Did 'it' rape my mind too??
Rabu, 21 November 2018
Lady Lazarus
I have done it again.
One year in every ten
I manage it
A sort of walking miracle, my skin
Bright as a Nazi lampshade,
My right foot
A paperweight,
My face a featureless, fine
Jew linen.
Peel off the napkin
O my enemy.
Do I terrify?
The nose, the eye pits, the full set of teeth?
The sour breath
Will vanish in a day.
Soon, soon the flesh
The grave cave ate will be
At home on me
And I a smiling woman.
I am only thirty.
And like the cat I have nine times to die.
This is Number Three.
What a trash
To annihilate each decade.
What a million filaments.
The peanut-crunching crowd
Shoves in to see
Them unwrap me hand and foot
The big strip tease.
Gentlemen, ladies
These are my hands
My knees.
I may be skin and bone,
Nevertheless, I am the same, identical woman.
The first time it happened I was ten.
It was an accident.
The second time I meant
To last it out and not come back at all.
I rocked shut
As a seashell.
They had to call and call
And pick the worms off me like sticky pearls.
Dying
Is an art, like everything else.
I do it exceptionally well.
I do it so it feels like hell.
I do it so it feels real.
I guess you could say I've a call.
It's easy enough to do it in a cell.
It's easy enough to do it and stay put.
It's the theatrical
Comeback in broad day
To the same place, the same face, the same brute
Amused shout:
'A miracle!'
That knocks me out.
There is a charge
For the eyeing of my scars, there is a charge
For the hearing of my heart
It really goes.
And there is a charge, a very large charge
For a word or a touch
Or a bit of blood
Or a piece of my hair or my clothes.
So, so, Herr Doktor.
So, Herr Enemy.
I am your opus,
I am your valuable,
The pure gold baby
That melts to a shriek.
I turn and burn.
Do not think I underestimate your great concern.
Ash, ash
You poke and stir.
Flesh, bone, there is nothing there
A cake of soap,
A wedding ring,
A gold filling.
Herr God, Herr Lucifer
Beware
Beware.
Out of the ash
I rise with my red hair
And I eat men like air.
Sylvia Plath, Ariel
Sabtu, 03 November 2018
Akhir
"Pahit.", ujarmu sembari memuntahkan apa yang ku suap kepadamu.
"Hatiku.", ujarku lirih.
"Aku tak menyukainya.", katanya sembari meludah.
"Bukankah dulu kau pernah meminta hatiku?", Aku tersenyum tipis.
"Hatimu membosankan, terlalu pahit dan getir untukku. Ah, sudahlah. Akan ku cari hati yang lebih manis dan menarik daripada hatimu.", ujarnya.
Kemudian dia pergi,
Dan tak pernah kembali.
Tenang, Aku Masih Belum Ingin Mati
Apa kau tahu rasanya sepi?
Apa kau mengerti rasa kesepian?
Apa kau paham rasanya hampa?
Apa kau pernah?
Pernahkah kau terbangun dengan kekosongan dalam hatimu?
Kau mencoba memanggil, berteriak, tetapi tak ada seorangpun yang ada?
Kau merasa kecil dan hampa.
Apa aku ada?
Apa aku nyata?
Apa aku benar2 hidup?
Apa aku?
Dan kemudian dalam sepersekian detik, hampa menggerogoti tubuhmu.
Membuatmu sesak.
Tak mampu berkata,
Berfikir,
Bahkan menangis.
Apa kau pernah?
Sabtu, 29 September 2018
Kamis, 20 September 2018
Hening
Pagi ini, ku lihat dirinya duduk di sofa favoritnya. Sofa berwarna merah yang menghadap ke arah jendela. Kepalanya menunduk, menatap buku yg yang terbuka diantara tangannya yg pucat.
"Pagi sayang.", ujarku.
Dia hening, tak bereaksi, seakan terlalu asyik dengan dunianya.
Aku melangkah mendekatinya, merapikan helai rambutnya yang jatuh tertiup angin sepoi melalui jendela. Ku eratkan sweater abu yang selalu ia pakai. Ku tutup daun jendela perlahan. Ku kecup keningnya dengan lembut.
"Aku berangkat kerja sayang."
**
Sore ini, aku bergegas pulang ke rumah. Khawatir dia akan kesepian tanpaku.
Ku buka pintu ruang tamu perlahan. Kulihat dirinya yang duduk disofa merah yang sama seperti tadi pagi.
"Aku pulang sayang.", ujarku lirih.
Aku mendekatinya perlahan, menatap wajahnya yang tertidur pulas. Ku kecup keningnya, dan kuangkat tubuhnya ke kamar tidur. Kurebahkan dirinya dan kuselimuti tubuhnya agar tidak kedinginan.
Hari ini, kembali rumah ini tanpa suaranya seperti hari-hari kemarin.
Aku rindu suaranya yang berceloteh hangat kepadaku disetiap harinya. Seperti waktu itu, seperti dulu.
**
Sabtu pagi ini berbeda.
Ku lihat dia duduk dimeja makan, menungguku untuk sarapan bersama. Aku tersenyum, sekilas aku melihat bibirnya jg tersenyum. Ku hampiri dirinya, kukecup lembut keningnya.
"Selamat pagi sayang.", ujarku lembut.
Sabtu siang ini berbeda.
Biasanya aku dan dia hanya duduk bersisian tanpa suara. Kali ini aku berceloteh tanpa henti, menceritakan hari-hariku dikantor. Dia tetap diam, hening, tanpa suara. Tapi aku tak keberatan, karena aku tahu dia mendengarkan ceritaku, selalu mendengarkan keluh kesahku.
Sabtu malam ini berbeda dari sabtu malam kemarin.
Biasanya dia hanya duduk di sofa favoritnya, dan aku sibuk menonton televisi. Kali ini, aku dapat membelai setiap helai rambutnya dipangkuanku. Kali ini, aku dapat melihat wajahnya yg tertidur pulas dipangkuanku. Cantik, akan selalu terlihat cantik bagiku.
**
Hari ini aku resah. Ku tatap dirinya yang duduk di sofa merah favoritnya. Aku melangkah menghampirinya, menatap wajahnya.
"Sampai kapan kamu akan diam seperti ini sayang. Sudah sebulan kau membisu. Aku salah, maafkan aku. Jangan hukum aku seperti ini.", dan air mataku pun jatuh.
Aku menangis bagai anak kecil. Hening ini mulai menyiksaku. Aku membutuhkan suara dan gelak tawanya. Rumah ini begitu sepi, aku begitu kesepian.
**
"Aku sudah tidak sanggup lagi hidup denganmu. Kau sibuk dengan duniamu. Aku istrimu, dan kau lebih mendahulukan kesenanganmu daripada aku?! Bahkan saat aku sakit pun, kamu lebih memilih keluar dengan teman-temanmu. Aku tak pernah mengekangmu, tapi kalau kau masih ingin bebas, untuk apa kau menikah?.", jeritnya.
Ku tatap wajahnya yang basah oleh airmata. Aku hanya tersenyum sinis menatapnya. Pertengkaran ini bukan yang pertama, berapa kali dia mengancam akan pergi, tapi aku tahu, dia tak punya tempat untuk pergi.
Dia melangkah masuk ke kamar tidur. Aku menghela nafas lega.
"Dasar wanita.", gumamku dan aku kembali asik menonton televisi.
Aku mendengar suara langkah kaki. Aku masih asik mengabaikannya. Saat ku dengar suara yang berbeda, aku menoleh. Aku melihatnya melangkah menjinjing koper. Aku tersentak. Seketika aku bangun dari sofa dan menariknya sebelum dia mencapai pintu ruang tamu.
"Mau kemana kamu?, tanyaku kasar.
"Pergi dari rumah ini. Lebih baik kita bercerai.", ujarnya.
"Siapa yang memberimu izin untuk pergi hah? Kamu istriku!!"
"Aku sudah tidak tahan lagi tinggal denganmu!!", teriaknya.
Ku cengkram tangannya, dia meronta, mencoba melepaskan genggamanku.
"Sudah cukup kau paksakan egomu denganku. Aku muak!!", jeritnya.
Seketika emosiku memuncak. Ku tampar wajahnya. Kulihat darah menetes dari sela bibirnya. Dia menatapku tajam, dan kemudian membalas tamparanku. Emosiku memuncak, kutarik tangannya dan kuhempaskan tubuhnya ke ruang tengah. Tubuhnya terjatuh membentur lemari jati. Aku menghampirinya, mencengkram erat rambutnya.
"Setelah sekian banyak cinta yang kuberikan kepadamu, seenaknya kau bilang ingin pergi? Aku mencintaimu, maka itu aku menikahimu. Dan sekarang dengan angkuhnya kau mengancamku?!", ujarku kasar.
Kuhempaskan kepalanya ke lantai. Terdengar isak dan erangannya pelan.
"Diam!!"
Dan kemudian hening mencekam.
Aku menoleh menatap tubuhnya.
Aku tertegun, lantai memerah.
Aku meraih tubuhnya, mengguncang tubuhnya, memanggil namanya. Tetapi tak ada suara, bahkan nafasnya pun tak terdengar. Bahkan detak jantungnya pun tak terasa.
Aku menangis, memeluk tubuhnya dengan erat.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku."
**
Minggu pagi ini terasa berbeda.
Aku menyisir rambutnya yang hitam sebahu dengan lembut. Ku ganti pakaiannya dengan warna favoritnya.
Tetapi dia tetap saja hening.
Aku ingat pertama kalinya aku memandikannya. Warna merah memenuhi lantai kamar mandi. Ku gosok tubuhnya dengan sabun dan pemutih. Ku bersihkan pelan, ku dandani dia agar tetap terlihat cantik seperti awal aku dan dia bertemu.
Seperti saat ini, walaupun hening, tak akan lagi ada pertengkaran, dia tidak akan meninggalkanku. Selamanya.
"Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu.".
Jumat, 31 Agustus 2018
Selasa, 28 Agustus 2018
Andai
Tubuhnya yang kelelahan dan basah oleh keringat terbaring diatas ranjang.
Airmata menghiasi wajahnya.
Dan kemudian tangisnya pecah saat tangannya menyetuh sosok yang masih kemerahan.
Dengan hati-hati dipeluk dan dikecupnya.
"Anakku...buah hatiku. Selamat datang kedunia sayangku."
Sabtu, 12 Mei 2018
Kenang Tukang Kopi Tentang Gadis Kopi
Aku hanya bisa menatapmu dalam, mengagumi bola matamu yang pekat dan teduh.
Binar matamu yang mempesona bahkan saat kamu hanya melihatku yang berceloteh ataupun bernyanyi dengan gitar tuaku.
Indah.
Kurasa tak pernah ku melihat bola mata seindah itu.
Aku tenggelam ke dalam bola matamu.
Bahkan disaat resahnya hatiku menghadapi hari, matamu mampu membuatku tenang.
Aku jatuh cinta padamu,
sejak pertama kali kita bertemu.
Dan kamu tahu itu.
Hanya saja, hatimu terlalu sulit untuk ku peluk.
Hanya saja, hatimu terlalu sulit untuk ku genggam.
Hingga aku tak ingin lagi mencoba menggenggam hatimu.
Ku biarkan kamu bebas pergi kemanapun kamu mau, dan aku akan tetap ada disampingmu menemanimu.
Sabtu, 28 April 2018
Jingga
Diantara duniaku yang merah dan kuning, kamu ada dalam spektrum yang terlihat pada panjang gelombang 620 hingga 585 nanometer.
Spektrum indah yang menyejukkan hatiku.
Kamu...
Jinggaku.