Rabu, 07 Juni 2017

Tidak Ada Filosofi Kopi Untukku

Apa kau butuh filosofi untuk meminum secangkir, dua cangkir kopi, ataupun bercangkir-cangkir kopi?
Kau ibaratkan rasa kopi seperti hidupmu?
Kau ibaratkan kopi yang kau minum seperti cinta?
Atau seperti apakah kau ibaratkan kopi yang kau minum?
Aku?
Aku tak perlu filosofi untuk meminum secangkir, dua cangkir ataupun bercangkir-cangkir kopi.
Yang ku tau, aku menikmati rasa kopi itu sendiri.
Tentu saja kopi tanpa gula.

Kopi tanpa gula?
Pahit kau rasa, tapi manis ku sesap.
Terlalu pahit kau kata,
tetapi tetap saja bagiku kopi hitam tanpa gula nikmat untuk ku sesap.
Ini hanyalah masalah selera.
Bukankah setiap orang punya kadar toleransi yang berbeda dalam indera perasanya?!
Bukan berarti jika kau tak menyukai rasa kopi hitam tanpa gula yang ku sesap membuat kau memusuhiku ataupun membenciku bukan?

Kupikir, seperti itulah perbedaan.
Berbeda bukan berarti kita harus saling membenci satu dengan yang lain.
Kupikir, berbeda itu yang membuat hidup jadi lebih menarik.
Kupikir, aku dapat menghargai perbedaan asal tak ada kebencian yang tersirat.
Kupikir, aku masih dapat belajar dari orang-orang yang berbeda.
Toh baik dan buruknya tetap harus aku pilah dengan akal sehat serta norma yang berlaku.
Kupikir, kita semua masih harus sama-sama belajar.
Bukankah dalam hidup itu, manusia tak berhenti belajar?

Kupikir, menyesap kopi bersama sambil berbincang tentang pendapat yang berbeda itu baik.
Asal jangan kau tanam kebencian disana.
Asal jangan kau sebar kebencian disana.
Asal jangan kau melontarkan kebencian disana.

2 komentar: