Rabu, 14 Agustus 2013

Retak

Meja makan malam ini kembali mendingin. Hari ini tepatnya memasuki malam ke-5. Tak ada percakapan yang biasanya terdengar, tak ada senda gurau yang biasanya terlontar. Yang terhidang hanyalah suara denting garpu dan sendok yang beradu.
Seorang wanita duduk disebelahku, wajahnya masih terlihat cantik diantara helai-helai rambutnya yang memutih dan keriput-keriput mungilnya yang menghiasi. Di seberang meja makanku, duduk seorang pria yang masih terlihat gagah, walaupun usia tua mulai menggerogoti tubuhnya.
Mereka adalah sepasang jiwa yang bersengama dan mewujudkan jiwa baru yang berwujud Aku.
Mereka adalah sosok yang Aku kagumi sebagai sepasang jiwa yang bisa bertahan selama puluhan tahun.
Tetapi kini, mereka diam membisu, tak bertegur sapa ataupun bersenda gurau. Seakan tak perduli akan kehadiran masing-masing.

Meja makan malam ini bertambah dingin, saat mereka berkata bahwa mereka akan berpisah.
Tidak, bukan perasaan sedih yang ada. Tetapi perasaan hampa yang kemudian membeku.
dan seketika rumah ini terasa ikut membeku. kehangatan yang dulu ada lenyap satu persatu.
Aku tak ingin bertanya "mengapa" kepada mereka ataupun kepada Tuhan. Karena pertanyaan "mengapa" selalu menjadi hal yang melelahkan dan tak akan menjadi kepuasan.

Aku meninggalkan meja makan dengan perasaan kosong, otakku terasa kaku. Aku merebahkan tubuhku perlahan di atas ranjang dan menarik selimut, menutupi tubuhku yang menggigil. Berharap saat pagi menjelang semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar