Saat hujan mulai reda, butir-butir air berjatuhan lembut dari pucuk dedaunan. Aku menghela nafas dalam, "Ya Tuhan, Aku tersesat.", batinku.
Aku memejamkan mataku perlahan dan menarik nafas, berusaha menenangkan hatiku yang mulai resah. Sayup-sayup, gendang telingaku mendengar nyanyian, betapa merdunya, membuai hatiku dalam perasaan yang damai. kemudian cuping hidungku mencium wewangian manis yang membuat air liurku berlomba memenuhi rongga mulutku.
Aku membuka mata perlahan, dan kemudian terpesona oleh apa yang tertangkap oleh indera pengelihatanku.
Betapa indahnya, betapa mempesonanya. Tanpa sadar Aku berdecak kagum.
Pelangi membentang, langit terlihat begitu berseri, dedaunan seakan bersinar oleh butir-butir air, bunga-bunga bermekaran dengan indah, dan peri-peri mengepakkan sayapnya seakan menari sembari bernyanyi. Aku tersenyum, menikmati pemandangan di depan mataku. Indah dan mempesona.
Seketika Aku tersentak, terkejut saat peri-peri itu terbang menghampiriku. Mereka menggodaku dengan sayapnya yang terlihat rapuh, dengan nyanyian mereka yang merdu, mereka menggodaku, mengajakku untuk ikut berpesta dengan mereka, berpesta menikmati keindahan alam.
Betapa memabukkan dunia ini, penuh dengan keindahan, penuh dengan kebahagiaan. Andai saja Aku terus bisa berada di sini.
Aku melihat peri-peri itu terus saja bernyanyi, terbang kesana-kemari sembari menebar serbuk bunga, menebar kehidupan di tempat ini. Burung-burung pun ikut bernyanyi gembira, sang kodok tak hentinya bersuara dengan irama yang indah, kupu-kupu terbang dengan gembira, mencoba untuk meminum sari manis dari bunga-bunga yang seakan berdasa, bergemerincing dengan merdu.
Aku kembali berdecak dengan kagum.
Seketika Aku terkejut saat tumbuhan sekelilingku mulai layu, pepohonan mulai mengering, burung-burung berjatuhan, pelangi mulai menghilang, kupu-kupu kehilangan sayapnya, kodok-kodok mulai berhamburan kesana-kemari, dan peri-peri itu mulai kehilangan sayapnya, berjatuhan satu persatu, mereka berjatuhan dan mati hanya dalam sekejap mata.
Aku tercengang, dalam sekejap surga ini menghilang..dalam sekejap semuanya menghilang.
Kemudian Aku mendengar suara isak tangis yang menyayat hati. Aku berjalan perlahan, berusaha mencari asal tangisan tersebut. Aku mendapati peri yang menangis dengan sayapnya yang mengering, mengerikan. Tanganku menggapainya perlahan dan membelainya dengan lembut.
"Apa yang terjadi pada kalian semua? Mengapa surga ini menghilang dalam sekejap mata?", ujarku.
"Manusia..semua ulah manusia.", ujarnya, diantara tubuhnya yang sekarat.
"Aku tak mengerti..?!".
"Manusia membuat dunia kami menghilang, manusia membuat kami menghilang dan musnah. Karena keserakahan manusia surga kami menghilang. Manusia, makhluk egois yang menganggap bumi ini hanya milik mereka. Mereka menebang pohon sesuka hatinya, membuang limbah ke air kehidupan kami, menyingkirkan setiap unsur-unsur alam yang harusnya mereka ikut jaga. Kini, tak ada lagi pelang, tak ada lagi kunang-kunang, tak ada lagi pesta kehidupan kami. Manusia melupakan kami, Manusia memusnahkan kami.", ujarnya terisak.
Aku terdiam memandang tubuh mungil peri itu dalam telapak tanganku. Seketika bibirku kelu saat melihat peri itu mulai layu, mengering dan mati. Semilir angin bertiup lembut, namun tanpa ada aroma manis, tanpa ada lantunan lagu, tanpa ada irama yang menyenangkan, menerbangkan tubuh peri yang mengering dan mati.
Aku menghela nafasku, terasa berat dan sesak. Aku memejamkan mataku perlahan, dan mencoba menghirup udara sebanyak yang Aku mampu. Yang terasa hanyalah kosong.
Suara dentuman dan klakson mulai terdengar bising ditelingaku, nafasku kembali terasa sesak. aku membuka mataku yang terpejam, memandang jalanan yang padat oleh hewan-hewan besi yang berlalu lalang di depanku. Langit begitu terlihat kelabu, Tak ada pelangi yang menghiasi, yang Aku lihat hanya kerlip lampu ibukota. Tak ada udara manis yang memenuhi pemandangan ini, yang ada hanya udara penuh dengan wewangian busuk oleh polusi. Aku tercengang, ini duniaku..dunia yang sangat jauh berbeda dengan surga itu.
"Aku telah kembali..", desahku.
Kemudian Aku melangkahkan kakiku, menyusuri jalanan yang kering dan berdebu..yang ada hanya kosong..yang ada hanyalah hampa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar