Sabtu, 16 Mei 2015

Satu Adegan dalam Satu waktu di Satu Malam

Pemuda itu memejamkan matanya dikursi sebelah. Tubuhnya meringkuk miring menghadap wajah si gadis.

Mengantuk, itu yang dirasakan si gadis saat itu. Tetapi matanya tak dapat terpejam. Matanya terpaku menatap wajah pemuda yang tertidur dikursi sebelah.

Menyenangkan bukan melihat seseorang tertidur pulas, terasa damai.
Lalu apa rasanya jika suatu malam si gadis menemukan pemuda halalnya tertidur pulas dalam posisi yang sama disatu ranjang dengannya?
Masihkah tetap menyenangkan?
Masihkah terasa damai setiap malamnya?

Si gadis bergidik dan kemudian memalingkan wajahnya.
Menyeramkan membayangkan hal seperti itu. Bahkan menyeramkan untuk dijalani, seperti berjudi dengan hati.
Satu adegan itu kemudian terhapus. Pemuda halalnya ( yang hanya khayalan malam itu ) dia bungkus dengan dingin.
Si gadis tak suka berjudi, si gadis tak ingin berjudi dengan hatinya.

Selamat tidur khayalan.

Mata si gadis terpejam, mencoba untuk tidur dalam bus antar-kota yang melaju kencang malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar