Kamis, 27 November 2014

Es Kopi Dan Coklat Hangat

Hari, minggu, bulan, waktu yang terlewati tak bisa dihitung. Seperti malam itu, segelas es kopi dan secangkir coklat hangat terhidang di meja. Ada dua pasang mata yang terkadang bertemu, sepasang mata menatap, sepasang mata berusaha melihat arah yang berbeda karena jengah. Rasa jengah yang indah, rasa jengah karena debaran jantung berirama, menggelitik, menyiksa sepanjang waktu.
Malam menyembunyikan rona merah di wajah secangkir coklat hangat. Temaram cahaya, menyembunyikan rona merah dan gelisah yang bergejolak menggoda secangkir coklat hangat.
Segelas es kopi dan secangkir coklat hangat, entah apa yang mereka pikirkan malam ini, diantara kerlipnya sinar temaram lampu kota.
Segelas es kopi, entah apa yang dipikirkannya saat itu. Apakah dia bosan, apakah dia menikmati perbincangan dengan secangkir coklat hangat pada malam yang terlewati saat itu?
Secangkir coklat hangat, entah apa yang dia rasakan saat itu. Dia hanya begitu menikmat malam itu diantara kerlip temaram lampu kota bersama segelas es kopi.
Bolehkah dia mendekat?
Biarkan dia mendekat.
Bolehkah dia menyukainya?
Biarkan dia menyukainya.
Tetapi mungkin semuanya terasa begitu berlebihan, sehingga kata 'menyukai' tak mampu untuk terucap.
Tetapi mungkin semuanya terasa begitu cepat, sehingga kata 'cinta' tak dapat untuk terucap.
Biarkan dia mendekat, biarkan dia menyukainya, biarkan dia mencintainya, walau malam itu, rasa itu belum mampu untuk dia ucapkan.

Manis

"Bolehkah kuminta hatimu, tidak untuk sementara, tapi sampai akhir dunia?", ujarnya.
Dia tersenyum, matanya berbinar menyilaukan,
Indah...
Tak dia sadari bahwa hatiku mulai terperangkap perlahan.

Lelaki Dalam Pelukan Wanita

Jika lelakimu pergi kedalam pelukan wanita lain tanpa kata, tanpa penjelasan,
Relakan saja,
Mungkin pilu, tapi itu hanya soal waktu yang akan menghilangkan pilu.
Jika waktu berlalu, lelakimu kembali dan mengatakan bahwa dia tersesat dan ingin kembali pulang kepadamu,
Ucapkan saja bahwa dia memang tersesat kearahmu, dan dia harus pulang kembali kedalam pelukan wanita lainnya.

Senin, 24 November 2014

Antara Aku dan Kamu

Jangan ajari Aku bagaimana untuk mencintaimu,
Ajari Aku bagaimana untuk lebih mencintai Tuhan saat Aku bersamamu.

Kamis, 13 November 2014

Sang Penulis

Pena ditangan kanan, kertas ditangan kiri, melajukan imajinasi melewati realita. Merangkai huruf per huruf, kata per kata, kalimat per kalimat. Merangkai sebuah cerita.

Ini tentang apa?
Ini tentang siapa?
Ini untuk siapa?
Ini untuk apa?

Bukan itu yang dipikiran sang penulis,
mereka hanya berusaha merangkai imajinasi menjadi sebuah tulisan.

Tanpa makna kah?
Dengan makna kah?
Tentang siapakah?
Untuk siapakah?
Sang penulis membebaskan pembaca mencerna hingga mereka puas.

Kamis, 06 November 2014

Mari Kita Bicara

Jangan kau suruh aku melangkah kebelakang, sayang. Karena waktu tidak dapat berjalan mundur, karena waktu tidak dapat kuputar ulang.

Rabu, 05 November 2014

Rindu Jatuh Cinta

Rindu akan debaran jantung yang tak terkendali karena seseorang yang dapat disebut cinta.
Rindu untuk kembali merasakan debaran jantung yang tak menentu karena seseorang yang dapat disebut cinta.