Suatu
waktu dia datang membawa secangkir kopi hitam panas untuk disesap sembari
berbincang disetiap malam.
“Tak
perlu gula.”, ujarnya.
“Lebih
nikmat tanpa gula.”, ujarku.
Dan
perbincangan mengalir begitu saja tanpa sanggup untuk terhenti.
Satu
jam, dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam, enam jam, tujuh jam, delapan jam,
Sembilan jam, dan kemudian sunyi.
Cangkir
kopi telah kosong, pagi telah tiba, dia sunyi, aku senyap. Yang terdengar
hanyalah suara manusia lain yang memulai aktivitas pagi.
Suatu
waktu dia datang membawa secangkir kopi hitam panas untuk dinikmati sembari
berbincang disetiap malam.
“Tanpa
gula.”, ujarnya tersenyum.
“Favoritku.”,
aku tersenyum.
Dan
perbincangan kembali mengalir, hanya saja malam ini lebih beritme.
“Kunyanyikan
sebuah lagu, agar kamu tertidur.”, ujarnya.
Suaranya
mengalun manis diantara alunan gitar yang lembut, aku tersenyum, memejamkan
mata, kemudian senyap.
Lima
puluh sembilan menit, tiga puluh lima detik, aku terbangun, dia sunyi. Hanya
dengkuran halusnya yang terdengar. Aku meneguk kopi yang telah dingin dari
cangkir. Suara cangkir berdenting saat aku letakan diatas meja kaca. Dia
terbangun.
“Tidurlah
kembali.”, ujarku.
“Berdongenglah
hingga aku terlelap.”, ujarnya.
Dan
aku pun berdongeng lembut ditelinganya. Membuai malamnya dengan manis, diantara
cangkir kopi yang telah dingin saat ini. Lima belas menit berlalu, dia kembali
sunyi, suara nafasnya terdengar halus dan teratur malam ini, dan aku masih
tetap berdongeng untuknya hingga pagi datang, dan kemudian aku senyap.
Suatu
waktu dia datang lagi membawa secangkir kopi hitam panas untuk diminum sembari
berbincang disetiap malam.
“Favoritmu.”,
ujarnya tersenyum.
“Selalu.”,
ujarku tersenyum.
Dan
malam ini perbincangan terasa berbeda. Ada rasa yang seakan menjadi candu
melebihi secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Rasanya nyaman yang melekat,
bahkan saat perbincangan menjadi sunyi.
“Suaramu…menenangkan.”,
ujarku.
“Begitupun
kamu.”, ujarnya.
Malam
ini memang berbeda, perbincangan mengalir begitu saja, cangkir kopi masih penuh
tanpa sempat untuk disesap, walaupun saat dia sunyi, bahkan saat aku senyap,
cangkir kopi tak tersentuh dan mulai dingin.
Suatu
waktu dia tak lagi datang. Tak ada lagi secangkir kopi hitam panas tanpa gula .
Tak ada lagi perbincangan dari malam hingga pagi menjelang. Tak ada lagi sunyi
senyap yang menenangkan.
**
Secangkir
kopi hitam panas tanpa gula, dua cangkir kopi hitam panas tanpa gula, tiga
cangkir kopi hitam panas tanpa gula, empat cangkir kopi hitam panas tanpa gula,
lima cangkir kopi hitam panas tanpa gula, enam cangkir kopi hitam panas tanpa
gula, tujuh cangkir kopi hitam panas tanpa gula, dan sang gadis terhenti di
delapan cangkir kopi hitam panas tanpa gula. Itulah yang yang terjadi disela
aktivitasnya setiap hari. Entah kenapa tak pernah ada cangkir kesembilan
untuknya, walaupun dia menginginkan cangkir kesembilan untuk dia sesap.
Waktu
berlalu sedemikian cepat, setahun, dua tahun, delapan cangkir kopi hitam panas
tanpa gula masih menemani aktivitas sang gadis tanpa jemu disetiap hari.
Cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula bagaikan candu yang meresap
disetiap pembuluh darahnya. Sepertinya tanpa mereka, dia tak sanggup menjalani
harinya. Suara cangkir kopi yang berdenting, harum kopi hitam panas yang khas
bagaikan melodi sempurna yang menenangkan, bahkan dihari yang riuh dan
melelahkan, cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula bersenandung kepadanya,
menenangkan. Candu, seperti sebuah candu.
Suatu
waktu sang pemuda datang kembali tanpa secangkir kopi hitam panas tanpa gula
ditangannya.
“Tak
ada kopi malam ini.”, ujarnya.
Sang gadis hanya sunyi, kemudian berlalu tanpa
suara.
**
Secangkir
kopi hitam panas tanpa gula, dan beberapa cangkir kopi hitam panas tanpa gula
untuk sang pemuda. Tak terhitung berapa cangkir kopi hitam panas tanpa gula
yang dia nikmati disetiap harinya. Tubuhnya selalu bergerak untuk menginginkan
cangkir kopi hitam panas tanpa gula, hanya untuk menenangkan harinya,
menenangkan malamnya yang gelisah.
“Favoritku…”,
gumamnya sembari menyesap cangkir kopi hitam panasnya.
Dia
tak ingin berhitung tentang cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula yang
dia sesap disetiap harinya, berhitung hanya membuat dirinya kembali gelisah,
berhitung tidak akan menenangkan dirinya disetiap hari yang riuh dan biasa.
Berhitung hanya akan membuatnya kembali datang kedalam waktu yang terasa
bagaikan mimpi yang tak bisa dia gapai. Berhitung itu melelahkan.
Setahun,
dua tahun berlalu sedemikian cepat. Tak terhitung berapa cangkir kopi panas
yang dia sesap disetiap harinya, hingga tanpa dia sadari, dirinya menghitung
cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula. Dirinya mencoba menghadirkan
kembali mimpi yang tak dapat dia gapai dulu.
“Tak
ada kopi malam ini.”, ujarnya kepada sang gadis.
Sang gadis hanya sunyi, memandangnya dengan
tatapan yang membuatnya kian gelisah, kemudian berlalu tanpa suara. Sang pemuda
terdiam, tak ada perbincangan hingga pagi menjelang malam ini, tak ada yang
menenangkan malam ini, tak ada suara denting cangkir kopi malam ini seperti dua
tahun lalu. Hanya sunyi dan senyap malam ini.
**
Satu
tahun, dua tahun, tiga tahun berlalu, kini cangkir-cangkir kopi hitam panas
tanpa gula tak lagi menjadi candu bagi sang gadis. Sang gadis membebaskan
dirinya dari candu cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula.
“Cukup
secangkir dua cangkir kopi hitam panas tanpa gula disetiap minggu.”, gumamnya.
Satu
tahun, dua tahun, tiga tahun sudah berlalu, cangkir-cangkir kopi hitam panas
tanpa gula masih saja menemani hari sang pemuda. Cangkir-cangkir kopi hitam
panas tanpa gula yang tak ingin lagi dia hitung.
“Berhitung
itu melelahkan.”, ujarnya.
Satu
tahun, dua tahun, tiga tahun terlewati. Cangkir-cangkir kopi kembali berdenting
lembut. Sang pemuda datang kembali, tetapi dengan cangkir kopi yang kosong.
“Apa
kamu ingin secangkir kopi?”, Tanya sang pemuda.
“Hanya
secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Hanya secangkir kecil saja.”, jawab sang
gadis.
Sang
pemuda mengisi cangkir-cangkir dengan kopi hitam panas tanpa gula. Satu
untuknya, satu untuk sang gadis, dan kemudian mereka berbincang, seakan jeda
perbincangan mereka selama 5 tahun tidak pernah terjadi. Mereka hanya
berbincang hingga sunyi dan senyap datang.
Lagu
Simons Adam mengalun lembut malam ini.
Far
away,
Far
away from where we were
Each
of us were hiding
For
so long
Sang
gadis dan sang pemuda kembali berbincang hangat. Berbincang tentang hari-hari
mereka, berbincang tentang waktu yang terlupa, berbincang tentang hidup.
“Kamu
masih tetap membuatku merasa nyaman.”, ujar sang pemuda.
“Kamu
pun masih tetap begitu.”, ujar sang gadis.
If
I told what I could not say,
If
I showed all and let you in,
“Dan
aku takut.”, gumam sang pemuda.
“Takut?”,
tanya sang gadis.
“Aku
takut jatuh hati. Seperti dulu, aku jatuh hati kepadamu.”, jawab sang pemuda.
Sang
gadis tersenyum jengah.
“Kamu
seperti mimpi...yang ingin aku raih tapi tanganku tak mampu menggapaimu.”,
gumam sang pemuda, pelan, nyaris tak terdengar.
Sang
pemuda ikut membisu.
When
well end up being more than friends
Well
go hand in hand
Til
you understand
Here
I am
Malam
kian larut. Sang gadis sunyi, sang pemuda senyap. Tak ada denting cangkir-cangkir
kopi lagi. Hanya sunyi dan senyap.
Hari-hari
sang gadis kembali riuh dan biasa. Tak ada lagi cangkir-cangkir kopi hitam yang
berdenting, tak ada lagi perbincangan hangat disetiap malam, tak ada lagi
suara-suara nyaman yang menyelimuti jiwanya dengan hangat. Tak ada lagi sang
pemuda.
Hari-hari
sang pemuda kembali riuh dan biasa. Tak
ada lagi cangkir-cangkir kopi hitam yang berdenting, tak ada lagi perbincangan
hangat disetiap malam, tak ada lagi suara yang membalut dirinya dengan nyaman. Tak
ada lagi sang gadis.
Far
way
Far
away from where we were
Dan cangkir-cangkir kopi hitam panas tak pernah
lagi berdenting lembut.