Selasa, 25 Februari 2014

Elegi Sang Betina dan Pejantan

BETINA

Sang betina menemukan seekor jantan kecil yang terluka di antara ilalang yang menjulang tinggi. Tubuh jantan yang kecil, kurus, kotor terlihat gemetaran menahan sakit dan takut. Terlihat luka yang menganga lebar diantara kakinya yang kurus. Sang betina terhenyuh, hatinya bergetar iba. Diangkatnya tubuh sang jantan perlahan, lembut. Luka sang jantan dijilati sang betina dengan penuh kasih, layaknya buah hatinya sendiri.

Sang betina terhenyuh, betina baru saja kehilangan anak semata wayangnya yang dibunuh oleh pejantannya, hanya karena betina melahirkan pejantan yang baru. Pejantan merasa bahwa pejantan yang baru lahir itu akan menjadi ancaman untuk dirinya kelak. Naluri hewannya bekerja, dan kemudian membunuh pejantan yang baru beberapa hari dilahirkan, walaupun pejantan kecil itu adalah darah dagingnya sendiri.
Sang betina sendiri bukannya tidak berbuat apa-apa, betina berusaha melindungi pejantan kecil yang baru beberapa hari dia susui, tetapi apa daya, tubuhnya masih lemah oleh kelelahan yang dialaminya. Pejantan kecilnya mati dan dimakan oleh pejantan-pejantan besar lainnya, dan betina terluka parah.

Sang betina menatap lembut pejantan kecil yang masih saja gemetaran menahan sakit dan takut. Dengan lembut betina memeluk pejantan kecil, membuainya hingga tertidur.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, pejantan kecil mulai tumbuh besar dalam asuhan betina. Hingga musim kawin mulai datang, pejantan kecil yang mulai beranjak besar mulai gelisah. Nalurinya untuk berkembang biak mulai terasa kian kuat. dan kemudian pejantan kecil mengawini betina yang merawat, menyusuinya dulu. Betina tergolek layu, hatinya terluka untuk kesekian kali oleh pejantan. Seperti setiap air susu yang menetes jatuh untuk diteguk oleh pejantan kecil yang telah beranjak dewasa menjadi sia-sia.
Sang betina hamil, dan melahirkan pejantan kecil lainnya. Kejadian yang sama kemudian terulang bagai sebuah rangkaian mimpi buruk yang berputar tanpa ujung.

Sang betina terkulai layu, diantara tubuhnya yang terluka disamping bangkai pejantan kecil barunya yang mulai membusuk dan rusak, betina merutuk pejantan-pejantan dari jenisnya.
Hujan mulai jatuh, airmata sang betina luruh bersama air hujan, diantara bangkai pejantan kecil dan ilalang-ilalang yang tertiup angin.


JANTAN


Sang jantan berjalan menyusuri hutan. Saat ini adalah musim kawin, waktunya bagi pejantan untuk mencari betina untuk dia kawini.Yang pejantan lakukan hanya mengikuti nalurinya pada setiap musim kawin, mengikuti harum khas yang dikeluarkan betina disetiap musim kawin, harum khas menggoda untuk mengundang para pejantan untuk membuahi mereka disetiap musim kawin.

Pejantan hanya mengikuti naluri hewaninya, nalurinya untuk membuahi di musim-musim tertentu. Tentu saja hal itu tidaklah mudah, diantara langkanya betina dari jenisnya, pejantan harus memperebutkan betina dari pejantan-pejantan dewasa lain. Yang terkuatlah yang akan menang, walaupun pada akhirnya, setelah pejantan berhasil membuahi betina, pejantanlah yang kemudian mati.

Sang jantan menemukan seekor betina yang menunggu manis diantara rangkaian kenur yang terajut sempurna. Wangi khas yang tercium dari tubuh sang betina begitu memabukan. Sang jantan menoleh ke sekeliling, Tidak ada pejantan lain yang terlihat disana. Dengan mantap, pejantan melangkahkan kakinya menyusuri sulur yang terjuntai di pepohonan, menghampiri betina.

Setelah beberapa kali betina menghindar dari rayuan sang jantan, betina yang berukuran lebih besar dari sang jantan mulai menyerah. Perlahan sang jantan menaiki tubuh betina, memeluk betina dengan kaki-kakinya yang kecil. Musim kawin kali ini sang jantan akhirnya dapat memenuhi nalurinya.
Ritual kawin terjadi sedemikian cepat. Sang jantan mengerang, kaki-kaki kecilnya kemudian mengkerut saat palpinya menyalurkan ribuan sperma ke tubuh betina. Sang jantan bergetar, menggelepar, dan kemudian terkapar diatas tubuh betina, teronggok sembari memeluk tubuh betina, meregang nyawa perlahan..perlahan..perlahan.

Sang jantan pasrah, dia tahu usianya akan berakhir pada saat ritual kawin selesai dilaksanakan. Sang jantan pasrah, dia tahu kematiaannya tak akan sia-sia karena keturunanya telah ada di tubuh betina. Sang jantan pasrah, dan menyerahkan tubuhnya untuk disantap oleh betina saat usianya berakhir.

Empat pasang mata sang jantan menatap betina yang masih berada dibawahnya, binar lembut penuh kasih terlihat disana saat menatap betina. Kemudian binar itu mulai lenyap perlahan demi perlahan, kemudian terlihat hampa..kosong..mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar