BETINA
Sang betina menemukan seekor jantan
kecil yang terluka di antara ilalang yang menjulang tinggi. Tubuh jantan yang
kecil, kurus, kotor terlihat gemetaran menahan sakit dan takut. Terlihat luka
yang menganga lebar diantara kakinya yang kurus. Sang betina terhenyuh, hatinya
bergetar iba. Diangkatnya tubuh sang jantan perlahan, lembut. Luka sang jantan
dijilati sang betina dengan penuh kasih, layaknya buah hatinya sendiri.
Sang betina terhenyuh, betina baru
saja kehilangan anak semata wayangnya yang dibunuh oleh pejantannya, hanya
karena betina melahirkan pejantan yang baru. Pejantan merasa bahwa pejantan
yang baru lahir itu akan menjadi ancaman untuk dirinya kelak. Naluri hewannya
bekerja, dan kemudian membunuh pejantan yang baru beberapa hari dilahirkan,
walaupun pejantan kecil itu adalah darah dagingnya sendiri.
Sang betina sendiri bukannya tidak
berbuat apa-apa, betina berusaha melindungi pejantan kecil yang baru beberapa
hari dia susui, tetapi apa daya, tubuhnya masih lemah oleh kelelahan yang dialaminya.
Pejantan kecilnya mati dan dimakan oleh pejantan-pejantan besar lainnya, dan
betina terluka parah.
Sang betina menatap lembut pejantan
kecil yang masih saja gemetaran menahan sakit dan takut. Dengan lembut betina
memeluk pejantan kecil, membuainya hingga tertidur.
Hari demi hari berlalu, minggu demi
minggu berlalu, pejantan kecil mulai tumbuh besar dalam asuhan betina. Hingga
musim kawin mulai datang, pejantan kecil yang mulai beranjak besar mulai
gelisah. Nalurinya untuk berkembang biak mulai terasa kian kuat. dan kemudian
pejantan kecil mengawini betina yang merawat, menyusuinya dulu. Betina tergolek
layu, hatinya terluka untuk kesekian kali oleh pejantan. Seperti setiap air
susu yang menetes jatuh untuk diteguk oleh pejantan kecil yang telah beranjak
dewasa menjadi sia-sia.
Sang betina hamil, dan melahirkan
pejantan kecil lainnya. Kejadian yang sama kemudian terulang bagai sebuah
rangkaian mimpi buruk yang berputar tanpa ujung.
Sang betina terkulai layu, diantara
tubuhnya yang terluka disamping bangkai pejantan kecil barunya yang mulai
membusuk dan rusak, betina merutuk pejantan-pejantan dari jenisnya.
Hujan mulai jatuh, airmata sang
betina luruh bersama air hujan, diantara bangkai pejantan kecil dan
ilalang-ilalang yang tertiup angin.
JANTAN
Sang jantan berjalan menyusuri
hutan. Saat ini adalah musim kawin, waktunya bagi pejantan untuk mencari betina
untuk dia kawini.Yang pejantan lakukan hanya mengikuti nalurinya pada setiap
musim kawin, mengikuti harum khas yang dikeluarkan betina disetiap musim kawin,
harum khas menggoda untuk mengundang para pejantan untuk membuahi mereka
disetiap musim kawin.
Pejantan hanya mengikuti naluri
hewaninya, nalurinya untuk membuahi di musim-musim tertentu. Tentu saja hal itu
tidaklah mudah, diantara langkanya betina dari jenisnya, pejantan harus
memperebutkan betina dari pejantan-pejantan dewasa lain. Yang terkuatlah yang
akan menang, walaupun pada akhirnya, setelah pejantan berhasil membuahi betina,
pejantanlah yang kemudian mati.
Sang jantan menemukan seekor betina
yang menunggu manis diantara rangkaian kenur yang terajut sempurna. Wangi khas
yang tercium dari tubuh sang betina begitu memabukan. Sang jantan menoleh ke
sekeliling, Tidak ada pejantan lain yang terlihat disana. Dengan mantap,
pejantan melangkahkan kakinya menyusuri sulur yang terjuntai di pepohonan,
menghampiri betina.
Setelah beberapa kali betina
menghindar dari rayuan sang jantan, betina yang berukuran lebih besar dari sang
jantan mulai menyerah. Perlahan sang jantan menaiki tubuh betina, memeluk
betina dengan kaki-kakinya yang kecil. Musim kawin kali ini sang jantan
akhirnya dapat memenuhi nalurinya.
Ritual kawin terjadi sedemikian
cepat. Sang jantan mengerang, kaki-kaki kecilnya kemudian mengkerut saat
palpinya menyalurkan ribuan sperma ke tubuh betina. Sang jantan bergetar,
menggelepar, dan kemudian terkapar diatas tubuh betina, teronggok sembari
memeluk tubuh betina, meregang nyawa perlahan..perlahan..perlahan.
Sang jantan pasrah, dia tahu usianya akan berakhir pada saat ritual kawin selesai dilaksanakan. Sang jantan pasrah, dia tahu kematiaannya tak akan sia-sia karena keturunanya telah ada di tubuh betina. Sang jantan pasrah, dan menyerahkan tubuhnya untuk disantap oleh betina saat usianya berakhir.
Empat pasang mata sang jantan menatap
betina yang masih berada dibawahnya, binar lembut penuh kasih terlihat disana
saat menatap betina. Kemudian binar itu mulai lenyap perlahan demi perlahan,
kemudian terlihat hampa..kosong..mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar