Jumat, 21 Februari 2014

Hollow

"Aku pulang.", ujarnya pelan.
"Selamat datang.", jawabnya perlahan sendiri.
Rumah ini sepi, hanya ada gelap, tanpa ada sinar lampu yang menerangi.
Dia menutup pintu perlahan, meletakkan sepatunya yang berhak tinggi di rak sepatu. Tungkai kakinya yang bagai butir padi melangkah perlahan menuju kamar tidur.
Dia menghidupkan lampu kamarnya, dan kemudian melepaskan pakaiannya satu persatu hingga telanjang. Matanya menatap kabur keatas ranjang.
Ranjang yang kosong, ranjang yang terlihat sepi, ranjang yang terlihat begitu dingin walaupun malam ini adalah malam di musim panas.
Dia menghela nafas, perlahan. Ranjang ini terlihat sedih, terlihat sepi, terlihat begitu dingin disetiap malamnya, disetiap waktu yang telah terlewati, walaupun musim panas datang dan pergi tanpa terhitung.
Rasa lelah merayap disetiap inci tubuhnya. Tubuhnya yang telanjang merayap naik ke atas ranjang. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah perlahan, menghadap kesisi ranjang yang kosong.
Bola matanya memancarkan sinar hampa, sepi, sedih.
Bibirnya kembali menggumam lembut, "Selamat tidur, sayangku..selamat tidur..".
Tangannya, jemarinya membelai sisi ranjang yang kosong, yang terasa begitu sepi, terasa begitu sedih, begitu dingin di malam musim panas ini.
Tubuhnya menggigil, kedinginan, walau malam ini udara panas menyergap di udara. Jemarinya mengamit selimut dan menutupi tubuhnya yang telanjang, lelah dan sepi.
Matanya terpejam, jemarinya kembali membelai lembut sisi ranjang yang kosong.
"Selamat tidur, sayangku..selamat tidur..", gumamnya lirih..pilu..sepi..
Dan dia tertidur dengan tubuh yang begitu letih, begitu sepi, begitu pilu.

Ranjang masih saja terlihat begitu sepi, begitu sedih di malam musim panas ini.
Ranjang masih saja terlihat begitu dingin di malam musim panas ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar