Kamis, 18 Juli 2013

Kota yang Mati Suri

Aku berjalan menyusuri kota Jakarta malam ini. Masih terlihat ramai, walau waktu mulai menunjukkan pukul 10 malam. Kerlip lampu gedung tinggi berpijar terang, mengalahkan kerlip bintang yang berpijar dilangit. Kerlip lampu kendaraan yang masih saja berlalu-lalang berpijar menyilaukan mata. Jakarta, kota yang seakan tidak pernah mati.

Aku terus menyusuri jalanan, tanpa arah. Hanya sekedar untuk menikmati kota ini, menikmati pemandangan yang terlihat begitu indah dan memabukkan ini. Hingga kemudian rasa lelah dan haus menghampiriku. Aku terdiam, berusaha mencari tempat untuk mengistirahatkan kakiku yang mulai terasa pegal. Ditengah nafasku yang terengah, mataku berusaha mencari mini market yang menjamur di kota ini. Dan tak beberapa lama, Aku menemukan apa yang Aku cari. Sebuah mini market yang buka 24 jam. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, bagaikan seorang musafir ditengah gurun yang tak sabar saat melihat Oase.

"Ahhh...."
Suaraku terdengar seperti lenguhan sapi saat air dingin dari botol minuman segar yang Aku beli dengan terburu di sebuah mini market, membasahi kerongkonganku yang sedari tadi terasa mencekat. Aku menghela nafas, lega karena terbebas dari rasa haus.
Aku kembali menatap jalanan ibukota yang masih saja ramai oleh suara-suara kendaraan dan klakson yang membahana memecah malam. Kemudian, sesuatu terasa menggelitik dihatiku saat melihat sebuah taman mungil yang berada di seberang jalan. Tak Aku sadari, kakiku melangkah menuju taman itu, seakan tersihir oleh rimbunnya pemandangan yang ada didepan mata.
Aku menikmati taman kecil ini, rerimbunan pohon, sinar lampu yang temaram dan udara yang sejuk.
Ini menenangkan.

Sedikit sunyi disini, walaupun sesekali suara-suara kendaraan masih bisa terdengar dari balik rerimbunan. Aku menyusuri taman ini perlahan. Terlihat sepasang muda-mudi disana sedang bercengkrama dengan mesra.
Yah, romantisme picisan yang menganggap bahwa mereka sedang jatuh cinta, di dunia mereka sendiri.
Senyum tipis menggelayut di bibirku yang menghitam karena pengaruh nikotin. Yah, tidak jelek juga saat mereka di mabuk kasmaran, terjerat dalam romansa yang entah nantinya akan mereka bawa kemana.
Aku menolehkan wajahku dengan perasaan sedikit iri. Iri akan kemesraan mereka, Iri karena waktu mudaku saat mengalami romansa itu sudah berakhir.

Aku kembali melangkahkan kakiku, menyusuri jalan setapak. Saat tak kuat lagi melangkah, Aku mendudukkan tubuhku yang kelelahan disebuah bangku taman yang mungil. Tak sengaja mataku menangkap dua sosok yang saling merapat. Aku terkejut saat menyadari dua sosok itu terlihat setengah telanjang. Aku mengusap mataku, berusaha meyakinkan apa yang Aku lihat.
Yah, mereka setengah telanjang bergulingan diantara rerumputan dan temaramnya lampu taman. Suara rintihan dan lenguhan sesekali terdengar di gendang telingaku. Mereka tetap saja bersenggama disana, liar, penuh nafsu dan tanpa malu.
Aku terperajat saat menyadari bahwa tak hanya mereka saja yang bersenggama disana. Ada beberapa pasangan lain yang juga melakukan hal yang sama tak beberapa jauh dari tempat mereka.
Tatapanku seketika mengabur, rasa mual dan jijik menjalar di tubuhku yang terasa kaku.
Tubuhku tersentak, dan kemudian berlari pergi.
Aku manusia, tetapi pemandangan itu seperti sebuah distorsi yang bergaung di otakku, distorsi yang mengganggu di mataku.

Nafasku terengah saat kakiku mulai berhenti berlari. Cahaya lampu dan deruman kendaraan kembali terdengar hiruk pikuk. Mataku menyipit saat lampu kendaraan yang berlalu lalang menyinari tubuhku yang masih saja dicumbui rasa terkejut.
Aku berusaha mengatur nafasku, perlahan.
Berusaha menepis distorsi yang masih mengganggu otak dan mataku.

Aku menoleh perlahan saat seseorang menepuk bahuku dengan lembut. Terlihat wanita yang menawan bagai bidadari berdiri disana. Senyum tipis menghiasi bibirnya yang ranum.
"Saya menjual cinta untuk malam ini, Apakah Anda tertarik untuk mencicipi cinta yang Saya tawarkan??", ujarnya.
Aku terpaku, dan menepis tangannya.
kemudian berlalu pergi.

Sesaat Aku menoleh kebelakang. Wanita itu terlihat menghampiri pria lainnya. Dia tersenyum genit dengan gerakan tubuh yang menggoda.
Aku terpaku, sadar bahwa tempat itu penuh dengan wanita-wanita yang mereka katakan bahwa mereka menjual cinta, walau hanya semalam.

Aku kembali mendengus, dan memalingkan wajahku. Rasa jijik dan mual kembali menyerang.
Aku kembali melangkahkan kakiku.
Bukan hal ini yang Aku ingin lihat, begitu gumamku.

Aku menemukan sebuah warung tenda yang terlihat sepi pengunjung. Rasa mual dan jijik masih saja terasa menderu di tubuhku. Aku butuh minuman hangat, untuk meredakan rasa mual ini. Ku periksa kantongku, masih ada uang yang cukup untuk sekedar membeli sekedar teh hangat dan makanan-makanan kecil.

Saat Aku menunggu teh hangat pesananku terhidang, Aku terhibur oleh nyanyian dari suara mungil yang dilantunkan oleh anak kecil yang menepukkan kaleng kecil didepanku. Saat nyayiannya terhenti, dia menatapku dengan tatapan polos. Aku menarik tangannya dan berujar lembut.
"Berapa usiamu nak?"
"Delapan tahun Pak.", jawabnya.
"Sudah sekolah?", tanyaku kembali.
"Belum pak."
"Dimana orangtuamu?", selidikku.
Dia terdiam sesaat dan kemudian menjawab dengan malu.
"Saya tidak punya bapak. sedangkan ibu saya sedang bekerja disana.", ujarnya lirih sembari menunjuk kearah taman yang Aku susuri tadi.
Aku tertegun.
"Apa pekerjaan ibumu?"
"Ibu bekerja dengan hebat, karena Ibu saya bekerja menjual cinta disetiap malamnya. Kata Ibu, dunia kekurangan cinta.", Ujarnya lirih.

Aku kembali tertegun. Menatap anak itu dengan lembut dan membelai rambutnya perlahan. Sinar matanya terlihat masih murni, belum dikotori oleh dunia.
Aku menghela nafas dan kemudian merogoh kantongku. Matanya terlihat berbinar dengan senyuman yang mengembang di wajahnya saat aku memberikan beberapa lembar uang ribuan dan sebungkus makanan untuknya.

Selesai aku menyeruput teh hangatku, mulutku masih saja terasa pahit.
Aku beranjak dan membayar minuman dan makananku.
Seketika Aku rindu akan rumah.

**
Dirga menyusupkan tubuhnya yang lelah kebalik selimut. Pikirnya masih saja terbayang akan apa yang Ia alami tadi.
"Kota ini indah dan memabukkan, terlihat tak pernah mati. Tetapi ternyata dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang mati suri. Terlena oleh gemerlapnya dunia, tetapi semu...keindahan yang semu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar