Malam ini hujan turun,
Langit terlihat kelabu,
Tanpa rembulan..
Tanpa bintang.
Mari kita bersenandung,
bersenandung sebuah lagu,
lagu yang menyayat hati
lagu yang sepi.
Malam ini hujan turun.
Tak ada rembulan, tak ada bintang.
Biarkan saja senandung sedih itu.
Biarkan saja airmata itu terjatuh.
Tak usah kau hapus.
Biarkan saja airmata itu terjatuh..
hanya untuk malam ini..
hanya untuk malam ini saja.
Sabtu, 28 September 2013
Rabu, 25 September 2013
Kupu Kupu Kecil
Satu Dua Tiga..
Datanglah seekor kupu-kupu kecil
datang dengan terbang mengepakkan sayapnya.
Sayapnya yang indah namun beracun.
Satu Dua Tiga..
Datanglah seekor kupu-kupu kecil.
datang dan kemudian hinggap di sekuntum bunga.
Bunga yang penuh dengan serbuk sari yang matang.
Satu Dua Tiga..
Datanglah seekor kupu-kupu kecil.
Datang dan kemudian menghisap sari-sari bunga..
Bunga yang penuh dengan serbuk sari yang matang.
Satu Dua Tiga..
Datanglah seekor kupu-kupu kecil.
Datang dan merampas bunga dari seekor lebah.
dan kemudian menghisap dengan rakus serbuk sari yang ada.
Satu Dua Tiga..
Datanglah seorang pelacur kecil..
Ah..maaf, seekor kupu-kupu kecil maksudku..
seekor kupu-kupu kecil maksudku.
Senin, 23 September 2013
Bangsawan
"Aku berdarah biru.", ucapnya dengan nada angkuh.
"Tolong ambilkan Aku pisau, biar Aku torehkan ditanganmu. Aku ingin tahu, apakah darahmu benar-benar berwarna biru.", jawabku dengan malas.
Dia menatapku dengan pandangan meremehkan, seakan-akan Aku adalah makhluk bodoh yang tidak mengerti akan maksud dari ucapannya. Senyumnya mengembang tipis, sinis. kemudian berkata,
"Aku bangsawan, bukan darahku yang benar-benar berwarna biru."
"Lalu, apa istimewanya menjadi bangsawan. Toh kamu tetaplah kamu.", jawabku.
"Tentu saja ini istimewa. Keluargaku dielu-elukan oleh masyarakat. Garis keturunanku istimewa, begitu istimewa, berharga. tidak seperti kalian, hanya kaum rakyat jelata.", ujarnya angkuh, sombong, meremehkan.
Aku memandangnya dengan tatapan heran, tatapan heran yang kemudian berubah menjadi rasa kasihan.
"Tak ada yang istimewa. Toh darahmu tetap saja merah. Toh kebangsawananmu tak akan menyelamatkan kamu dari kematian, penyakit, kesedihan, luka dan juga dosa. Lalu, untuk apa kamu banggakan?! Hanya karena segelintir orang mengelu-elukan keluargamu? Kebangsawananmu juga tidak akan membuatmu pintar tanpa belajar, tidak akan kamu bawa sampai mati."
Terlihat raut wajahnya merasa terhina.
"Aku tak akan menilai kamu dari status kebangsawananmu. Toh Aku bukan seorang penjilat. Aku menilai dirimu dari dirimu sendiri, dari pola pikirmu, dari karaktermu."
"Kamu hanya iri, karena Aku istimewa, karena Aku lebih tinggi darimu.", ujarnya kasar.
"Apa yang harus membuat Aku iri ? Toh kita masih sama-sama memakan nasi, kamu tidak memakan emas bukan ?! Bahkan pendidikanku jauh lebih tinggi dari dirimu. Apa gunanya Aku iri dengan hal seperti itu ? Ras, suku, warna kulit, status, kekayaan, tak akan membuatku iri. Aku tak ingin menjadi orang picik yang hanya melihat manusia dengan golongan-golongan tertentu. Coba lihat Aku, Aku pribumi, walaupun wajahku tidak terlihat seperti orang pribumi. Keluargaku multikultur, bercampur pula diantara agama yang berbeda. Bahkan kalau mau jujur, Ayahku pun seorang bangsawan. Aku bangga dengan itu ? Tidak, Aku tidak bangga. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Aku hanya akan membanggakan apa yang Aku raih sendiri, apa yang Aku usahakan sendiri, bukan berdasarkan status, harta, ras, bangsa ataupun suku. Aku bangga karena Aku sendiri.", ujarku.
Wajahnya memerah menahan marah bercampur rasa malu, kemudian dia berlalu pergi.
Ah, manusia itu lucu bukan, tetapi manusia juga merupakan makhluk yang menarik.
Aku menggelengkan kepalaku dan kembali sibuk dengan secangkir teh hangat yang perlahan-lahan mulai dingin.
Yah, manusia itu makhluk yang lucu, tetapi juga sangat menarik.
"Tolong ambilkan Aku pisau, biar Aku torehkan ditanganmu. Aku ingin tahu, apakah darahmu benar-benar berwarna biru.", jawabku dengan malas.
Dia menatapku dengan pandangan meremehkan, seakan-akan Aku adalah makhluk bodoh yang tidak mengerti akan maksud dari ucapannya. Senyumnya mengembang tipis, sinis. kemudian berkata,
"Aku bangsawan, bukan darahku yang benar-benar berwarna biru."
"Lalu, apa istimewanya menjadi bangsawan. Toh kamu tetaplah kamu.", jawabku.
"Tentu saja ini istimewa. Keluargaku dielu-elukan oleh masyarakat. Garis keturunanku istimewa, begitu istimewa, berharga. tidak seperti kalian, hanya kaum rakyat jelata.", ujarnya angkuh, sombong, meremehkan.
Aku memandangnya dengan tatapan heran, tatapan heran yang kemudian berubah menjadi rasa kasihan.
"Tak ada yang istimewa. Toh darahmu tetap saja merah. Toh kebangsawananmu tak akan menyelamatkan kamu dari kematian, penyakit, kesedihan, luka dan juga dosa. Lalu, untuk apa kamu banggakan?! Hanya karena segelintir orang mengelu-elukan keluargamu? Kebangsawananmu juga tidak akan membuatmu pintar tanpa belajar, tidak akan kamu bawa sampai mati."
Terlihat raut wajahnya merasa terhina.
"Aku tak akan menilai kamu dari status kebangsawananmu. Toh Aku bukan seorang penjilat. Aku menilai dirimu dari dirimu sendiri, dari pola pikirmu, dari karaktermu."
"Kamu hanya iri, karena Aku istimewa, karena Aku lebih tinggi darimu.", ujarnya kasar.
"Apa yang harus membuat Aku iri ? Toh kita masih sama-sama memakan nasi, kamu tidak memakan emas bukan ?! Bahkan pendidikanku jauh lebih tinggi dari dirimu. Apa gunanya Aku iri dengan hal seperti itu ? Ras, suku, warna kulit, status, kekayaan, tak akan membuatku iri. Aku tak ingin menjadi orang picik yang hanya melihat manusia dengan golongan-golongan tertentu. Coba lihat Aku, Aku pribumi, walaupun wajahku tidak terlihat seperti orang pribumi. Keluargaku multikultur, bercampur pula diantara agama yang berbeda. Bahkan kalau mau jujur, Ayahku pun seorang bangsawan. Aku bangga dengan itu ? Tidak, Aku tidak bangga. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Aku hanya akan membanggakan apa yang Aku raih sendiri, apa yang Aku usahakan sendiri, bukan berdasarkan status, harta, ras, bangsa ataupun suku. Aku bangga karena Aku sendiri.", ujarku.
Wajahnya memerah menahan marah bercampur rasa malu, kemudian dia berlalu pergi.
Ah, manusia itu lucu bukan, tetapi manusia juga merupakan makhluk yang menarik.
Aku menggelengkan kepalaku dan kembali sibuk dengan secangkir teh hangat yang perlahan-lahan mulai dingin.
Yah, manusia itu makhluk yang lucu, tetapi juga sangat menarik.
Sabtu, 21 September 2013
Hal yang Seharusnya Tidak Dilakukan.
Jangan jual dirimu dalam nama cinta.Jangan jajakan tubuhmu diatas nama cinta.Jangan bodohi nuranimu karena sesuatu yang bernama cinta.
Tabu
Hal yang menyangkut anatomi khusus dalam tubuh dianggap menjadi tabu.
Penggunaan kata spesifik terhadap anatomi tubuh pun juga dianggap tabu, asusila, untuk diucap, ditulis maupun didengar.
Padahal apa yang salah dengan kata "Penis", "Vagina", "Sperma" serta "Ovum"??
Penggunaan kosakata itu, sesuai dalam konteks biologi atau kedokteran. Bukan penggunan kosakata yang berkonteks secara kasar.
Apa mungkin karena dalam banyak masyarakat, organ ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka ? Sehingga walaupun dijabarkan dalam kosakata yang teratur, kosakata yang baik, kata-kata tersebut tetap dianggap vulgar, dan tetap tabu untuk ditulis, diucapkan dan dengar.
Penggunaan kata spesifik terhadap anatomi tubuh pun juga dianggap tabu, asusila, untuk diucap, ditulis maupun didengar.
Padahal apa yang salah dengan kata "Penis", "Vagina", "Sperma" serta "Ovum"??
Penggunaan kosakata itu, sesuai dalam konteks biologi atau kedokteran. Bukan penggunan kosakata yang berkonteks secara kasar.
Apa mungkin karena dalam banyak masyarakat, organ ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka ? Sehingga walaupun dijabarkan dalam kosakata yang teratur, kosakata yang baik, kata-kata tersebut tetap dianggap vulgar, dan tetap tabu untuk ditulis, diucapkan dan dengar.
Jumat, 20 September 2013
Pertanyaan
Sebuah usaha untuk menjalani hidup yang baru ?
Atau sebuah usaha untuk bunuh diri secara perlahan ?
Sebuah usaha untuk meneruskan keturunan dan hidup ?
Atau sebuah usaha untuk mencoba melihat sebuah neraka dunia yang membunuh perlahan ?
Ice Cream
Ada dua piring ice cream di meja,
manakah yang ingin kamu pilih?
Ada dua piring ice cream di meja,
manakah yang kamu ingin?
Rasanya sama, hanya saja bentuknya berbeda.
Ada dua piring ice cream di meja.
Satu untukmu, dan satu lagi untukku.
Manakah yang kamu pilih, manakah yang kamu ingin?
Rabu, 18 September 2013
Ini Bukan Cinta
Mungkin ini bukan cinta..
Mungkin ini semua memang semu..
anggap saja ini hina..
anggap juga ini beku..
Racunmu memuai dalam nadiku..
Membuaiku dalam ketiadaan..
Kehampaan yang kaku..
Kesepian yang tak bertepi..
Lalu saat kerinduan mulai memberondong jiwaku kedalam jurang kenistaan..
Kemana Aku harus berlari menyelamatkan diri?
Kamu pergi..
Pergi bersama mimpi..
Kamu berkata ini cinta..
Aku katakan itu dusta..
Kamu berkata ini bahagia..
Aku katakan itu nestapa..
Tak bisakah kita menyatu?
Dalam setiap debaran yang terlewati..
Dalam setiap asa yang berlari..
Dalam setiap gairah yang membakar kita waktu itu?!
Lupakan semua emosi..
Lupakan semua ego..
Lupakan semua pertengkaran..
Lupakanlah semua tetes airmata yang jatuh saat engkau dan Aku mulai saling menyakiti..
Aku dan kamu..
Bercinta dalam ketiadaan..
Saat tubuhmu dan tubuhku menyatu dalam gelora..
Semuanya menghilang..
Hangus..
Kamu dan Aku..
Tak ada lagi tentang Kamu dan Aku..
Semua hanya tentang Kamu..
Semua hanya tentang Aku..
Dan kini..
Semua memudar..
Meninggalkan jelaga hitam..
Sehitam dirimu..
Sehitam diriku..
Repost from blackpearlandshadow 11 february 2012
Mungkin ini semua memang semu..
anggap saja ini hina..
anggap juga ini beku..
Racunmu memuai dalam nadiku..
Membuaiku dalam ketiadaan..
Kehampaan yang kaku..
Kesepian yang tak bertepi..
Lalu saat kerinduan mulai memberondong jiwaku kedalam jurang kenistaan..
Kemana Aku harus berlari menyelamatkan diri?
Kamu pergi..
Pergi bersama mimpi..
Kamu berkata ini cinta..
Aku katakan itu dusta..
Kamu berkata ini bahagia..
Aku katakan itu nestapa..
Tak bisakah kita menyatu?
Dalam setiap debaran yang terlewati..
Dalam setiap asa yang berlari..
Dalam setiap gairah yang membakar kita waktu itu?!
Lupakan semua emosi..
Lupakan semua ego..
Lupakan semua pertengkaran..
Lupakanlah semua tetes airmata yang jatuh saat engkau dan Aku mulai saling menyakiti..
Aku dan kamu..
Bercinta dalam ketiadaan..
Saat tubuhmu dan tubuhku menyatu dalam gelora..
Semuanya menghilang..
Hangus..
Kamu dan Aku..
Tak ada lagi tentang Kamu dan Aku..
Semua hanya tentang Kamu..
Semua hanya tentang Aku..
Dan kini..
Semua memudar..
Meninggalkan jelaga hitam..
Sehitam dirimu..
Sehitam diriku..
Repost from blackpearlandshadow 11 february 2012
Genitals
Sentuhlah kelaminmu sendiri,
berkali-kali,
berulang kali,
hingga kamu puas.
Sentuhlah klitorismu sendiri,
dengan jemarimu,
gunakan tanganmu,
berulang kali, hingga kamu puas.
Lalu, kamu berfikir,
"Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan sebuah alat kelamin?
Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan klitoris?
Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan adanya nafsu?"
Menemukan jawabannya kah kamu?
Pria dan wanita,
Penis dan vagina,
Sperma dan ovum,
Menyatu, besetubuh..bersenggama.
Sebuah ritual yang suci, yang melahirkan jiwa- jiwa baru.
Ritual suci ( yang harusnya ) dilakukan dengan pasangan ( yang terikat dalam pernikahan ).
Jika tidak mampu menjadikan semua itu halal, JANGAN BERSENGGAMA !
berkali-kali,
berulang kali,
hingga kamu puas.
Sentuhlah klitorismu sendiri,
dengan jemarimu,
gunakan tanganmu,
berulang kali, hingga kamu puas.
Lalu, kamu berfikir,
"Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan sebuah alat kelamin?
Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan klitoris?
Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan adanya nafsu?"
Menemukan jawabannya kah kamu?
Pria dan wanita,
Penis dan vagina,
Sperma dan ovum,
Menyatu, besetubuh..bersenggama.
Sebuah ritual yang suci, yang melahirkan jiwa- jiwa baru.
Ritual suci ( yang harusnya ) dilakukan dengan pasangan ( yang terikat dalam pernikahan ).
Jika tidak mampu menjadikan semua itu halal, JANGAN BERSENGGAMA !
Selasa, 17 September 2013
The Sweetest Goodbye
Ayo kita berjalan sebentar saja,
hanya untuk menikmati malam,
sembari menenangkan hati yang seakan berdebar tidak menentu.
Menenangkan kegelisahan yang bergema dalam hati.
Ayo kita berjalan sebentar saja,
Tak usah kamu genggam erat jemariku,
Tak usah kamu berjalan berdampingan denganku,
walaupun Aku mengharapkan hal itu.
Ayo kita berjalan sebentar saja.
menikmati rembulan yang bersinar penuh,
Menyinari bumi malam ini,
Rembulan yang seakan melayang mengiringi langkah kita.
Ayo kita duduk disini sebentar saja,
hanya berdua.
Menikmati malam yang berlalu syahdu.
Diantara temaramnya sinar rembulan yang mengintip malu-malu.
Ayo kita duduk disini sebentar saja,
hanya kita berdua,
saling menatap satu dengan yang lain.
Seakan mencoba merenung akan kita berdua.
Ayo kita duduk disini,
hanya sebentar, hanya berdua.
Mencoba mengingat kembali semua alasan untuk mencintai,
untuk terus bersama.
Aku tersenyum, kamu pun menyambut senyumku.
Kita berdua bagaikan sebuah lukisan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta,
diantara sinar rembulan dan dua cangkir kopi,
romantis..syahdu.
Sebuah pelukan,
terasa seperti saat pertama cinta itu berbunga.
Aku dan kamu saling menatap,
tatapan dengan beribu makna.
"Terima Kasih..."
Hanya kata itu yang mampu terucap.
Dan kemudian kita berdua berlalu,
berjalan terpisah.
Tak ada lagi jemari yang dapat Aku genggam,
Tak ada lagi senyum yang dapat menghangatkan hatiku,
Tak ada lagi..kamu..
Dan hujan pun mulai turun,
seakan rembulan mengintip isi hatiku yang sepi.
sepi tanpa adanya dirimu lagi.
hanya untuk menikmati malam,
sembari menenangkan hati yang seakan berdebar tidak menentu.
Menenangkan kegelisahan yang bergema dalam hati.
Ayo kita berjalan sebentar saja,
Tak usah kamu genggam erat jemariku,
Tak usah kamu berjalan berdampingan denganku,
walaupun Aku mengharapkan hal itu.
Ayo kita berjalan sebentar saja.
menikmati rembulan yang bersinar penuh,
Menyinari bumi malam ini,
Rembulan yang seakan melayang mengiringi langkah kita.
Ayo kita duduk disini sebentar saja,
hanya berdua.
Menikmati malam yang berlalu syahdu.
Diantara temaramnya sinar rembulan yang mengintip malu-malu.
Ayo kita duduk disini sebentar saja,
hanya kita berdua,
saling menatap satu dengan yang lain.
Seakan mencoba merenung akan kita berdua.
Ayo kita duduk disini,
hanya sebentar, hanya berdua.
Mencoba mengingat kembali semua alasan untuk mencintai,
untuk terus bersama.
Aku tersenyum, kamu pun menyambut senyumku.
Kita berdua bagaikan sebuah lukisan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta,
diantara sinar rembulan dan dua cangkir kopi,
romantis..syahdu.
Sebuah pelukan,
terasa seperti saat pertama cinta itu berbunga.
Aku dan kamu saling menatap,
tatapan dengan beribu makna.
"Terima Kasih..."
Hanya kata itu yang mampu terucap.
Dan kemudian kita berdua berlalu,
berjalan terpisah.
Tak ada lagi jemari yang dapat Aku genggam,
Tak ada lagi senyum yang dapat menghangatkan hatiku,
Tak ada lagi..kamu..
Dan hujan pun mulai turun,
seakan rembulan mengintip isi hatiku yang sepi.
sepi tanpa adanya dirimu lagi.
Seduction
Dia melucuti pakaiannya satu persatu,
Dia menunjukkan kulitnya yang kecoklatan indah sedikit demi sedikit,
Dia memperlihatkan tubuhnya yang telanjang perlahan demi perlahan.
Tetapi dia berkata, "Jangan sentuh Aku."
Dia mendekatkan tubuhnya perlahan,
Dia menyentuhkan bibirnya di cuping telingamu,
berbisik lembut,
bagaikan melodi indah yang bergaung dihatimu.
Dia memejamkan matanya,
Bibirnya yang ranum ada disana, setengah terbuka,
seakan menuntut untuk kamu lumat,
tapi kemudian dia berkata, "Jangan cium Aku."
Dia disana, berdiri dengan tubuh telanjangnya.
gerak geriknya menggoda, bibirnya merayu,
tangannya menyentuh tubuhmu perlahan demi perlahan,
matanya mengerling nakal,
seakan meminta untuk kamu sentuh,
seakan meminta hatimu seutuhnya,
seakan meminta tubuhmu untuk menyatu di tubuhnya.
Tetapi dia berkata, "Jangan setubuhi Aku!"
Wanita..
Wanita..
Sabtu, 14 September 2013
Aesthetics
Menikmati rintik hujan yang turun membasahi bumi..membasahi tubuh.
Menikmati angin yang berhembus, membelai tubuhku.
Menikmati rembulan yang mengintip malu-malu, bagaikan seseorang yang mencintai secara sembunyi-sembunyi.
Menikmati bintang yang berkerlip genit disetiap malam.
Semuanya bagaikan pelukan yang penuh cinta.
Indah..ini indah.
Matahari, Hujan, Angin, Rembulan, Bintang...
Alam...
semuanya terasa begitu indah,
Bagaikan lukisan yang sangat nyata dalam kedua mataku.
Indah..ini indah.
Indah..ini indah dan mempesona.
Lalu, untuk apa Aku bermimpi? Jika kenyataan jauh lebih indah daripada sebuah mimpi.
Kamis, 12 September 2013
Waktu
Waktu itu unik, waktu itu ajaib. Tetapi waktu tidak
akan berjalan mundur, waktu hanya akan terus berjalan ke depan. begitu
juga kalian.
Semangat, berdoa, melangkah kedepan dan kemudian berbahagialah.
Semangat, berdoa, melangkah kedepan dan kemudian berbahagialah.
Selasa, 10 September 2013
Avaricious
Manusia terkadang bersifat sangat tamak.
Bahkan dalam urusan hati dan perasaan, ketamakan mereka tak kunjung memudar.
Manusia terkadang bersifat sangat rakus.
Tak pernah merasa puas,
Bahkan dalam hal cinta pun mereka bisa menjadi sangat rakus.
Manusia terkadang bersifat sangat serakah.
Sehingga hidup mereka hanya bisa mengemis ( tanpa mereka sadari ).
Mengemis akan harta, mengemis akan cinta, mengemis akan popularitas, mengemis akan kecantikan, mengemis akan sebuah surga, mengemis kepada Tuhan.
Manusia...
Manusia..
Bahkan dalam urusan hati dan perasaan, ketamakan mereka tak kunjung memudar.
Manusia terkadang bersifat sangat rakus.
Tak pernah merasa puas,
Bahkan dalam hal cinta pun mereka bisa menjadi sangat rakus.
Manusia terkadang bersifat sangat serakah.
Sehingga hidup mereka hanya bisa mengemis ( tanpa mereka sadari ).
Mengemis akan harta, mengemis akan cinta, mengemis akan popularitas, mengemis akan kecantikan, mengemis akan sebuah surga, mengemis kepada Tuhan.
Manusia...
Manusia..
Not Broken Anymore
Tolong ambilkan tissue, sepertinya airmataku akan meruak keluar.
Tolong ambilkan Aku tissue, sepertinya Aku ingin menangis.
Bukan, ini bukan airmata kesedihan. Hanya saja Aku butuh menangis.
Bukan, ini bukan airmata kesedihan. Ini hanya airmata kebahagiaan.
Bahagia karena Aku begitu dicintai.
Tolong ambilkan Aku tissue.
Minggu, 08 September 2013
Pleonasme
Hidup ?
Mati ?
Seperti hidup ?
Ataukah seperti mati ?
Ah...bukan..ternyata hanya sekarat..
hanya sekarat.
Senin, 02 September 2013
Telanjang, Bertelanjang, Seperti Telanjang
Apa yang kamu rasakan saat kekasihmu menggenggam jemarimu?
Apa yang kamu rasakan saat kamu menggenggam jemari kekasihmu?
Apa yang kamu rasakan saat berada bertelanjang dihadapan kekasihmu?
Berdebarkah?
Malukah?
Rikuhkah?
Lalu, Apa yang kamu rasakan saat bertelanjang dihadapan Tuhan-mu?
Telanjang, bertelanjang, seperti telanjang.
Bukan tubuhmu, tetapi hatimu, jiwamu, seluruh sari-pati dirimu.
Berdebarkah?
Malukah?
Rikuhkah?
Padahal Tuhan-mu mengetahui semua tangismu, dukamu, bahagiamu.
Padahal Tuhan-mu selalu tahu semua luka yang terlihat ditubuhmu,
bahkan tanpa kamu harus melucuti pakaianmu satu persatu,
bahkan tanpa kamu harus melucuti semua keluh kesahmu satu demi satu.
bahkan saat kamu berenang bahagia dalam dosa, tertawa dalam gumulan dosa,
Tuhan tidak sekalipun memejamkan mata-Nya.
Tidak sekalipun menatap kalian dengan perasaan malu.
Lalu, Apa yang kamu rasakan saat bertelanjang dihadapan Tuhan-mu?
Apa yang kamu rasakan saat bertelanjang dihadapan Tuhan-mu?
Apa yang kamu rasakan saat kamu menggenggam jemari kekasihmu?
Apa yang kamu rasakan saat berada bertelanjang dihadapan kekasihmu?
Berdebarkah?
Malukah?
Rikuhkah?
Lalu, Apa yang kamu rasakan saat bertelanjang dihadapan Tuhan-mu?
Telanjang, bertelanjang, seperti telanjang.
Bukan tubuhmu, tetapi hatimu, jiwamu, seluruh sari-pati dirimu.
Berdebarkah?
Malukah?
Rikuhkah?
Padahal Tuhan-mu mengetahui semua tangismu, dukamu, bahagiamu.
Padahal Tuhan-mu selalu tahu semua luka yang terlihat ditubuhmu,
bahkan tanpa kamu harus melucuti pakaianmu satu persatu,
bahkan tanpa kamu harus melucuti semua keluh kesahmu satu demi satu.
bahkan saat kamu berenang bahagia dalam dosa, tertawa dalam gumulan dosa,
Tuhan tidak sekalipun memejamkan mata-Nya.
Tidak sekalipun menatap kalian dengan perasaan malu.
Lalu, Apa yang kamu rasakan saat bertelanjang dihadapan Tuhan-mu?
Apa yang kamu rasakan saat bertelanjang dihadapan Tuhan-mu?
Langganan:
Postingan (Atom)


