Kamis, 15 Agustus 2013

Lipstik


Aku kembali melangkah masuk kedalam rumah ini, rumah yang dahulu Aku huni. Masih terlihat seperti dulu.  Dinding kayu, lantai kayu, furniture yang mayoritas terdiri dari kayu menghiasi rumah ini. Aku memejamkan mata, menyesap udara yang sepertinya Aku rindukan.
Aku membuka mataku perlahan saat mendengar suara berdenting ditelingaku. Angin berhembus lembut, menyibakkan tirai dari pintu kaca belakang. Seorang gadis muda terlihat berjalan perlahan melewati tirai yang berhembus. Wajahnya bersinar murni, berseri, polos. Gaun putihnya ikut tersibak angin saat gadis itu melangkah. Gadis muda yang terlihat begitu naif, begitu suci, begitu rapuh.
Gadis muda itu berjalan perlahan, matanya terbuka, bibirnya tersenyum lembut, penuh kebahagiaan tetapi jemarinya yang mungil menggapai udara kosong didepannya, seakan terlihat sedang mencari arah. Dengan langkah kecilnya yang perlahan, bibirnya masih saja tersenyum.
Ah, gadis muda, bahkan kemudaannya terkesan bahwa rambut kemaluannya baru saja tumbuh, begitu murni..begitu polos.

Aku terkejut saat gadis muda itu tiba-tiba berlari kecil, kakinya terlihat seakan menari bersama angin yang masih membuai. Indah, terlihat begitu indah.
Suara gelak tawa menggelitik digendang telingaku, membawa sedikit rasa yang melembutkan hatiku.
Mataku menatap lekat kapadanya, tak mampu untuk berpaling, memperhatikan setiap gerik tubuhnya yang mempesona. Kemudaannya mempesonaku.

Gadis muda itu menghampiri seorang pria yang duduk sembari menyesap secangkir kopi hangat. Tangannya masih saja berusaha menggapai, meraba, dan saat jemari gadis muda menemuka sosok pria itu, senyum kembali mengembang di bibirnya. Jemarinya mebelai dengan lembut setiap lekuk wajah pria itu. Dahinya, matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, rambutnya, terlihat wajah gadis muda dipenuhi dengan ekspresi kepuasan yang membahagiakan. tetapi entah mengapa Aku merasa itu memuakan. Pria itu hanya menatapnya dengan datar, dan kemudian menepis jemari gadis itu dengan kasar kemudian berlalu.
Gadis muda terlihat berusaha mencari pria itu dan kemudian melangkah mengikuti suara langkahnya yang terdengar terburu. Tanpa sadar Aku mengikuti gadis muda itu, mengikuti kemana arah perginya tanpa suara.

Seorang gadis muda tersenyum saat menemukan pakaian yang dikenakan pria itu. Jemarinya membelai lembut dan kemudian memeluknya dengan perasaan bahagia. Pria itu berdiri didepannya, dan kemudian kembali menepisnya dengan kasar. Aku tersentak saat sekilas melihat ekspresi terluka di wajah gadis muda itu.
Entah berapa kali pria itu menepis gadis muda itu dengan kasar, saat gadis muda itu berusaha menggapainya.
Aku terlihat begitu muak, begitu marah.
Seberapa keras gadis muda itu berusaha mengejar pria itu, pria itu tetap tidak bergeming. memperlakukannya bagaikan sebuah boneka. Terkadang terlihat pria itu memeluk gadis muda dengan erat, terkadang terlihat pria itu menepis gadis muda dengan kasar.
Aku tak tahan dengan pemandangan yang ada didepanku.
Begitu naif gadis itu, begitu dungu gadis itu.
Rasa marah kian membuncah didalam hatiku, seketika Aku mencengkram tangannya yang kecil dan kemudian menyeretnya ke arah kamar mandi.
Aku menenggelamkan tubuhnya kedalam bak mandi yang penuh dengan air. Tubuhnya terlihat meronta, berusaha melawan cengkraman tanganku. Matanya yang jernih menatapku dengan tatapan bertanya diantara air yang menggenang, tetapi amarahku tak juga reda.
 "Sadarlah...Sadarlah...untuk apa kamu mencintai semurni itu, sedangkan kamu tidak dicintai!!!!", ujarku.
Airmata mengalir deras dari mataku. Rasa marah, muak, benci bergelut didalam tubuhku yang masih saja mencengkram gadis muda itu didalam air.
Dan kemudian Aku menarik tanganku dari dalam air saat gadis muda itu sudah tidak bergerak.
Aku terduduk dilantai kamar mandi, airmataku mengalir kian deras. Dengan tertatih Aku berusaha bangun dari dudukku. Aku menatap tubuh gadis muda yang sudah tidak bergerak didalam air. Tubuhnya perlahan mengabur, seakan tersapu air.
Aku menghapus airmataku perlahan, berdiri didepan kaca dan kemudian memoleskan lipstik di bibirku yang pucat. Terlihat refleksi wajah gadis muda itu didepan kaca. wajah yang tidak lagi terlihat polos, wajah yang tidak lagi terlihat murni, wajah yang tidak lagi muda. Wajahku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar