Senin, 23 September 2013

Bangsawan

"Aku berdarah biru.", ucapnya dengan nada angkuh.

"Tolong ambilkan Aku pisau, biar Aku torehkan ditanganmu. Aku ingin tahu, apakah darahmu benar-benar berwarna biru.", jawabku dengan malas.

Dia menatapku dengan pandangan meremehkan, seakan-akan Aku adalah makhluk bodoh yang tidak mengerti akan maksud dari ucapannya. Senyumnya mengembang tipis, sinis. kemudian berkata,

"Aku bangsawan, bukan darahku yang benar-benar berwarna biru."

"Lalu, apa istimewanya menjadi bangsawan. Toh kamu tetaplah kamu.", jawabku.

"Tentu saja ini istimewa. Keluargaku dielu-elukan oleh masyarakat. Garis keturunanku istimewa, begitu istimewa, berharga. tidak seperti kalian, hanya kaum rakyat jelata.", ujarnya angkuh, sombong, meremehkan.

Aku memandangnya dengan tatapan heran, tatapan heran yang kemudian berubah menjadi rasa kasihan.

"Tak ada yang istimewa. Toh darahmu tetap saja merah. Toh kebangsawananmu tak akan menyelamatkan kamu dari kematian, penyakit, kesedihan, luka dan juga dosa. Lalu, untuk apa kamu banggakan?! Hanya karena segelintir orang mengelu-elukan keluargamu? Kebangsawananmu juga tidak akan membuatmu pintar tanpa belajar, tidak akan kamu bawa sampai mati."

Terlihat raut wajahnya merasa terhina.

"Aku tak akan menilai kamu dari status kebangsawananmu. Toh Aku bukan seorang penjilat. Aku menilai dirimu dari dirimu sendiri, dari pola pikirmu, dari karaktermu."

"Kamu hanya iri, karena Aku istimewa, karena Aku lebih tinggi darimu.", ujarnya kasar.

"Apa yang harus membuat Aku iri ? Toh kita masih sama-sama memakan nasi, kamu tidak memakan emas bukan ?! Bahkan pendidikanku jauh lebih tinggi dari dirimu. Apa gunanya Aku iri dengan hal seperti itu ? Ras, suku, warna kulit, status, kekayaan, tak akan membuatku iri. Aku tak ingin menjadi orang picik yang hanya melihat manusia dengan golongan-golongan tertentu. Coba lihat Aku, Aku pribumi, walaupun wajahku tidak terlihat seperti orang pribumi. Keluargaku multikultur, bercampur pula diantara agama yang berbeda. Bahkan kalau mau jujur, Ayahku pun seorang bangsawan. Aku bangga dengan itu ? Tidak, Aku tidak bangga. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Aku hanya akan membanggakan apa yang Aku raih sendiri, apa yang Aku usahakan sendiri, bukan berdasarkan status, harta, ras, bangsa ataupun suku. Aku bangga karena Aku sendiri.", ujarku.

Wajahnya memerah menahan marah bercampur rasa malu, kemudian dia berlalu pergi.

Ah, manusia itu lucu bukan, tetapi manusia juga merupakan makhluk yang menarik.
Aku menggelengkan kepalaku dan kembali sibuk dengan secangkir teh hangat yang perlahan-lahan mulai dingin.
Yah, manusia itu makhluk yang lucu, tetapi juga sangat menarik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar