Dahulu kunang-kunang berpijar terang,
menyinari alam semesta.
Sinarnya berpijar, berkerlip,
bagaikan menari, bagaikan melagu, diudara.
Dahulu, kunang-kunang berpijar terang.
Menyinari alam semesta dengan cahayanya yang lembut,
berkerlip dengan gelora, dinamis,
menari diudara.
Tapi, kini cahaya kunang-kunang meredup.
Tergantikan oleh pijar lampu kota.
Tumbuhan-tumbuhan mulai lenyap, hilang,
tergantikan oleh tumbuhan kokoh megah, tanpa nyawa.
Kunang-kunang tersingkir,
Cahayanya masih tetap sama,
Tetapi memudar,
terkalahkan oleh lampu kota yang berpijar,
terang, menyilaukan,
menggoda, merayu.
Kunang-kunang menyingkir,
membiarkan cahaya lampu kota menggantikannya.
"Biarkan", ujarnya.
"Biarkan saja.", katanya.
Kunang-kunang menyingkir,
melayang dengan cahayanya yang lembut.
Kunang-kunang menyingkir,
melayang ke lembah gelap, tetapi lebih hidup.
Kunang-kunang kembali menari,
Menari sendiri,
Hingga cahayanya meredup dan sekarat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar