itu yang harusnya Ida ingat. Ida berusaha memacu otaknya, mengingat kepingan kenangan yang berputar dipikirannya. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, hingga Ida terbaring seperti ini. Ingatan Ida kembali melayang ke sebuah kenangan.

"Lihat gw! Sentuh gw! Gw bukan mimpi! Gw NYATA!"

"Elo cuma mimpi, ga akan bisa jadi nyata!"

"Apa selama ini gw diri didepan loe, gw ngomong sama loe, elo sentuh gw, itu semua cuma mimpi buat elo?"

"Iya. Semuanya cuma mimpi."

"HENDRA !! GW NYATA, GA CUMA SEKEDAR MIMPI! LIHAT GW..LIHAT!!"

"Selama ini elo cuma ngasi gw mimpi, elo ga pernah ngelihat gw sama sekali. Sekarang gw sadar kl elo cuma mimpi belaka."

"Gw lihat elo, gw ga pernah menganggap elo mimpi, tp elo ga pernah sadar."

"ELO YANG GA PERNAH SADAR! ELO EGOIS, ELO KERAS, ELO GA PERDULI SAMA GW. APA ARTINYA GW BUAT ELO SELAMA INI DA?"

"DAN SEKARANG ELO NGEBALES SEMUA HAL YG ADA DIPIKIRAN LOE TTG GW? ELO MINTA SEMUA MULAI LAGI DARI AWAL, TAPI LIHAT SEKARANG!"

"Semuanya udah terlambat, elo yang buat gw jadi kayak gini."

"Mungkin kalo gw mati, elo baru sadar kl semua ini bukan tenteng balas dendam, tp ttg mulai semua dari awal lagi!"

 Ida berlalu, airmatanya mengalir deras. Semuanya hanya mimpi, benar..semuanya memang hanya mimpi.

Ida membasuh wajahnya yang berurai airmata. Tak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Ida menghapus airmatanya.

'Gw benci airmata.'

Ida melajukan kendaraannya dengan kencang. Ida, memarkirkan kendaraannya di sebuah mini market untuk membeli persediaan rokoknya yang mulai menipis dikamar. Saat Ida melangkahkan kakinya keluar dari mini market, Ida melihat seorang anak kecil yang terjatuh di pinggir jalan. Ida berlari, menghampiri sosok anak tersebut. Ida membantu anak itu berdiri. Ida berusaha menenangkan anak tersebut yang mulai menangis kencang.

Ujung mata Ida menangkap sesuatu yang melaju kencang, dengan refleks Ida mendorong anak itu menjauh. Tiba-tiba semua gelap. Suara kendaraan mulai mengabur, tergantikan oleh jeritan asing dan suara-suara mulai mengabur.

Ida tersentak, Ditatap tubuhnya yang terbaring lemah diranjang. Airmatanya seakan berlomba untuk keluar, tapi saat Ida menyentuh wajahnya, tak ada airmata.

'Inikah rasanya koma?'

Ida memandang tubuhnya yang terbaring lemah. Disentuhnya perlahan wajah tubuhnya yang pucat. Dilayangkan pandangannya mengitari ruangan. Tak ada satupun keluarga yang menungguinya saat ini.
Sudah sebulan sejak kejadian itu. Sudah sebulan Ida terbaring koma disini. Apakah selama sebulan ini terus seperti ini?

'Apa yang harus aku lakukan?'

Ida tersentak saat merasakan sentuhan halus dipundaknya. Ida menoleh, dan menatap sesosok lelaki yang tersenyum kearahnya.

"kamu siapa?", tanya Ida. Tetapi lelaki itu hanya tersenyum lembut kepadanya.

"Apakah kamu juga hantu seperti aku?".

"Aku bukan hantu dan Aku juga bukan manusia."

"Malaikatkah?", ujar Ida terkesima.

"Mungkin dan mungkin juga Aku adalah iblis."

Ida tersentak saat lelaki itu menjawab pertanyaannya. Ditatapnya lelaki itu dengan ragu.

'Malaikat itu bersinar, tetapi lelaki itu tidak. Iblis itu menakutkan, tetapi dia tidak. Hufhh..okelah gw belum pernah liat wujud Malaikat dan Iblis. Tapi bukannya di semua cerita Iblis & Malaikat digambarkan begitu?! Kl dia bukan Iblis, Malaikat ataupun Hantu lalu?'

Lelaki itu tersenyum dan kemudian berkata, "Aku cuma salah satu makhluk kasat mata ciptaan Tuhan."

Ida tersenyum masam mendengar kata yang dilontarkan lelaki itu.

"Aku disini hanya untuk menemanimu."

"Menemani Aku? Untuk apa?"

"Untuk melihat."

"Aku tidak buta."

Lelaki itu tersenyum kembali dan berkata, "Bukan secara harafiah, tetapi menggunakan hati."

Jujur saat ini Ida diliputi oleh kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa yang ingin Dia perlihatkan kepada Ida?

Banyak pertanyaan yang berputar di pikirannya. Seakan Lelaki itu dapat membaca apa yang Ida pikirkan, lelaki itu berkata, "Hanya waktu yang bisa Aku berikan. Agar kamu bisa benar-benar melihat."

Ida menolak tegas, saat ini Ida hanya ingin berada disini, dikamar ini, bersama tubuhnya yang sekarat. Tetapi lelaki itu tak juga jera. Selama seminggu ini, lelaki itu terus muncul, hanya duduk, tersenyum dan memandang Ida yang tak mau pergi dari sisi ranjang.
Hingga akhirnya Ida menyerah, dan berkata.

"Oke, Mau loe apa sebenernya?"

"Ikut aku..", ujar pria itu sembari tersenyum.

"Gw ga mau. Gw mau disini, nemenin diri gw sendiri."

"Kenapa?"

"Karena engga ada satupun selama seminggu ini keluarga gw ada buat nungguin gw. Setidaknya biar tubuh gw engga ngerasa kesepian."

"Tubuh itu cuma tubuh, hati dan perasaan hanya ada di kamu seorang. Ikut Aku, agar kamu dapat melihat dengan hatimu."

"Emangnya apa sih yang mau elo tunjukin ke gw?"

Lelaki itu mengulurkan tangannya ke Ida. Dengan ragu Ida mengamit tangan lelaki itu. Perlahan rasa nyaman seakan mendekap Ida dengan lembut. Ida terbuai dalam rasa nyaman yang sudah lama tidak dirasakannya. Langkahnya terasa ringan saat Ida menyusuri lorong bersama lelaki itu.

Mereka tiba di taman rumah sakit.

"Matahari hari ini indah ya?", ujar lelaki itu.

Ida mendongakkan kepalanya, mencoba memandang matahari. Tak ada silau, tak ada sakit yang menyerang mata. Matahari terlihat jelas di matanya. Sesuatu yang tidak pernah Ida lihat selama hidupnya dengan mata telanjang, dan kini Ida dapat melakukannya.kemudian Ida hanya mengangguk pelan.

Lelaki itu mengamit tangan Ida yang masih terpaku memandang matahari. Pemandangan terlihat mulai mengabur, seperti mereka berjalan melintasi ruang waktu dengan kecepatan tinggi.

Mereka berhenti di sebuah ruangan. Ruangan yang tak asing untuk Ida.

"Ma, hari ini tolong jenguk Ida dirumah sakit."

Suara itu mengejutkan Ida, Dipalingkan wajahnya, berusaha mencari asal suara tersebut, suara papanya.

"Papi kan tau, hari ini Mama sibuk, kerjaan Mama tidak bisa ditinggalkan. Kenapa bukan Papi aja yang jenguk Ida, itu kan anak Papi bukan anak Mama."

Ida terhenyak saat mendengar kata2 itu, Matanya menatap sosok mamanya yang muncul dari balik pintu.

"Ma, Ida anakmu juga, bukan hanya anakku. Hari ini Aku harus keluar kota. Ah..mungkin aku bisa menyempatkan waktu sebentar saja untuk menjenguknya."

"Ida bukan anakku, dia anak kamu dengan mantan istrimu yang dulu. Aku mencoba menyayangi dia seperti anakku sendiri, tapi Ida tidak pernah menganggapku sebagai Mamanya."

"Tapi setidaknya Ma, jenguklah Ida walau hanya sekali. Hanya Ida anak kita satu2nya." ujar papa lirih.

Ida merasakan hatinya perih. Mungkin apa yang dikatakan oleh Tante Mira benar. Berapa kali Tante Mira berusaha mendekatkan dirinya kepada Ida, tetapi Ida selalu menolak. Baginya Tante Mira tidak akan bisa menjadi Mamanya, Baginya Tante Mira hanyalah wanita perusak rumah tangga mama dan papanya. Dan Ida selalu menolak saat Papa-nya meminta Ida untuk memanggil Tante Mira dengan sebutan Mama.

Ditatapnya sosok Papa-nya yang muncul dari balik pintu kamar mandi. Gurat-gurat halus mulai muncul diwajahnya. Ingin rasanya Ida memeluk Papa-nya, tetapi saat Ida berusaha menyentuh, Ida hanya menembus sosok papa-nya.

Lelaki itu mengelus rambut Ida perlahan dan mengamit kembali jemari Ida.

"Ayo kita pergi dari sini."

Mereka pun berlalu. Ida kembali merasakan sensasi nyaman dalam dirinya.

"eh, elo siapa sih sebenernya? Ya kalo ga mau bilang, setidaknya elo kasi tau nama loe. Biar gw enak manggilnya. Kan ga mungkin elo gw panggil eh eh terus."

"Aku ga punya nama."

"lho, kok gitu? Nama gw Sefrida Ananta Setiani, elo bisa panggil gw Ida."

"iya, aku tau."

"uh..nama loe siapa?"

"Kamu bisa panggil Aku sesuka hati kamu."

"mmmm...kalo gitu, mulai sekarang elo gw panggil Fahmi ya?!"

"Nama yang bagus." ujar lelaki itu sembari tersenyum.

"Sekarang kita mau kemana nih?"

"Lihat saja nanti."

Ida memejamkan matanya saat pemandangan mulai mengabur karena kecepatan yang kian lekat. Tapi perasaan nyaman itu tak kunjung hilang. Ida semakin terbuai, berharap saat ini waktu dapat berhenti.

Langkah mereka terhenti disebuah kamar. Ida melihat sekeliling, ujung matanya terhenti disebuah pigura yang bertengger di atas rak buku.

'Hendra..'

Ida melepaskan genggaman Fahmi dari tangannya. Melangkahkan kakinya dan menyetuh photo Hendra.

'ah..andai aku dapat menyentuh..'

Ida melihat sebuah agenda tergeletak setengah terbuka disamping pigura. Ida dapat melihat tulisan dan sebuah photo dalam agenda tersebut.
Hatinya tergelitik ingin membaca isi agenda tersebut. Tapi apa daya, Ida tak dapat menyentuh apapun. Hanya Fahmi yang dapat Ida sentuh.

"Sini Aku bantu."

Fahmi perlahan mengambil Agenda tersebut. Membukanya perlahan.
Ida terkesiap melihat ternyata photonya terpasang disana. Dibacanya perlahan tulisan-tulisan itu.

'Kamu..kamu hanya mimpi..mimpi indah yang aku inginkan menjadi sebuah kenyataan.
Kamu..kamu adalah cinta..tapi hanyalah cinta dalam mimpi..
Apakah kamu tau..seberapa besar perasaan ini?
Kamu..kamu mengambil semuanya..
Dan pergi..
Membawa harapan, cinta dan mimpiku.
Jika membenci semudah itu..
Aku ingin membencimu..
Tapi ternyata..cinta ini membutakan aku..
dan mengalahkan rasa benciku padamu.
Lihatlah aku..
Bodohkah aku..?
apa aku yang terlalu larut dalam mimpiku..
atau aku yang memang tak pantas untuk menggenggam hatimu?'

Andai saja Ida dapat mengeluarkan airmata, mungkin saat ini airmata Ida sudah deras mengalir. Ida memalingkan wajahnya, mencoba menghapus luka dihatinya yang kian menganga lebar.

Apa itukah yang Hendra rasakan?!
Apa Hendra juga tau apa yang dirasakannya tak jauh berbeda?
Apa yang salah disini?
Apaaaa?????

Ingin rasanya Ida berteriak kencang hanya untuk mengeluarkan beban yang dirasakannya saat ini. Tapi apakah semua ada gunanya?!

Fahmi meletakkan agenda tersebut kembali pada tempatnya. Kemudian Fahmi merengkuh Ida ke dalam pelukannya.

Pelukan Fahmi begitu hangat, seakan menghapus semua kepedihan yang Ida rasakan saat ini.

"Lebih baik kita kembali kerumah sakit.", ujar Fahmi.

Ida mengangguk perlahan.

Mereka kembali melangkah, dan Fahmi tak juga melepaskan pelukannya.
Ida merasa tentram dan damai. Tetapi pikirannya tak juga berhenti menyiksanya.

'Andai waktu dapat kembali pada saat itu. gw mau mulai semuanya dari awal.'

Ida merasakan tubuhnya melayang. Ditatapnya Fahmi yang masih mendekapnya erat. Sesampainya dirumah sakit. Dekapan Fahmi mengendur dan lepas. Ida menatap Fahmi.

"Makasi ya hari ini."

Fahmi hanya tersenyum.

"Sama-sama."

"eh iya, tadi waktu ditempat Hendra, elo bisa nyentuh barang. Elo bisa nyentuh yang lain gitu?", tanya Ida heran.

"Iya, Aku bisa menyentuh benda berwujud."

"oh...enak ya..?! Tapi kenapa gw ga bisa kayak gitu?."

"Karena aku dan kamu berbeda Ida?."

"Apanya yang beda? Elo bukan manusia, elo juga bukan hantu. Gw juga bukan hantu kan?! Buktinya tubuh gw masih bernyawa disana.", ujar Ida sembari menunjuk tubuhnya yang terbaring koma diatas ranjang.

"Nanti..ada saatnya kamu akan tau siapa aku.", Fahmi tersenyum dan kemudian menghilang.

Ida memonyongkan bibirnya saat menyadari Fahmi hilang dari pandangannya.

'huhh..susah amat sih hanya untuk bilang dia itu siapa?! Bikin penasaran aja.'

Ida tersentak saat derit pintu mengganggu lamunannya. Papa Ida berdiri didepan pintu dan melangkah perlahan. Hati Ida bergetar, ingin memeluk Papa-nya.
Rindu..rindu..rindu..rindu..

Perlahan Papa Ida melangkah menuju ranjang, membelai rambut Ida yang tergerai diatas bantal dan mengecup keningnya perlahan.

Ida seakan merasakan kebuah kecupan hangat dikeningnya saat Papa mengecup kening tubuhnya yang terbaring koma.

"Cepat sembuh sayang, cepat sadar dari tidurmu..papa rindu gelak tawamu. Papa rindu anak kesayangan Papa."

Ida dapat melihat Papa-nya menitikkan Airmata.
Ida terhenyuh

'Ida juga kangen Papa.', ujar Ida lirih.

Setelah meletakkan beberapa kuntum mawar putih ke dalam vas, Papa Ida mengecup kembali kening Ida.

"Papa bawakan bunga kesukaan kamu. Maafkan Papa sayang. Hari ini Papa belum bisa menemani kamu dirumah sakit. Papa harus keluar kota untuk beberapa hari."

Papa membelai lembut kening Ida, dan kemudian melangkah pergi.

Ida menatap punggung papanya dari pinggir ranjang. Apa pekerjaan memang lebih penting daripada dirinya? Ida hanya berharap, sekali saja, hanya untuk kali ini, Papanya lebih mengutamakannya dibanding pekerjaan.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Itu hanyalah harapan yang tak mungkin terjadi.

Ida menatap jarum jam yang berdetik didinding. Dan memandang tubuhnya yang terbaring koma. Perasaan kasihan menyeruak dihatinya.

'kasihan ya loe..udah seminggu gw disini, tapi yang gw liat cuma suster dan dokter yang lalu lalang ke kamar loe. Dan baru hari ini gw liat bokap kesini, dan itupun cuma sebentar. Sebenernya ada dan engga ada elo, semua tetep sama aja. Engga ada yang berubah dan engga ada yang ngerasa kehilangan.'

Ida memalingkan wajahnya dari ranjang, melangkah menuju jendela dan menatap keluar. Kerlip lampu menghiasi langit yang mulai gelap. Rembulan dengan malu-malu menampakkan wujudnya, sinarnya lembut dan sedih. Seperti hati Ida saat ini.

Ida terkejut oleh suara derit pintu. Ida menoleh dan menatap sosok Tante Mira yang melangkah kesisi tubuhnya yang koma diatas ranjang. Tante Mira membelai lembut rambut Ida yang terurai.

"Maaf sayang, Mama..eh..tante baru bisa jenguk kamu lagi."

Tante Mira menyeret sofa yang berada diujung ruangan ke dekat ranjang.

"Ah, Rupanya hari ini, papa menyempatkan dirinya untuk menjengukmu." ujar tante Mira setelah melihat rangkaian mawar putih yang terangkai indah di atas meja. Tante Mira tersenyum.

"Kamu tau sayang? Dokter mengatakan bahwa jika ada seseorang mengajakmu berbicara, walaupun kamu ada dalam keadaan koma sekalipun, kamu dapat mendengar.
Sudah seminggu lebih mama..eh..tante tidak berbicara denganmu.
Maaf, tante sibuk mengurus kerjaan tante.
Uh..sebenarnya agak janggal mama..eh..
Ah..sudahlah..
Tante sayang kamu Ida..
Ingin sekali Tante mendengar kamu memanggil dengan sebutan Mama.
Tante sudah anggap kamu sebagai anak Tante sendiri.
Tapi kamu selalu menolak.
Kadang itu sangat menyakitkan buat tante.
ahh..kenapa tante malah curhat sama kamu?!" Tante mira tersenyum, tetapi ida dapat melihat mata tante Mira yang berkaca-kaca.

"Hari ini, rumah masih tetap sepi tanpa ada kamu.
Papamu masih saja sibuk dengan urusan kantornya.
Kadang tante kagum dengan kamu yang bisa mengerti keadaan papamu yang selalu sibuk dan jarang dirumah.
Tante Mira kadang ngambek sama Papamu..hehehe..mungkin tante memang kekanakan..tapi tante kesepian sayang..
Ah...kenapa tante jadi curhat lagi.."

Ida menatap tante Mira yang berbicara dengan tubuh Ida yang koma. Didengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Tante Mira secara perlahan.

Sekejam itukah Ida terhadap Tante Mira?
Selama ini, Ida hanya menganggap Tante Mira penuh kepura-puraan. Tak pernah tulus. Karena sakit hati lebih menguasainya dari waktu ke waktu. Saat Ida menghadapi perceraian orangtuanya karena orang ketiga diantara mereka. Dan orang ketiga itu adalah Tante Mira.

"Tante bingung harus cerita tentang apa lagi.", mata tante Mira terlihat menerawang.

"Apa kamu mau mendengar awal pertemuan tante sama papamu?
Papamu dulu sering datang kerestoran tante untuk makan siang, sama rekan-rekan kerjanya.
Tante melihat kalau papamu orangnya cukup kikuk.
Anehnya wibawanya terpancar dari dirinya.
Tante berteman dengan Papamu semenjak papamu tak sengaja menjatuhkan saus steak ke baju tante.
Waktu itu, wajah papamu dipenuhi dengan rasa bersalah sayang.
Lucu, tante melihatnya Papamu seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan oleh gurunya saat itu." Tante Mira tertawa kecil dan meneguk air mineral yang ada digenggamannya.

"semenjak saat itu Tante Mira berteman dengan Papamu.
Papamu sering bercerita tentang kamu..
Anak gadis satu-satunya yang sangat dia sayangi.
Papamu bercerita tentang mamamu..
Wanita yang dia cintai saat itu.
Tante berteman dengan Papamu selama 2 tahun. Tak pernah sekalipun Tante dan papamu bertemu ditempat lain.
Hanya direstoran pada saat makan siang.
Bagi tante, pertemanan itu hanya seperti tante yang pemilik restoran dan Papamu adalah pengunjung tetapnya.
Tak lebih.
Tante terbiasa mendengar cerita-cerita pengunjung yang datang.
Waktu itu, tante hanya punya satu restoran.
Tante sempat tidak berbincang dengan papamu selama hampir 8 bulan karena Tante sibuk mengurus pembukaan cabang restoran tante.
Saat tante bertemu kembali dengan Papamu, wajahnya terlihat sedih.
Awalnya papamu hanya terdiam dan berusaha menceritakan tentang pekerjaannya.
Tapi saat Tante bertanya tentang kabar keluarga kalian,
Wajah papamu terlihat sangat sedih.
Dan akhirnya papamu bercerita tentang masalah rumah tangganya.
Tante hanya bisa berempati.
Dan dua bulan kemudian papamu datang kerestoran dan bercerita bahwa papa dan mamamu telah bercerai.
Itulah pertama kalinya tante melihat papamu menangis dihadapan tante.
Sebulan setelah perceraian itu, Mamamu datang ke restoran tante..memaki-maki tante..mengatakan bahwa tantelah perusak rumah tangga mereka.
Saat itu juga pertama kalinya tante bertemu kamu..", Tante Mira terlihat menerawang jauh.

Ida mencoba mengingat kenangannya sendiri.

Saat itu Ida berumur 15 tahun. Tiba-tiba saat pulang sekolah mama menjemputnya. Wajah mamanya saat itu dipenuhi dengan amarah. Saat mereka tiba di sebuah restoran, Ida melihat mamanya menghampiri seorang wanita. Mama menampar wanita tersebut, jeritan..makian mama terdengar jelas saat itu. Ida melerai dan menyeret mamanya pergi. Mama menangis didalam mobil, berkata bahwa wanita itu yang membuat mama bercerai dengan papa. Papa yang berselingkuh dengan wanita penggoda. Papa yang selama ini begitu dibanggakan oleh Ida dan sosok kebanggaannya mulai tergantikan oleh rasa kecewa.

"Kamu tau sayang, papamu tidak pernah sekalipun berselingkuh,
Tante akui bahwa papamu seorang pria yang tampan dan pasti banyak wanita yang tertarik kepadanya.
Tetapi untuk berselingkuh, papamu tak akan terbersit keinginannya untuk itu.
Banyak hal yang papamu sembunyikan darimu..tentang mamamu..
Papamu tidak ingin kamu membenci mamamu.
Karena tante tau, jauh dilubuk hatinya, papamu masih menyayangi mamamu.", Tante Mira tersenyum masam.

"Sejujurnya, alasan papamu bercerai dengan mamamu..
Karena mamamu berselingkuh dengan rekan kerja papamu.
Dan papamu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Dan ternyata hal itu terjadi berulang kali..dengan orang yang sama.
papamu diam dan memaafkan mamamu karena mamamu menangis dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Papamu memikirkan kamu..
Tapi saat itu perselingkuhan kembali terjadi, dan papamu melihatnya sendiri.
Akhirnya papamu memutuskan untuk bercerai.
Papamu tau kamu kecewa saat itu terhadapnya. Tapi papamu tak ingin membebanimu dengan semua kenyataan itu."

Ida tersentak, benarkah itu semua?
Seingat Ida, memang ada salah seorang rekan kerja papa yang sering berkunjung kerumah. Dan kebetulan dia adalah teman mama sewaktu kuliah dulu.
Sehingga Ida tak menghiraukan jika saat pulang kerumah, Pria itu juga beberapa kali berada dirumah, berbincang dengan mamanya diruang tengah.
Lalu..mana yang harus dia percaya. Semua hal yang dianggapnya benar selama 7 tahun ini, bahwa papanya berselingkuh seakan menjadi absurd.

Tante Mira masih saja berceloteh, tetapi Ida tak dapat mendengarkan dengan jelas. Pikirannya mulai kacau seakan serpihan kenangan mulai mengikatnya kuat dan Ida merasa sesak dihatinya.

"Setahun setelah perceraian itu, Papamu meminta Tante untuk menikah dengannya.
Dengan cara yang teramat lucu..
Papamu berdiri didepan tante.. Wajahnya memerah..
Dan berkata 'menikahlah denganku'
anehnya saat itu tante hanya bisa terdiam, selama 33 tahun tante hidup, tak pernah ada seorang priapun yang berkata ingin menikahi tante.
Papamu hanya menatap tante dengan wajahnya yang memerah.
Setengah jam berlalu dalam kesunyian.
Dan akhirnya tante mengangguk..
Mengiyakan lamaran papamu.", Binar mata Tante Mira saat ini terlihat begitu indah, seakan penuh dengan cinta.

'Tante Mira cantik, penyabar dan hebat..sekarang gw mengerti mengapa papa memilihnya sebagai pengganti mama. Walaupun mama memang tak akan pernah tergantikan dihati gw maupun papa.'

Ida menatap Tante Mira yang tertidur sembari menggenggam jemari Ida yang terbaring diatas ranjang.
Tiba-tiba Ida merasakan sentuhan hangat dipundaknya. Ida menoleh menangkap sosok Fahmi yang berdiri disebelahnya.

"Fahmi?"

"Sudah cukupkah kamu melihat?"

"Iya, gw sekarang tau semuanya."

"Sekarang semua tergantung kamu."

"Maksud loe?"

"Sekarang semua terserah apa keputusan kamu, ingin melanjutkan hidupmu atau berhenti sampai disini.", ujar Fahmi sembari tersenyum.

"Tapi gw sekarat disana!", Ida berkata dengan suara tercekat sembari menunjuk ke ranjang.

"Semua tergantung Kamu. Kamu tak dapat kembali jika keinginanmu untuk hidup pun tak ada. Dan itu yang terjadi denganmu selama ini."

Ucapan Fahmi membuat Ida tertegun. Memang selama ini rasa enggan untuk kembali kerumah atau apapun itu mengukung Ida untuk tetap seperti ini.

'kalau gw cuma mimpi dan ga bisa menjadi kenyataan, biarlah semua tetap seperti ini. Biarlah gw cuma bisa menjadi mimpi selamanya.'

Ida menatap Fahmi yang masih menatapnya denga tatapan itu. Tatapan yang seakan menentramkan jiwanya. Nyaman..damai..seakan menghapuskan segala keresahan hatinya..seakan memeluknya kedalam perasaan kasih yang tulus.

"Kasi gw waktu sebentar lagi. Gw masih butuh sedikit waktu lagi."

Ida menatap Fahmi dengan ragu. Dan kemudian berkata, "Tolong antar gw ke suatu tempat. Tempat dimana dia berada."

Fahmi tersenyum dan mengamit jemari Ida yang terulur kearahnya.
Mereka kembali melangkah, menembus waktu..menembus malam.

Ida melihat sosok Hendra yang terduduk diam dikamarnya. Sosok Hendra terlihat sedih.

"Ida..gw kangen..tapi gw ga tau apa yang harus gw lakukan lagi..kalau yang namanya cinta sesakit ini, gw ga mau mencintai elo. Tapi kenapa gw ga bisa berhenti? Gw mau elo jadi kenyataan, apa segitu sulitnya? Apa gw ga bisa jadi kenyataan buat elo? gw emang pengecut, ga bisa ngeliat elo terbaring disana. Ga ga kuat kalo gini terus-terusan. apa jadinya kalo elo ga ada lagi?! Gimana gw menjalani hidup gw? Semuanya kosong dan ga berarti. Gw bisa ketawa diluar sana. Tapi hati gw engga. Tuhan, apa elo emang bener-bener ada?"

Hendra menangis tanpa suara. Dan Ida pun menangis dalam hatinya. Direngkuhnya Hendra kedalam pelukannya, walaupun Ida tau itu akan menjadi hal yang sia-sia, karena Ida tidak dapat menyentuh.

'Tuhan..tolong sekali ini saja..izinkan gw buat merasakan..', jerit Ida dalam hati.

Hangatnya tubuh Hendra dipelukannya menghangatkan tubuh Ida.

'Terima kasih Tuhan..terima kasih.' dan Ida pun menangis.


**

Fahmi menatap Ida yang berdiri dihadapannya.

"Fahmi, makasi ya buat semuanya. Sekarang gw sadar dan gw tau apa yang harus gw lakuin."
Fahmi tersenyum,

"eh..Fahmi..apa kita bisa ketemu lagi?"

"Ada saatnya nanti kita bisa ketemu lagi..ada saatnya nanti."

Fahmi mengecup lembut kening Ida. Ida memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian Ida merasakan tubuhnya bagai tersedot lubang hitam.


***

Matahari mengintip malu-malu dari balik jendela rumah sakit. Ida mengerjapkan matanya perlahan, ujung matanya menatap sosok Tante Mira yang masih tertidur disisian ranjang. Ida melepaskan jemarinya yang digenggam hangat oleh Tante Mira. Tangannya membelai lembut rambut Tante mira yang terurai..hangat.

"Mama..", ujar Ida lirih.

Tante Mira terbangun dan menatap Ida dengan terkejut. Seketika Tante Mira menangis melihat Ida yang telah membuka matanya. Tante Mira memeluk erat tubuh Ida. Hangat..seperti hangatnya pelukan seorang Ibu.

"Mama..", ujar Ida kembali.

"Ini Tante sayang.."

"Iya..tante Aku yang sekarang menjadi Mamaku."

Tante Mira menatap Ida dan kemudian memeluknya kembali. Airmata terus mengalir deras dikelopak matanya yang indah.

"Iya sayang..Aku mama kamu..mamamu.."

Tante Mira melepaskan pelukannya dan bergegas memanggil dokter.


****

Seorang bayi laki-laki mungil berada dipelukan Ida saat ini. Tatapan hangat dan senyumnya yang menghangatkan hati Ida. Ingatan Ida terlempar kesebuah kenangan 4 tahun lalu yang mulai memudar. Tentang seorang lelaki..yang mempunyai senyuman seperti ini, matanya, bibirnya dan saat Ida mendekap bayi mungil itu, Ida seakan kembali merasakan hal yang sama saat lelaki itu mendekapnya erat.

"Mau kamu beri nama apa anak kita sayang?"

Ida menatap sosok suaminya yang berdiri disisi ranjangnya..sosok suami yang sangat Ida cintai dengan sepenuh hati. Kemarin, esok dan seterusnya..Hendra.

"Fahmi..namanya Fahmi..", ujar Ida tersenyum dan mengecup lembut tubuh bayi mungilnya.

Kemudian Ida berbisik lembut,

'kamu benar..ada saatnya nanti kita bisa ketemu..ada saatnya nanti..'

Jangan Panggil Aku Banci!

Susan berjalan melenggok gemulai menuju ruangannya. Bibir mungilnya tersemat sebatang rokok yang baru terbakar. Perlahan Susan menghembuskan asap yang memenuhi rongga mulutnya kemudian Susan mengamit tas Gucci yg teronggok diatas mejanya.

"It's time to go home". Gumamnya.

Besok banyak yang harus dikerjakan. Beberapa dokumen yang harus ditandatangani, jujur itu semua cukup melelahkan bagi Susan. Beberapa syarat birokrasi yang harus dijalanin olehnya. Tapi toh semua itu untuk hal yang Susan tunggu selama ini.

Susan, terlahir dengan nama Susanto Haryono. Dibesarkan ditengah keluarga besar yang cukup terpandang. Keluarganya mengharapkan Susan menjadi lelaki yang tangguh dan membantu usaha keluarganya yang telah berdiri selama 10 tahun. Tapi apa daya, sewaktu Susan berusia 16 tahun, Susan merasakan keanehan pada dirinya. Tak ada Jakun yang menghias dilehernya yang jenjang, ototnya tidak tumbuh kembang dan juga pita suaranya terlalu tinggi untuk seorang pria.
Belum lagi dadanya terasa sedikit nyeri sewaktu Susan berlari. Susan menjadi pemalu dan rendah diri. Susan berhenti bermain dengan lelaki karena Susan merasa malu saat mereka bercanda.
"Susanto Banci !"

Akhirnya itulah ejekan orang-orang terhadapnya. Kerap Susan menangis sendiri dalam kamarnya, karena Susan bingung atas apa yang terjadi dengannya. Keanehan mulai bertambah saat Susan mulai senang memakai pakaian perempuan. Kadang Susan sembunyi-sembunyi menyelinap ke kamar kakak perempuannya, menggunakan gaun, rok, make-up, dan berlenggok didepan cermin. Hal itu sangat menyenangkan untuk Susan. Sehingga suatu hari Kesenangan Susan itu dipergoki oleh kakak dan temannya. Meluaslah kabar bahwa Susan memang banci.

Selama sebulan Susan dikurung oleh Ayahnya didalam kamar. Tidak boleh keluar rumah selangkahpun. Susan hanya bisa menangis pilu. Merasa bersalah karena berbeda.
Susan berusaha melawan kesenangannya, dan menjalani hidupnya sesuai dengan kodrat lelaki sesungguhnya.

Setahun kemudian Susan mengalami pubertas yang disebut menstruasi. Susan terkejut, berusaha menyembunyikan semuanya. Hingga akhirnya Susan mengungkapkan kepada keluarganya tentang semuanya. Ayahnya menentang dan menolak semua dengan keras. Susan hanya bisa menangis dan akhirnya bertahan untuk menjadi lelaki sesuai yang Ayahnya. Tapi ternyata tak semua berjalan mulus, karena akhirnya Susan mengenal seorang pria dan jatuh cinta kepadanya.

Selama 23 tahun Susan hidup sebagai Lelaki dan akhirnya ayahnya menyerah, mengakui bahwasannya Susan adalah benar seorang wanita, itupun setelah Susan memaksa Ayahnya untuk menemaninya ke dokter ahli. Dokter yang membenarkan bahwa Susan memanglah seorang wanita karena mempunyai alat reproduksi wanita yang lengkap dan tidak mempunyai kantung sperma seperti lelaki normal.

Sekarang Susan dapat berdiri tegak sebagai seorang wanita, tanpa ada rasa malu mengungkapkan bahwa dia memang wanita, dengan rambut panjang terurai, senyum mengembang dibibirnya,
Susan pun bergumam

"JANGAN PANGGIL AKU BANCI, KARENA AKU ADALAH SEORANG WANITA."

Selasa, 21 Februari 2012

Warna


Dunia yang Aku kenal hanya terdiri dari tiga warna, Hitam, Putih dan abu-abu. Dan Aku berdiri ditengah-tengah..berdiri diantara Hitam dan Putih..berdiri di sebuah warna yang disebut abu-abu.

Lalu..gelapkah hidupku??

Tidak..jangan berkata seperti itu!!
Kadang ada cahaya yang membawa kehangatan disana..kadang cahaya tersebut juga terasa dingin. Kadang gelap yang dingin membayangi..tetapi kadang gelap itu juga dapat membawa kehangatan dalam hidupku. Yah..abu-abu..itulah hidupku.


**

Aku memandang kekejauhan, begitu banyak amarah, benci dan ketidak-perdulian. Tetapi jika Aku memandang lebih jauh lagi..masih bisa Aku lihat cinta disana.
Ah..Cinta..itu sesuatu hal yang tak pernah bisa dijangkau oleh hati dan otakku. Logikaku tak pernah bisa menjangkau apa itu Cinta.

Kadang saat Aku berjalan di taman saat sore hari, Aku melihat pasangan tua yang duduk bergandengan tangan dengan mesra. Cintakah itu??
Kadang Aku melihat seorang ibu yang mengendong anaknya. Itukah Cinta??
Itukah wujud-wujud cinta??

Logikaku berputar mencari arti cinta..tetapi hatiku menolak dan kemudian menegaskan bahwa yah..Aku tak akan pernah mempercayai cinta!!

Aku hidup disebuah keluarga kecil yang bahagia. Ayah dan Ibuku berasal dari dua kultur yang berbeda yang akhirnya menyatu dalam sebuah wujud yang disebut pernikahan. Lalu..cintakah itu??

Bagi diriku, Pernikahan itu hanyalah sebuah pilihan antara manusia untuk meneruskan keturunan. Pernikahan itu sebuah hal yang konyol..Sangat konyol.

Berasal dari 2 orang yang tidak saling mengenal, kemudian belajar untuk mengenal satu sama lain dan kemudian menjalin sebuah komitment untuk menikah dan belajar untuk hidup berbagi.
Berbagi..ah..itu masalah terbesar dalam hidupku. Aku tak suka berbagi. Aku tak suka orang lain melangkah terlalu jauh dalam hidupku. Aku tak suka saat orang mulai menyentuh hidupku dan berusaha mengenal diriku lebih jauh dari yang Aku inginkan.

Lalu..kesepiankah diriku..?? Yah..Aku kesepian..tapi..bukankah semua orang juga merasakan kesepian..?! Mungkin perbedaan terbesar adalah..Aku menikmati dan menyukai kesepian itu.


**

Hari ini usiaku mulai memasuki 30 tahun. Usia yang menurut ibuku terlalu tua untuk seorang wanita lajang. Beberapa kali Ibu berusaha mengenalkan Aku dengan pria. Tetapi Aku selalu menolak.

Kadang Aku berfikir, mengapa menikah itu merupakan sebuah kewajiban?! Bisakah Aku hidup hanya sendiri?!
Tak perlu direpotkan dengan sebuah hal yang mengganggu keseimbangan diriku?! Aku terlalu senang akan kesendirianku..terlalu menikmati hidupku yang abu-abu..yang mungkin bagi orang lain terkesan membosankan. Tapi itu tidak bagiku..hidupku menyenangkan..sangat menyenangkan.


**

Malam ini Aku duduk diberanda rumahku. Menikmati rintik hujan yang membasahi ujung jari kakiku yang Aku julurkan diantara rumput-rumput basah. Ini menyenangkan, sangat menyenangkan bagiku.

Aku selalu menyukai saat hujan turun, Aku menyukai wangi tanah yang basah oleh air hujan. Aku menyukai tetes-tetes air yang berjatuhan dari langit. Aku sangat menyukai hujan.
Aku memainkan jari-jari kakiku diantara rumput-rumput basah dan air hujan. Kemudian Aku meneguk perlahan coklat hangat dari cangkirku. Hidupku tentram dan tenang..Aku memejamkan mata dan tersenyum.

Bukannya Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Aku pernah mempunyai pacar..beberapa pacar. Tetapi..Aku selalu memasang pagar pembatas untuk mereka, dan saat mereka berusaha untuk menerobos masuk..Aku merasa terganggu..sangat terganggu, dan akhirnya Aku menyingkirkan mereka.

Apakah Aku menyayangi mereka??
Sejujurnya, perasaanku tak lebih dari hanya kata sekedar. Sekedar berfomalitas. Mengucapkan kata sayang saat mereka bertanya apakah Aku menyayangi mereka. Itu hal yang mudah..mengucapkan itu sesuatu hal yang amat sangat mudah, tetapi..melaksanakannya itu bukanlah hal yang mudah.

Dan kemudian Aku menemukan diriku berada disaat 'berusaha dan ternyata tak bisa'. Itulah yang terjadi, Aku berusaha menyayangi, tetapi hatiku tumpul. Mungkin mati.
Yah..Aku berdiri di antara Hitam dan Putih. Aku bisa tertarik akan seseorang, tetapi hanya sekedar tertarik, tak bisa berkembang dan tak pernah ada keinginan untuk lebih dekat atau menjalin hubungan. Mungkin organku yang disebut hati itu sudah benar-benar tumpul. 
Ah..sudahlah..sudahlah..

Aku beranjak dari beranda dan melangkah masuk menuju kamar. Kurebahkan tubuhku dalam ranjang besarku yang empuk dan kemudian mematikan lampu. Dalam keremangan cahaya lampu jalan yang mengintip malu-malu dari balik jendelaku, Aku menatap sebelah ranjangku yang kosong. Aku tersenyum..yah..Aku memang egois..seorang egois yang menikmati hidupnya yang Abu-abu. Aku memejamkan mata dan memeluk gulingku. Dan tak beberapa lama Aku mulai tertidur pulas sembari tersenyum.


**

Siang ini, disela-sela istirahat makan siang, Aku menyempatkan diriku untuk mengunjungi toko buku yang berada tak jauh dari kantorku. Saat Aku sedang melihat-lihat, seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh. Seorang wanita cantik tersenyum kearahku dan menyapaku dengan lembut. Aku terkejut dan kemudian membalas senyumannya. Mataku menangkap sesosok gadis kecil yang berdiri disebelahnya, gadis kecil itu memandangku malu-malu. Setelah berbicara beberapa menit, wanita dan gadis kecil itu berlalu sembari melambai kearahku.
Aku ingat siapa wanita itu. Wanita yang dulu pernah menjadi seseorang dalam hidupku. Wanita yang menangis saat Aku memutuskan untuk meninggalkan dirinya dulu. Dan lihatlah sekarang..dia sudah menikah dan mempunyai seorang gadis kecil yang cantik. Bagus untuknya dan Aku bahagia untuknya..bahagia karena akhirnya wanita itu memutuskan untuk menikah dengan lawan jenisnya..bukan dengan Aku.

Ah..Hidupku memang abu-abu..memang berdiri diantara Hitam dan Putih. Aku bukan hanya bisa tertarik dengan lawan jenisku, tetapi juga dengan jenisku sendiri. Itulah hidupku..Abu-abuku.

Aku menarik nafas perlahan, tersenyum tipis, melirik kearah tumpukan buku yang ada ditanganku dan kemudian melangkah kearah kasir.


**

Andai saja hari ini waktu cepat berlalu. Karena saat ini Aku terjebak antara suara Ibu yang mulai membanggakan anak temannya yang ingin Ibu perkenalkan denganku. Entah mengapa Aku merasa lelah, sepertinya Ibu tak mau mengerti jalan pilihanku yang ingin hidup sendiri.

"Ma..sudahlah..hentikan melakukan sesuatu hal yang sia-sia.", ujarku.

"Waktu Mama seumuran kamu sekarang, sudah punya 2 orang anak. Kamu, belum menikah sama sekali. Mama malu.", ujar Ibuku.

"Katakan sama orang-orang itu, biar Aku tidak menikah, tetapi penghasilanku lebih besar dari yang mereka hasilkan. Dan Aku mampu untuk hidup sendiri."

"Setidaknya kalau kamu menikah, ada yang bisa menemani kamu, ada seseorang yg bisa memberikan penghasilan kepadamu dan kamu tidak perlu bekerja sekeras ini.", ujar Ibu sedih.

"Ma, Hidup Aku sudah lebih dari cukup, Aku lajang, berpenghasilan tinggi dan mempunyai rumah sendiri. tanpa menikahpun, Aku bisa membantu Mama membayar sekolah adik-adik dan Akupun masih bisa untuk menabung. Jadi untuk apa Aku menikah?! Lagipula Aku mencintai pekerjaanku."

Ibu memandangku sembari terdiam dan kemudian melangkah masuk ke kamar.
Aku menghela nafas perlahan.
Mungkin seharusnya hari ini Aku tak kerumah Ayah dan Ibu. Jujur Aku lelah menghadapi sikap Ibuku yang selalu bersikeras menjodoh-jodohkan Aku dengan pria-pria yang tak pernah Aku kenal sama sekali. Ibu pun tak mengenal mereka, Ibu hanya mendengar cerita dari teman-temannya.

Walau terkadang Aku menuruti permintaan Ibu untuk berkenalan dengan mereka, semua berakhir dengan 'hanya perkenalan' saja.

Ayah menghampiriku yang masih terduduk di sofa dan kemudian Ayah duduk disebelahku.

"Kamu kenapa sayang??", ujar Ayah perlahan.

Aku menoleh kearah Ayah dan kemudian menghela nafas perlahan.

"Aku capek Pa. Mama selalu saja berusaha menjodohkan Aku dengan pria-pria yang tidak Aku kenal sama sekali."

"Mamamu hanya mengkhawatirkan tentang keadaanmu, sayang.", ujar Ayah perlahan.

"Mama tak perlu sekhawatir itu Pa, Aku sudah dewasa dan Aku sudah menentukan pilihan bahwa Aku tak ingin menikah."

"Jangan berkata seperti itu nak. Papa sedih jika kamu berkata seperti itu."

Aku terdiam.

"Aku hanya..hhhhhh..."

"Kenapa kamu tidak ingin menikah nak? Papa lihat, pria-pria yang Mamamu berusaha kenalkan, mereka baik & mapan. Hendra, Rizky, Ahmad dan entahlah siapa itu, Papa lihat mereka baik dan sopan.", ujar Ayah

"Pa..mungkin Papa sama Mama melihat mereka baik, Aku tak pernah menyukai mereka. Hendra mungkin memang baik dan sopan, tetapi Hendra itu angkuh dan sombong. Selalu membangga-banggakan hartanya dan merendahkan orang yang dibawahnya. Rizky mungkin terlihat baik dan sopan, tetapi Rizky seorang playboy. Pacarnya banyak dan gaya hidupnya terlalu tinggi. Tak akan bisa Aku mengimbangi gaya hidupnya. Dan yang terakhir Ahmad. Hhhh..Ahmad memang baik, sopan dan berbudi tinggi, tetapi Ahmad tidak normal Pa..Ahmad tak bisa menyukai lawan jenisnya. Lalu, bagaimana Aku bisa mengiyakan permintaan Mama??"

"Kalau begitu, carilah pria yang kamu sukai. Asalkan pria itu baik, bertanggung jawab dan terutama seagama dengan kita."

"Tidak pa..Aku tak ingin menikah.."

"Kenapa nak? Bicarakanlah sama papamu ini.."

"Aku..Aku tak ingin menjadi seperti Mama. Karena Aku anak kandung Mama, sifat Aku pasti tak akan berbeda jauh dengannya..sedangkan..sedangkan Aku begitu membenci sosok itu..bagi Aku..itu menyakitkan hidup bertahun-tahun menghadapinya..dan Aku tak pernah bisa mempercayai ada orang yang bisa menerima Aku dengan tulus jika Ibu kandungku saja menolak Aku selama bertahun-tahun.", Aku pun menangis.

Ayah menghela nafas dan kemudian berujar, "Mamamu menyayangimu nak, walau mungkin dia tak pernah mengungkapkannya kepadamu."

"Papa..bertahun-tahun Aku selalu hidup dengan penolakan Mama kepadaku, apa yang Aku lakukan tak pernah cukup untuknya, apa yang Aku lakukan tak pernah sekalipun dia lihat. Apa yang Aku kerjakan tak pernah membuatnya bangga atau hanya sekedar tersenyum tulus. Aku hanya selalu mendengar kata-kata bahwa Aku adalah anak durhaka. Lebih dari setengah gaji yang Aku hasilkan, Aku berikan ke Mama, itupun tak cukup untuknya, tetap saja dia membanding-bandingkan Aku dengan yang lain. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak pernah berupa pujian dan penghargaan, yang ada hanya hinaan, sedangkan Aku, setiap Aku berusaha menyenangkan hatinya, mama selalu mencari kesalahan dan kemudian mencaciku sedemikian rupa. Aku tahu, jika Aku membalas kata-kata Mama, Mama selalu berkata bahwa Aku anak durhaka dan anak tidak tahu diri. Ya..anggaplah Aku seperti itu. Lalu, berkacakah Mama? Jika Anak yang melawan Ibunya disebut durhaka, bagaimana dengan seorang Ibu yang menyiksa Anaknya sedemikian rupa..disebut apa Ibu yang seperti itu pa?"

Ayahku terdiam dan memandangku yang berurai airmata.

"Bertahun-tahun Aku hidup dalam tekanan seperti itu, Aku melewati Anoreksia ku sendirian..hanya karena Mama selalu berkata bahwa dia jijik melihat tubuhku yang saat itu berbobot 60kg. Papa berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku, berkata bahwa Mama menghawatirkan Aku dan segala macamnya. Tapi Aku tahu, Mama bukan mengkhawatirkan Aku, mama hanya malu, malu dengan orang-orang yang berkata bahwa anaknya seorang perempuan yang tidak laku."

Airmataku mengalir kian deras..kemudian Ayah membelai lembut kepalaku.

"Bencikah kamu kepada Mamamu??"

"Aku tidak membencinya, Aku hanya bisa membenci diriku sendiri. Dan Aku membenci sosialisasi karena semua hal itu tak bisa membuatku merasa nyaman."

"Tuhan menciptakan manusia itu berpasangan nak. Tak ada manusia yang mau hidup sendiri. Jangan berkata kamu tak ingin menikah. Karena itu berarti kamu tidak mengasihi dirimu sendiri nak. Jika kamu tak ingin menjadi sosok seperti mamamu, berusahalah agar kamu bersikap berbeda dari apa yang kamu terima. Papa tahu kamu anak yang tegar, anak yang pemberani dan mandiri, tetapi sekarang kamu memutuskan sesuatu hal yang tidak pernah kamu coba, itu seperti kamu kalah akan apa yang kamu reka sendiri sayang. Coba lihat nenek Asiah kamu yang tinggal di Halim. Dia tidak menikah, dia mempunyai harta yang berlimpah, tinggal sendiri dan kemudian dia mulai tua dan sakit-sakitan. Tak ada yang mengurus, sedih hatinya saat itu. Tak ada satupun yang bisa terus-terusan menemani dan merawatnya hingga akhirnya nenek Asiah kamu meninggal sendirian. Itukah kehidupan yang kamu inginkan nak?
Waktu berlalu, orang pun akan berubah tua, tak selamanya muda dan sehat, mungkin saat ini kamu mempunyai teman dan adik-adik yang bisa menemani kamu kapan saja, tetapi saatnya nanti merekapun masing-masing akan berkeluarga dan akhirnya prioritas hidup merekapun berubah. Papa dan Mama pun seiring berjalannya waktu akan bertambah tua, tak mungkin bisa hidup selamanya, pasti akan meninggal, lalu kamu pun akan tinggal sendirian dan selalu kesepian. Papa tak menginginkan kamu hidup seperti itu nak.", ujar Ayah sembari menahan airmata.

Aku tertegun, tak menyangka Ayah akan mengalirkan airmatanya didepanku. Karena selama hidupku, Ayah hanya menangis 2kali dihadapanku. Saat kakekku meninggal dan saat Ayah dan Adik-adiknya bertengkar. Ditengah isak tangis aku berucap, "Mungkin nanti Aku akan berubah pikiran dan kemudian memutuskan untuk menikah Pa..tapi tidak sekarang..tidak sekarang"


**

Aku menghempaskan tubuhku keatas ranjangku yang empuk. Penat terasa tubuh ini, mungkin ini pertama kalinya Aku mengungkapkan perasaanku kepada Ayahku. Segala hal yang Aku pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap juga, mungkin Aku bukan anak yang berbakti tetapi Aku sangat ingin membahagiakan Ayahku, Karena Ayah selalu saja berusaha untuk mengerti apa yang Aku jalani dan Ayah selalu menyayangi Aku dengan segala ketidak-sempurnaanku.

"maybe im just a little girl..daddy's little girl", ujarku perlahan, dan kemudian Aku terlelap dalam genangan airmata.


**

Aku tertegun menatap ruangan kantorku yang dipenuhi dengan bouquet mawar.
Orang gila macam apa lagi yang mengirimkan mawar sebanyak ini??
Aku memanggil office boy yang sedang menghidangkan teh hangat dimejaku dan kemudian menyuruhnya untuk membuang semua bouquet mawar itu.
Aku menghela nafas dengan kesal dan memanggil sekertarisku.

"Maaf bu, saya tahu Ibu membenci mawar, tetapi tadi pak Anwar memaksa untuk meletakan mawar-mawar itu diruangan Ibu.", ujar sekertarisku.

Aku mendengus kesal.

"Lain kali, jika Pak Anwar memaksa tolong panggil saja satpam dan usir dia dari kantor ini."

Sekertarisku mengangguk ketakutan melihatku yang mulai kesal.

Ah..kenapa lelaki yang ada disekitarku tak pernah beres. Apalagi pria yang bernama Anwar itu, pria beristri yang sudah mempunyai 4 orang anak tetapi masih sering menggoda-goda wanita. Kalau bukan karena pekerjaan, Aku tak mau mengenal pria seperti itu. Pria pengganggu yang sering datang kekantor, walaupun kontrak kerja sudah selesai dan selalu mengirimkan Aku hadiah yang berakhir, Aku kembalikan kepada saat itu juga.
Aku mendelik saat melihat sebuah kartu ucapan manis yang berisi tulisan 'I LOVE YOU' diatas meja kantorku. Secepat kilat Aku robek dan Aku buang ke tong sampah. Aku bergidik jijik. Apa sudah tak ada lagi pria yang seperti sosok Ayahku didunia ini?? Pria yang bertanggung jawab dan setia. Mungkin, jika Aku bertemu dengan pria seperti sosok Ayahku, Aku akan merubah pikiranku..mungkin...


**

Aku berlari kecil kearah mobilku. Baru saja Aku teringat bahwa hari ini Aku ada janji untuk berkumpul dengan teman-teman kuliahku dulu.
Sejujurnya Aku tak ingin datang, akan tetapi sudah berulang kali Aku selalu menolak ajakan mereka, dan kali ini Aku menyerah. Aku akan berusaha mengabaikan ketidak-nyamanan diriku untuk bersosialisasi. Toh ini tidak setiap hari Aku lakukan.

Aku menghempaskan tas tanganku ke dalam mobil dan secepat kilat Aku mengemudikan mobilku menuju tempat pertemuan.


**

Aku menghela nafas menatap keramaian cafe ini. Tiba-tiba saja kepalaku terasa sedikit pusing. Ah..Aku abaikan saja rasa ini, Aku sudah terlanjur mengiyakan ajakan teman-teman kuliahku untuk ikut. Tak mungkin Aku membatalkan hanya karena phobia keramaian sialanku mulai berulah.

Aku mempercepat langkahku dan menuju kearah seseorang yang melambaikan tangan kepadaku.
Aku menarik nafas lega saat Aku sudah duduk dengan manisnya diantara teman-teman kampusku. Aku tersenyum memandang mereka yang berceloteh dengan riang. Untunglah tempat yang mereka pesan agak tertutup oleh tanaman, sehingga keramaian cafe tak begitu tampak olehku. Perlahan sakit kepalaku mulai menghilang, Aku tersenyum dan mendengarkan celotehan-celotehan mereka. Sesekali Aku tertawa dan menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka.

Aku tercekat saat Aku melihat sosok yang tak asing mendekatiku.

"hey..apa kabar??"

"oh..hey..baik. Kamu apa kabar??"

"Baik..udah lama ya disini??"

Aku tersenyum tipis kemudian menggeleng.
Aku tak mengharapkan akan melihat sosok itu lagi. Sosok pria yang Aku tinggalkan dulu saat dia berkata 'Ayo kita menikah.' kepadaku 6 tahun yang lalu.
Canggung..
Yah..
Itulah perasaanku saat ini. Melihatnya kembali setelah 6 tahun berlalu. Apalagi Aku meninggalkan dirinya dulu dengan kenangan yang tidak menyenangkan.
Aku masih merasa bersalah..
Sedikit merasa bersalah.


**

Sudah sebulan berlalu dari saat itu. Tapi duniaku tetap saja terlihat abu-abu. Toh seperti inipun Aku merasa bahagia. Aku tak menampik rasa kesepian yang kerap hadir disetiap hariku, tetapi Aku tak sekesepian seperti yang orang-orang bayangkan. Ada banyak buku dan musik yang menemani, terkadang adik-adikku menginap dirumahku dan Aku mempunyai pekerjaan yang benar-benar menghabiskan waktuku.

Aku menatap kerlip lampu dari jendela mobilku..Indah..sangat Indah..
Kota ini memang melelahkan, tetapi ada kalanya terlihat sangat indah.
Aku terkejut saat suara klakson membahana dibelakang mobilku. Lamunanku buyar dan menatap traffic light yang berwarna hijau.

Aku kemudian melajukan kendaraanku dengan cepat sebelum kendaraan-kendaraan di belakang mobilku membunyikan klakson lagi.


**

"Home..sweet home.."

Tak pernah ada yang mengalahkan kenyamanan rumah. Walaupun Aku tinggal sendiri dirumah mungil ini, tetapi Aku merasa sangan nyaman dan tenang saat berada dirumah.
Aku melepas stilleto yang terpasang dengan manisnya di kakiku, dan kemudian Aku duduk diatas sofa. Aku menarik nafas perlahan. Rasa kantuk kemudian mulai menyerang diriku, saat Aku mulai setengah terlelap, telepon selularku berbunyi.
Dengan setengah tertidur Aku mengangkat telepon.

Sayup-sayup Aku mendengar suara pria yang menyapaku lembut, Aku menjawab dengan pelan. Masih terdengar suara pria itu berceloteh ditelingaku..lalu kemudian suaranya mulai senyap..
Aku kembali jatuh tertidur.


**

Aku terbangun di sofa ruang tamuku dengan wajah kusut. Telepon selularku masih menempel ditelingaku. Perlahan Aku mengusap kelopak mataku dengan punggung tangan dan melihat kearah jam dinding.

"Sial..gw kesiangan.."

Secepat kilat Aku berlari kearah kamar mandi. Mandi seadanya, memakai pakaian secepat kilat dan berdandan seadanya. Aku berlari kearah garasi dan kemudian melajukan mobilku dengan kencang.


**

Sebentar lagi jam makan siang tiba, tapi pekerjaanku masih menumpuk diatas meja kerjaku. Setelah 4 tahun bekerja seperti orang gila, baru hari ini Aku merasakan terlambat kekantor. Cacing-cacing di lambungku mulai berteriak kelaparan. Ah..ingin Aku lempar saja semua berkas-berkas ini.

Aaarggghh..

Secepat kilat Aku kembali mengerjakan berkas-berkas diatas mejaku.
Aku tersentak saat sekertarisku mengetuk pintu.

"Maaf ibu, ada tamu untuk ibu."

"Suruh masuk aja.", Aku berujar tanpa pikir panjang. Buatku saat ini yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikan setidaknya beberapa berkas diatas mejaku tanpa Aku melewatkan makan siangku.

Aku masih saja berkutat dengan berkas-berkasku saat terdengar suara langkah kaki memasuki ruanganku. Tanpa menoleh Aku mempersilahkan orang itu untuk duduk.

"Kamu lagi sibuk ya??"

"iya..", ujarku. Kemudian Aku berhenti mengerjakan berkasku dan menoleh kearah suara tersebut. Aku tertegun..

Itu dia..dia yang dulu Aku tinggalkan 6 tahun lalu..

"Kamu...kamu kok ada disini??", ujarku.

"Aku mau ngajak kamu makan siang bareng."

"Kok kamu ga janjian dulu sama Aku??"

"Lho..semalem kan Aku telepon kamu. Aku ngajak kamu makan siang hari ini dan kamu mengiyakan.", ujarnya kembali.

Aku tertegun, sepertinya semalam Aku membuat janji dengan orang ini dengan keadaan setengah tertidur. Aku menahan diriku agar tidak menepuk jidatku sendiri.
Dengan wajah memelas Aku menatapnya dan kemudian menatap berkas-berkasku. Kemudian dia tertawa dan berkata, "Hahaha..selesaikan saja dulu pekerjaanmu, aku bisa menunggu kok."

"Satu berkas ini saja, baru kita makan siang.", ujarku sembari tersenyum canggung.


**

Baiklah, mungkin akhir-akhir ini penyakit ngelindurku mulai kambuh karena 2 bulan ini Aku selalu mengiyakan ajakan makan siang dengan dia saat Aku mulai terlelap. Dan bahkan terkadang Aku sendiri yang mulai mengajaknya makan siang tanpa Aku sadari. Ingin rasanya Aku menjambak rambutku sendiri. Apa mungkin Aku terlalu lelah dengan pekerjaanku, sehingga penyakit ngelindurku mulai merajalela seperti ini?!

Dan siang ini adalah siang ke 13 Aku makan siang dengannya. Aku duduk manis sembari meneguk secangkir coklat hangat yang terhidang diatas meja.

"Kamu ga berubah ya..masih seperti dahulu..selalu menikmati coklat hangat dengan wajah bahagia."

Aku menatap dirinya dengan wajah memerah.

"Kamu juga ga berubah Angga..kamu juga selalu menikmati exspresso non sugar."

Kemudian dia tertawa, dan Aku hanya bisa tersenyum dengan muka yang masih memerah..canggung.


**

Sudah makan siang ke 46 dan hari ini tepat makan malam ke 13 yang terlewati oleh ku bersamanya. Entah mengapa malam ini terasa begitu berbeda. Dia menatapku lekat, membuat wajahku memerah diantara cahaya lilin yang berkelip tertiup angin.

"Kamu mau tau sesuatu?", ujarnya perlahan.

Aku mendongak dan wajahku mengekspresikan pertanyaan.

"Perasaanku tak berubah kepadamu sedari dulu."

Aku tercekat, dan kemudian menatapnya. Dengan sedikit bergetar, tanganku meletakan serbet dari pangkuanku.

"Sudah malam..Aku harus pulang..besok Aku ada meeting sama klien.", ujarku perlahan.

Aku menatap wajahnya yang terkejut. Akupun sebenarnya terkejut dengan kata-kata yang keluar dari bibirku.

"oh..iya..gak apa apa..thanks for tonight.", ujarnya sembari tersenyum.

"Thank you too Angga..", Ujarku perlahan dan kemudian berlalu.

Ya..katakan saja Aku memang wanita bodoh.


**

Semenjak malam itu, Aku menghindarinya. Bahkan untuk berjaga-jaga agar penyakit ngelindurku tidak berulah, Aku berpesan kepada sekertarisku, untuk mengatakan Aku sedang keluar atau Aku sedang sibuk jika Angga datang.

Tanpa terasa 3 minggu sudah terlewati dan selama itu Aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Ada hal yang kurang terasa disetiap harinya. Mungkin hanya karena Aku mulai terbiasa dengan keberadaan dirinya beberapa bulan ini. Apalagi sudah seminggu ini, Angga tak pernah lagi meneleponku ataupun muncul dikantorku.

Aku menghela nafas dan kemudian menyelesaikan berkasku yang terakhir. Waktu mulai menunjukkan pukul 9 malam dan cacing dilambungku mulai menjerit meminta sesajen. Aku bergegas melangkahkan kakiku keparkiran dan kemudian Aku melajukan mobilku ke arah restoran terdekat.


**

Aku menyendok rissotoku dengan malas. Aku lapar, tetapi enggan rasanya untuk makan. Aku menatap piring rissoto yang masih penuh dan kemudian memandang kesekeliling ruangan di cafe ini. Aku menyukai cafe ini karena tempat ini tidak terlalu ramai, makanan yang enak, pelayanan yang ramah dan biasanya Aku selalu sanggup menghabiskan makanan apapun di cafe ini dalam porsi besar. Tapi entah mengapa malam ini, selera makanku lenyap dan mengalahkan rasa laparku.

Pandanganku terpaku saat melihat dia duduk disana bercengkrama dan tertawa lepas dengan seorang wanita.
Hatiku mencelos..ada sedikit rasa perih disana. Aku meletakkan garpu yang tergenggam di tanganku, merapikan isi tasku dan kemudian berjalan ke arah kasir.
Yang ada di pikiranku saat itu adalah, Aku ingin pulang kerumah.


**

Jadi, selama seminggu ini, dia tak pernah lagi menghubungiku, tak pernah lagi muncul dikantorku dan tak lagi mengajakku makan siang ataupun makan malam karena dia sudah mempunyai seorang yang baru yang mengisi harinya?!

Oh..ya..hatiku merasakan sedikit sakit.
Lalu kemudian Aku memaki diriku sendiri. Memangnya apa yang Aku harapkan?! Setelah 3 minggu Aku berusaha menghindarinya, lalu kemudian Aku melihatnya makan dengan bahagia bersama seorang wanita, mengapa Aku merasa seperti ini??
Aku kemudian mentertawakan kebodohanku. Ya..bodohnya Aku..

Arggghhhh..

Aku melempar tas tanganku keatas meja dan kemudian membuka kulkas, meraih ice cream vanilla berukuran 700 ml dan kemudian memakannya dengan rakus..
Oke..Aku lapar dan sepertinya nafsu makanku mulai kembali.
Aku menyesal tidak menghabiskan rissoto ku tadi..seperti Aku menyesal menghindarinya 3 minggu ini.


**

Entah mengapa selama 3 hari ini, Aku selalu melihatnya bersama wanita itu di setiap cafe yang Aku datangi. Benar-benar membuatku jengkel. Ingin rasanya Aku menghampiri mereka dan kemudian menarik rambut mereka berdua untuk menumpahkan kekesalanku. Tetapi kemudian Aku merutuki diriku sendiri, merutuki kebodohanku dan bersyukur bahwa pikiranku masih waras untuk tidak melakukan hal yang kekanakan seperti itu.
Toh..Aku dan dia hanya teman makan saja..tak lebih..yah..tak lebih..
Tapi..bukankan malam terakhir dia berkata bahwa perasaannya kepadaku belum berubah?!

Arrrggghhh..

Aku kembali merutuki diriku sendiri.
Apa yang terjadi denganku?

Bukankah selama ini Aku hidup dengan amat sangat nyaman dalam abu-abuku. Aku tenang dan terkendali, tapi..lihatlah Aku sekarang..aneh..seakan Aku tak mengenal diriku sendiri.
Aku menghela nafas dan kemudian merutuki diriku sendiri.

Aarrrrggghhhh..

Semua gara-gara dia..
Semua gara-gara Angga..
Dia mengacaukan hidupku yang seimbang..mengacaukan hidup abu-abuku.


**

Malam minggu ini Aku menghabiskan waktuku dengan menyantap ice cream vanilla yang telah dicampur dengan cornflakes kesukaanku sembari menonton banyak dvd yang Aku beli semalam.

Aku mengangkat telepon selularku yang mulai berbunyi nyaring.

"Hallo.."

Aku tercekat, dia meneleponku.

"Oh..ada apa ngga??"

"Nope..hanya sudah lama tidak mendengar suara kamu."

"oh.."

"Kamu lagi apa?? Kemarin-kemarin Aku sibuk jadi agak susah menghubungi kamu."

"lg nonton DVD. Oh..iya..?? Sibuk menemani wanita baru makan siang dan makan malam??"

Aku terkejut saat bibirku lagi-lagi berkata hal yang tidak Aku inginkan.

"Hahaha..wanita baru?? Mana ada yang seperti itu."

"Oh..bukannya selama 3 hari ini kamu makan malam di cafe ini, makan siang di cafe itu sama dia?? Kan bagus ada wanita baru yang bisa menemani kamu."

"......kamu kenapa??"

"Enggak apa-apa, udah ya..Aku lagi sibuk."

Aku dengan cepat memutuskan telepon dan kemudian mematikan telepon selularku. Kemudian Aku kembali merutuki diriku sendiri.

Aaargggghhh..Aku benci diriku yang sekarang..Aku benci diriku yang seperti ini.
Aku melahap ice cream cornflakes ku dengan lesu.
Aku harus benar-benar menghindari dirinya agar hidupku yang tenang dapat kembali lagi.


**

Sebenarnya hari ini enggan rasanya Aku melangkahkan kakiku keluar rumah. Tetapi celakanya persediaan makanan dan susu di kulkasku mulai kosong. Akhirnya Aku memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja.

Saat Aku sedang susah payah mendorong troli keluar dari gedung menuju tempat parkir, seseorang menepuk pundakku. Seketika Aku menoleh dan kemudian merutuk dalam hati. Orang yang paling ingin Aku hindari sekarang berdiri didepanku bersama wanita itu. Aku berusaha tersenyum..canggung..

"Hey.."

"Hey juga", ujarku canggung.

"Kamu belanja sendirian??"

"Menurut kamu??"

"heeeee..oh iya..ini kenalin..adik sepupu Aku yang lagi liburan ke Jakarta."

"Oh..salam kenal..", ujarku ramah.

"Aku bantu ya buat masukin belanjaan kamu ke mobil..?!".

"Ga usah..makasih. Aku duluan ya..", ujarku sembari meletakkan semua belanjaanku secepat kilat ke dalam mobil.

Angga berdiri menatapku yang melajukan kendaraanku secepat kilat.
Hmmm..ternyata wanita itu adik sepupunya..
Oh..whatever..
Toh biar bagaimanapun Aku tetap harus menghindarinya. Dia hanya akan mengacaukan hidupku.


**

Sesampainya dirumah, Aku menurunkan belanjaanku perlahan. Tiba-tiba telepon selularku berbunyi. Aku menatap layar dan tertegun saat melihat namanya yang muncul dalam layar. Aku kembali mengantongi telepon selularku.

Tak beberapa lama dia kembali meneleponku. Masih saja tak Aku angkat. Hingga beberapa kali telepon selularku berbunyi, Aku me-reject telepon darinya.

Such annoying!!!

Aku berlari saat mendengar suara bel rumahku berbunyi. saat Aku membuka pintu, Aku terkejut mendapati dirinya bediri disana dengan wajah tampannya.
Aku menggerutu dalam hati.

Harusnya dia mengerti bahwa Aku menghindarinya. Harusnya dia mengerti bahwa Aku tak ingin bertemu lagi dengannya.

"Ada apa Ngga??"

"Aku boleh masuk??"

"Rumah lagi berantakan, kamu duduk diteras aja ya."

"Oh..yasudah.", ujarnya sembari tersenyum.

"Kamu kenapa akhir-akhir ini??"

"Kenapa gimana??"

"Kamu menghindar dari Aku."

"Masa??"

"Iya..kamu selalu menghindari Aku."

"Oh..iya..Aku memang menghindari kamu."

"Salah Aku apa sampai kamu menghidar dari Aku beberapa minggu ini??"

"Kamu mengganggu."

"Mengganggu??"

"Iya..kamu mengganggu dan Aku mulai merasa tidak nyaman dan terganggu. Intinya kamu 
annoying."

Aku berusaha menyembunyikan rasa terkejutku saat Aku menangkap ekspresi terluka dari wajahnya.

"Baiklah, tapi Aku ingin melanjutkan kata-kataku dimalam terakhir kita dinner."

"Ga perlu, Aku ga mau dengar apapun."

"Perasaanku tak berubah dari dulu ke kamu....."

"Kamu ngerti bahasa Aku kan..?! Aku ga mau denger apa-apa!!"

"Aku masih menyayangi kamu apa adanya seperti dahulu...."

"Tolong pergi dari sini sekarang!!"

"..dan Aku masih ingin menikah denganmu..Aku menyayangimu...sangat sayang padamu..."

Aku tercekat mendengar kata-katanya..

"Tolong pergi dari sini Angga. Aku mau kamu pergi sekarang!!!"

"Mungkin, jika kamu mengatakan hal itu 6 tahun yang lalu, Aku akan berlalu dan pergi dari hidupmu. Tetapi sekarang Aku tak mau lagi melakukan kebodohan seperti itu lagi. Aku tulus menyayangi kamu."

"Bisakah kamu berhenti mengganggu hidupku..bisakah kamu berkenti mengacaukan hidupku?? Tolong pergi dari sini Angga..", ujarku sembari menahan isak tangis.

"Mengacaukan?? Tak pernah sekalipun Aku berniat mengacaukan hidup kamu."

"Tetapi pada kenyataannya, kamu mengacaukan hidup Aku, mengacaukan keseimbangan dan ketenangan hidup Aku. Kamu membuat Aku menjadi orang lain. Menatap telepon berjam-jam hanya untuk berharap kamu menelepon, menunggu kamu muncul di kantorku untuk mengajakku makan, membuat Aku kesal saat melihatmu bersama wanita lain..kamu mengacaukan hidupku yang tenang !!!"

"Kamu..kamu menyayangiku?!"

"Tidak !!! Aku tak pernah percaya cinta!!"

"Aku tak mengatakan cinta..Aku mengatakan sayang.."

Aku tercekat, seketika wajahku memerah.

"Aku membencimu!!"

"Kamu mencintai Aku..."

"AKU MEMBENCIMU !!!"

"Kamu sangat mencintai aku.."

"AKU SANGAT MEMBENCIMU ANGGA!!"

"oh..sudahlah.."

Angga merengkuhku kedalam pelukannya..entah mengapa Aku tak sanggup untuk melepaskan pelukannya.

"Menikahlah denganku..Aku benar-benar menyayangimu..", dia berbisik lembut di telingaku.
Aku menyerah kalah..dan dunia abu-abuku berubah menjadi pelangi.


**

Nadia menutup buku yang berada ditangannya. Hadiah yang manis dari eyang putri di usia Nadia yang saat ini memasuki usia 29 tahun. Nadia menatap sampul buku berwarna coklat yang mulai pudar termakan usia dan kemudian membaca perlahan huruf demi huruf yang tertera di sampul buku tersebut.

Diary Ananda Diantri Putri.

Nama yang tak asing bagi Nadia, kemudian Nadia membaca tahun yang tertera dibawahnya. Nadia tercekat, ini adalah diary eyang putrinya. Nadia menghela nafas dan kemudian bergumam.

' Aku tahu sekarang, mengapa eyang putri memberikan kado ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 29 ini. Karena eyang putri ingin Aku berfikir bahwa, tak apa Aku goyah karena cinta, tak apa Aku terlihat lemah karena mencintai seseorang. Aku seperti eyang putri waktu muda dulu. Workoholic dan juga berniat untuk hidup melajang selamanya. Tapi kemudian Aku bertemu seseorang yang mengacaukan hidupku dan mengganggu hariku, dan bodohnya Aku juga menghindarinya.

Aku ingin seperti eyang putri yang sekarang..bahagia bersama orang-orang yang dia sebut mengacaukan hidupnya dengan banyak warna..bukan lagi abu-abu."

Nadia tersenyum dan kemudian mengecup pipi eyang putri dan eyang angga.

"Nadia pamit ya eyang..."

"Mau kemana sayang??", ujar eyang putri.

"Mengatakan kejujuran kepada orang yang mengacaukan hidup Nadia, bahwa Nadia juga menyayanginya..."