Senin, 15 Desember 2014

Cerita Cinta Dari Cerita Seorang Sahabat

"Mengapa kita baru dipertemukan sekarang? Mengapa tidak sejak dulu hati kita bertemu."

"Bukankan dahulu kita terlalu asyik dengan kisah cinta klise yang belum dewasa ? Belum dipenuhi dengan rencana dan pemikiran yang dewasa.
Bukankah dahulu kita terlalu asyik mengejar angan tentang cinta yang terlalu klise dalam film percintaan picisan yang menjamur diluar sana ?
Bukankah dahulu kita terlalu sering berlari menghindar saat mendengar kata 'menikah', karena kita terlalu takut dan asyik dengan kebebasan tanpa tanggung jawab akan sebuah hubungan yang lebih jauh.
Bukankah cerita kita masing-masing yang kemudian mendewasakan kita, hingga sekarang kita dapat untuk berfikir kedepan dengan jelas?"

Selasa, 02 Desember 2014

Senin, 01 Desember 2014

Jiwa Baru Dipenghujung Tujuh Bulan yang Terlewati

Ada satu jiwa kecil yang sedang berkembang menunggu untuk melihat dunia. Usianya baru saja mencapai beberapa minggu. Kehadirannya tidak ditunggu, tidak diduga, tanpa rencana.
Kemana Ayahnya?
Dia pergi, mencari rahim baru untuk disenggamai dengan congkak.
Kemana Ayahnya?
Dia pergi menghilang tanpa kabar, mencari rahim baru yang dapat disenggamai dengan bebas.

Ada satu jiwa kecil yang sedang berkembang menunggu untuk melihat dunia. Usianya  hampir mencapai satu bulan. Kehadirannya tidak dengan rencana.
Kemana Ayahnya?
Biarkan saja dia pergi, tak pantas rasanya dia menjadi seorang Ayah.
Kemana Ayahnya?
Jangan tanyakan kembali prihal itu, karena dia hanya mencintai dirinya tanpa mampu mencintai lainnya.
Kemana Ayahnya?
Dia lari, tanpa kabar untuk mencari rahim baru yang terbungkus kerudung untuk dia senggamai berkali-kali dengan congkak.
Kemana Ayahnya?
Dia pergi tanpa kabar, pergi untuk mencintai..mencintai diri dan nafsunya sendiri.

Pelari tanpa Garis Finish

Bukankah lebih mudah untuk berlari dan mengabaikan, daripada berjalan dan kemudian menyelesaikan yang apa telah kamu mulai?
Bukankah, itu sesuatu hal yang terlalu kekanak-kanakan dan tidak bertanggung jawab?

Dan jika kamu berlari dan mengabaikan, hanya untuk menghancurkan, hanya untuk memenangkan ego-mu, maka teruskan saja kamu berlari, hingga ego-mu tidak dapat memberikan apa-apa lagi dalam hidupmu.

Kamis, 27 November 2014

Es Kopi Dan Coklat Hangat

Hari, minggu, bulan, waktu yang terlewati tak bisa dihitung. Seperti malam itu, segelas es kopi dan secangkir coklat hangat terhidang di meja. Ada dua pasang mata yang terkadang bertemu, sepasang mata menatap, sepasang mata berusaha melihat arah yang berbeda karena jengah. Rasa jengah yang indah, rasa jengah karena debaran jantung berirama, menggelitik, menyiksa sepanjang waktu.
Malam menyembunyikan rona merah di wajah secangkir coklat hangat. Temaram cahaya, menyembunyikan rona merah dan gelisah yang bergejolak menggoda secangkir coklat hangat.
Segelas es kopi dan secangkir coklat hangat, entah apa yang mereka pikirkan malam ini, diantara kerlipnya sinar temaram lampu kota.
Segelas es kopi, entah apa yang dipikirkannya saat itu. Apakah dia bosan, apakah dia menikmati perbincangan dengan secangkir coklat hangat pada malam yang terlewati saat itu?
Secangkir coklat hangat, entah apa yang dia rasakan saat itu. Dia hanya begitu menikmat malam itu diantara kerlip temaram lampu kota bersama segelas es kopi.
Bolehkah dia mendekat?
Biarkan dia mendekat.
Bolehkah dia menyukainya?
Biarkan dia menyukainya.
Tetapi mungkin semuanya terasa begitu berlebihan, sehingga kata 'menyukai' tak mampu untuk terucap.
Tetapi mungkin semuanya terasa begitu cepat, sehingga kata 'cinta' tak dapat untuk terucap.
Biarkan dia mendekat, biarkan dia menyukainya, biarkan dia mencintainya, walau malam itu, rasa itu belum mampu untuk dia ucapkan.

Manis

"Bolehkah kuminta hatimu, tidak untuk sementara, tapi sampai akhir dunia?", ujarnya.
Dia tersenyum, matanya berbinar menyilaukan,
Indah...
Tak dia sadari bahwa hatiku mulai terperangkap perlahan.

Lelaki Dalam Pelukan Wanita

Jika lelakimu pergi kedalam pelukan wanita lain tanpa kata, tanpa penjelasan,
Relakan saja,
Mungkin pilu, tapi itu hanya soal waktu yang akan menghilangkan pilu.
Jika waktu berlalu, lelakimu kembali dan mengatakan bahwa dia tersesat dan ingin kembali pulang kepadamu,
Ucapkan saja bahwa dia memang tersesat kearahmu, dan dia harus pulang kembali kedalam pelukan wanita lainnya.

Senin, 24 November 2014

Antara Aku dan Kamu

Jangan ajari Aku bagaimana untuk mencintaimu,
Ajari Aku bagaimana untuk lebih mencintai Tuhan saat Aku bersamamu.

Kamis, 13 November 2014

Sang Penulis

Pena ditangan kanan, kertas ditangan kiri, melajukan imajinasi melewati realita. Merangkai huruf per huruf, kata per kata, kalimat per kalimat. Merangkai sebuah cerita.

Ini tentang apa?
Ini tentang siapa?
Ini untuk siapa?
Ini untuk apa?

Bukan itu yang dipikiran sang penulis,
mereka hanya berusaha merangkai imajinasi menjadi sebuah tulisan.

Tanpa makna kah?
Dengan makna kah?
Tentang siapakah?
Untuk siapakah?
Sang penulis membebaskan pembaca mencerna hingga mereka puas.

Kamis, 06 November 2014

Mari Kita Bicara

Jangan kau suruh aku melangkah kebelakang, sayang. Karena waktu tidak dapat berjalan mundur, karena waktu tidak dapat kuputar ulang.

Rabu, 05 November 2014

Rindu Jatuh Cinta

Rindu akan debaran jantung yang tak terkendali karena seseorang yang dapat disebut cinta.
Rindu untuk kembali merasakan debaran jantung yang tak menentu karena seseorang yang dapat disebut cinta.

Selasa, 28 Oktober 2014

Satu dan Tiga Belas ( Prolog )

Ada sebuah kembang, kembang yang berwarna merah bergradasi kemudaan. Putiknya harum manis mencumbui udara, tertiup angin semilir dipadang rumput. Kembang yang sudah cukup matang untuk diteguk sari patinya. Putiknya harum manis menggoda, tertiup semilir angin dipadang rumput, menunggu, menunggu, dan menunggu.

Ada kumpulan lebah, mereka bergerombol melewati angkasa. Terbang dengan gagahnya diudara, melawan angin semilir yang berhembus dipadang rumput. Mengikuti harum manis menggoda yang dibawa semilir angin. Harum, manis, menggoda. Mencari, mencari, dan memilih.

Apakah kembang tidak dapat memilih antara lebah, kumbang, kupu-kupu, burung? Memilih salah satu diantara mereka untuk meneguk sari patinya yang telah matang. Apakah kembang ditadirkan hanya untuk menunggu, menunggu untuk diteguk sari patinya. Tanpa ada kesempatan untuk memilih, tanpa ada pilihan, hanya terpaksa untuk menerima lebah, kumbang, kupu-kupu, burung yang dengan acak memilih dirinya?

Ada sebuah kembang, kembang yang berbeda jenis, kembang yang tidak akan memilih. Bukan karena terpaksa, tetapi karena keinginannya sendiri untuk menerima serangga yang hinggap diputiknya yang mengundang. Yang kembang itu lakukan hanya menunggu dengan sabar, menunggu dengan sabar serangga-serangga itu tergoda untuk memilihnya, hinggap di putiknya, dan kemudian melahap setiap serangga rakus yang tergoda olehnya. Kembang yang tak akan memilih, karena kembang yang akan menentukan hidup serangga-serangga tersebut. Sebuah kembang yang sempurna.

Monochrome




Dan kamu dalam keremangan dunia menungguku kembali pulang.

Selasa, 14 Oktober 2014

Priceless

Bukankah ini menjadi hal yang menarik? Saat suatu hubungan kamu dirikan dengan sebuah jaminan. Seperti tempat-tempat penggadaian. bahkan barang yang digadaikan jauh lebih berharga dibandingkan apa yang didapat.

Bukankah ini hal yang menarik ?
Saat seorang pria merogoh uang satu, dua, tiga, empat jutaan dengan jaminan tubuh, dan harga diri.
Saat seorang pria merogoh uang satu, dua, tiga, empat jutaan dengan jaminan hati, perasaan dan masa depannya.

Semurah itukah sebuah hubungan?
Semurah itukah sebuah tubuh?
Semurah itukah seorang wanita?

Jumat, 10 Oktober 2014

The Other Woman

Maybe i was born to be another woman. who belonged to no one. Never have his love to keep,
And as the years go by the other woman will spend her life alone.

-Lana Del Rey-

Senin, 22 September 2014

Orang ketiga

Dan Aku hanyalah yang kedua selain istrimu.
Dan Aku hanyalah orang ketiga dalam rumah tanggamu.
Yang tak akan kamu jadikan halal dimata Tuhan,
Yang tak akan kamu jadikan legal dimata hukum.
Dan Aku tetaplah menjadi orang kedua dalam hidupmu, duniamu yang kamu simpan rapat dalam rahasia.

Abu-Abu

Lebih mudah untuk marah daripada mengakui bahwa kamu terluka dan ternyata tidak berharga untuk diperjuangkan.

13 Detik

Ada sebuah jam yang begitu dia sukai.
Sebuah jam yang memiliki mitos bahwa jam tersebut akan mendatangkan malapetaka atau kebahagiaan tergantung dari pemiliknya nanti.

Ada sebuah jam yang begitu dia sukai.
Sebuah jam yang bertahtakan batu hitam.
Bernuansa gelap, namun indah saat diterpa cahaya.
Sebuah jam begitu diinginkan olehnya.
Diinginkan untuk dimiliki seumur hidupnya.
Jam tersebut berdetak lembut, bergerak maju, terkadang bergerak mundur, tetapi kemudian kembali menunjukan waktu dunia semula.

Ada sebuah jam yang begitu ingin dia miliki.
Sebuah jam yang hanya berjarak 13 detik dari posisinya berada.
Pelan-pelan ujarnya.
13 detik kemudian berubah menjadi 13 menit.
13 menit berlalu menjadi 13 jam..13 hari..13 tahun...tetapi dia masih tetap berada diposisinya semula.
Pelan-pelan ujarnya.
Hingga kemudian jam tersebut berhenti berdetak lembut. Detaknya mulai riuh nyaring, geraknya tak beraturan, hingga kemudian benar-benar berhenti berdetak, berhenti bergerak, hanya statis.
Pemuda tersebut hanya bergumam "pelan-pelan saja. Berusaha mendapatkannya pelan-pelan"
Tetapi dia masih saja tetap berdiri diposisinya semula, tak sedikitpun melangkah maju.

Jarak 13 detik kemudian berubah menjadi 13 menit. 13 menit berlalu menjadi 13 jam..13 hari..13 tahun berlalu, tetapi dia masih tetap berada diposisinya semula. Menyia-nyiakan jarak 13 detiknya tanpa berjuang memiliki sebuah jam yang sangat ingin dia miliki seumur hidupnya.

Ada sebuah jam yang begitu dia sukai.
Sebuah jam yang kini hanya menjadi sebuah mitos belaka karena jarak 13 detiknya yang disia-siakan manusia.

Rabu, 03 September 2014

Secangkir Kopi di Cuaca yang Berkabut

Cangkir kopi mulai kosong, berhenti berbicara.
Toples kecil diatas meja yang semula tertutup seadanya, mulai ku tutup erat, erat, lebih erat.

Jumat, 22 Agustus 2014

Kisah

Coba buat satu cerita tentang Aku dan Kamu.
Coba kisahkan tentang kita menurut versimu.
Aku yakin akan berbeda,
Aku yakin akan terdengar berbeda dengan versiku.

Selasa, 05 Agustus 2014

Rajah

Pemuda itu merajah dosanya di punggungnya,
Dosa yang akan terus dia bawa sampai akhir usianya.
Pemuda itu merajah dosa-dosanya di punggungnya,
Sebagai pengingat agar dosanya tak akan terulang kembali.
Pemuda tersebut merajah semua dosanya di tubuhnya,
Untuk mengingatkan bahwa hidupnya penuh dengan dosa yang harus dia tebus pada saatnya nanti.
Ada seorang pemuda, dosa-dosanya di rajah ditubuhnya,
hanya sebagai pengingat, untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.

Kamis, 24 Juli 2014

Cardio

Dan kemudian jantungku berkontraksi dengan irama berulang kian cepat saat melihatmu,
Dan kemudian jantungku berkontraksi dengan irama berulang kian cepat saat menyebut namamu,
Dan kemudian jantungku berkontraksi dengan irama berulang kian cepat saat mengingat dirimu,
Dan kemudian jantungku yang berkontraksi 60-100 BPM, seakan-akan mengalami Aritmia karenamu.

Dignity

Jika menjaga kehormatan kami saja kalian tidak mampu,
untuk apa kami suka rela menyerahkan hati kami untuk kalian ?
Jika menjaga kesucian kami saja masih kalian pertanyakan,
untuk apa kami dengan suka rela menyerahkan jiwa raga kami untuk kalian ?

Kamis, 17 Juli 2014

Ares

Ada perut-perut yang harus kami isi,
Ada jenazah-jenazah yang harus kami kubur,
Ada hak yang ingin kami perjuangkan,
Ada keluarga yang harus kami tinggalkan untuk maju digaris depan,
Ada banyak hal yang harus kami korbankan,
bahkan itu nyawa kami sendiri.
Perang itu mahal harganya kawan,
bahkan nyawa kami siap untuk dikorbankan.

Rabu, 16 Juli 2014

Seorang Dalam Mimpi

Ada senda gurau disana,
Ada cengkrama hangat yang menyelimuti ruangan.
Ada aku..ada kamu..
Ah..katakan saja kamu merindukanku.
Dan ketika pagi tiba, ketika aku membuka mata, terbangun dari tidurku..
kamu menghilang..hilang di dunia nyata.

Ah..katakan saja jika kamu merindukanku..katakan saja.

Jumat, 04 Juli 2014

Tuhan pun Menangis

Mengapa agama dipersalahkan?
Mengapa bukan manusia yang dipersalahkan?
Bukan agama yang membunuh,
bukan agama yang menyiksa,
bukan agama yang membenci,
karena agama mengajarkan welas asih.
Semua ulah manusia yang berkedok agama.

dan kemudian..Tuhan pun menangis.

Selasa, 01 Juli 2014

Antara Gadis Dan Pemuda, Antara Iblis Dan Tuhan

"Jika kamu mencintaiku, mengapa tak kamu perbolehkan aku menyentuhmu?", tanya sang pemuda.
"Aku malu.", jawab sang gadis.
"Malu kepadaku?", tanya sang pemuda kembali.
"Bukan. Aku malu terhadap Tuhanku.", jawab sang gadis.
"Tak apa, Tuhan pasti mengerti.", bujuk sang pemuda.
Sang gadis terdiam.

"Apa kau tak mencintaiku? tak takut kehilanganku?, tanya sang pemuda.
"Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Tuhanku. Aku tak takut kehilanganmu, Aku lebih takut kehilangan Tuhanku.", ujar sang gadis tegas.

Minggu, 29 Juni 2014

Diam Diam Jatuh Cinta

Ada yang tersimpan disana tanpa rasa jenuh,
tersimpan rapat tanpa ada celah untuk mengintip.
Tersimpan menjadi sebuah shymphony yang mengalun tanpa jeda.
walaupun itu hanya menjadi rahasia antara hati dan Tuhan.

Jumat, 20 Juni 2014

Pemuda Bersimpuh Sedih

Mereka berkata bahwa seorang pria itu tabu untuk menangis.
Mereka berkata bahwa seorang pria itu tabu untuk mengeluarkan airmata.
Tapi tidak bagi dia..tidak baginya..
Tubuhnya yang tegar terlihat begitu rapuh, menggigil saat airmatanya mengalir dari kedua buah matanya.
Pilu, penuh kesedihan.
Jemari tangannya yang kekar memegang erat seikat mawar putih. Hari ini, tepat seribu hari..tepat seribu hari.
Seharusnya hari ini dia tersenyum bahagia. Yah..seharusnya.
Hiruk pikuk manusia memenuhi jalan sore ini.
Langit berwarna jingga, matahari mulai tenggelam.
Seorang pemuda terlihat bersimpuh sedih ditengah kerumunan manusia.
Airmatanya berurai, seikat mawar putih berjatuhan dan kemudian memerah.
Seorang pemuda bersimpuh sedih, diantara genangan darah dan tubuh seorang wanita bergaun merah yang terbaring mati.
Seharusnya hari ini adalah hari bahagia mereka..
Seharusnya hari ini adalah hari bahagia bagi mereka.

The Beauty of Passion

Satu Imaji kembali bertandang di alam pikirku.
Imaji tentang kamu..
Imaji tentang dirimu..
Imajiku yang indah..tentang kamu..

Jemariku dan jemarimu bertemu,
Tubuhku dan tubuhmu bersatu dalam temaram cahaya lampu,
Bibirku dan bibirmu kemudian saling bersentuhan..
Lembut..basah..liar..

Jemarimu menggenggam erat helai demi helai rambutku yang tergerai halus dikulitku yang telanjang.
Aku tersenyum saat bibirmu mendaratkan kecupan lembut,
saat bibirmu mendaratkan gigitan-gigitan kecil ditubuhku yang telanjang.
Lembut..basah..liar..

Satu tepukan..dua tepukan..
Satu pecutan..dua lecutan..
Satu cengkraman..dua cengkraman..
Satu..dua..tiga..
Bergelora..liar..

Cengkram aku dengan jemarimu,
Rajai aku dengan segala api yang bergejolak di dirimu..
Dominasi diriku dengan segala kuasamu..
Lembut..basah..liar..indah..

Aku milikmu..Aku untukmu..
Kamu milikku..Kamu untukku..
Walau hanya dalam imaji..
Walau itu hanya dalam imajiku yang indah..
Imajiku yang indah..
tentang kamu..

Rabu, 18 Juni 2014

Cinta




Melecut,
Bersinar,
Bergelora,
Menari indah,
Hatiku..masih saja bergejolak..
Terbakar, belum bisa padam.

Senin, 16 Juni 2014

Semilir Angin Malam

Kabarnya, pemuda berhidung bangir itu sudah mempunyai kekasih.
Kabarnya, pemuda berhidung bangir itu menyayangi kekasihnya.
Kabarnya, pemuda berhidung bangir itu berbisik lembut kepada angin
hampir disetiap malamnya.
"Aku rindu..cinta."
Kabarnya, pemuda berhidung bangir itu menyayangi kekasihnya.
Namun kekasih pemuda berhidung bangir itu bukanlah cinta.
Kabarnya berkabar hingga ke telingaku,
"Aku bukan kekasihnya.", jawabku kepada angin semilir malam.
Kabarnya..kabarnya..

Wajah Tuhan dan Iblis

Ah, dia hanya meminjam sedikit wajah Tuhan untuk dikenakan.
Ah, dia juga meminjam sedikit wajah iblis untuk menghiasi hatinya.
Bahagiakah dirinya?
"Iya.", tuturnya.

Minggu, 15 Juni 2014

Untittled

Tidak ada kebebasan absolut,
Semua kebebasan mempunyai batasan.
Tidak ada kebebasan yang absolut,
Kebebasan yang absolut hanya menimbulkan kekacauan.

Kamis, 12 Juni 2014

The Past

PEMUDA

Ada seorang pemuda. Seorang pemuda dengan masa lalu. Dia masih saja memeluk masa lalunya, dia masih saja hidup di masa lalunya. Hingga rasa takut melekat liat didalam hati dan pikirnya. Masa lalu mengikatnya kian erat tanpa dia sadari. Tidak dia pilah kesalahannya, tidak dia lihat jalan didepannya. Yang dia lihat hanyalah jalan di belakang yang sudah berlalu. Yang dia lihat hanyalah lembaran usang yang mengikatnya liat dengan ketakutan dan kecewa.

Ada seorang pemuda, seorang pemuda dengan masa lalu. Hatinya selalu dipenuhi dengan kegelisahan tak berujung, pikinya dipenuhi oleh kabut masa lalunya. Tidak dia terima masa lalunya, tidak dia sadari bahwa masa lalu masih saja dia peluk dengan erat. Hingga kini, saat dia tak lagi muda, tubuhnya menua, rambutnya mulai memutih, masa lalu masih saja dia peluk dengan erat dengan segala penyesalan dan kekecewaan yang tidak pernah dia lepas.

Rasa takut dan kecewa membenamkannya kedalam kelam, masa lalu membenamkan dia dalam kelam, kehilangan nyali karena satu kalimat yang terus terngiang di pikirnya, "Semua wanita itu sama."


WANITA

Ada seorang wanita. Seorang wanita dengan masa lalu. Terkadang dia menoleh ke belakang, hanya untuk menertawakan masa lalunya, betapa lugu dirinya saat itu. Terkadang dia menoleh ke belakang, karena dia tahu, masa lalu tidak dapat dirubah, dihapus ataupun dijalani kembali. Masa lalu tidak berani untuk menyentuhnya, karena dia telah menerima masa lalunya. Tak dia perbolehkan masa lalu menghimpitnya dalam hampa dan luka. Tak dia perbolehnya masa lalu untuk memeluknya kembali, karena masa lalu hanyalah masa lalu, dan itu yang menjadinya sekarang.

Ada seorang wanita, seorang wanita dengan masa lalu. Masa lalu yang membuatnya belajar dan tegar, masa lalu yang membuatnya tersenyum saat dia menoleh ke belakang, masa lalu yang tak bisa menghentikan dirinya dengan ketakutan omong kosong dan kekecewaan yang sudah dia lupakan. Masa lalu yang sudah dia lepaskan untuk jalan kedepan dengan mantap dan penuh senyum di bibirnya.


**

Semua manusia itu sama, pernah merasakan sedih, kecewa, dan luka. Lalu untuk apa manusia harus terus melangkah dibalik kabut masa lalu, memeluk erat masa lalu dengan ketakutan dan kekecewaan untuk melangkah kedepan ?

Minggu, 01 Juni 2014

Bulan Purnama

Malam ini bulan purnama datang.
Malam ini malam pertama bulan purnama.
Sebuah satelit bumi yang melingkar bulat penuh,
bercahaya temaram menyinari bumi.

Malam ini bulan purnama datang.
Malam pertama bulan purnama.
Sinarnya lembut menyentuh bumi.
Sinarnya sedih, menyirami bumi.

Malam ini bulan purnama datang.
Malam pertama bulan purnama.
Berusaha untuk terus tetap tegar bersinar,
Diantara kobaran api yang melahap seisi desa.

Malam ini malam bulan purnama.
Riuhnya sirene dan lengkingan parau bagaikan melodi yang menyambutnya.
Wangi daging terbakar bagaikan parfum yang menyengat menyambut purnama.
Warna oranye, kemerahan disebuah desa bagaikan sebuah ritual persembahan untuk menyambutnya.

Malam ini malam bulan purnama.
Seorang gadis terduduk didepan kobaran api yang melahap desa.
Matanya menatap bulan purnama diatas sana.
Jemarinya yang kotor mencengkram sekotak korek api.
Tubuhnya yang lusuh terlihat mengejang, kemudian menangis.
Tungkai kakinya terlihat terikat dengan rantai besi.
"Kekasihku, kekasihku...", bibirnya tak henti mengumamkan kata itu.
"Kekasihku..kekasihku...", ujarnya pilu.

Malam ini bulan purnama datang.
Seorang gadis, Luna namanya.
Seisi desa berkata bahwa gadis itu gila karena teluh seorang pemuda.
Seorang gadis, Luna namanya.
Bibirnya terus saja menggumam,
"Kekasihku..kekasihku..Purnama.", gumamnya
dan kemudian Luna menari, diantara airmata dan kobaran api malam ini.

Malam ini bulan purnama datang,
Malam pertama bulan purnama,
Sinarnya sedih, menyirami bumi.
Diantara kobaran api yang melahap seisi desa.

Sabtu, 31 Mei 2014

Percakapan dengan Secangkir Kopi

Karena kamu selalu menenangkan,
Karena kamu tidak akan berdusta,
Karena kamu begitu mudah untuk dicintai.
Karena kamu dan aku, bagaikan hal yang tak bisa dipisahkan.
Karena kamu, selalu bisa dinikmati untukku sendiri.

Selasa, 27 Mei 2014

Mukena dan Sajadah

Ada satu pesan kecil yang tak terucap saat Mukena dan sajadah diberikan.

"Rajinlah kamu sholat nak.
Jangan tinggalkan ibadahmu.
Jangan lupakan Tuhanmu."

Satu pesan kecil yang tak terucap,
Satu pesan kecil dengan makna yang besar.

Senin, 26 Mei 2014

Seseorang yang Bagaikan Sebuah Rumah

Waktu menunjukan pukul lima sore. Sudah waktunya untuk pulang.
Aku poles wajahku dengan bedak tipis,
Aku poles bibirku dengan lipstik berwarna muda.
Aku rapikan meja kerjaku sebelum pulang.

Waktu sudah menunjukan pukul lima lewat lima menit sore hari, sudah waktunya untuk pulang.
Aku menyusuri koridor perlahan.
Bibirku tak henti mendendangkan melodi asing yang bergema di pikirku.
'Ayo pulang.', begitu benakku berbicara.

Waktu menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit di sore hari.
Terlihat wajah seseorang lelaki di ujung koridor.
Dia tersenyum lembut kearahku.
Kakiku berlari kecil menghampirinya.
Kemudian dia merengkuh tubuhku kedalam tubuhnya.
Begitu hangat, begitu menenangkan, begitu penuh kasih.
Seketika penat tubuh dan lelah dipikirku menyusut perlahan demi perlahan.
"Ayo kita pulang.", ujarku pelan.
Lelakiku mengecup lembut keningku, menggenggam jemariku erat.

"Mari kita pulang.", ujarnya...lembut.

Gelap

Mereka merekatkan hati mereka kedalam semu.
Secercah cahaya mereka tiadakan.
Bahkan bayangan saja tak mereka indahkan.
Mereka merekatkan hati mereka dikegelapan.
Secercah cahaya yang mengintip saja, mereka abaikan.
Mereka terlalu senang memeluk gelap,
tidak sendirian, tetapi bersama-sama,
Tanpa cahaya, tanpa bayangan.

Rabu, 30 April 2014

Mimpi

Malam tadi kamu mampir di mimpiku.
Kamu duduk bersisian dengan sepi,
Tapi tak kamu bolehkan Aku menghampirimu.
Kamu duduk bersisian dengan sepi, kemudian tersenyum kearahku.
Tapi tetap tak kamu perbolehkan Aku duduk disisimu.

Ku lihat cangkir kopimu yang mulai kosong,
Kamu kembali tersenyum, melambaikan tanganmu kearahku.
menyebut namaku dengan lembut.
Matamu berbinar nakal.
Tetapi tetap saja tak kamu bolehkan Aku menemanimu.

Jerat



Dia mengetuk pintu
Hanya seketuk dua ketuk.
Kemudian senyap.

Dia memperlihatkan wajahnya di daun jendela.
Hanya dalam hitungan detik.
Mengintip sejenak, kemudian menghilang.

Dia dengan waktunya yang sebentar,
menyusup masuk dan meninggalkan jejak di pikir dan hati.

Aku yang menjeratkan diri sendiri?
Atau Dia yang telah menjeratku?

Rabu, 09 April 2014

The Piano Sonata No. 14 in C-sharp minor



Sendu,
berusaha mengamit tubuh rembulan ke dalam tarian.
Tanpa mengemis,
Tanpa merayu,
Tanpa menggoda.

Imajikan saja olehmu,
Imajikan saja sesukamu,
Ini hanyalah sebuah tarian.
Tarian dibawah sinar rembulan..
Ataukan menari bersama rembulan..
Ataukah menari, dan biarkan rembulan yang menjadi penontonnya ?
Tanpa mengemis,
Tanpa merayu,
Tanpa menggoda.

Minggu, 16 Maret 2014

Sirih Merah

  Malam merayap kian larut. Bulan bintang bersembunyi dalam kegelapan malam. Tak tampak wujudnya walau sebentar. Miranti tertegun diruangan remang, dengan sekotak kayu antik yang berisikan peralatan menyirihnya. Sudah malam keberapa Miranti menekuni mengunyah sirih. Anehnya, hal itu dilakukan olehnya hanya pada malam hari.
Tubuh Miranti yang kurus kering terbungkus gaun tidur berwarna kehijauan, rambutnya yang tergelung terhiasi oleh tusuk konde kayu mungil, kulitnya yang pucat menatap pemandangan diluar jendela. Angin seakan tidak berhembus, semua terasa senyap, sepi.
Miranti menatap tangannya yang kurus, jemarinya yang seakan bagaikan ranting kering rapuh.

**

"ahh...", desah Miranti.

  Miranti bukannya melakukan diet seperti gadis-gadis diluaran sana, Miranti hanya tidak bisa mengkonsumsi makanan seperti layaknya orang normal. Selama ini Miranti tumbuh besar hanya dengan mengunyah daun kemangi, kembang kantil, kopi hitam pahit dan air putih saja.
Pernah suatu ketika, saat Miranti masih berusia tujuh tahun, Bude-nya memaksa Miranti untuk makan nasi, roti dan makanan normal lainnya. Miranti muntah-muntah dan pingsan, sehingga Miranti harus dilarikan ke rumah sakit. Semenjak kejadian itu, seluruh anggota keluarga Miranti tidak pernah lagi memaksa Miranti untuk makan makanan seperti mereka.

"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."

  Begitu orang-orang satu desa menjulukinya. Tak ada satupun anak gadis di desa yang mau berteman dengan Miranti, tak ada satupun pemuda di desa yang berani mendekati Miranti. Miranti terpaksa berhenti sekolah dan belajar dirumah, karena orang orang tua di desa melarang anak mereka bersekolah, jika Miranti masih duduk satu kelas dengan mereka. Miranti kecil hanya bisa menangis dipangkuan Bude, saat Romo menjemputnya disekolah dan berkata bahwa Miranti tak perlu bersekolah lagi. Miranti kecil tak tahu apa-apa, Bude-nya hanya berkata bahwa karena Miranti anak seorang tuan tanah, orang-orang desa segan terhadap Miranti, takut kepada Miranti. Miranti kecil menangis sepanjang malam dipangkuan Bude.

  Kesedihan Miranti kecil tidak berlangsung lama, berberapa minggu kemudian, saat Romo pulang dari kota, Romo membawa seorang wanita cantik bergincu merah untuknya. Seorang guru untuknya, kata Romo. Wanita cantik itu mengajari Miranti membaca, menulis, berhitung, semua hal yang dipelajari di sekolah.

  Kini usia Miranti telah beranjak 17 tahun, kulit tubuhnya pucat karena jarang keluar rumah. Wanita bergincu merah yang menjadi gurunya sudah jarang mengunjungi Miranti di pavilliun tempat Miranti tinggal.

"Bude, Miranti ingin sesekali mengunjungi Romo di perkebunan.", ujarnya suatu ketika.

  Bude terkejut mendengar kata-kata Miranti. Kemudian Bude tersenyum, mengamit jemari Miranti dan mengajaknya berjalan keluar pavilliun.

  Siang ini udara terasa lembab. Matahari mengintip malu-malu dari balik pepohonan yang memenuhi jalan setapak. Miranti menggenggam erat jemari Bude yang menuntunnya pelan. Sudah lebih dari 8 tahun Miranti menolak untuk keluar dari pavilliunnya. Tak ingin merepotkan Romo dan Bude katanya. Apalagi pandangan orang-orang desa seakan takut terhadapnya. Tapi kali ini berbeda, entah kenapa Miranti merasa rindu akan perkebunan dimana saat Miranti kecil bermain sendiri, memetik buah mangga dan jeruk diantara pepohonan rimbun dan teriknya mentari.

  Miranti tersenyum riang saat melihat Romo berdiri tegap menyambutnya.
 
"Romo...", Miranti berjalan cepat dan mencium tangan Romo dengan santun.

  Romo membelai lembut kepala Miranti.

"Tuan.."

  Suara seorang pria mengejutkan Miranti. Membuatnya menoleh ke asal suara. Bola mata Miranti menatap sesesok pria tegap yang mengenakan kaos putih dan jins kebiruan yang terlihat cukup usang. Kulitnya terlihat berwarna kontras dengan kulit Miranti yang putih pucat, kulitnya terlihat kecoklatan terbakar sinar matahari, bola matanya berwarna coklat muda, rambutnya tersisir rapi, tampan, kekar.
Miranti tertegun, dan kemudian kembali memandang Romo, berpamitan untuk mengelilingi perkebunan.

  Miranti berlari kecil laksana bocah yang kegirangan. Wajahnya tersenyum malu,  rona merah terlihat kabur di pipinya yang tirus. Jantungnya berdebar kencang, bergemuruh.


**

  Malam ini Miranti meringkuk diatas ranjangnya. Lampu meja masih menerangi ruangan malam ini. Miranti membolak-balik lembar demi lembar buku yang harusnya dia selesaikan. Tetapi apa daya,Miranti tidak bisa fokus untuk membaca kata demi kata yang tertuang diatas kertas. Pikirannya berkelana kesosok pria yang dia lihat tadi siang.

  Dari Bude, Miranti mengetahui bahwa pria tersebut adalah salah satu pria kepercayaan Romo. Pria itu berasal dari kota seberang. Pemuda tampan yang pintar, lulusan terbaik di universitas negeri. Pria tampan yang bernama Putra.

  Miranti menutup wajahnya yang merona dengan selimut.
Apa ini pikirnya.
Hatinya berdentang tak teratur hanya dengan mengingat sosok pemuda tersebut. Sepertinya Miranti remaja jatuh cinta, hanya saja dia belum menyadari hal tersebut.


**

  Sudah berminggu-minggu berlalu, Miranti remaja mulai sering mengunjungi perkebunan. Untuk mengamati pekerkebunan, membaca buku di antara pepohonan rindang, dan melirik ke arah pemuda itu. Ada rasa aneh yang menggelitik dihati Miranti saat pemuda itu tersenyum kepadanya, ataupun membawakannya segelas air putih atau kopi hitam. Miranti baru menyadari bahwa pemuda itu tidak seperti pekerja-pekerja lain di perkebunan yang menghindar saat melihatnya. Miranti tidak melihat binar takut di bola mata pemuda itu. Pemuda itu berbeda, begitu berdeda.
  Dan saat ini, pemuda itu, Putra, menemani Miranti yang duduk diantara pepohonan rindang, sinar mentari mengintip dari balik dedaunan yang bergemerisik tertiup angin.
Mereka bercengkrama walaupun tidak banyak kata yang bisa Minarti ucap diantara debar jantungnya.
Minarti menikmati cerita-cerita Putra tentang kota, tentang perkebunan, tentang apa yang Romo, Putra dan pekerja lainnya lakukan di perkebunan.

  Bulan berganti bulan. Miranti tertegun saat Putra mengecup jemarinya yang kurus kering diantara bunga-bunga bakung dan mentari yang mulai tenggelam di sisi barat.

"Aku menyukaimu..Sepertinya Aku jatuh cinta kepadamu Ranti.", ujar Putra.

  Jantung Miranti seakan melompat keluar, ini seperti cerita romantis yang kerap dia baca di novel-novel yang menggunung di kamarnya. Wajah Miranti menunduk, langit senja tak mampu menyembunyikan rona merah diwajahnya yang putih pucat. Perkebunan mulai sepi, hanya ada angin semilir yang berlalu lalang diantara pepohonan rimbun dan langit senja yang kemerahan.

  Miranti sudah remaja, Miranti sudah berusia 17 tahun. Miranti sudah remaja, Miranti kini berusia 17 tahun. Miranti remaja kini jatuh cinta, Miranti kini berusia 17 tahun dan merasakan ciuman pertamanya diantara pepohonan rindang, angin yang bertiup semilir dan langit senja yang berwarna kemerahan. Rasanya...manis..


 **

"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."

Kata-kata itu mulai bergaung ditelinga Miranti.
Miranti menggelengkan kepalanya, nafasnya memburu, lelah. Kakinya tak berhenti berlari menembus perkebunan menuju pavilliunnya. Peluh bercucuran ditubuhnya yang kurus. Kulitnya yang pucat terlihat semakin pucat diantara sinar bulan purnama yang berpijar sedih malam ini.

"Sebentar lagi kita sampai sayang.", ujar pemuda itu lembut.

  Miranti menguatkan dirinya yang kelelahan, memandang punggung Putra yang berlari menggenggam jemarinya menembus malam.
Laju lari mereka terhenti didepan pavilliun. Romo, wanita bergincu merah yang sering Miranti sebut guru, Bude, dan beberapa pekerja perkebunan sudah berdiri menunggu mereka disana. Wajah Romo tampak murka. Bude hanya bisa menangis menatap Miranti dan Putra yang terengah masih berpegangan tangan.
  Dengan kasar Romo menarik jemari Miranti, melepaskan pegangan tangan mereka. Miranti menangis, menjerit, memohon kepada Romo agar jangan memisahkan dirinya dengan Putra. Wanita bergincu merah, berwajah tidak lebih murka, menyeret Miranti dan menamparnya. Airmata membasahi wajah wanita bergincu merah.

"Kalian bersaudara, kalian saudara, kalian sedarah, kalian seayah, kalian tidak bisa saling bersama, kalian tidak boleh saling mencinta.", ujarnya pilu sembari menampar Miranti dan Putra.
  Miranti terjatuh ke tanah, Putra berlari dan berlutut sembari memeluk tubuh Miranti yang kurus. Romo terlihat kian murka. Diambilnya  sapu yang bertangkai bambu, dan dipukulinya tubuh Putra dan Miranti berkali-kali. Dari balik gaun Miranti yang putih, darah mengucur deras. Kemaluannya mengeluarkan darah. Miranti menjerit kesakitan.

"TUAN HENTIKAN!!! MIRANTI SEDANG MENGANDUNG...MIRANTI SEDANG MENGANDUNG ANAKKU!!!", jerit Putra.

Romo tersentak, tubuhnya kemudian limbung. Romo menangis pilu.

"Ini salahku, ini kutukanku.", erang Romo pilu.

  Dengan tubuhnya yang penuh lebam, Putra menggendong tubuh Miranti yang masih saja mengeluarkan darah. Bude berlari kearah mereka, tak dia perdulikan lagi kemurkaan Romo dan wanita bergincu merah. Bagi Bude, Minarti sudah seperti anaknya sendiri, walaupun Miranti tidak dia kandung dalam rahimnya, walaupun Miranti tidak dia lahirkan dari lubang vaginanya sendiri.

  Wanita bergincu merah menatap nanar, bibirnya bergetar, kata-kata yang sanggup keluar dari bibirnya terdengar tidak teratur.

"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."

Diambil parang dan diarahkan kearah Miranti.

"Miranti aneh"
"Miranti anak jin"
"Miranti anak setan."
"Miranti harus mati."

  Rembulan terlihat begitu bulat malam ini, rembulan terlihat begitu sedih malam ini, rembulan terlihat begitu pilu malam ini. Malam kian terasa pilu diantara jerit tangis Miranti yang memilukan diantara darah yang masih mengucur dari kemaluannya, diantara darah yang mengalir dari kepala Putra.


**
  Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, itu yang Putra ajarkan kepada Miranti dulu.
Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, lalu kunyah perlahan, rasakan dengan indra perasamu. Disana ada rasa asam, pahit dan sedikit manis yang bergumul menjadi satu. Seperti itu kata-kata Putra waktu itu.

  Sudah 3 tahun berlalu dari malam itu. Sudah 3 tahun berlalu semenjak Putra mati didepan matanya.
Dalam waktu 3 tahun, akhirnya Miranti mengetahui bahwa wanita bergincu yang Miranti sebut guru itu adalah gundik Romo. Mereka berhubungan jauh sebelum Miranti lahir, jauh sebelum ibu Miranti meninggal. Putra adalah anak hasil hubungan mereka. Putra tidak pernah tahu siapa ayahnya, Putra hanya tahu bahwa Romo adalah seorang tuan tanah yang berbaik hati kepada ibunya dan memberikan mereka pekerjaan.

  Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, itu yang Putra ajarkan kepada Miranti dulu.
Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, lalu kunyah perlahan, rasakan dengan indra perasamu. Disana ada rasa asam, pahit dan sedikit manis yang bergumul menjadi satu. Seperti itu kata-kata Putra waktu itu.
  Miranti tertegun diruangan remang dengan sekotak kayu antik yang berisikan peralatan menyirihnya. Sudah malam keberapa Miranti menekuni mengunyah sirih, Miranti sudah lupa. Malam ini rembulan kembali bersinar pilu. Miranti mengambil segerus kapur, sejumput tembakau, menambahkan sedikit pinang kedalam daun sirihnya. Dimasukkan perlahan kedalam bibirnya yang kemerahan oleh sisa-sisa kunyahan sirih selama bertahun-tahun, kemudian dikunyahnya perlahan demi perlahan.

  Malam ini rembulan terlihat begitu bulat, malam ini rembulan terlihat begitu sedih, malam ini rembulan terlihat begitu pilu. Terlihat sosok tubuh wanita didalam ruangan dengan sekotak kayu antik yang berisikan peralatan menyirihnya. Air matanya mengalir, meratapi kekasihnya yang tiada, meratapi kekasihnya yang tiada.

  Malam ini rembulan terlihat begitu bulat, malam ini rembulan terlihat begitu sedih, malam ini rembulan terlihat begitu pilu. Segerus kapur, sejumput tembakau, tambahkan sedikit pinang dalam daun sirihmu, lalu kunyah perlahan, rasakan dengan indra perasamu. Disana ada rasa asam, pahit dan sedikit manis yang bergumul menjadi satu. Kemudian, ingatlah diriku..selalu.

Sabtu, 15 Maret 2014

Heart in a Jar

Satu langkah,
Dua langkah,
Tiga langkah,
Kemudian terhenti.
Apa terlalu cepat ?
Apa terlalu lambat ?
Apa terlalu dekat ?
Apa masih kurang dekat ?
Haruskan melangkah kembali ?
Haruskah ?

Minggu, 09 Maret 2014

The Painting

Biarkan lukisan itu tetap menjadi lukisan.
Biarkan saja itu terlukis disana, diatas dinding.
Tak perlu pigura, tak perlu hiasan.
Biarkan lukisan itu tetap menjadi sebuah lukisan.
Biarkan lukisan itu ada disana hingga lamur termakan waktu.

Jumat, 28 Februari 2014

Benak

Biarkan Aku mencintaimu dengan sederhana.
Biarkan Aku mencintaimu dengan segala kerumitanmu.
Biarkan Aku mencintaimu..
 dengan sederhana..
kesederhanaan yang luar biasa.
Biarkan Aku..
Biarkan Aku mencintaimu...

Selasa, 25 Februari 2014

Elegi Sang Betina dan Pejantan

BETINA

Sang betina menemukan seekor jantan kecil yang terluka di antara ilalang yang menjulang tinggi. Tubuh jantan yang kecil, kurus, kotor terlihat gemetaran menahan sakit dan takut. Terlihat luka yang menganga lebar diantara kakinya yang kurus. Sang betina terhenyuh, hatinya bergetar iba. Diangkatnya tubuh sang jantan perlahan, lembut. Luka sang jantan dijilati sang betina dengan penuh kasih, layaknya buah hatinya sendiri.

Sang betina terhenyuh, betina baru saja kehilangan anak semata wayangnya yang dibunuh oleh pejantannya, hanya karena betina melahirkan pejantan yang baru. Pejantan merasa bahwa pejantan yang baru lahir itu akan menjadi ancaman untuk dirinya kelak. Naluri hewannya bekerja, dan kemudian membunuh pejantan yang baru beberapa hari dilahirkan, walaupun pejantan kecil itu adalah darah dagingnya sendiri.
Sang betina sendiri bukannya tidak berbuat apa-apa, betina berusaha melindungi pejantan kecil yang baru beberapa hari dia susui, tetapi apa daya, tubuhnya masih lemah oleh kelelahan yang dialaminya. Pejantan kecilnya mati dan dimakan oleh pejantan-pejantan besar lainnya, dan betina terluka parah.

Sang betina menatap lembut pejantan kecil yang masih saja gemetaran menahan sakit dan takut. Dengan lembut betina memeluk pejantan kecil, membuainya hingga tertidur.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, pejantan kecil mulai tumbuh besar dalam asuhan betina. Hingga musim kawin mulai datang, pejantan kecil yang mulai beranjak besar mulai gelisah. Nalurinya untuk berkembang biak mulai terasa kian kuat. dan kemudian pejantan kecil mengawini betina yang merawat, menyusuinya dulu. Betina tergolek layu, hatinya terluka untuk kesekian kali oleh pejantan. Seperti setiap air susu yang menetes jatuh untuk diteguk oleh pejantan kecil yang telah beranjak dewasa menjadi sia-sia.
Sang betina hamil, dan melahirkan pejantan kecil lainnya. Kejadian yang sama kemudian terulang bagai sebuah rangkaian mimpi buruk yang berputar tanpa ujung.

Sang betina terkulai layu, diantara tubuhnya yang terluka disamping bangkai pejantan kecil barunya yang mulai membusuk dan rusak, betina merutuk pejantan-pejantan dari jenisnya.
Hujan mulai jatuh, airmata sang betina luruh bersama air hujan, diantara bangkai pejantan kecil dan ilalang-ilalang yang tertiup angin.


JANTAN


Sang jantan berjalan menyusuri hutan. Saat ini adalah musim kawin, waktunya bagi pejantan untuk mencari betina untuk dia kawini.Yang pejantan lakukan hanya mengikuti nalurinya pada setiap musim kawin, mengikuti harum khas yang dikeluarkan betina disetiap musim kawin, harum khas menggoda untuk mengundang para pejantan untuk membuahi mereka disetiap musim kawin.

Pejantan hanya mengikuti naluri hewaninya, nalurinya untuk membuahi di musim-musim tertentu. Tentu saja hal itu tidaklah mudah, diantara langkanya betina dari jenisnya, pejantan harus memperebutkan betina dari pejantan-pejantan dewasa lain. Yang terkuatlah yang akan menang, walaupun pada akhirnya, setelah pejantan berhasil membuahi betina, pejantanlah yang kemudian mati.

Sang jantan menemukan seekor betina yang menunggu manis diantara rangkaian kenur yang terajut sempurna. Wangi khas yang tercium dari tubuh sang betina begitu memabukan. Sang jantan menoleh ke sekeliling, Tidak ada pejantan lain yang terlihat disana. Dengan mantap, pejantan melangkahkan kakinya menyusuri sulur yang terjuntai di pepohonan, menghampiri betina.

Setelah beberapa kali betina menghindar dari rayuan sang jantan, betina yang berukuran lebih besar dari sang jantan mulai menyerah. Perlahan sang jantan menaiki tubuh betina, memeluk betina dengan kaki-kakinya yang kecil. Musim kawin kali ini sang jantan akhirnya dapat memenuhi nalurinya.
Ritual kawin terjadi sedemikian cepat. Sang jantan mengerang, kaki-kaki kecilnya kemudian mengkerut saat palpinya menyalurkan ribuan sperma ke tubuh betina. Sang jantan bergetar, menggelepar, dan kemudian terkapar diatas tubuh betina, teronggok sembari memeluk tubuh betina, meregang nyawa perlahan..perlahan..perlahan.

Sang jantan pasrah, dia tahu usianya akan berakhir pada saat ritual kawin selesai dilaksanakan. Sang jantan pasrah, dia tahu kematiaannya tak akan sia-sia karena keturunanya telah ada di tubuh betina. Sang jantan pasrah, dan menyerahkan tubuhnya untuk disantap oleh betina saat usianya berakhir.

Empat pasang mata sang jantan menatap betina yang masih berada dibawahnya, binar lembut penuh kasih terlihat disana saat menatap betina. Kemudian binar itu mulai lenyap perlahan demi perlahan, kemudian terlihat hampa..kosong..mati.

Jumat, 21 Februari 2014

Hollow

"Aku pulang.", ujarnya pelan.
"Selamat datang.", jawabnya perlahan sendiri.
Rumah ini sepi, hanya ada gelap, tanpa ada sinar lampu yang menerangi.
Dia menutup pintu perlahan, meletakkan sepatunya yang berhak tinggi di rak sepatu. Tungkai kakinya yang bagai butir padi melangkah perlahan menuju kamar tidur.
Dia menghidupkan lampu kamarnya, dan kemudian melepaskan pakaiannya satu persatu hingga telanjang. Matanya menatap kabur keatas ranjang.
Ranjang yang kosong, ranjang yang terlihat sepi, ranjang yang terlihat begitu dingin walaupun malam ini adalah malam di musim panas.
Dia menghela nafas, perlahan. Ranjang ini terlihat sedih, terlihat sepi, terlihat begitu dingin disetiap malamnya, disetiap waktu yang telah terlewati, walaupun musim panas datang dan pergi tanpa terhitung.
Rasa lelah merayap disetiap inci tubuhnya. Tubuhnya yang telanjang merayap naik ke atas ranjang. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah perlahan, menghadap kesisi ranjang yang kosong.
Bola matanya memancarkan sinar hampa, sepi, sedih.
Bibirnya kembali menggumam lembut, "Selamat tidur, sayangku..selamat tidur..".
Tangannya, jemarinya membelai sisi ranjang yang kosong, yang terasa begitu sepi, terasa begitu sedih, begitu dingin di malam musim panas ini.
Tubuhnya menggigil, kedinginan, walau malam ini udara panas menyergap di udara. Jemarinya mengamit selimut dan menutupi tubuhnya yang telanjang, lelah dan sepi.
Matanya terpejam, jemarinya kembali membelai lembut sisi ranjang yang kosong.
"Selamat tidur, sayangku..selamat tidur..", gumamnya lirih..pilu..sepi..
Dan dia tertidur dengan tubuh yang begitu letih, begitu sepi, begitu pilu.

Ranjang masih saja terlihat begitu sepi, begitu sedih di malam musim panas ini.
Ranjang masih saja terlihat begitu dingin di malam musim panas ini.

Senin, 17 Februari 2014

The City Light



Dahulu kunang-kunang berpijar terang,
menyinari alam semesta.
Sinarnya berpijar, berkerlip,
bagaikan menari, bagaikan melagu, diudara.
Dahulu, kunang-kunang berpijar terang.
Menyinari alam semesta dengan cahayanya yang lembut,
berkerlip dengan gelora, dinamis,
menari diudara.
Tapi, kini cahaya kunang-kunang meredup.
Tergantikan oleh pijar lampu kota.
Tumbuhan-tumbuhan mulai lenyap, hilang,
tergantikan oleh tumbuhan kokoh megah, tanpa nyawa.
Kunang-kunang tersingkir,
Cahayanya masih tetap sama,
Tetapi memudar,
terkalahkan oleh lampu kota yang berpijar,
terang, menyilaukan,
menggoda, merayu.
Kunang-kunang menyingkir,
membiarkan cahaya lampu kota menggantikannya.
"Biarkan", ujarnya.
"Biarkan saja.", katanya.
Kunang-kunang menyingkir,
melayang dengan cahayanya yang lembut.
Kunang-kunang menyingkir,
melayang ke lembah gelap, tetapi lebih hidup.
Kunang-kunang kembali menari,
Menari sendiri,
Hingga cahayanya meredup dan sekarat.

Kamis, 06 Februari 2014

Pernyataan

Tidak semua wanita yang dapat memberikan keturunan, bisa menjadi seorang ibu,
Tidak semua wanita yang tidak dapat memberikan keturunan, tidak bisa menjadi seorang ibu.

Senin, 03 Februari 2014

Pentagrammon




SPIRIT

Jiwamu,
Gairahmu,
Semangatmu,
Memelukku erat,
tanpa tepi.
Mengikatku lekat,
tanpa jeda.

WATER

Bagaikan air yang melegakan dahaga,
menyirami jiwa, raga.
Melunakkan kerasnya hati.
Aku, kamu,
Bagai sebuah senyawa substansi kimia.
bagaikan dua buah atom yang terikat secara kovalen,
dan melebur menjadi satu atom.
Aku, kamu,
seimbang,
dinamis,
Hidup.

FIRE

Kamu membakar (?),
Aku terbakar (?).
Aku membakar (?),
Kamu terbakar (?).
Aku, kamu,
bergejolak,
menyala,
bagai bara yang memercik,
seperti tarian yang melecut indah di udara.
Aku, kamu,
menari dalam hangatnya sebuah rasa.
Aku, kamu,
bercahaya.

EARTH

  Aku, kamu,
berdiri di kutub yang berjauhan,
berbeda,
yang terhubung pada satu poros,
satu inti,
tetapi saling tarik-menarik,
berkesinambungan.
Aku, kamu,
berpijak pada satu poros,
satu inti,
tetapi berjauhan,
tetapi saling tarik-menarik.
Hingga pada saat
Aku, kamu,
bertemu, berbenturan,
melebur,
hancur,
mati.

AIR

 Seperti elemen senyawa gas dan partikel,
yang berubah-ubah dalam setiap ketinggian.
Melawan gravitasi,
menolak untuk terjatuh.
Aku, kamu,
melayang, menuju ketinggian,
tak berbatas,
kemudian hampa.
Kamu, udara yang menyelimutiku.
Dalam terang, gelap dan juga kehampaan.

PENTAGRAM

Kamu,
lima elemen yang tergambar dalam garis,
terhubung menjadi satu.
Aku, berada di tengah,
berselimut lima elemen yang menggambarkan dirimu.
Kamu,
ada di setiap sudut,
dan aku,
terperangkap di dalamnya (?)


Jumat, 31 Januari 2014

Pameran Dua Ruang

RUANG PERTAMA


Ada sebuah ruang. Ada banyak gambar disana, ada banyak potret disana, ada banyak wajah disana, ada banyak nama disana.

Ada sebuah ruang dengan banyak potret tentang banyak wajah cantik dan seorang pria. Ada potret seorang gadis berpelukan dengan seorang pria, ada potret seorang gadis bercumbu dengan seorang pria, ada potret seorang gadis berciuman mesra dengan seorang pria, ada potret seorang gadis dengan seorang pria.
Masing-masing potret hanya ada satu gadis dengan seorang pria, masing-masing potret dengan gadis yang berbeda, tetapi hanya ada satu pria.

Ada sebuah ruang. Ada banyak gambar disana, gambar-gambar yang berisikan kata-kata cinta, kata-kata rayuan, kata-kata semu, kata-kata kosong, kata-kata yang terlihat begitu menjanjikan.
Kata-kata untuk setiap gadis yang berbeda, dari seorang pria.

Ada sebuah ruang, ruang pameran. Pameran yang berisikan sebuah percobaan yang disebut cinta, pameran yang terbuka untuk umum yang di sajikan oleh seorang pria. Pameran yang berisikan tentang cinta ( ? ) kepada gadis-gadis cantik. Satu-persatu gambar dipertontonkan disana, satu-persatu kata di buat menjadi pertunjukan disana, satu-persatu wajah dan keintiman mereka dipertontonkan disana, tanpa rasa jengah sedikitpun.

Ada sebuah ruang, sebuah ruang pameran. Orang-orang mulai berdatangan, untuk melihat, untuk memuji, untuk cemburu, untuk mengagumi, betapa cantiknya wajah-wajah tersebut. Rasa puas menggeluti pemilik pameran, rasa bangga atas potret-potret tersebut, atas wajah-wajah, keintiman, kata-kata menjanjikan, yang di pertontonkan di ruang pameran.

Ada sebuah ruang, ruang pameran, pameran tentang cinta ( ? ), tentang sejarah, tentang hal yang dia jalani sekarang. Dipertontonkan, dipamerkan di sebuah ruang, ruang pameran untuk umum.


RUANG KEDUA


Ada sebuah ruang, ruang kedua. Ada banyak gambar, ada banyak potret, ada dua wajah, ada banyak ekspresi dari seorang gadis dan seorang pria. Ada banyak cerita tergambar disana, hanya dari satu wajah, satu wanita.

Ada sebuah ruang, ruang pameran kedua. Ruang yang penuh dengan gambar, potret, cerita seorang gadis, gadis masa lampau. Ruang yang berdebu, tak tersentuh.
Ruang yang sepertinya tak untuk dikunjungi oleh umum, bahkan untuk pemilik pameran sendiri.
Ruang yang seakan tabu untuk tersentuh, dikunjungi, bahkan dipertontonkan kepada umum. Bahkan untuk pemilik pameran.

Ada sebuah ruang, ruang pameran kedua. Ruang pameran pribadi, yang hanya akan disentuh, dikunjungi, saat pemilik pameran resah dan tersiksa oleh kata 'Rindu'. Ruang pameran pribadi yang seakan selalu menghantui, bahkan saat pemilik pameran telah menutup rapat ruang pameran kedua.

Ada sebuah ruang, ruang pameran kedua. Berdebu, usang, dan tabu untuk dipertontonkan. Ruang yang bercerita tentang rasa tulus, tentang pedih, tentang luka, tentang bahagia, yang tabu untuk dipamerkan, dipertontonkan kepada khalayak ramai. Ruang yang hanya bisa di nikmati untuk diri sendiri. Ruang yang terlalu menakutkan untuk dibuka kembali. Ruang yang penuh dengan wajah seorang gadis, cerita seorang gadis, yang berdebu, usang.
Ruang dengan pintu yang tertutup rapat, jendela yang tertutup, tanpa lampu, hanya gelap...hanya gelap.

Selasa, 28 Januari 2014

Black Widow



Ku rajut kenur-ku satu persatu,
Ku rangkai utas demi seutas,
Ku rajut kenur-ku sehelai demi sehelai,
Ku rangkai indah membentuk spiral.

Ku rajut kenur-ku,
menunggu musim semi.
Ku rangkai  kenur-ku,
menunggu musim kawin.

Datanglah pejantan pada musim ini.
Datanglah pejantan, datanglah,
Biarkan Aku dan kamu merajut kenangan,
dalam rangkaian kenur.

Datanglah pejantan, datanglah,
buahi aku.
Datanglah pejantan, datanglah pada musim ini,
agar aku dapat memberikan bahagia terakhirmu.

Datanglah pejantan pada musim ini,
buahi aku.
Datanglah pejantan, datanglah,
menarilah dengan indah di hadapanku yang menunggu akhirmu.
Perlahan demi perlahan,
hingga akhir.
Dan ku nikmati jasad-mu dengan nikmat.
Tak akan kamu berpaling dariku.
Karena kamu hanya untukku,
Karena dirimu hanya untuk diriku...selamanya.



Kamis, 23 Januari 2014

Dentang

Terlihat menjauh dalam jarak yang berdekatan.

Rindu rasanya,
tetapi memang tidak untuk terucap.
Rindu rasanya,
tetapi rupanya harus diabaikan.
Rindu rasanya,
tetapi harus dilupakan.

Rabu, 22 Januari 2014

Bianglala

Berputar, bergetar, berkerlip.
Berputar, mempunyai poros, memiliki rangka.
Berputar, berada di puncak, dan kemudian kembali dibawah.
Berputar, kemudian berhenti.
Lampu-lampu mulai padam satu-persatu.
Pertunjukan telah usai.
Seperti hidup..seperti kehidupan.

Narasi

Pernah suatu waktu, dia bersandar di sebuah pelangi yang menghitam.
Rasa nyaman menguasai dirinya,
begitu tenang dan damai.
Pernah suatu waktu, dia berlindung di balik sebuah pelangi yang menghitam.
Hitam, kata mereka.
Tetapi tidak bagi dirinya.
Pernah suatu ketika, dia memeluk sebuah pelangi yang menghitam.
Hingga akhirnya pelangi itu mulai memudar,
tak lagi hitam, berubah menjadi kabut dan kemudian hilang tersapu angin.
Pernah suatu waktu, dia memiliki sebuah pelangi yang menghitam,
yang kemudian memudar, menjadi kabut dan kemudian lenyap.
Dan kini, tak ada lagi tempatnya untuk bersandar dan berlindung.
Dan kini, tak ada lagi pelangi yang menghitam di waktunya.

Rabu, 15 Januari 2014

Queen Ravenna

Malam ini sang Ratu terbangun karena memimpikan cermin.
Cermin yang sengaja dia jauhkan dari hidupnya.
Cermin yang dulu ada menemaninya,
untuk berkaca, untuk bercerita.

Malam ini sang Ratu terbangun karena memimpikan cermin.
Ada perasaan aneh yang menggelitik di lubuk hatinya.
Rindukah ? atau sepikah ?
hanya karena cermin muncul di mimpinya ?

Malam ini sang Ratu memimpikan cermin.
Hatinya yang tenang, kini mulai beriak dan berbuih tanpa henti.
Suara cermin bagaikan menggema dalam otaknya.
"HENTIKAN !!! ", ujarnya kepada dirinya sendiri.
Cermin kini sudah mempunyai tuan yang baru, bukan ?
Ini yang baik, ini yang terbaik. Karena sang Ratu tidak merasa ada kebaikan di dalam dirinya.
Cermin memang harus pergi, cermin memang harus dengan tuan yang baru.
Karena sang Ratu tahu, cermin lebih baik tanpanya.

Sihir, penyihir..tak ada kebaikan dalam diri sang Ratu.
Keberadaannya hanya akan nanti menyesatkan cermin, begitu pikirnya.
Kemudian, untuk terakhir kalinya, sang Ratu bergumam,
"Cermin..cermin..siapakah yang paling cantik di negeri ini ?
Cermin..cermin..siapakah yang paling kamu cintai di negeri ini ? "

Senin, 13 Januari 2014

Rhythm

Dalam diam aku dan kamu duduk berseberangan.
Aku tersenyum, kamu tersenyum.
Lalu sunyi kembali merambat.
Damai.

Dalam diam, aku dan kamu hanya bisa saling menatap.
Aku dan kamu menatap cangkir masing-masing.
Kemudian, sunyi masih saja hadir disini.
Tak ada suara, tak ada irama.

Dalam diam yang tidak menjadi sebuah siksaan.
Dalam diam, aku dan kamu menikmati sunyi.
Damai, menenangkan jiwa.
Dan debar jantungku seakan berirama..
berirama seperti cinta.

Aku tersenyum, kamu tersenyum.
Uap hangat dari cangkir kita saat ini,
Debar jantungku yang berirama saat ini,
Debar jantungmu yang ( mungkin juga ) ikut berirama saat ini,
membuat sunyi menjadi indah.

Kamu tersenyum, aku tersenyum.
Ini cinta..
Ini irama cinta.

Jumat, 10 Januari 2014

Benang Merah

Bahkan ditengah rintik hujan yang jatuh membasahi bumi,
kamu dan aku masih dapat merangkai sebuah notasi yang bahagia.
Bahkan ditengah hujan yang deras membasahi bumi,
kamu dan aku masih dapat merangkai melodi yang indah.

Lalu, cerita usang tentang penghianatan dari masa lalu mu luruh bersama derasnya air hujan.
Lalu, cerita usang tentang hal yang penuh kebohongan dari masa lalu ku mengabur diantara air hujan yang berjatuhan.
Masa lalu mu dan masa lalu ku mengalir bersama curah air hujan dan masuk kedalam kubangan got yang busuk.

Ditengah derasnya rintik hujan,
Aku dan kamu merangkai melodi indah.
Ditengah rintik hujan,
Aku dan kamu merangkai notasi bahagia.
Karena aku tahu, kamu pantas bagiku.
Karena kamu tahu, aku pantas bagimu.

Kamis, 09 Januari 2014

The Bee

Rembulan bersinar temaram dibalik awan kelabu. Aku terduduk sendiri menatap langit yang sedemikian luas. Andai jemariku mampu untuk menyentuh langit, mungkin awan kelabu nakal itu sudah Aku jauhkan dari rembulan malam ini.
Tetapi rupanya, begini pun rembulan tetap bersinar dengan mempesona, mempesona mataku dengan misterius. Bagaikan menyihir hatiku dengan sinarnya yang malu-malu dibalik awan kelabu.

Aku memainkan jemariku di udara, mencoba melukiskan melodi yang seketika melantun di pikirku.

Hallo Aku..
Seekor lebah yang menatap rembulan malam ini..
Seekor lebah yang memainkan sayapnya di udara..
Bagai menari malam ini..
Bagai menari menari malam ini..

Hallo Aku..
Terpesona di malam ini..
Membuat melodi jengah dalam malam yang kian larut..

Hallo Aku..
Hallo Aku..
Seekor lebah yang sedang menunggu..
Menunggu sang bunga untuk mekar..
menunggu sang bunga mekar untuk ku peluk.

Menunggu..
Menunggu..
dan menunggu..

Aku tersentak saat sinar lampu tersorot ke wajahku.
"Ah, Dia pulang..", gumamku.
Senyum mulai mengembang saat mataku menangkap sosoknya yang tegap.
Aku tahu dia pasti akan pulang,
Aku tahu dia pasti akan selalu pulang,
Disetiap hari, disetiap malam, disetiap rintik hujan, dia akan selalu pulang.
Karena itulah Aku selalu terjaga disetiap malam, untuk menyambut sosoknya.

Aku mengembangkan tanganku, memeluknya dengan erat.
"Selamat datang kembali sayangku.", ujarku mesra.

Kini sang lebah tak akan lagi sendiri..
Kini sang lebah tak lagi menari sendirian.