Selasa, 26 November 2013

Black Lady II

Mencoba untuk menggapai..
Mencoba untuk menyentuh..
Mencoba untuk merayu..
Mencoba..mencoba..mencoba..

Semua ingin di beri perhatian.
Semua ingin di istimewakan.
Semua ingin mendobrak masuk.
Semua ingin terlihat ada dan hadir.

Ah...keparat kalian dengan semua retorika kalian.
Berhentilah untuk menggapai.
Berhentilah untuk mencoba, memohon, mengemis.
Dia bukan donatur yang memberikan hatinya untuk tujuan amal.

A Woman Without a Heart

Sudah pagi kah ?
Sudah siang kah ?
Sudah sore kah ?
Sudah malam kah ?

Jika ini pagi, mengapa tak ada matahari di ufuk timur ?
Jika ini siang, mengapa langit tak berwarna cerah seperti biasanya ?
Jika ini sore, mengapa tak ada semburat oranye yang berpedar di angkasa ?
Jika ini malam, mengapa bulan bintang tak menampakkan wujudnya ?

Ah, rupanya langit berwarna kelabu.
Tak juga terang apalagi gelap.
Ah, rupanya hujan turun dengan derasnya.
Mencumbui se-isi bumi dengan liarnya.
Dan rintik hujan jatuh bagaikan notasi yang terangkai merdu.
Aku pun bernyanyi dan menari bersama hujan.
Ini sempurna, sebuah melodi indah yang sempurna.

Kamis, 21 November 2013

Jejak

Berjalan saja di depan,
mungkin nanti dia akan mengikutimu suatu hari.
Berjalan saja di depan,
mungkin nanti dia akan berlari untuk mengejarmu suatu hari.

Melangkah saja di depan,
mungkinkah kamu akan menoleh ke arahnya ?
Melangkah saja di depan,
mungkinkah kamu akan berbalik menghampirinya,
mengamit jemarinya dan melangkah bersama disisinya ?

Eros

Seperti Aku berdiri di tepian jurang yang sangat dalam.
Memicu adrenalin ke puncaknya.
Memicu aliran darahku mengalir deras di arteri tubuhku.
Rasanya berdebar, begitu asyik.
Namun, Aku takut untuk terjatuh.
Tetapi dalam waktu yang bersamaan, Aku begitu tergoda untuk terjatuh.

Cahaya rembulan seperti mencoba menelisik hatiku.
Jurang ini terlihat bagai sebuah fatamorgana.
Tetapi terlalu nyata untuk sebuah fatamogana.
Apa ini..Apa ini ?
Terlalu indah untuk diabaikan.
Terlalu menggoda untuk diabaikan.
Terlalu mendebarkan untuk diabaikan.

Rupanya ini yang bernama cinta.
Ah..rupanya ini perasaan yang disebut cinta.
Aku jatuh cinta..
Akhirnya Aku dapat merasakan cinta.
Akhirnya Aku jatuh cinta.

Selasa, 19 November 2013

The Knight and A Witch

Ada seorang putri, putri dari kerajaan matahari. Wajahnya menawan, hatinya lembut dan rapuh bagaikan gula-gula kapas. Bibirnya berwarna merah muda, terlihat segar untuk dipagut.

"Aku ingin menjadi seorang ksatria.", ujarnya suatu ketika.

Kemudian Sang Putri membabat rambutnya yang hitam berkilau, melucuti gaunnya yang indah, menggantinya dengan baju besi dan sebilah pedang.

"Aku adalah seorang ksatria. Takdirku untuk menjadi seorang ksatria!!.", teriaknya kepada dunia.

Sang Putri kemudian berkelana, menunggang seekor kuda yang berpelana dari kulit beruang. Kepada orang-orang Dia berceloteh. Berceloteh bahwa dia adalah seorang ksatria tampan yang hebat dan mulia. Menghabiskan waktunya untuk membawa kebaikan, menghabiskan hidupnya untuk berkelana menyebar kebajikan, berjuang keras dalam hidupnya untuk menyelamatkan jiwa wanita-wanita yang teraniaya.

Hingga suatu ketika, Sang Putri Matahari jatuh cinta kepada seorang Putri dari kerajaan Rembulan.
Sang Putri Matahari mengingkari takdirnya bahwa dibalik baju besi dan pedang yang tersandang di pundaknya, Dia tetaplah seorang putri, seorang wanita.

"AKU KSATRIA !", ujarnya.
"AKU KSATRIA MATAHARI !!", jeritnya.
"AKU SEORANG PRIA !!", jeritnya kian kencang.

Lalu, Peri-peri hitam melai menari, mulai bernyanyi.

' Dewa memberimu rasa itu, maka terimalah. Tidak ada yang salah dengan itu, tidak ada yang salah dengan dirimu. Dengan menerima hal itu, kamu lebih tinggi dari siapapun..kamu menerima takdirmu..kamu mencintai dewa dan dirimu menerima apa yang Dewa beri.', dendang para peri hitam.

Sang Putri tersenyum, dan kemudian berbalik, mengejar Putri Rembulan.

Putri Rembulan menangis saat jiwa sucinya terenggut oleh Putri Matahari.
Tapi apa daya ?
Putri Rembulan terlalu terperdaya untuk pergi, terlalu malu untuk melepaskan diri dan berlalu.
Hingga akhirnya Putri Matahari mulai bosan, kemudian kembali berkelana. Berkel;ana dari wanita ke wanita lain. Berkelana dari satu pelukan ke pelukan lain. Wanita-wanita yang dapat Dia perdaya dengan baju besi dan bilah pedangnya.

Kemudian Dewa-dewa murka. Kutukan pun dijatuhkan kepada Sang Putri Matahari.
Para peri hitam  kembali berdatangan. Mereka kembali menari, kembali membisikan nyanyian untuk Putri Matahari.

' Tidak..Tidak..Ini bukan apa-apa wahai ksatria tampan. Ini sebuah petunjuk agar dirimu tetap seperti ini. Ini sebuah ujian dari para Dewa karena mereka sangat mencintaimu. Ini sebuah ujian untuk melihat tekadmu yang menerima takdirmu. Takdirmu sebagai seorang ksatria. Takdirmu sebagai seorang pria.'

Sang Putri tersenyum dan mengabaikan kutukan yang menggerogoti tubuhnya. Sang Putri terus berkelana dan menyebar kutukan yang dideranya kepada wanita-wanita lain. Tanpa sadar, Sang Putri mulai menghancurkan jiwa-jiwa murni, menyeret mereka dalam kegelapan.

Sang Putri tetap mendongak dengan angkuh. Masih berceloteh dan menceritakan dongeng kepada orang-orang. Dongeng tentang seorang ksatria tampan yang selalu berusaha keras untuk kebaikan, untuk menyelamatkan. Dongeng tentang dirinya sendiri.
Hingga akhirnya Sang Putri Matahari bertemu dengan seorang penyihir wanita.

"Aku jatuh cinta !!", ujarnya.

Sang Penyihir tersenyum dan kemudian berkata,
"Jiwaku gelap, tetapi jiwamu lebih gelap daripada jiwaku."

"Aku suci !! Aku ksatria yang bukan urusanmu jika para Dewa begitu mencintaiku karena Aku berani untuk menerima takdirku.", jeritnya gusar.

"Baju besi, sebilah pedang, berkelana, tak semerta menjadikanmy seorang ksatria. Karena tidak ada jiwa kesatria dalam dirimu.", ujar sang penyihir.

"AKU KSATRIA !!! Selamanya akan tetap menjadi seorang ksatria. Kamu hanyalah seorang penyihir yang arogan dan sombong.", jerit Putri Matahari kian gusar.

"Jika kamu seorang ksatria, kamu tidak mampu untuk berperang. Jika kamu seorang pria, kamu tidak mampu untuk membuahi.
Lalu, siapa yang arogan ? Siapa yang sombong ?
Bahkan untuk melindungi saja kamu tak mampu. Jiwamu gelap, menyebarkan kutukan.
Lalu apa yang kamu lindungi ?
Dirimu sendirikah ?
Lalu apa yang kamu syukuri ?
Kamu mengingkari takdirmu, jiwamu dengan berlindung dibalik baju besi serta sebilah pedang.", ejek Sang Penyihir.

"Terkutuklah kau penyihir !!! Cintaku percuma untukmu. Lebih baik Aku bersama orang-orang yang berjiwa suci, orang-orang yang menerimaku, orang-orang yang positif untukku.", jerit Putri Matahari geram.

"Silahkan. Orang-orang yang hanya akan menyeretmu jauh lebih dalam, jauh kedalam kegelapan. Selamat menikmati."

Sang Putri Matahari pergi sembari melontarkan kata caci maki kepada Sang Penyihir.

Peri-peri hitam kembali bermunculan. Mereka menari, Mereka bernyanyi.

'Wahai Ksatria Matahari,
Jangan engkau hiraukan penyihir terkutuk itu.
Penyihir kegelapan yang terbuang dalam lembah terlarang.
Selamanya dia akan terbuang disana.
Engkaulah kebenaran.
Engkaulah ksatria sejati.
Bahkan kami pun tahu itu..
Bahkan para Dewa pun mengakui itu.'

Vindicetis

Ini mataku dan kedua bola mataku, menatap tajam kearahmu.
Mencoba membaca, mencoba menyelidik, mencoba masuk ke lubuk hatimu.
Apa kamu membencinya ?
Apa kamu ingin mencungkilnya dengan kedua tanganmu ?

Ini bibirku. Bibir yang tak hanya bisa merayu, namun juga berbisa.
Bibir yang juga mampu mengeluarkan kata-kata pedas, menyakiti hatimu.
Robek saja bibirku, jika kamu muak.

Ini tanganku, tangan yang dapat membelaimu dengan kehangatan.
Tetapi, tangan ini juga dapat menyiksamu hingga kamu menggeliat tidak berdaya,
meregang, terkapar..MATI !!
Patahkan saja jika kamu membencinya.
Patahkan saja jika kamu membencinya !

Hati yang Berjelaga

Sepi..itu yang kalian pikir.
Sepi..itu yang kalian rasa.
Sepi..hatimu kah ?
Sepi..jiwamu kah ?

Butuh..pasangan ?
Perlu..manusia lain ?
Ingin..teman ?
 Lalu kalian membuka pintu,
 dan melangkah keluar untuk mencari.

Tetapi waktu berlalu, terlalu lama untuk disadari.
Rasa sepimu tak kunjung hilang..rasa sepimu tak kunjung sirna.
Saat kalian kembali ke peraduan, rasa sepi itu kembali menyergap.
Kemudian kalian berfikir,
"Apa yang sebenarnya Aku ingin ?"
"Apa yang sebenarnya Aku butuh ?"

Jumat, 15 November 2013

Diantara Jeda yang Panjang

Aku bosan terpasung dalam ruangan berwarna ini.
Aku bosan tak mampu untuk melangkah maju,
Tak mampu jua untuk melangkah mundur.
Bahkan untuk berdiri terdiam pun Aku sudah bosan.

Aku tak mampu merasakan peluhku sendiri.
Aku tak mampu merasakan dingin,
Aku tak mampu merasakan panas,
Mungkin indera perasaku mulai berkarat dan rusak.

Aku bosan terpasung di tempat ini.
Terlalu banyak kesatria ( tangguh ? ) yang mencoba membebaskan Aku,
Terlalu banyak kesatria ( tangguh ? ) yang angkuh datang tanpa sikap santun.
Tapi tak ada satupun yang mampu melepaskan pasunganku.

Apakah mereka Lelaki ?
Apakah mereka Perempuan ?
Seberapa usia mereka ?
Seberapa banyak mereka mengetahui ?

Dan kini sebuah jeda panjang menghantui.
Jemariku mulai berlumuran darah,
Buku-buku jemariku mulai terlihat hancur
diantara serpihan kulit dan darah yang tercecer
berusaha melepas pasunganku yang mengikat erat.

Ah, Aku bosan berada disini.
Begitu bosannya sehingga Aku lupa untuk merasakan,
Begitu bosannya sehingga Aku lupa bagaimana itu hidup.
Sepertinya hatiku mulai layu, berbulu dan mungkin sebentar lagi mati.
Kapan jeda panjang ini akan berakhir ?

Seorang Pemuda dan Sebuah Rahasia

Hujan masih saja turun malam ini,
Langit gelap menyembunyikan sang rembulan.
Langit gelap menyembunyikan para bintang.
Seperti seorang pemuda dan sebuah rahasia.

Dia menyembunyikan hatinya dibalik sebuah rahasia.
Rahasia tentang seorang gadis yang ada di hatinya.
Rahasia tentang cinta yang tak mungkin untuk direngkuhnya ( saat ini ).
Rahasia tentang cinta yang menggebu dibalik diamnya.

Rahasia dibalik rindu yang bergumul pelik dihatinya.
Rahasia yang tersembunyi ditengah keramaian,
Bahkan tak berani untuk Dia keluarkan di saat dirinya terduduk sendiri,
walau hanya sekelumit saja.

Sebuah rahasia yang tersembunyi pelik,
Rahasia yang tersembunyi sedikit perih.
Sebuah rahasia yang tersembunyi,
Bagaikan langit gelap yang menyembunyikan rembulan malam ini.

Mungkin nanti..
Mungkin nanti..
Begitu pikirnya..

Senin, 11 November 2013

Beri Aku Cerita.



Debu yang asing, udara yang asing, suasana yang asing..
Tapi hanya satu sosok yang tak pernah menjadi asing.
Sosok sebuah kenangan.