Minggu, 05 Juli 2015

Canting ( Jika Kata Cukup itu Tidak Cukup )

Canting saat ini berada dalam titik jenuh dihidupnya. Jenuh akan romantisme yang tak pernah kunjung usai. Orang-orang cenderung hanya dapat berkomentar bahwa Canting terlalu menutup diri, terlalu keras terhadap dirinya sendiri, tidak mau berusaha untuk mencari pasangan. Sejujurnya, Canting bukan hanya sekali dua kali mencoba, bukan hanya sekali dua kali berusaha, membuka hatinya untuk seseorang, tetapi Canting malah mendapatkan hatinya kian terluka, dan pada akhirnya Canting tidak bisa untuk mempercayai laki-laki lagi, mungkin untuk seumur hidupnya.

Canting jenuh dengan bualan-bualan, Canting jenuh dengan lelaki-lelaki yang datang mencoba meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak akan lari seperti pengecut, bahwa mereka akan mendedikasikan diri mereka untuk sebuah komitmen yang halal dihadapan Tuhan. Para lelaki yang begitu mudah untuk berjanji, begitu mudah untuk mengucapkan ribuan kata dan kemudian mereka pula yang mengingkari janji dan kata-kata mereka, bahkan mereka dapat menggunakan cara yang paling busuk sekalipun.

Bahkan, saat Canting terluka, terpuruk, dan memperlihatkan sisi terburuk dari kemarahannya pun, mereka lari dan berkata bahwa Canting adalah perempuan yang mengerikan. Ironisnya, tak ada satupun dari mereka yang meminta maaf karena membuat Canting terluka dan terbungkus dengan amarah. Mereka menuntut Canting untuk meminta maaf karena menjadi seorang monster nyata dihadapan mereka, tetapi mereka tak pernah mengucapkan sedikitpun permintaan maaf kepada Canting.

Canting berkata cukup. semua petualangan ini harusnya sudah menjadi cukup. Dan jika kata cukup itu tidak cukup, Canting akan berhenti. Berhenti membuka hatinya untuk siapapun. Seperti para tetua berkata bahwa Tuhan telah menciptakan manusia untuk berpasangan, mungkin tidak semua manusia akan menemukan pasangannya di dunia, mungkin Tuhan menyimpan pasangan mereka di dunia setelah kehidupan berakhir. mungkin ada benarnya seperti itu.

Jumat, 03 Juli 2015

Cerita

Satu cangkir cinta,
Dua cangkir imajinasi,
Tiga cangkir logika,
Empat cangkir keheningan.

Di Antara

Cangkir kopi berdenting,
Dinding kamar berbicara,
Kemudian malam kembali sunyi.