Kamu, duduk disana. Bercengkrama, bercerita, tertawa, disana.
Raut wajahmu masih tetap sama, bahagia. Binar matamu masih tetap sama, indah.
Tak ada yang berubah bukan, sayang?
Keceriaan yang ku rindukan, celotehanmu yang kurindukan, binar matamu yang ku rindukan.
Tak ada yang berubah bukan, sayang?
Dulu, aku jatuh hati pertama kali karena binar matamu. Sepasang bola mata hitam kelam yang selalu berbinar indah saat aku menatapmu, bahkan saat aku mencuri pandang kearahmu.
Tak ada yang berubah bukan, sayang?
Saat ini pun, aku masih tetap memandangmu dari kejauhan.
Tak ada yang berubah.
Kamu masih saja dapat tersenyum manis, kamu masih saja dapat berceloteh dengan riang, kamu masih saja dapat tertawa bahagia, disana. Tanpa aku.
Tak ada yang berubah bukan sayang untukmu?!
Yang berubah hanyalah hidupku.
Aku rindu bercengkrama denganmu.
Aku rindu bercerita denganmu.
Aku rindu tertawa bersamamu,
Aku rindu menatap kedua bola matamu yang hitam kelam.
Aku rindu aroma tubuhmu yang harum walau tanpa minyak wangi.
Aku rindu caramu menyibakan rambutmu yang jatuh saat kamu tertawa.
Tak ada yang berubah bukan sayang untukmu?!
Yang berubah hanya hidupku, sepi.