Kamis, 26 November 2015

Disorder

Cutter, pisau, silet. Tiga benda diatas meja yang sedang aku pandang saat ini. Tiga pilihan yang sulit, aku harus memilih salah satu dari mereka dengan hati-hati.
Ah, baiklah. Aku telah menetapkan pilihan.
Aku raih cutter perlahan, silet terlalu kecil untuk ku pegang, sedangkan pisau terlalu besar untuk kugenggam saat ini.
Pandanganku teralih kepadanya. Sesosok wanita dengan tubuh yang berukuran sedang. Rambut hitamnya terkulai dibahunya yang terbuka.
Aku tersenyum, dia tersenyum.
Ku torehkan perlahan mata cutter yang tajam ke lengannya yang kecil. Bola matanya menatapku, wajahnya melihat ke wajahku, tak ada rasa sakit yang terpancar disana. Wajahnya seakan bertanya, 
"apa yang terjadi?".
Aku tersenyum, dia tidak tersenyum.
Aku raih kembali tangannya.
Ku torehkan perlahan mata cutter yang tajam ke lengannya yang kecil. wajahnya masih menatapku. Tak terpancar sedikitpun rasa nyeri disana.
Aku merasakan jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Debaran yang merupakan reaksi dari rasa ngeri dan keingintahuan.

Aku torehkan mata cutter berkali-kali ke kedua tangannya. Kali ini dengan cepat. Darahnya yang berwarna merah pekat mengalir dari torehan cutter-ku. Aku terlonjak kegirangan melihat banyaknya warna merah pekat yang merembes keluar. Wangi anyir, manis menyeruak di indera penciumanku.
Aku melirik kearahnya, tetapi raut wajahnya masih tetap sama.
Jantungku kembali memompa darah dengan kecepatan yang lebih dari biasanya. Aku tahu itu adalah reaksi dari rasa keiingintahuanku yang semakin tinggi, dan rasa ngeri akan wajahnya yang tanpa ekspresi.

Aku menarik nafas panjang.
"Aku tau kamu hidup sayang. Manusiakan dirimu. Menjerit, berteriaklah jika kamu mulai merasakan sakitnya.", gumamku pelan.

Aku menorehkan ujung cutter ke seluruh tubuhnya. Tangannya, bahunya, pahanya, betisnya.
Pakaiannya mulai basah dengan darah.
Tetapi aku tidak dapat berhenti menorehkan ujung cutter ketubuhnya.
Begitu menyenangkan, begitu mengasyikkan, begitu menjadi candu. Aku menginginkannya lagi, lagi dan lagi.
Gerak tanganku terhenti saat mulai terasa lelah, nafasku terengah. Aku mencoba menarik nafas panjang, memenuhi rongga paru-paruku dengan banyak oksigen. Berusaha menenangkan euforia yang bergaung diotak dan tubuhku.
Aku menatap wajahnya. Dia masih berdiri dengan wajah tanpa senyuman, tanpa raut kesakitan, tanpa ekspresi. tubuhnya penuh luka yang tertutup warna merah segar yang pekat.
aku menyentuh wajahnya yang terlihat pucat tanpa ekspresi.
Kubelai rambutnya yang hitam, kubelai dahinya, kubelai matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, dagunya, lehernya, bahunya, payudaranya, perutnya, pinggulnya, kubelai seluruh tubuhnya.
Tetapi dia hanya diam, diam tanpa ekspresi, hanya nafasnya saja yang memberikan isyarat kepadaku bahwa dia bernyawa.

"Aku menyukaimu, sangat. Aku mencintaimu, benar. tetapi aku juga membencimu. Apa kau tau reaksi yang terjadi saat kedua rasa itu saling tarik menarik dan kemudian berbenturan menjadi satu?", tanyaku.

Dia menatapku dalam diam, bola matanya yang coklat pekat seakan menarik jiwaku kedalam isi otaknya yang tidak ingin dia utarakan. Aku sungguh membenci kebisuannya. Ku lempar cutter ditanganku dengan kesal. Ku cekik lehernya yang kecil dan kubenturkan tubuhnya berkali-kali ketembok. Wajahnya memerah, bibirnya bergerak-gerak berusaha menghirup udara, tetapi tubuhnya tidak meronta, tidak melawanku. Ah, ku lepas cengkraman jemariku dari lehernya. Kupeluk tubuhnya erat, begitu erat. Dalam saat yang bersamaan, aku ingin mencabik-cabik tubuhnya dengan kedua tanganku. aku ingin mengambil jantungnya, aku ingin mengorek isi otaknya agar aku tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.

Kulepas pelukanku saat merasakan airmata menetes dibahuku. Kutatap wajahnya yang masih bersih tanpa luka. Matanya basah oleh airmata.

"Maaf, maaf...maaf....maafkan aku.", ujarku pelan.

"Jangan menangis sayang...maafkan aku.", ujarku parau.

Aku membelai pipinya yang basah oleh airmata. aku usap matanya yang panas dan basah oleh airmata. wajahnya memerah oleh darah yang berlumuran dijemariku.

"Kamu, terlhat begitu indah saat ini..", ujarku tersenyum.

Ya, dia terlihat begitu indah saat ini. Begitu cantik dengan warna merah pekat yang menghiasi wajahnya diantara airmatanya yang kian deras. Dia begitu indah dan cantik dengan luka-luka disekujur tubuhnya yang basah oleh darah yang berwarna merah pekat.

Aku tersenyum, dia tersenyum diantara airmatanya yang mengalir deras.

Aku ingin merasakannya lagi.
Aku sungguh ingin merasakan euforia ini lagi.

Ku raih pisau yang tergeletak diatas meja. Ku tikam tubuhnya berkali-kali dengan pisau. Perutnya, dadanya, pahanya. Warna merah pekat seakan menari diudara, menebarkan aroma anyir, manis dihidungku.

Euforia kembali mendatangiku.
Euforia kembali menghampiriku.
Dan aku menatap tubuhnya yang masih berdiri menatapku.

Tubuhku basah oleh warna merah pekat segar. Rasa nyeri menjalar disetiap tubuhku; kelelahan.
Bola matanya memandangku dengan pertanyaan, 'mengapa?'. 
Nafasku tercekat. rasa nyeri menderu kian pekat.
Kutatap tubuhnya yang basah oleh darah. Kutatap tubuhku yang juga basah oleh darah.
Kutatap kedua tangannya yang basah oleh darah. Kutatap juga tanganku yang basah oleh darah.
Euforia-ku terhenti.
Tubuhku jatuh kelantai, tubuhnya jatuh kelantai.
Aku menatapnya, mencoba menggapainya.
Dia menatapku, mencoba juga untuk menggapaiku.
Aku meraba perutku yang terasa nyeri.
Dia juga meraba perutnya yang basah oleh darah.
Aku tersenyum, dia tersenyum.
Aku menutup mataku perlahan, dengan senyum yang tak akan aku pupuskan.
Aku dan dia sehati.
Aku dan dia sejiwa.
Aku tak lagi sendiri.

Sayup-sayup kudengar suara menjerit dan suara derap kaki yang riuh mendekatiku. Ku buka mataku perlahan, orang-orang berbaju putih riuh mengelilingiku. Aku menatap tubuhnya yang juga dikelilingi orang-orang berbaju putih.
Tubuhnya bergoyang, orang-orang berbaju putih yang mengelilinginya ikut bergoyang.
Kemudian kulihat tubuhnya pecah, menjadi serpihan kecil, begitupun orang-orang berbaju putih yang mengelilinginya.
ah, cerminku pecah.
Tak lagi dapat kulihat dia disana. Aku memejamkan mataku yang terasa berat.
Tak bisa lagi ku lihat dia disana, diriku.