"Aku tak ingin bicara tentang hati, aku bosan bicara tentang cinta.", ujar gadis kopi.
Tukang kopi tersenyum dan menatap gadis kopi dengan lembut. Tangannya merengkuh kepala gadis kopi untuk bersandar dibahunya. Gadis kopi menghela nafas dan memejamkan matanya.
Jemari gadis kopi menyentuh dahi, mata, pipi, hidung, bibir tukang kopi.
"Aku ada, tapi siapa yang kau bayangkan saat ini?", ujar tukang kopi lirih.
Gadis kopi tersentak, jemarinya terhenti.
"Dia...", ujar gadis kopi pilu.
Sesaat ada luka yang terpancar dimata tukang kopi. Tetapi yang tukang kopi bisa lakukan hanyalah membelai lembut rambut gadis kopi dengan jemarinya.
"Jangan menjatuhkan hatimu padaku lebih dari ini. Menyakitkan.", ujar gadis kopi lirih.
"Biarlah begitu. Aku tak berharap banyak, hanya ingin menikmati waktu saat hati ini jatuh kepadamu. Pura-pura saja jatuh hati kepadaku, hingga kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.", ujar tukang kopi.
Gadis kopi bersandar dibahu tukang kopi. Gadis kopi bukan milik tukang kopi, hatinya pun bukan milik tukang kopi.
Sampai kapan?
Ah, biarkan saja saat ini seperti ini. Biarlah ini tetap menjadi urusan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar