Sabtu, 06 Juni 2015

Satu Pemuda Diwaktu Yang ( Tidak Pernah ) Tepat



Suatu waktu dia datang membawa secangkir kopi hitam panas untuk disesap sembari berbincang disetiap malam.

“Tak perlu gula.”, ujarnya.

“Lebih nikmat tanpa gula.”, ujarku.

Dan perbincangan mengalir begitu saja tanpa sanggup untuk terhenti.

Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam, enam jam, tujuh jam, delapan jam, Sembilan jam, dan kemudian sunyi.

Cangkir kopi telah kosong, pagi telah tiba, dia sunyi, aku senyap. Yang terdengar hanyalah suara manusia lain yang memulai aktivitas pagi.

Suatu waktu dia datang membawa secangkir kopi hitam panas untuk dinikmati sembari berbincang disetiap malam.

“Tanpa gula.”, ujarnya tersenyum.

“Favoritku.”, aku tersenyum.

Dan perbincangan kembali mengalir, hanya saja malam ini lebih beritme.

“Kunyanyikan sebuah lagu, agar kamu tertidur.”, ujarnya.

Suaranya mengalun manis diantara alunan gitar yang lembut, aku tersenyum, memejamkan mata, kemudian senyap.

Lima puluh sembilan menit, tiga puluh lima detik, aku terbangun, dia sunyi. Hanya dengkuran halusnya yang terdengar. Aku meneguk kopi yang telah dingin dari cangkir. Suara cangkir berdenting saat aku letakan diatas meja kaca. Dia terbangun.

“Tidurlah kembali.”, ujarku.

“Berdongenglah hingga aku terlelap.”, ujarnya.

Dan aku pun berdongeng lembut ditelinganya. Membuai malamnya dengan manis, diantara cangkir kopi yang telah dingin saat ini. Lima belas menit berlalu, dia kembali sunyi, suara nafasnya terdengar halus dan teratur malam ini, dan aku masih tetap berdongeng untuknya hingga pagi datang, dan kemudian aku senyap.

Suatu waktu dia datang lagi membawa secangkir kopi hitam panas untuk diminum sembari berbincang disetiap malam.

“Favoritmu.”, ujarnya tersenyum.

“Selalu.”, ujarku tersenyum.

Dan malam ini perbincangan terasa berbeda. Ada rasa yang seakan menjadi candu melebihi secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Rasanya nyaman yang melekat, bahkan saat perbincangan menjadi sunyi.

“Suaramu…menenangkan.”, ujarku.

“Begitupun kamu.”, ujarnya.

Malam ini memang berbeda, perbincangan mengalir begitu saja, cangkir kopi masih penuh tanpa sempat untuk disesap, walaupun saat dia sunyi, bahkan saat aku senyap, cangkir kopi tak tersentuh dan mulai dingin.

Suatu waktu dia tak lagi datang. Tak ada lagi secangkir kopi hitam panas tanpa gula . Tak ada lagi perbincangan dari malam hingga pagi menjelang. Tak ada lagi sunyi senyap yang menenangkan.

**


Secangkir kopi hitam panas tanpa gula, dua cangkir kopi hitam panas tanpa gula, tiga cangkir kopi hitam panas tanpa gula, empat cangkir kopi hitam panas tanpa gula, lima cangkir kopi hitam panas tanpa gula, enam cangkir kopi hitam panas tanpa gula, tujuh cangkir kopi hitam panas tanpa gula, dan sang gadis terhenti di delapan cangkir kopi hitam panas tanpa gula. Itulah yang yang terjadi disela aktivitasnya setiap hari. Entah kenapa tak pernah ada cangkir kesembilan untuknya, walaupun dia menginginkan cangkir kesembilan untuk dia sesap.

Waktu berlalu sedemikian cepat, setahun, dua tahun, delapan cangkir kopi hitam panas tanpa gula masih menemani aktivitas sang gadis tanpa jemu disetiap hari. Cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula bagaikan candu yang meresap disetiap pembuluh darahnya. Sepertinya tanpa mereka, dia tak sanggup menjalani harinya. Suara cangkir kopi yang berdenting, harum kopi hitam panas yang khas bagaikan melodi sempurna yang menenangkan, bahkan dihari yang riuh dan melelahkan, cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula bersenandung kepadanya, menenangkan. Candu, seperti sebuah candu.

Suatu waktu sang pemuda datang kembali tanpa secangkir kopi hitam panas tanpa gula ditangannya.

“Tak ada kopi malam ini.”, ujarnya.

 Sang gadis hanya sunyi, kemudian berlalu tanpa suara.

**

Secangkir kopi hitam panas tanpa gula, dan beberapa cangkir kopi hitam panas tanpa gula untuk sang pemuda. Tak terhitung berapa cangkir kopi hitam panas tanpa gula yang dia nikmati disetiap harinya. Tubuhnya selalu bergerak untuk menginginkan cangkir kopi hitam panas tanpa gula, hanya untuk menenangkan harinya, menenangkan malamnya yang gelisah.

“Favoritku…”, gumamnya sembari menyesap cangkir kopi hitam panasnya.

Dia tak ingin berhitung tentang cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula yang dia sesap disetiap harinya, berhitung hanya membuat dirinya kembali gelisah, berhitung tidak akan menenangkan dirinya disetiap hari yang riuh dan biasa. Berhitung hanya akan membuatnya kembali datang kedalam waktu yang terasa bagaikan mimpi yang tak bisa dia gapai. Berhitung itu melelahkan.

Setahun, dua tahun berlalu sedemikian cepat. Tak terhitung berapa cangkir kopi panas yang dia sesap disetiap harinya, hingga tanpa dia sadari, dirinya menghitung cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula. Dirinya mencoba menghadirkan kembali mimpi yang tak dapat dia gapai dulu.

“Tak ada kopi malam ini.”, ujarnya kepada sang gadis.

Sang gadis hanya sunyi, memandangnya dengan tatapan yang membuatnya kian gelisah, kemudian berlalu tanpa suara. Sang pemuda terdiam, tak ada perbincangan hingga pagi menjelang malam ini, tak ada yang menenangkan malam ini, tak ada suara denting cangkir kopi malam ini seperti dua tahun lalu. Hanya sunyi dan senyap malam ini.

**

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun berlalu, kini cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula tak lagi menjadi candu bagi sang gadis. Sang gadis membebaskan dirinya dari candu cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula.

“Cukup secangkir dua cangkir kopi hitam panas tanpa gula disetiap minggu.”, gumamnya.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun sudah berlalu, cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula masih saja menemani hari sang pemuda. Cangkir-cangkir kopi hitam panas tanpa gula yang tak ingin lagi dia hitung.

“Berhitung itu melelahkan.”, ujarnya.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun terlewati. Cangkir-cangkir kopi kembali berdenting lembut. Sang pemuda datang kembali, tetapi dengan cangkir kopi yang kosong.

“Apa kamu ingin secangkir kopi?”, Tanya sang pemuda.

“Hanya secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Hanya secangkir kecil saja.”, jawab sang gadis.

Sang pemuda mengisi cangkir-cangkir dengan kopi hitam panas tanpa gula. Satu untuknya, satu untuk sang gadis, dan kemudian mereka berbincang, seakan jeda perbincangan mereka selama 5 tahun tidak pernah terjadi. Mereka hanya berbincang hingga sunyi dan senyap datang.

Lagu Simons Adam mengalun lembut malam ini.


Far away,
Far away from where we were
Each of us were hiding
For so long

Sang gadis dan sang pemuda kembali berbincang hangat. Berbincang tentang hari-hari mereka, berbincang tentang waktu yang terlupa, berbincang tentang hidup.

“Kamu masih tetap membuatku merasa nyaman.”, ujar sang pemuda.

“Kamu pun masih tetap begitu.”, ujar sang gadis.

 
If I told what I could not say,
If I showed all and let you in,

“Dan aku takut.”, gumam sang pemuda.

“Takut?”, tanya sang gadis.

“Aku takut jatuh hati. Seperti dulu, aku jatuh hati kepadamu.”, jawab sang pemuda.

Sang gadis tersenyum jengah.

“Kamu seperti mimpi...yang ingin aku raih tapi tanganku tak mampu menggapaimu.”, gumam sang pemuda, pelan, nyaris tak terdengar.

Sang pemuda ikut membisu.


When well end up being more than friends
Well go hand in hand
Til you understand
Here I am


Malam kian larut. Sang gadis sunyi, sang pemuda senyap. Tak ada denting cangkir-cangkir kopi lagi. Hanya sunyi dan senyap.

Hari-hari sang gadis kembali riuh dan biasa. Tak ada lagi cangkir-cangkir kopi hitam yang berdenting, tak ada lagi perbincangan hangat disetiap malam, tak ada lagi suara-suara nyaman yang menyelimuti jiwanya dengan hangat. Tak ada lagi sang pemuda.

Hari-hari sang pemuda  kembali riuh dan biasa. Tak ada lagi cangkir-cangkir kopi hitam yang berdenting, tak ada lagi perbincangan hangat disetiap malam, tak ada lagi suara yang membalut dirinya dengan nyaman. Tak ada lagi sang gadis.


Far way
Far away from where we were


Dan cangkir-cangkir kopi hitam panas tak pernah lagi berdenting lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar