Sabtu, 31 Mei 2014

Percakapan dengan Secangkir Kopi

Karena kamu selalu menenangkan,
Karena kamu tidak akan berdusta,
Karena kamu begitu mudah untuk dicintai.
Karena kamu dan aku, bagaikan hal yang tak bisa dipisahkan.
Karena kamu, selalu bisa dinikmati untukku sendiri.

Selasa, 27 Mei 2014

Mukena dan Sajadah

Ada satu pesan kecil yang tak terucap saat Mukena dan sajadah diberikan.

"Rajinlah kamu sholat nak.
Jangan tinggalkan ibadahmu.
Jangan lupakan Tuhanmu."

Satu pesan kecil yang tak terucap,
Satu pesan kecil dengan makna yang besar.

Senin, 26 Mei 2014

Seseorang yang Bagaikan Sebuah Rumah

Waktu menunjukan pukul lima sore. Sudah waktunya untuk pulang.
Aku poles wajahku dengan bedak tipis,
Aku poles bibirku dengan lipstik berwarna muda.
Aku rapikan meja kerjaku sebelum pulang.

Waktu sudah menunjukan pukul lima lewat lima menit sore hari, sudah waktunya untuk pulang.
Aku menyusuri koridor perlahan.
Bibirku tak henti mendendangkan melodi asing yang bergema di pikirku.
'Ayo pulang.', begitu benakku berbicara.

Waktu menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit di sore hari.
Terlihat wajah seseorang lelaki di ujung koridor.
Dia tersenyum lembut kearahku.
Kakiku berlari kecil menghampirinya.
Kemudian dia merengkuh tubuhku kedalam tubuhnya.
Begitu hangat, begitu menenangkan, begitu penuh kasih.
Seketika penat tubuh dan lelah dipikirku menyusut perlahan demi perlahan.
"Ayo kita pulang.", ujarku pelan.
Lelakiku mengecup lembut keningku, menggenggam jemariku erat.

"Mari kita pulang.", ujarnya...lembut.

Gelap

Mereka merekatkan hati mereka kedalam semu.
Secercah cahaya mereka tiadakan.
Bahkan bayangan saja tak mereka indahkan.
Mereka merekatkan hati mereka dikegelapan.
Secercah cahaya yang mengintip saja, mereka abaikan.
Mereka terlalu senang memeluk gelap,
tidak sendirian, tetapi bersama-sama,
Tanpa cahaya, tanpa bayangan.