Selasa, 28 Oktober 2014

Satu dan Tiga Belas ( Prolog )

Ada sebuah kembang, kembang yang berwarna merah bergradasi kemudaan. Putiknya harum manis mencumbui udara, tertiup angin semilir dipadang rumput. Kembang yang sudah cukup matang untuk diteguk sari patinya. Putiknya harum manis menggoda, tertiup semilir angin dipadang rumput, menunggu, menunggu, dan menunggu.

Ada kumpulan lebah, mereka bergerombol melewati angkasa. Terbang dengan gagahnya diudara, melawan angin semilir yang berhembus dipadang rumput. Mengikuti harum manis menggoda yang dibawa semilir angin. Harum, manis, menggoda. Mencari, mencari, dan memilih.

Apakah kembang tidak dapat memilih antara lebah, kumbang, kupu-kupu, burung? Memilih salah satu diantara mereka untuk meneguk sari patinya yang telah matang. Apakah kembang ditadirkan hanya untuk menunggu, menunggu untuk diteguk sari patinya. Tanpa ada kesempatan untuk memilih, tanpa ada pilihan, hanya terpaksa untuk menerima lebah, kumbang, kupu-kupu, burung yang dengan acak memilih dirinya?

Ada sebuah kembang, kembang yang berbeda jenis, kembang yang tidak akan memilih. Bukan karena terpaksa, tetapi karena keinginannya sendiri untuk menerima serangga yang hinggap diputiknya yang mengundang. Yang kembang itu lakukan hanya menunggu dengan sabar, menunggu dengan sabar serangga-serangga itu tergoda untuk memilihnya, hinggap di putiknya, dan kemudian melahap setiap serangga rakus yang tergoda olehnya. Kembang yang tak akan memilih, karena kembang yang akan menentukan hidup serangga-serangga tersebut. Sebuah kembang yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar