Hatiku beku, tak bisa lagi Aku merasakan cinta. seperti saat ini, melihat dirinya yang berdiri dihadapanku, menggenggam jemariku dengan erat. Bola matanya menatap mataku dengan binar yang menakjubkan. Aku hanya bisa berdiri disana, terpaku..terdiam...bibirku kelu.
Kata-kata yang terucap dari bibirnya terdengar bagaikan sebuah bisikan..rancu..
Yang bisa Aku tangkap hanyalah sebuah kalimat, "Aku mencintaimu dengan sangat."
Dan Aku masih saja terpaku, bibirku kelu, otak ku terasa kaku.
Ketika tubuhnya mendekat dan mendekap tubuhku dengan erat, mencium bibirku dengan lembut, tubuhku merasakan hangat tubuhnya. Tubuhku bereaksi, tetapi tidak dengan hatiku. Yang ada hanya kosong, tak ada getaran yang dulu Aku rasakan saat bersama dirinya. Tak ada gejolak dari gairah yang membara di dalam sini. Hanya ada kehampaan yang tak bertepi, dan bibirku masih saja terasa kelu.
**
Andai saja janji tidak pernah terucap, janji yang hanya untuk seseorang. Janji yang terucap karena lelah yang terasa di dalam hati. Sebuah janji yang terus saja tergenggam erat, meski rasa cinta itu tak bisa terasa lagi.
Lumintang duduk terdiam, menatap Maliq yang terlelap diatas ranjang. Bola mata Lumintang menatap tubuh Maliq yang telanjang di atas ranjang, menyusuri lekuk demi lekuk tubuh Maliq yang terlelap bagai bayi. Entah sudah berapa malam Lumintang selalu terbangun di waktu yang sama, melakukan hal yang sama. Hanya duduk terdiam disamping ranjang, menatap tubuh Maliq yang terlelap. Bukan sebuah ketakutan yang Lumintang rasakan, bukan sebuah ketakutan akan kehilangan Maliq kembali. Hanya saja otaknya terus saja bekerja. berusaha meyakinkan dirinya, bahwa yang Lumintang jalani bukanlah sebuah mimpi, tetapi sebuah kenyataan.
Tetapi, mengapa setiap detik yang berlalu, setiap jam, hari, minggu, bulan dan tahun yang berlalu, Lumintang tak bisa merasakan, merasakan apa yang harusnya menghangatkan hatinya. Hatinya tetap tidak bergetar, tetap tidak bergejolak. Tak ada gairah yang terasa, tak ada percikan disana. Yang terasa hanyalah kosong. Sedangkan setiap Maliq menatapnya, terlihat binar indah disana, gejolak disana, terlihat gelora disana, terlihat percikan disana..terlihat indah, keindahan yang tak bisa menjangkau hatinya yang seakan mati.
Semua ini bagaikan mimpi yang tak berjiwa, kosong, hampa..
Tidak, Lumintang tidak pernah mencintai seseorang lagi setelah keberadaan Maliq. Lumintang sudah berjanji untuk mencintainya, walaupun seberapa berat dan menyakitkan berada disisi Maliq, walaupun betapa hancur hatinya karena menunggu seorang Maliq. Dan kemudian sebuah janji terucap kala itu, Janji untuk selalu untuk Maliq, menunggunya untuk kembali kepadanya, setelah semua petualangan Maliq berakhir. Walau orang-orang berkata janji hanyalah sebuah janji, sebuah janji bodoh yang tak harus Lumintang genggam sedemikian erat.
Mungkin mereka tak bisa mengerti, untuk seorang Lumintang, janji itu suci, janji itu tak mungkin dipatahkan oleh siapapun. Namun, ternyata hatinya pun membatu, saat Lumintang menghentikan hatinya untuk belajar mencintai kembali, Maliq muncul dihadapannya dan meminta janjinya.
"Aku bosan berpetualang ditumpukkan wanita-wanita jalang itu sayang, Aku kembali kepadamu..kembali kepadamu untuk mewujudkan mimpi kita berdua. janji kita berdua.", begitu ujar Maliq.
Suara rintik hujan terdengar lembut membasahi jendela kamar, dan Lumintang masih saja duduk terdiam, memandangi tubuh Maliq yang terlelap. Hanya suara rintik hujan dan detik jam yang memenuhi ruangan. Dan kemudian hujan turun dengan deras membasahi bumi. Tubuh Lumintang menggigil kedinginan, rasa lelah dan lemah menjalar ditubuhnya yang terlihat begitu rapuh.
Lumintang beranjak dari duduknya dan kemudian bergelung dibalik pelukan Maliq. Hangat tubuh Maliq menghangatkan tubuhnya, tetapi entah mengapa hatinya tetap saja terasa dingin, terasa kosong.
**
Matahari menatap malu-malu dari balik jendela pagi ini. Lumintang berdiri disisi jendela, menatap alam yang masih basah oleh hujan semalam. Sunyi, sepi, tak ada gelak tawa yang terdengar seperti biasa. Lumintang memalingkan wajahnya perlahan, menatap tumpukan pakaian di atas ranjang. Tumpukan pakaian yang disusunnya sedemikian rupa. Perlahan Lumintang melangkah dan membelai lembut pakaian itu satu demi satu, membelai lembut ranjang dimana tempat biasanya dirinya berlindung dibawah kehangatan tubuh Maliq. Ditatapnya buku yang biasa Maliq bacakan untuknya, sebagai dongeng sebelum Lumintang tertidur. Kemudian jemari Lumintang membelai lembut photo Maliq yang tersenyum lembut. Entah mengapa hati Lumintang ikut bergetar dengan lembut.
"Apa ini?", pikir Lumintang.
Lumintang berjalan perlahan menuju cermin. Ditatap refleksi dirinya saat ini. Wajahnya yang berkeriput, rambutnya yang sudah memutih.
Ah...iya...waktu tak terasa berlalu saat kita berada di negeri mimpi bukan?!
Hingga 30 tahun berlalu, tanpa terasa.
Angannya kembali membawanya ke masa lalu, masa dimana saat Maliq masih ada disini. memeluknya dengan erat dari belakang didepan cermin. membelai lembut rambutnya, dari waktu ke waktu. Membisikkan kata cinta dan betapa cantiknya Lumintang, walaupun usia tua menggerogoti tubuhnya.
Lumintang memeluk photo Maliq dengan erat.
Hari ini sepi, hari ini sunyi.
Tak akan ada gelak tawa Maliq lagi disetiap harinya.
Semilir angin bertiup lembut memasuki kamar, menerpa rambut Lumintang yang memutih.
Semilir angin bertiup dengan lembut, seakan membawa suara Maliq yang berbisik lembut ditelinga Lumintang..
"Aku mencintaimu Lumintang, sampai kapanpun Aku tetap mencintaimu.".
Airmata Lumintang mengalir dengan deras, hatinya yang membeku pun kemudian mencair.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar