" Senja.", ujarnya tersenyum tipis.
Saat itu Canting terpana melihat sosok Senja. Perawakannya mungil, kulitnya putih kekuningan yang pucat, hidungnya yang kecil, matanya yang tipis, bola mata yang hitam pekat, rambutnya yang tergerai sebahu berwarna anggur lembut, dan tulang rahang yang terpahat sempurna. Senja persis seperti peri dalam imajinasi Canting.
Dari beberapa kali pertemuan yang tidak disengaja, membuat Canting dan Senja menjadi dekat. Hingga Senja mengajak Canting untuk membagi sewa apartemen berdua, karena Senja mulai kewalahan membayar sewa semenjak teman sekamarnya menikah.
Awal tinggal bersama terasa begitu berbeda, Senja terlihat sulit untuk didekati, terlalu banyak jarak, terlalu banyak senyum, dan terlalu banyak rahasia. Sulit untuk Canting tinggal satu atap dengan Senja. Senja yang perfeksionis, terkadang berlalu lalang didalam kamar apartemen dengan setengah telanjang, Senja yang mempunyai kebiasaan merokok parah, Senja dengan nafsu makan yang luar biasa besar yang membuat Canting kadang terkagum-kagum dengan asupan makanan Senja yang mirip dengan seekor anak gajah, tetapi tetap mempunyai tubuh yang mungil seperti itu. Lama kelamaan, Canting mulai terbiasa tinggal dalam satu atap bersama Senja. Senja yang Introvert sedikit Ambivert, Senja yang tidak mengkonsumsi alkohol, selalu menyukai kesunyian dan suasana tenang, Senja yang sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca, menggambar dan mendengarkan musik dibandingkan bersenang-senang keluar, Senja yang selalu tahu untuk bersenang-senang dan menikmati waktu luangnya sendirian. Dan Canting mulai menyukai karakter Senja yang terkadang terlihat kompleks.
Sore ini Senja pulang kerja lebih awal dari biasanya. Asing bagi Canting melihat Senja duduk di beranda tanpa sebuah buku seperti saat ini. Canting menarik kursi dan duduk bersisian dengan Senja.
"Hei..".
Senja menoleh melihat Canting sekilas, tersenyum tipis dan kemudian kembali menatap bangunan-bangunan yang terlihat dari beranda.
"Sekarang sabtu malam. Kamu ndak keluar?", tanya Canting.
"Nope. Sabtu malam terlalu melelahkan untuk dinikmati diluar sana.", ujar Senja pelan.
Canting terdiam dan kemudian ikut menatap bangunan-bangunan yang mulai bercahaya saat matahari mulai turun di ufuk barat.
"Hidup itu terkadang lucu ya?!", gumam Senja pelan.
"Iya...", ujar Canting.
Saat itu Canting merasa seakan mengerti maksud perkataan Senja. Saat itu Canting seakan mempunyai pikiran yang sama dengan Senja. Hidup itu terkadang lucu.
**
Canting mulai merasakan kedekatan yang lebih kepada Senja. Bahkan, Canting mulai mengerti mengapa dengan usia yang sudah cukup umur untuk menikah, Senja masih saja belum mempunyai pasangan. Mungkin orang-orang berfikir Senja terlalu pemilih, Senja mencari kesempurnaan, atau mungkin Senja pembenci lelaki. Ah, itu terlalu konyol sebenarnya jika mereka tahu kebenarannya.
Senja, anak pertama dari tiga bersaudara. Masa kecilnya dia habiskan dengan bermain di sawah, hutan, pantai. Senja pernah mengalami pelecehan seksual saat usianya baru 8 tahun. Senja ditelanjangi 3 orang lelaki di gang sempit tempat biasa ia lewati. Tubuh kecilnya dijamah, diraba dan diciumi paksa. Senja kecil menangis meronta, menendang dan berhasil kabur walaupun harus meninggalkan sepeda tuanya disana. Hal itu menghantuinya setiap malam.
Dan kemudian, saat Senja berusia 12 tahun, Senja kembali mengalami pelecehan seksual. Hanya saja saat itu, pelakunya adalah guru dimana tempat Senja bersekolah. Kejadiannya terjadi saat Senja mencari obat merah untuk temannya di UKS. Sang guru masuk ke UKS, menghampiri Senja, mengajak Senja mengobrol kemudian tubuh Senja dipeluk dengan erat, wajahnya yang dipenuhi kumis dan janggut mendekat kewajah Senja. Wajah dan leher Senja diciumi dengan penuh nafsu oleh sang guru. Senja meronta, saat tangan sang guru menyusup kebalik seragam sekolah dan meremas payudara Senja yang baru tumbuh saat itu, Senja meronta kian kencang, memukul, mencakar, menendang. Dan Senja berhasil menyelamatkan dirinya saat itu.
Hal-hal seperti itu kian menghantui Senja setiap malam. Mungkin bagi kebanyakan orang, usia-usia seperti itu adalah usia yang masih wajar untuk menangis pulang dan mengadu kepada ayah ibu. Tetapi tidak dengan Senja. Ayahnya sibuk bekerja, dan ibunya pun bekerja. Sedangkan setelah pulang bekerjapun, ibu Senja tidak ada waktu untuk memberi perhatian kepada Senja. Bagi ibunya, Senja seperti pelampiasan amarahnya. Dari usia mulai bisa berjalan, berbicara dan mengerti akan emosi, Senja terbiasa dicubit, dipukul dengan tangan, sapu lidi, atau bahkan gagang sapu ijuk. Pernah suatu ketika, Senja belum mandi sore, ibunya menyeret Senja ke kamar mandi dan menyiram Senja dengan air dingin. Senja juga pernah disiram air panas, dilempar piring, didorong dari tangga, dijambak, wajahnya di balur dengan nasi yang baru tanak. Saat Senja mulai ingin protes, ibunya menggunakan hak istimewa dari Tuhan, yaitu kata 'durhaka'. Kata yang membuat Senja bungkam, dan hanya dapat menangis terngungu dikamarnya sembari mengusap memar-memar ditubuhnya.
Apa Tuhan itu adil?
Tuhan memberikan hak bagi seorang ibu untuk melontarkan kata 'durhaka' bagi anaknya. Bahkan jika kata 'durhaka' sudah terlontar dari mulut sang ibu, anak mereka akan jauh dari syurga. Dan kata 'durhaka' seakan menjadi senjata terampuh untuk mengintimidasi anak mereka.
Tuhan memberikan hak bagi seorang ibu untuk melontarkan kata 'durhaka' bagi anaknya. Bahkan jika kata 'durhaka' sudah terlontar dari mulut sang ibu, anak mereka akan jauh dari syurga. Dan kata 'durhaka' seakan menjadi senjata terampuh untuk mengintimidasi anak mereka.
Sekejam itukah Tuhan?
Bahkan jika seorang ibu tidak menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu. Yang dia tunaikan hanya pada saat mengandung dan menyusui, apakah kata 'durhaka' dapat dengan mudah jatuh kepada sang anak?
Begitu benak Senja saat itu.
Bahkan jika seorang ibu tidak menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu. Yang dia tunaikan hanya pada saat mengandung dan menyusui, apakah kata 'durhaka' dapat dengan mudah jatuh kepada sang anak?
Begitu benak Senja saat itu.
Sedangkan Senja belajar untuk merawat dirinya sendiri sedari kecil, saat sakit panas ranjangnya hanya ada dirinya sendiri, saat Senja terjatuh dan kepalanya bocor, yang ada hanya guru TKnya saat itu, dan entah berapa sakit yang Senja lewati, ibunya tidak pernah ada disisinya. Sedangkan ayahnya terlalu sibuk bekerja, saat pulang kelelahan dirumah, ibunya selalu tersenyum dan mengatakan kondisi dirumah baik-baik saja, hingga ayah tidak perlu khawatir. Akhirnya Senja belajar untuk menghadapi semuanya sendiri, Senja tidak percaya dengan label keluarga, karena biar bagaimanapun manusia akan meninggal sendirian. Senja belajar seperti itu sedari dia kecil.
Toh setelah beranjak dewasapun, Senja tidak luput dari kekerasan oleh orang-orang terdekatnya. Pertama kali Senja mempunyai pacar, dibulan pertama ia amat baik, manis, hingga entah darimana perangai buruknya keluar. Beberapa kali Senja dipukul, tubuh mungilnya dilempar ketembok, dicekik, kepalanya dihantam ketembok, dan semua itu berakhir dengan uraian airmata lelaki itu sembari menyembah, meminta maaf kepada Senja. Cinta yang membuatnya begitu, kata lelaki (nya). Senja berulang kali memaafkan lelaki (nya), berharap kejadian itu tidak akan terulang. Akan tetapi kejadian tersebut kembali terulang, berkali-kali. Senja melarikan diri dari lelaki (nya), seperti bermain petak umpet, hanya saja Senja tidak ingin ditemukan lagi oleh lelaki (nya). Terkadang Senja terpaksa pulang memutar jalan, mengambil rute yang tidak biasa untuknya, pulang lebih larut dari biasanya karena lelaki (nya) menunggu Senja berjam-jam ditempat dimana Senja menghabiskan waktu, bahkan menunggu didepan rumah. Hal itu memaksa Senja untuk pindah mencari kontrakan baru, permainan petak umpet tersebut berlangsung selama setahun, hingga lelaki (nya) tidak lagi terlihat.
Senja kembali mendepatkan kekerasan dari lelaki baru yang menjadi pacarnya selang beberapa tahun berlalu, tidak jauh berbeda dari yang kemarin-kemarin. Hanya saja kali ini lelaki baru (nya) ternyata memang berperangai kasar. Acap kali Senja menelan pahit diduakan, menemukan photo-photo setengah telanjang, pesan-pesan nakal ditelepon genggam lelaki baru (nya), jika Senja menanyakan dengan baik, Senja kembali diperlakukan kasar, bahkan saat Senja berusaha meninggalkan lelaki baru (nya), Senja ditarik, ditampar, dipukul hingga memar.
Ironis bukan, justru orang-orang yang berjanji tidak akan menyakiti, tidak akan membuat bersedih dan menangis, adalah orang-orang yang justru menyakiti Senja dalam konteks yang lebih ekstrim.
Senja memilih sendiri, dinding yang dia bangun didirinya kian menjulang tinggi, melindungi dirinya dari luka. Terkadang mekanisme otak manusia mempunyai caranya sendiri untuk melindungi diri, dan itulah yang terjadi dengan Senja. Senja melindungi dirinya dengan memasang tembok lebih tinggi disekitarnya, agar tidak terluka lebih jauh dari sebelumnya.
Senja memilih sendiri, dinding yang dia bangun didirinya kian menjulang tinggi, melindungi dirinya dari luka. Terkadang mekanisme otak manusia mempunyai caranya sendiri untuk melindungi diri, dan itulah yang terjadi dengan Senja. Senja melindungi dirinya dengan memasang tembok lebih tinggi disekitarnya, agar tidak terluka lebih jauh dari sebelumnya.
Canting begitu terpesona dengan ketegaran hati Senja, begitu banyak hal yang terjadi dengan Senja, tidak membuat Senja menjadi monster seperti dirinya. Ataukah, monster didalam diri Senja disembunyikan rapi seperti miliknya? Begitu rapi hingga tidak terlihat?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergaung dalam benak Canting.
Namun, hal tersebutlah yang membuat Canting merasakan kedekatan yang lebih dari biasanya kepada Senja. Kedekatan yang tidak pernah Canting rasakan terhadap orang lain selain kepada Pena.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergaung dalam benak Canting.
Namun, hal tersebutlah yang membuat Canting merasakan kedekatan yang lebih dari biasanya kepada Senja. Kedekatan yang tidak pernah Canting rasakan terhadap orang lain selain kepada Pena.
**
'Canting...aku cinta kau...Canting.....'
Canting terbangun dari tidurnya. Peluh membasahi tubuh dan pakaiannya. Canting kembali bermimpi, tentang Pena. Canting meraih gelas minumnya ditepi ranjang, meneguknya dengan cepat. Matanya menatap jam dinding yang bertengger manis disana. Pukul 3 pagi, masih pukul 3 pagi. Hawa panas menyelimuti tubuh Canting, tenggorokannya seperti terbakar, wajahnya pucat. Canting tau ini waktunya apa. Canting berganti pakaian dan mengendap-endap keluar dari apartemen dan kembali sebelum subuh datang.
**
Pagi ini Senja terlihat sedang menyiapkan sarapan didapur, Canting berjalan mendekati Senja.
"Hei, morning. Aku lagi siapin sarapan buat kita berdua.", ujar Senja.
Canting tersenyum dan dengan sigap duduk dikursi menunggu sarapan.
Roti panggang, telur mata sapi, kentang goreng, buncis rebus, wortel rebus serta dada ayam dipotong dadu menjadi sarapan mereka pagi ini.
Roti panggang, telur mata sapi, kentang goreng, buncis rebus, wortel rebus serta dada ayam dipotong dadu menjadi sarapan mereka pagi ini.
Canting dan Senja menikmati sarapan dengan menonton berita pagi.
"Seorang pria ditemukan meninggal, jatung dan hatinya menghilang. Diduga pria tersebut adalah korban pembunuhan. Saat ini polisi sedang menyelidiki kasus pembunuhan tersebut lebih lanjut."
Canting bergidik melihat berita tersebut.
"Dunia yang makin kejam atau manusia yang semakin kejam? Atau dunia yang memaksa manusia menjadi kejam ya?", celetuk Senja.
"Mungkin dunia yang memaksa manusia menjadi kejam.", ujar Canting parau.
Senja mengedikkan bahunya dan kemudian menyuap buncis terakhir dipiringnya.
"Aku yang cuci piring. Kamu mandi sana, udah jam segini. Hari senin traffic-nya kacau, nanti kamu terlambat kekantor.", sergah Canting.
"Oke, thank you dear.", Senja tersenyum dan berlari menuju kamar mandi.
Canting menyuap pelan wortel-wortel yang tersisa diatas piringnya. Setelah itu membawa piring dan gelas kotor kedapur untuk dicuci. Bibirnya tersenyum tipis dan kemudian bersenandung riang, senandung riang dengan lirik yang sedih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar