Rabu, 16 November 2016

Tukang Kopi dan Gadis didalam Mimpi

"Ayo kita pulang."

"Pulang kemana?"

"Kerumahku."

"Untuk apa?"

"Aku ingin mengenalkan kamu kepada orangtuaku. Aku ingin mengatakan kepada mereka, kamu adalah gadis yang ingin aku jadikan halal untukku."

Gadis dalam mimpi tertawa, "leluconmu bagus.", ujarnya.

"Kau tau, didalam agamaku berkata untuk menikah itu tidak boleh dijadikan lelucon.", ujar tukang kopi.

Gadis dalam mimpi terdiam.

"Aku punya mimpi untuk menjadikanmu pasanganku, istriku, sahabatku, ibu dari anak-anakku. Dan, aku tidak ingin itu semua hanya menjadi mimpi."

Gadis dalam mimpi menatap tukang kopi.

"Kau sadar bahwa pertemuan kita saat ini hanya mimpi?."

"Iya..."

"Kalau begitu, bangun. Lalu cari aku, temukan aku. Lalu ucapkan namaku dan kata-katamu tadi dihadapanku."

"Apakah aku boleh mengucapkan namamu saat ini?"

"Ucapkanlah..", ujar gadis dalam mimpi tersenyum.

Tukang kopi menatap wajah gadis dalam mimpi. Jemarinya membelai lembut rambut gadis perlahan.

"Kau...gadisku.".

Maya

Dekat tetapi jauh.
Terlihat, tetapi tak dapat disentuh.
Menatap, mendengar, tapi ada jarak.
Aku suka kamu diam-diam, walau kita tak pernah berjumpa dalam nyata.

Minggu, 18 September 2016

Gadis yang tidak akan pernah kembali

Lepaskan, ikhlaskan, karena dia tidak akan kembali.
Lepaskan, ikhlaskan, karena dia hanya butuh sendiri.
Lepaskan, ikhlaskan, karena dia bahagia dengan kesendiriannya.
Lepaskan, ikhlaskan, dia tidak akan pernah (lagi) untuk merindu.
Hidupnya lepas untuknya,
Hidupnya bebas baginya,
Dalam sendirinya.

Dahulu dan Kini

Dahulu gadis selalu membuka pintu saat kamu mengetuk.
Dahulu gadis gemar berceloteh kepadamu.
Itu dahulu.
Kini gadis mengunci pintunya, tak gadis buka walaupun ada seseorang yang mengetuk.
Kini gadis hanya hening, dikeramaian, didepanmu.
Itu kini.

Rabu, 03 Agustus 2016

Bising

Rindu berbincang dengan bulan dan bintang.
Hanya secangkir kopi dan sebatang rokok menjadi teman.
Aku rindu menikmati senyap.

Rabu, 01 Juni 2016

Rindu, Sepi

Kamu, duduk disana. Bercengkrama, bercerita, tertawa, disana.
Raut wajahmu masih tetap sama, bahagia. Binar matamu masih tetap sama, indah.
Tak ada yang berubah bukan, sayang?
Keceriaan yang ku rindukan, celotehanmu yang kurindukan, binar matamu yang ku rindukan.
Tak ada yang berubah bukan, sayang?

Dulu, aku jatuh hati pertama kali karena binar matamu. Sepasang bola mata hitam kelam yang selalu berbinar indah saat aku menatapmu, bahkan saat aku mencuri pandang kearahmu.
Tak ada yang berubah bukan, sayang?
Saat ini pun, aku masih tetap memandangmu dari kejauhan.
Tak ada yang berubah.
Kamu masih saja dapat tersenyum manis, kamu masih saja dapat berceloteh dengan riang, kamu masih saja dapat tertawa bahagia, disana. Tanpa aku.

Tak ada yang berubah bukan sayang untukmu?!

Yang berubah hanyalah hidupku.
Aku rindu bercengkrama denganmu.
Aku rindu bercerita denganmu.
Aku rindu tertawa bersamamu,
Aku rindu menatap kedua bola matamu yang hitam kelam.
Aku rindu aroma tubuhmu yang harum walau tanpa minyak wangi.
Aku rindu caramu menyibakan rambutmu yang jatuh saat kamu tertawa.

Tak ada yang berubah bukan sayang untukmu?!
Yang berubah hanya hidupku, sepi.

Rabu, 04 Mei 2016

Fireworks

Malam hari.
Tetapi masih saja terlihat cahaya lampu yang berkerlip bagai menari. Aku terpaku menatap langit dengan rembulan yang sedang tersenyum penuh.
Indah,
Ini indah.

Suara nyaring mendengung dengan kencang. Seperti irama musik yang memacu adrenalinku, yang berpacu dengan irama jantungku.
Ah...semua melodi ini, begitu bergelora. Menyentakkan adrenalinku yang mencapai klimaks.

"Sebentar lagi. Yah, sebentar lagi.", ujarku.

Kereta menjelang, aku kembali terpesona. Keindahan yang tersaji didepan mataku begitu mempesona.
Kembang api..
Kembang api manusia..
Kemudian adrenalinku mencapai klimaks.
Euforia yang sempurna.

Rabu, 27 April 2016

294 Hari

"Aku ingin kita hanya menjadi teman saja."

Tukang kopi tertegun, menatap wajah gadis kopi dengan tatapan sendu.

"Berapa hari kita bersama semenjak perkenalan kita?"

"Dua ratus sembilan puluh empat hari.", ujar tukang kopi pilu.

"Dua ratus sembilan puluh empat hari, aku bahagia. Bahagia, rindu, menangis bersamamu. Terima kasih atas dua ratus sembilan puluh empat hari yang kita lalui bersama.", ujar gadis kopi lirih.

"Aku tak ingin membebanimu."

"Aku tahu. Hanya saja aku sudah tidak sanggup lagi berada disampingmu."

Tukang kopi menatap wajah gadis kopi.
Matanya yang sendu, hidungnya yang mungil, bibirnya yang pucat, pipinya yang tak berseri seperti dahulu awal mereka berjumpa.
Jemari tukang kopi menyentuh wajah gadis kopi.
Dahi, mata, hidung, pipi, bibir, dagu.

Mata dan pipi gadis kopi basah oleh airmata.
Mata tukang kopi berbinar luka.

Gadis kopi menghapus airmatanya, kemudian tersenyum.

"Maafkan aku. Harusnya hari ini tak ada airmata. Harusnya hari ini, kita lewati dengan senyum. seperti hari-hari sebelumnya yang kita lewati berjalan bergandengan tangan dan bercanda berdua."

"Maaf, aku tak dapat tersenyum saat ini.", ujar tukang kopi lirih.

Gadis kopi terhenyuh, airmatanya seakan mengkhianati keinginannya untuk tidak menangis.

Diujung jalan, gadis kopi memeluk tukang kopi yang hanya diam, tak membalas pelukannya.
Gadis kopi berlalu, memacu mobilnya, kembali pulang.

**

Tukang kopi menatap setiap kenangan tentang gadis kopi. Wajah-wajah bahagia mereka yang terekam dalam potret.

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap


Lagu Payung Teduh - Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan melantun menggema dalam kamar. Tukang kopi masih memandang wajah-wajah bahagia dalam potret.

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana


 Tukang kopi meraih telepon selularnya,

'Aku sangat menyayangimu.
Jangan lupakan Aku..'

Tukang kopi menangis, hatinya terluka.

Jumat, 04 Maret 2016

Jarak dan Waktu

241 hari, waktu yang terhitung. Ada senyum, tertawa, sedih, kesal, anehnya membuat 241 hari pemuda bahagia.
Pemuda tersenyum menatap gadisnya. Gadis yang entah sejak kapan menghiasi harinya. Gadis yang entah sejak kapan mampu meruntuhkan egonya. Gadis yang entah sejak kapan menetap dihatinya. Gadisnya yang sangat egois dan keras kepala, tetapi mampu membuatnya jatuh hati berulang kali.
Pemuda mengecup kening gadisnya dengan lembut.
"Ayo pulang, sudah larut malam.", ujar gadisnya.
Pemuda tertegun. Hanya saat seperti ini pemuda membenci waktu. Waktu yang selalu cepat berlalu saat bersama gadisnya.
Pemuda memeluk gadisnya dengan erat.
Berat.
Waktu, hanya beberapa jam yang pemuda dapat habiskan untuk bertemu dengan gadisnya dalam seminggu.
Jarak, terkadang tidak dapat ditepis saat pemuda menghabiskan waktunya untuk bekerja, gadisnya menghabiskan harinya dengan bekerja.
Dan saat ini waktu dan jarak masih terbentang dengan sangat jelas.
Pemuda mengirup aroma tubuh gadisnya, harum, kemudian melepaskan pelukannya.
Gadisnya tersenyum.
"Ayo kita pulang.", ujar gadisnya kembali.
Pemuda dan gadis berjalan bergandengan menyusuri jalan yang masih riuh dengan orang yang berlalu lalang. Gadis membuka pintu mobilnya perlahan, pemuda menatap gadis lekat, kemudian pemuda naik ke atas motornya.
Mobil dan motor berjalan beriringan perlahan, dan kemudian terpisah oleh jalur yang berlawanan.
Pemuda dan gadis, pulang kerumah masing-masing.
**
"Ayo kita menikah."
"Menikah?"
"Iya, aku ingin tidur dan bangunku bersamamu. Aku ingin menghilangkan jarak denganmu. Aku ingin memperbanyak waktuku denganmu. Aku ingin kamu menjadi istriku."
Gadis menatap pemuda, menyentuh pipi pemuda dengan jemarinya, kemudian tersenyum lembut.
Pemuda menatap wajah gadisnya, menunggu jawaban. Gadis hanya tersenyum, tak ada jawaban.
Malam ini, hari ke 242 semenjak perkenalan mereka. Pemuda jatuh hati, tetapi hati gadisnya masih rahasia.