241 hari, waktu yang terhitung. Ada senyum, tertawa, sedih, kesal, anehnya membuat 241 hari pemuda bahagia.
Pemuda tersenyum menatap gadisnya. Gadis yang entah sejak kapan menghiasi harinya. Gadis yang entah sejak kapan mampu meruntuhkan egonya. Gadis yang entah sejak kapan menetap dihatinya. Gadisnya yang sangat egois dan keras kepala, tetapi mampu membuatnya jatuh hati berulang kali.
Pemuda mengecup kening gadisnya dengan lembut.
Pemuda tersenyum menatap gadisnya. Gadis yang entah sejak kapan menghiasi harinya. Gadis yang entah sejak kapan mampu meruntuhkan egonya. Gadis yang entah sejak kapan menetap dihatinya. Gadisnya yang sangat egois dan keras kepala, tetapi mampu membuatnya jatuh hati berulang kali.
Pemuda mengecup kening gadisnya dengan lembut.
"Ayo pulang, sudah larut malam.", ujar gadisnya.
Pemuda tertegun. Hanya saat seperti ini pemuda membenci waktu. Waktu yang selalu cepat berlalu saat bersama gadisnya.
Pemuda memeluk gadisnya dengan erat.
Berat.
Pemuda memeluk gadisnya dengan erat.
Berat.
Waktu, hanya beberapa jam yang pemuda dapat habiskan untuk bertemu dengan gadisnya dalam seminggu.
Jarak, terkadang tidak dapat ditepis saat pemuda menghabiskan waktunya untuk bekerja, gadisnya menghabiskan harinya dengan bekerja.
Dan saat ini waktu dan jarak masih terbentang dengan sangat jelas.
Jarak, terkadang tidak dapat ditepis saat pemuda menghabiskan waktunya untuk bekerja, gadisnya menghabiskan harinya dengan bekerja.
Dan saat ini waktu dan jarak masih terbentang dengan sangat jelas.
Pemuda mengirup aroma tubuh gadisnya, harum, kemudian melepaskan pelukannya.
Gadisnya tersenyum.
Gadisnya tersenyum.
"Ayo kita pulang.", ujar gadisnya kembali.
Pemuda dan gadis berjalan bergandengan menyusuri jalan yang masih riuh dengan orang yang berlalu lalang. Gadis membuka pintu mobilnya perlahan, pemuda menatap gadis lekat, kemudian pemuda naik ke atas motornya.
Mobil dan motor berjalan beriringan perlahan, dan kemudian terpisah oleh jalur yang berlawanan.
Pemuda dan gadis, pulang kerumah masing-masing.
Mobil dan motor berjalan beriringan perlahan, dan kemudian terpisah oleh jalur yang berlawanan.
Pemuda dan gadis, pulang kerumah masing-masing.
**
"Ayo kita menikah."
"Menikah?"
"Iya, aku ingin tidur dan bangunku bersamamu. Aku ingin menghilangkan jarak denganmu. Aku ingin memperbanyak waktuku denganmu. Aku ingin kamu menjadi istriku."
Gadis menatap pemuda, menyentuh pipi pemuda dengan jemarinya, kemudian tersenyum lembut.
Pemuda menatap wajah gadisnya, menunggu jawaban. Gadis hanya tersenyum, tak ada jawaban.
Malam ini, hari ke 242 semenjak perkenalan mereka. Pemuda jatuh hati, tetapi hati gadisnya masih rahasia.