Kamis, 28 Februari 2013

Shine





Mungkin..suatu saat sinar dimataku akan kembali hidup sayang..
Kembali hidup seperti saat aku melihatmu dahulu.
Mungkin suatu saat, sinar itu akan kembali menyilaukan dunia sayang..
Menyilaukan dunia dengan binar-binar cinta yang terpancar dimataku..
seperti dahulu..
seperti dahulu..

Selasa, 26 Februari 2013

Black Lady



Selamat malam kekasihku...
Selamat malam wahai belahan jiwaku.
Pejamkanlah matamu..
Dan rasakan betapa lembutnya kecupanku dikeningmu.

Selamat tidur sayangku..
Selamat tidur wahai pujaanku..
Dengarkan suaraku yang memanggilmu lembut..
memanggilmu ke alam mimpimu.

Selamat malam sayangku..
Selamat tidur wahai kekasihku..
Akan kubelai lembut keningmu..
Dan Ku kecup lembut kedua matamu..
Kudendangkan sebuah lagu untukmu..
Agar engkau tertidur..tertidur dalam keabadian.

Jumat, 22 Februari 2013

Hey


Hey bahagia..
kemana engkau pergi ??
Hey senyum..
kemana engkau lari ??
Lelah aku mencoba merengkuh kalian kepelukku..
Terpuruk aku semakin jauh dalam hitam..
Inginku berlari dalam heningnya malam..
Memandangi kerlip lampu yang menghiasi kota..
Inginku berteriak sekuat hati..
Hanya untuk mengisi kehampaan hati tak bertepi..
Hatiku membisu pilu..
Mataku tak berbinar lagi..
Asaku lenyap tak kunjung kembali..
Dan aku terbaring kaku tanpa daya..
Jalan pikiranku bagaikan nista..
Perkataanku bagaikan dosa..
Isi hatiku bagaikan cela..
Dan aku tidaklah berarti untuk ada..
Hey sepi..selalu saja engkau menemaniku..
Hey hampa..selalu saja engkau menggerogoti jiwaku
Sudikah kalian pergi sejenak ??
Agar bahagia dan senyum dapat datang menghampiriku ?!

Segenggam Cinta Untuk Dina

Dina menangis, hatinya pilu. Banyak lebam ditubuhnya. Dina meringis, mencoba bangkit dari ranjangnya. Jemari halusnya meraih gelas kaca di seberang ranjang. Mencoba menghilangkan dahaganya, tetapi untuk menelan saja rasanya sulit.Dina menatap dirinya didepan cermin. Menatap dirinya yang terefleksi menyedihkan.
'Cinta, itu yang membuatku memaafkanmu Doni !'

"Dina dan Doni, Pasangan yang membuat iri banyak orang.
Dina, dengan perawakannya yang semampai, cantik dan anggun, teduh bagai rembulan, sedangkan Doni, Pria Tegap, tampan dan mempunyai senyum yang menawan, bersinar seperti mentari pagi.
Saat Doni mengungkapkan isi hatinya, Dina hanya bisa terpaku tak percaya karena selama ini Dina pun menyimpan rasa yang sama. Namun, setelah setengah tahun berjalan, hari2 yang Dina lewati seperti dongeng pun sirna.
Doni yang pencemburu, Doni yang kasar, Doni yang egois dan Doni yang senang melirik wanita pun mulai terlihat. Dina bertahan karena perasaannya yang kian dalam untuk Doni. Bukan sekali dua kali Doni memukul Dina hanya karena hal sepele. Pernah sekalinya Dina terkapar di UGD karena ulah Doni, tapi ternyata hal itu tak membuat Dina meninggalkan Doni. Semua hanya karena cinta.Seperti saat ini, untuk kesekian kalinya Doni memukul Dina hanya karena Dina memergokinya sedang merayu anak semester baru. Tentu saja Doni tak melakukannya didepan banyak orang. Doni tak mau reputasinya hancur.

Dina masih termangu menatap tubuhnya yang penuh lebam, matanya sembab. Perlahan Dina merayap naik ke ranjang, menatap jam dinding yg berdetik memenuhi ruangan. Dina pun terlelap diantara isak tangisnya.

Mentari mengintip dari celah tirai, membangunkan Dina yang tertidur dalam resah. Dina menggeliat diatas ranjang. Sudut matanya menatap jarum jam.
Hari ini, tepat 2 tahun Dina dan Doni bersama
" Pagi datang dengan indah, semoga hari ini dapat ku lewati dengan indah TUHAN !! "

Pagi ini pun seperti biasa Doni menjemput Dina, yang berbeda hanyalah Doni datang dengan penyesalan yang dalam.Doni menatap Dina, membuat Dina terhenyuh dan menatap Doni yang meneteskan airmata penyesalan.
" Maafkan aku ! Aku khilaf, aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Maafkan aku karena melanggar janjiku untuk tidak memukulmu lagi. "
Dina terhenyak..mengangguk. Dan untuk kesekian kalinya Dina luluh dalam kata Maaf Doni.

Sudah hampir 2 minggu, sikap Doni berubah menjadi semanis kucing. Membuat Dina tersenyum bahagia.
" Aku mencintainya TUHAN, Jangan biarkan dia jauh dariku. Aku tak bs hidup tanpanya. "
Kata2 itu terus terucap dalam batin Dina.

Jam dinding berdetik bagai alunan musik, mengiringi gaduhnya suasana ruang UGD. Wangi obat2an menyeruak memenuhi ruangan. Sayup terdengar suara dokter dan suster yang sibuk merawat pasien. Diantara sadarnya, Dina menatap nanar ruangan. Pandangannya kabur, Dina tak dapat menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Berusaha mengingat apa yang terjadi.
Ah...iya....malam ini....malam ini seharusnya Dina dan Doni makan malam disebuah restoran mewah yang telah dipesan Doni. Masih terasa senda gurau mereka waktu memasuki pintu restoran. Masih terasa hangatnya kecupan Doni dikeningnya. Seakan malam ini begitu sempurna.Hingga saat seorang pemuda menghampiri meja mereka dan menegur Dina dengan lembut. Dina tersenyum melihat pemuda itu dan pemuda itupun berlalu.
Merah padam wajah Doni kala itu, hatinya terbakar cemburu. Ditariknya tangan Dina menuju tempat parkir. Mereka bertengkar. Dicengkramnya rambut indah Dina.Tangan Doni yang besar menghantam wajah Dina.
" Dasar Pelacur !! Merayu Lelaki lain didepanku. Kamu anggap apa aku ?? Aku sayang sama kamu, cinta kamu, tapi kelakuan kamu begini. "
" Dia teman kakakku. ", hanya itu yang dapat terucap oleh Dina, karena Doni kembali memukulnya.

Dina meringis, darah mulai mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.Telepon selular Doni berbunyi dan Doni dengan kasar mengangkat teleponnya. Dina berusaha melepaskan cengkraman Doni dari rambutnya. Tangan Doni terhentak, telepon selularnya terjatuh. Terdengar sayup2 suara wanita dengan genit dan manja..sang penelepon.
Dina geram, diinjaknya telepon selular Doni. Mereka bertengkar dengan hebat.Doni mendorong tubuh Dina kedalam mobil. Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajah Dina memucat
" Tolong berhenti ", jeritnya.
Doni menghentikan laju mobilnya.
" Aku lelah, lebih baik aku pulang naik taksi. ".

Dengan tertatih Dina melangkah keluar dari mobil. Hati Doni berkecamuk, dipenuhi amarah. Dilihatnya Dina yang berjalan menyusuri jalan. Pandangannya kabur, terbalut emosi yang membabi buta. Doni melajukan mobilnya kearah Dina dengan kecepatan tinggi.
Tubuh Dina terlempar ketepi jalan.
Doni tersentak.
" Astaga, apa yg aku lakukan ?! ".
Dengan panik Doni berlari menghampiri tubuh Dina yang bersimbah darah.
" Maafkan aku sayang. " ucap Doni lirih.
Jemari halus Dina terangkat lemah, mengusap airmata yang mengalir dipipi Doni.
" kamu tahu....aku sayang kamu. "Ucap Dina pelan.

Dina pun terkulai.

Dina mengingat apa yang terjadi. Antara bawah sadarnya yang mulai menghilang, Dina menggumam
" Aku tetap cinta kamu sampai akhir hembusan nafasku Doni. ", matanya pun terpejam.

" Dokter, pasien mulai kehilangan kesadaran..!! ", Sayup2 terdengar paniknya Dokter dan suster berusaha menyelamatkan jiwa Dina.
Tapi Dina tak terselamatkan..pergi meninggalkan dunia, membawa rasa cintanya.

Doni terduduk lesu, penyesalan tergambar di wajahnya. Terlambat untuk menyesali. Doni memandang langit melewati jeruji penjara
" Maafkan aku sayang.. " ucapnya lirih.

Rindu



Aku melangkahkan kakiku perlahan menuju kamar. Aku melepaskan pakaianku..satu persatu..menjatuhkannya kelantai kamarku yang mulai berdebu. Dalam balutan pakaian dalamku, Aku melangkahkan kaki mungilku menuju kamar mandi.

Aku basuh perlahan wajahku dengan air yang mengalir deras dari keran. Aku menatap refleksi wajahku yang menatapku dari cermin. Bibir mungilku tersenyum..tetapi entah mengapa binar mataku terlihat begitu sedih. Aku menghela nafas perlahan dan mengusap wajahku yang basah dengan handuk mungil. Aku melangkahkan kaki mungilku kembali menuju kamar. Dan kemudian Aku berbaring diatas ranjang, menarik selimutku dan memejamkan mataku perlahan.
Aromanya menyeruak diatas ranjangku..membuatku begitu merindukannya. Aku mengerjapkan mataku perlahan dan beranjak dari ranjangku. Jemariku bergerak mengamit kemeja yang dia tinggalkan dulu..Aku kenakan perlahan dan membelai setiap lipatan kain yang menempel ditubuhku.

Aku kembali berbaring diatas ranjangku, menarik selimutku perlahan..memejamkan mataku. Aromamu kembali menyeruak indera penciumanku. Aku merindukanmu..sangat merindukanmu. Airmataku menitik dalam mataku yang terpejam. Kejamnya rasa rindu ini..seakan menyesakkan jiwa ragaku. Aku mengeliat dan menarik selimutku kian lekat, mencoba untuk mengistirahatkan tubuhku yang letih. Saat Aku mulai terlelap, Aku merasakan tanganmu melingkar ditubuhku..memelukku erat.
Aku mendesah lirih..

'where have you been?! I miss you so much..'

'i miss you too'

Dan Dia mengecup keningku perlahan. Aku tersenyum..kemudian kembali terlelap..



**

Matahari mengintip malu-malu dari balik jendela kamarku. Aku menggeliat perlahan dan menoleh ke sisi ranjang..Hanya kosong yang ada..
Tak ada dirinya yang semalam memelukku erat..
Yang ada hanya aromanya yang masih melekat, Seakan memeluk tubuhku yang sepi tanpanya.
Ah..mimpi..
Semalam hanya mimpiku tentangnya..
dan itu sudah cukup bagiku..
Itu..sudah cukup bagiku.

Minggu, 17 Februari 2013

Kerajaan Besi


Terperangkap dalam sepi yang membunuh perlahan..
Terkukuh dalam ribuan semak mawar berduri yang menorehkan luka diantara sayap indah.
Bertahan dalam kehampaan yang membekukan jiwa.
Belati tak lagi tajam..
Api tak lagi membakar..
Darah tak lagi merah..
Hanya ada sepi yang menguak memenuhi rongga hitam yang kian membusuk.
Dimana wajah tanpa cela itu??
Terlalu banyak wajah2 buruk yang digelantungi belatung..berserakan..menyisakan bau busuk yang memuakkan.
Dimana cahaya itu ??
Terlalu banyak kelam yang menggelayut bak sang raja..mengusai dengan segala otoritasnya.
Dimana Rasa hangat itu ??
Terlalu banyak Hewan2 dingin yang membabi buta memenuhi gairahnya.
laksana belati yang mengoyak jiwa2 kotor..
Laksana api yang membakar dan menghanguskan cinta tanpa ampun.
Disini berdiri meneguk kehampaan dalam kerajaan besi bernama Dunia..
tanpa warna...hanya ada hitam.

Shadow


Diantara realita yang tersaji dalam ribuan pecahan kaca..
Diantara khayal yang membara dalam seuntai rantai yang berkarat..
Aku berusaha mencari sebuah makna..
Semakin aku mencari...semakin aku terjebak diantaranya..
Inikah yang aku ingin??
Inikah yang aku cari ??
Keraguan membuncah dalam otak bebalku...
Tetap berusaha mencari makna dibalik semua..
Tp yang tersisa hanya dengki semata...
Aku dengan jiwaku yang kotor..
Aku dengan hatiku yang hina..
Kutuklah aku dengan segala serapahmu...
Mungkin saatnya aku berhenti mencari sebuah makna..
Mungkin saatnya aku mengistirahatkan jiwa batin dan ragaku dalam selimut jingga ini..
kembali aku dalam keremangan...
Melangkahkan kaki kearah pedang tajam itu...
Aku pasrah...
Pasrah bila hidupku akan berakhir.

Hanya aku sebelum terlelap

Akhirnya aku terlepas dari deadline setan yang memaksaku menyelesaikan buku2ku. Aku menatap langit dari jendela kamarku. Menghembuskan nikotin yang memenuhi rongga mulutku..perlahan.
Kosong, itu yang kurasakan. Aku sadar bahwa terlalu sering aku mengurung diri dikamarku, keluar sesekali hanya untuk berbelanja dan membayar tagihan2ku. Temanku hanya buku, computer dan rokok, mungkin Hendra, editorku yang tampan dapat ku sebut teman karena dia sering menghubungiku walaupun itu hanya untuk menanyakan kapan tulisanku selesai.
Tempo hari bundaku menghubungiku, seperti biasa, dia mengingatkan usiaku yang beranjak 32 tahun yang seharusnya sudah memikirkan untuk menikah. Ahhh....jemu aku mendengarnya.
Ku palingkan pandanganku ke rak buku yang tertata rapi. Buku-bukuku..selama aku menulis dalam kegilaan yang membuahkan 4 buku best seller, belum sempat aku membacanya kembali. Ku raih buku yg ku buat pertama kali, aku tersenyum. Ini kisah tentang anak remaja yang tumbuh di keluarga feodal, yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang penulis walau ditentang keluarganya. Mungkin tak ada yang tahu, bahwa kisah ini adalah tentang aku.
Aku tersenyum....mengingat masa kecilku dan perjuanganku untuk meraih cita2ku.
Ku meletakkan bukuku kembali, aku tertegun menatap buku2ku. Seharusnya aku bahagia, itu pikirku saat aku berhasil meraih mimpiku. Tapi mengapa kini aku merasa kesepian, seakan ada rongga yang memenuhi hati dan jiwaku. Ada yang kurang dalam hidupku, tapi aku tak mengerti apa itu.
Kuraih buku terakhirku..buku yang berisi imajiku tentang kisah cinta. Klise memang, karena bagiku cinta itu hanyalah permainan bodoh yang memuakkan.
Aku melangkahkan kakiku menuju jendela dan duduk ditepinya. aku mulai membaca perlahan demi perlahan. Aku begidik, sebentuk pertanyaan menyeruak diotakku.. apakah cinta itu ??
Buku ini bagai imaji keji yang tercipta karena permintaan penerbitku. Butuh lebih dr 1 tahun, waktu yang aku habiskan untuk menyelesaikannya. Dan butuh waktu 89 hari untuk mengumpulkan informasi tentang perasaan itu. Bodoh memang..tapi penerbitku berkata bahwa cerita ttg cinta akan menjadi hal yg segar untuk bukuku.
Kubuka lembar terakhir buku ini, hati ku menggeliat liat. Kisah ini indah..mendebarkan tapi semu.
Tak akan aku menyentuh cinta lagi.
Pikirku..
Katakan saja aku bodoh, toh aku tak perduli. Aku hanya memegang janjiku untuk seseorang yang bahkan mungkin sudah melupakan aku. Aku tetap tak perduli.
Ku langkahkan kakiku menuju lemari usang yang tak pernah aku buka selama 6thn.
Baju..kemeja..scraft..ku sentuh perlahan..aku rindu..sangat merindukannya..sentuhannya..kecupannya..kata2 manisnya..belaiannya..
Arggghhh...aku banting daun pintu lemari usangku.
Semua hanya ada kenangan ttgnya..
Bukan cinta..hanya sayang yang tak bertepi.
Hanya ada dia..
Selalu dia..
Sayangku..
Ku tepis semua kenangan yang menggeliat sekarat diotakku.
Aku langkahkan kakiku menuju peraduanku.
Waktunya beristirahat..
Hilangkan semua penatku.
Dan aku pun terlelap.

Suatu Malam

Aku melajukan mobilku dengan perlahan. Kutatap jalanan lengang dan sepi yang membentang didepanku. Pandanganku mulai kabur karena airmata yang menggenang di pelupukku. Rasanya aku ingin menangis, berteriak, melempar segala benda yang ada. Hatiku sakit, Hatiku diliputi perasaan takut dan bersalah.

Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan baik. Sudah 6 tahun berlalu semenjak kejadian itu. Tapi keadaan tak juga kian membaik. Beribu kata maaf yang Aku ucapkan tak juga menghapus luka yang membekas dihati mereka. Aku bersalah, Aku berdosa. Taukah mereka? Akupun belum memaafkan diriku sendiri atas semua kesalahanku.
Aku sadar bahwa beribu kata maaf, tidak akan mengembalikan waktu, tidak akan menghapus kesalahanku, tidak akan menghilangkan segala perbuatanku. Aku sadar semua itu. Tapi apa lagi yang harus Aku lakukan?
Bertahan menghadapi mereka dan Aku berubah.
Aku berhenti mengkonsumsi obat2an, Aku berhenti mengkonsumsi alkohol. Aku menjalani rehabilitasiku dengan baik.
Yang Aku pinta hanya satu, tolong terima Aku dengan baik, dengan tulus.
Tapi mereka tetap membenciku dan tatapan mereka yang seakan membunuh jiwaku perlahan.

Andai Aku dapat memutar waktu, Aku ingin kembali ke waktu itu. Waktu dimana Obat2an itu menguasaiku, membuatku terlena dan membuat Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku, membunuh adikku sendiri.

Airmataku mengalir kian deras. Masih teringat jelas dalam ingatanku kejadian malam itu, malam 6 tahun yang lalu.
Aku hanya berdua dengan adik kecilku. Aku terbenam dalam buaian alkohol dan tubuhku mulai menuntut obat2an masuk ke aliran darahku. Tapi Aku tak menemukan obat2an yang biasa aku sembunyikan dibalik ranjangku. Persediaanku habis. Aku menggendong adik kecilku dan mendudukkannya di dalam mobil. Aku melajukan mobilku dengan kencang dalam pengaruh alkohol, mencoba menuju tempat penyediaku. Dalam perjalanan pulang, Aku menyetir dengan keadaan mabuk karena alkohol & obat2an. Aku lalai dan kecelakaan itu terjadi. Adik kecilku meninggal ditempat. Masih teringat dengan jelas dikepalaku, tangan mungilnya yang terkulai, erangan paraunya yang menghilang perlahan dan matanya yang menatapku yang mulai kehilangan kesadaran.
Aku menyesal..sangat menyesal.
6 tahun berlalu, dan Aku juga belum dapat memaafkan diriku sendiri.
6 tahun berlalu dan Aku tetap saja belum dimaafkan oleh mereka.
Aku lelah.

Airmataku mengalir kian deras dan Aku melajukan kendaraanku kian kencang. Aku ingin mati! jika kematian dapat menghilangkan kesalahanku, Aku pasrah!
Aku terjunkan kendaraanku kedalam jurang yang terhampar didepanku. Jika kematian datang saat ini, Aku rela..pasrah..mungkin kematian dapat membebaskan Aku dari perasaan yang menyiksa ini.
Kendaraanku membentur sisi jalan dan menerjang jurang. Saat mobilku terguling, Aku masih tersadar dengan airmata yang tak kunjung berhenti mengalir. Serpihan kaca melukai tubuhku yang terlempar di dalam mobil. Aku masih tersadar saat kendaraanku berhenti terguling dan Aku masih dapat melihat darah yang mengalir dari perutku yang terhimpit rangka mobil. Aku tersenyum menyambut kematian.

Aku terbangun disebuah ranjang kecil, beberapa selang terlihat mengelilingi tubuhku. Aku mengerjapkan kelopak mataku perlahan. Sakit, perih tak tertahan. Aku melihat sosok Ayah dan Bundaku yang terduduk di sisi ranjang. Mereka menangis dan memeluk tubuhku yang terbalut perban.
Dengan susah payah Aku mengerjapkan kembali kelopak mataku.
Kematian belum menjemputku, Tuhan memberikan Aku kesempatan untuk menjalani hidupku dan membuka mataku, bahwa mereka masih menyayangiku.

Grey



Aku hanyalah sebuah bayangan dalam otak dan hatimu,
sebagaimana kamu menganggap bahwa Aku adalah sosok yang sempurna..
Aku hanya akan tetap menjadi semu.
Lihat Aku dengan mata, hati dan pikiranmu,
pergunakan semua inderamu untuk mengenalku lebih jauh lagi..
Jangan butakan salah satu inderamu..
karena nantinya yang kamu dapatkan hanyalah sebuah ilusi.

Aku hanyalah sebuah mimpi..
Aku hanyalah sebuah ilusi..
Aku hanyalah sebuah angan..
Aku hanyalah sebuah bayangan..
Aku tak kan pernah menjadi sebuah kenyataan.

Lalu, saat jemarimu menyentuh tubuhku,
Saat bibirmu menyentuh lembut diriku,
Saat hidungmu dapat menangkap harumnya tubuhku..
apakah pernah kamu berfikir bahwa kamu telah menyetuh hatiku??
Ataukah kamu telah buta dan merasa bahwa kamu telah menangkap hatiku??