Rabu, 27 April 2016

294 Hari

"Aku ingin kita hanya menjadi teman saja."

Tukang kopi tertegun, menatap wajah gadis kopi dengan tatapan sendu.

"Berapa hari kita bersama semenjak perkenalan kita?"

"Dua ratus sembilan puluh empat hari.", ujar tukang kopi pilu.

"Dua ratus sembilan puluh empat hari, aku bahagia. Bahagia, rindu, menangis bersamamu. Terima kasih atas dua ratus sembilan puluh empat hari yang kita lalui bersama.", ujar gadis kopi lirih.

"Aku tak ingin membebanimu."

"Aku tahu. Hanya saja aku sudah tidak sanggup lagi berada disampingmu."

Tukang kopi menatap wajah gadis kopi.
Matanya yang sendu, hidungnya yang mungil, bibirnya yang pucat, pipinya yang tak berseri seperti dahulu awal mereka berjumpa.
Jemari tukang kopi menyentuh wajah gadis kopi.
Dahi, mata, hidung, pipi, bibir, dagu.

Mata dan pipi gadis kopi basah oleh airmata.
Mata tukang kopi berbinar luka.

Gadis kopi menghapus airmatanya, kemudian tersenyum.

"Maafkan aku. Harusnya hari ini tak ada airmata. Harusnya hari ini, kita lewati dengan senyum. seperti hari-hari sebelumnya yang kita lewati berjalan bergandengan tangan dan bercanda berdua."

"Maaf, aku tak dapat tersenyum saat ini.", ujar tukang kopi lirih.

Gadis kopi terhenyuh, airmatanya seakan mengkhianati keinginannya untuk tidak menangis.

Diujung jalan, gadis kopi memeluk tukang kopi yang hanya diam, tak membalas pelukannya.
Gadis kopi berlalu, memacu mobilnya, kembali pulang.

**

Tukang kopi menatap setiap kenangan tentang gadis kopi. Wajah-wajah bahagia mereka yang terekam dalam potret.

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap


Lagu Payung Teduh - Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan melantun menggema dalam kamar. Tukang kopi masih memandang wajah-wajah bahagia dalam potret.

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana


 Tukang kopi meraih telepon selularnya,

'Aku sangat menyayangimu.
Jangan lupakan Aku..'

Tukang kopi menangis, hatinya terluka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar