Ada seorang putri, putri dari kerajaan matahari. Wajahnya menawan, hatinya lembut dan rapuh bagaikan gula-gula kapas. Bibirnya berwarna merah muda, terlihat segar untuk dipagut.
"Aku ingin menjadi seorang ksatria.", ujarnya suatu ketika.
Kemudian Sang Putri membabat rambutnya yang hitam berkilau, melucuti gaunnya yang indah, menggantinya dengan baju besi dan sebilah pedang.
"Aku adalah seorang ksatria. Takdirku untuk menjadi seorang ksatria!!.", teriaknya kepada dunia.
Sang Putri kemudian berkelana, menunggang seekor kuda yang berpelana dari kulit beruang. Kepada orang-orang Dia berceloteh. Berceloteh bahwa dia adalah seorang ksatria tampan yang hebat dan mulia. Menghabiskan waktunya untuk membawa kebaikan, menghabiskan hidupnya untuk berkelana menyebar kebajikan, berjuang keras dalam hidupnya untuk menyelamatkan jiwa wanita-wanita yang teraniaya.
Hingga suatu ketika, Sang Putri Matahari jatuh cinta kepada seorang Putri dari kerajaan Rembulan.
Sang Putri Matahari mengingkari takdirnya bahwa dibalik baju besi dan pedang yang tersandang di pundaknya, Dia tetaplah seorang putri, seorang wanita.
"AKU KSATRIA !", ujarnya.
"AKU KSATRIA MATAHARI !!", jeritnya.
"AKU SEORANG PRIA !!", jeritnya kian kencang.
Lalu, Peri-peri hitam melai menari, mulai bernyanyi.
' Dewa memberimu rasa itu, maka terimalah. Tidak ada yang salah dengan itu, tidak ada yang salah dengan dirimu. Dengan menerima hal itu, kamu lebih tinggi dari siapapun..kamu menerima takdirmu..kamu mencintai dewa dan dirimu menerima apa yang Dewa beri.', dendang para peri hitam.
Sang Putri tersenyum, dan kemudian berbalik, mengejar Putri Rembulan.
Putri Rembulan menangis saat jiwa sucinya terenggut oleh Putri Matahari.
Tapi apa daya ?
Putri Rembulan terlalu terperdaya untuk pergi, terlalu malu untuk melepaskan diri dan berlalu.
Hingga akhirnya Putri Matahari mulai bosan, kemudian kembali berkelana. Berkel;ana dari wanita ke wanita lain. Berkelana dari satu pelukan ke pelukan lain. Wanita-wanita yang dapat Dia perdaya dengan baju besi dan bilah pedangnya.
Kemudian Dewa-dewa murka. Kutukan pun dijatuhkan kepada Sang Putri Matahari.
Para peri hitam kembali berdatangan. Mereka kembali menari, kembali membisikan nyanyian untuk Putri Matahari.
' Tidak..Tidak..Ini bukan apa-apa wahai ksatria tampan. Ini sebuah petunjuk agar dirimu tetap seperti ini. Ini sebuah ujian dari para Dewa karena mereka sangat mencintaimu. Ini sebuah ujian untuk melihat tekadmu yang menerima takdirmu. Takdirmu sebagai seorang ksatria. Takdirmu sebagai seorang pria.'
Sang Putri tersenyum dan mengabaikan kutukan yang menggerogoti tubuhnya. Sang Putri terus berkelana dan menyebar kutukan yang dideranya kepada wanita-wanita lain. Tanpa sadar, Sang Putri mulai menghancurkan jiwa-jiwa murni, menyeret mereka dalam kegelapan.
Sang Putri tetap mendongak dengan angkuh. Masih berceloteh dan menceritakan dongeng kepada orang-orang. Dongeng tentang seorang ksatria tampan yang selalu berusaha keras untuk kebaikan, untuk menyelamatkan. Dongeng tentang dirinya sendiri.
Hingga akhirnya Sang Putri Matahari bertemu dengan seorang penyihir wanita.
"Aku jatuh cinta !!", ujarnya.
Sang Penyihir tersenyum dan kemudian berkata,
"Jiwaku gelap, tetapi jiwamu lebih gelap daripada jiwaku."
"Aku suci !! Aku ksatria yang bukan urusanmu jika para Dewa begitu mencintaiku karena Aku berani untuk menerima takdirku.", jeritnya gusar.
"Baju besi, sebilah pedang, berkelana, tak semerta menjadikanmy seorang ksatria. Karena tidak ada jiwa kesatria dalam dirimu.", ujar sang penyihir.
"AKU KSATRIA !!! Selamanya akan tetap menjadi seorang ksatria. Kamu hanyalah seorang penyihir yang arogan dan sombong.", jerit Putri Matahari kian gusar.
"Jika kamu seorang ksatria, kamu tidak mampu untuk berperang. Jika kamu seorang pria, kamu tidak mampu untuk membuahi.
Lalu, siapa yang arogan ? Siapa yang sombong ?
Bahkan untuk melindungi saja kamu tak mampu. Jiwamu gelap, menyebarkan kutukan.
Lalu apa yang kamu lindungi ?
Dirimu sendirikah ?
Lalu apa yang kamu syukuri ?
Kamu mengingkari takdirmu, jiwamu dengan berlindung dibalik baju besi serta sebilah pedang.", ejek Sang Penyihir.
"Terkutuklah kau penyihir !!! Cintaku percuma untukmu. Lebih baik Aku bersama orang-orang yang berjiwa suci, orang-orang yang menerimaku, orang-orang yang positif untukku.", jerit Putri Matahari geram.
"Silahkan. Orang-orang yang hanya akan menyeretmu jauh lebih dalam, jauh kedalam kegelapan. Selamat menikmati."
Sang Putri Matahari pergi sembari melontarkan kata caci maki kepada Sang Penyihir.
Peri-peri hitam kembali bermunculan. Mereka menari, Mereka bernyanyi.
'Wahai Ksatria Matahari,
Jangan engkau hiraukan penyihir terkutuk itu.
Penyihir kegelapan yang terbuang dalam lembah terlarang.
Selamanya dia akan terbuang disana.
Engkaulah kebenaran.
Engkaulah ksatria sejati.
Bahkan kami pun tahu itu..
Bahkan para Dewa pun mengakui itu.'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar