Selasa, 20 Juni 2017

Devil in a Shell

Ada sesosok iblis, dia berawal dari sebuah embryo dan kemudian dalam beberapa hari berubah menjadi fetus. Beberapa minggu kemudian, dia menetas kedalam bentuk yang sempurna. Wujud yang menyerupai manusia dan juga menyerupai hewan. Kulitnya berwarna putih keperakan, matanya menyerupai mata seekor kucing, tangannya menyerupai tangan manusia, tetapi kukunya terlalu runcing dan terlihat seperti sebuah cakar. Rambutnya berwarna coklat keemasan, daun telinganya mempunyai sudut 45 derajad. Dahinya rata dan ada sebuah tanduk yang terhias disana.
Hari ini hari kelahirannya, tubuhnya masih terbalut oleh lendir yang menyelimutinya di dalam cangkang.
Ah, Iblis menggeliat dan menjilat habis lendir-lendir yang menempel di tubuhnya.
"Ada cahaya.", ujarnya sembari mengintip dari dalam cangkang.
Bola matanya berbinar saat mengintip dunia dari dalam cangkangnya. Begitu banyak cahaya, begitu banyak manusia, begitu indah, begitu menakjubkan. Rasa ingin tahunya mengelitik dalam hati, tapi apa daya, iblis betina masih belum berwujud sempurna. Tubuhnya masih terbalut lendir yang pekat, tubuhnya masih belum cukup kuat untuk keluar dari cangkangnya. Tubuhnya masih belum sempurna untuk menjelajahi isi dunia.
Iblis betina melenguh pelan, binar matanya terlihat begitu indah, berkilat misterius diantara sinar lampu kota yang menembus diantara sela-sela cangkang.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Iblis betina menunggu dengan sabar didalam cangkang. Waktu demi waktu yang terlewati, Iblis betina tetap saja memperhatikan dunia manusia dari dalam cangkangnya. Rasa ingin tahunya bertambah besar, bertambah kuat, seperti luapan api yang berkobar kian hebat. Dan kini, sudah 365 hari terlewati, Iblis betina tumbuh dengan sempurna.
Perlahan Iblis betina mengangkat cangkang yang selama ini menjadi pelindungnya, menjadi rumah baginya. Kakinya yang jenjang, betisnya yang bagai butir padi, terlihat bersinar keperakan diterpa sinar lampu kota malam ini. Iblis betina membawa tubuhnya yang telanjang menyusuri jalan menuju kota.
Binar mata Iblis betina terlihat takjub memandang dunia manusia saat ini, dunia yang selama ini hanya ia dapat lihat melalui dalam cangkang, kini ia berjalan diantaranya. Tubuhnya yang telanjang berjalan melewati manusia-manusia yang berlalu-lalang. Mata mereka memandang Iblis betina dengan aneh. Iblis betina merasa heran dan memandang manusia-manusia yang menatapnya, kemudian menatap ke tubuhnya sendiri.
Ah, Iblis betina sadar, manusia-manusia itu memakai sesuatu untuk menutupi tubuhnya.
Iblis betina berjalan sedemikian cepat, mencari tempat sepi untuk bersembunyi, mencari tempat dimana ia dapat menemukan sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
**
Iblis betina berjalan menyusuri kota dimalam hari, melewati kerumaunan orang yang berjalan lalu lalang di tepi jalan. Tubuhnya kini telah ditutupi oleh gaun putih tipis yang begitu ringan, hingga saat dia berjalan, gaunnya tertiup indah oleh semilir angin malam.
Iblis betina merasa bagaikan hidup, rasa ingin tahunya yang tak bertepi kini menjadi kenyataan. Kakinya bagaikan menari, diantara sinar lampu. Bibirnya tersenyum melihat keindahan dunia manusia. Bibirnya tersenyum menikmati ajaibnya dunia manusia.
"Manusia begitu menarik, manusia begitu beragam, manusia begitu menakjubkan.", begitu pikirnya.
Kakinya masih terlihat seakan menari menyusuri jalan, tanpa lelah, seakan berusaha memenuhi rasa ingin tahunya yang tanpa tepi.
"Aku ingin menjadi Manusia...Aku ingin menjadi manusia...", gumam iblis betina.
Dan kemudian jalan mulai terlihat sepi. Manusia yang berlalu lalang kini terlihat berbeda. Iblis betina melihat sekeliling. Ada kakek tua yang tertidur di pinggir jalan. Tubuhnya terlihat lusuh dan berbau busuk. Ada pemuda yang berjalan sempoyongan, wajahnya rupawan, memikat kaum hawa. Tapi aroma tubuhnya tercium harum nechtar yang memabukkan. Iblis betina menatap pemuda tersebut dengan pandangan heran.
Harum nechtar begitu kuat menggelitik penciuman iblis betina. Harumnya menggoda sekaligus memuakkan. Iblis betina menatap pemuda tersebut dengan tatapan takjub.
'Inikah yang terjadi apabila manusia meminum minuman kaumnya?', pikirnya.
Pemuda tersebut melangkah sempoyongan ke arah Iblis betina. Wangi nechtar yang memuakkan tercium kian pekat. Iblis betina terperajat saat pemuda tersebut menyentakkan tangannya, menarik Iblis betina begitu kuat kearahnya.
"Ahhh...Wanita, semua wanita itu adalah makhluk jalang. Dan kamu adalah wanita...jalang.", ujar pemuda tersebut.
Jemari pemuda tersebut mencengkram rambut Iblis betina dengan kuat dan kemudian menghempaskan tubuh Iblis betina ke tepi jalan. Pemuda tersebut kembali mencengkram rambut Iblis betina, dengan rakus bibir pemuda tersebut menciumi wajah Iblis betina. Iblis betina meronta, menepis tubuh pemuda tersebut hingga terjengkal. Iblis betina kemudian berlari menjauh, rasa takut menjalar ditubuhnya.
Iblis betina terus berlari menjauh, hingga nafasnya menderu kelelahan. Kakinya terhenti, iblis betina mengatur nafasnya perlahan. Seketika iblis betina tersadar, sekitarnya cahaya temaram. Matanya menangkap tubuh-tubuh sensual merayu dipinggir jalan. Pakaian yang minim, bibir yang memerah, kulit yang oranye tertimpa sinar lampu jalan. Wangi parfum begitu kuat bercampur aduk hingga busuk.
Iblis betina terperangah.
Ada suara dengusan, desahan manja, suara ciuman, suara kulit yang saling bergesekan ditengah riuhnya gerombolan wanita-wanita sensual yang berjejer dipinggir jalan.
Indah, pikir iblis betina.
Sebuah ritual yang biasa dilakukan manusiakah?
Tanya iblis betina dalam hati.
Kakinya kembali melangkah. Disekian banyak orang-orang yang berlalu lalang, mereka tak kunjung jengah dengan pemandangan yang cukup asing bagi Iblis betina.
Iblis betina terus saja melangkah, mengagumi pemandangan sekitarnya. Cahaya lampu, bangunan-bangunan kaca, sampah-sampah bergeletakan dipojokan, gerombolan orang yang terlihat seperti berpesta hingga tergeletak dan terluka, gerombolan orang dengan sumpah serapah didepan sebuah bangunan. Begitu banyak hal yang Iblis betina lihat waktu ini.
Seketika Iblis betina menghentikan langkahnya disebuah bangunan kecil berjendela kaca besar. Iblis betina menatap ke dalam. Sebuah proyeksi akan 2 manusia dewasa dan satu manusia kecil.
Itu ayah, itu ibu, dan itu anak.
"Ayah?"
"Ibu?"
"Anak?"
Gumam Iblis betina.
Proyeksi yang seketika menggelitik sesuatu didalam tubuhnya. Tubuh Iblis betina menghangat, sesuatu itu seperti berdenyut. Dan kemudian matanya mengeluarkan airmata.
"Aku ingin pulang.", pikirnya.
"Aku ingin pulang.", gumamnya.
Iblis betina melangkahkan kakinya cepat sembari memeluk tubuhnya sendiri, seakan takut akan kehangatan yang ia rasakan tadi menghilang.
Angin membantunya, aroma cangkang kehidupannya terjejak dalam angin.
Iblis betina pulang, walau ia tak mengerti apa itu pulang.
**
Cangkangnya masih ada disana, cangkangnya terlihat begitu teduh, nyaman dan berbeda dengan yang ia lihat pertama kali membuka mata. Iblis betina perlahan masuk kembali kedalam cangkangnya, menggelung tubuhnya dengan liat dan menutup matanya perlahan.
Sebuah tangan menyentuh rambutnya perlahan. Iblis betina membuka matanya. Diantara cangkang yang pecah, Iblis betina melihat dua sosok yang menyerupai sosoknya.
"Ayah?!", ujarnya
"Ibu?!", katanya
Tubuh Iblis betina menghangat, sesuatu didalam tubuhnya kembali tergelitik. Kali ini dengan irama yang berbeda.
"Aku pulang. Akhirnya aku pulang.", Iblis betina menangis lega.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar