Selasa, 20 Maret 2012

Anomali

Siang ini, Matahari bersinar terik. Suara klakson kendaraan tak henti-hentinya membahana, bising yang terbalut oleh debu dan polusi yang menyeruak diantara jalan ibukota Jakarta.
Terpaksa Aku turun dari taksi yang Aku tumpangi, karena sudah hampir 30 menit waktu berjalan, tetapi taksi yang Aku tumpangi masih saja diam tak bergerak.
Kapan Jakarta bisa terbebas dari kemacetan yang memuakan ini??

Aku bergegas sembari membawa berkas-berkas yang memenuhi kedua tanganku. Toh percuma jika Aku harus mencari ojek untuk mengantarku ke kantor. Hanya 15 menit berjalan kaki, Aku bisa tiba di kantorku.
Aku mengabaikan pandanganku dari padatnya jalan raya siang ini. Sesekali Aku terbatuk oleh debu dan asap kendaraan yang tertiup angin, menyeruak ke dalam saluran pernafasanku. Rasanya Aku butuh libur, dan pergi dari kota ini. Tetapi dengan cepat Aku hapus pikiran itu saat memandang berkas-berkas ditanganku. Banyak yang masih Aku kerjakan, tanggung jawab yang tak bisa Aku tinggalkan, walaupun terkadang Aku ingin bersikap tak perduli. Bekerja 80 jam per minggu membuatku seakan diperbudak oleh pekerjaan, tetapi entah mengapa Aku menikmatinya..sangat menikmatinya.

Aku menarik nafasku perlahan dan menghapus peluh yang bercucuran dikeningku. Udara kantor begitu segar, berbeda dengan udara luar. Jika diibaratkan, diluar sana seperti Neraka dan di gedung ini seperti Neraka yang terbungkus oleh udara Surga. Ironis.

Aku menghempaskan tubuhku ke bangku kerjaku, dan kemudian berkutat dengan pekerjaanku. Harus Aku akui bahwa perkerjaanku cukup menarik, seorang Pengacara.
Yah..seorang Pengacara. Mungkin terdengar begitu menjijikkan profesi ini, tetapi Aku menikmatinya.

Aku memandang berkas-berkas yang minggu lalu baru Aku selesaikan.
Kadang Aku berfikir Manusia itu makhluk-makhluk Bangsat, Biadab dan Serakah.
Makhluk-makhluk bangsat yang selalu menuntut akan sebuah keadilan, padahal mereka sendiri tidak tahu apa itu keadilan. Yang mereka inginkan hanyalah keadilan untuk mereka sendiri dan golongannya, bukan untuk umum. Lalu saat itu terjadi, pro dan kontra selalu muncul.
Mereka menginginkan kedamaian, tetapi mereka sendiri yang menciptakan pertikaian.
Dan kemudian, saat Kami menyelesaikan pertikaian-pertikaian kotor mereka, Kami disebut Bajingan. Ya..ya..ya..Dunia tidak pernah menjadi kejam, hanya Manusia yang membuat dunia terlihat kejam dan kotor. Lalu salahkan jika Aku berfikir bahwa Manusia adalah makhluk Bangsat, Biadab dan Serakah. Ironisnya, Aku juga salah satu dari jenis yang bernama Manusia. Dan Aku mengakui Aku memang Bangsat.


Aku ingat pertama kali Aku mulai bekerja sebagai seorang Pengacara, Aku yang mempunyai idealisme tinggi, yang bertekad untuk tak akan kalah oleh sistem-sistem keparat yang berjalan diluar sana. Selama 3 tahun, Aku dan Idealisme itu ada. Tetapi apa yang terjadi, Aku tak dihargai, Aku luntang-luntung dan tak punya apa-apa. Ironisnya, keluargaku menjadi taruhannya. Hingga akhirnya Idealisme Aku luluh lantak saat Ayahku tewas, ditembak mati, hanya karena Aku tak mengindahkan ancaman demi ancaman dari Manusia-manusia yang bergelimangan harta untuk berhenti membela Manusia-manusia yang mereka anggap seperti sampah.
Dan hebatnya, Manusia-manusia yang Aku bela hingga mengorbankan banyak hal, tak ada satupun yang datang dan ikut berdiri disampingku setelah Ayahku tercinta wafat. Mereka berlari seperti seorang pengecut. Aku seperti tercampakkan dan tersia-sia, demi mereka dan demi idealisme konyol.
Dan kemudian Aku mulai mempertanyakan Idealime yang Aku pegang teguh selama ini. Tidak, Aku tidak butuh penghargaan, Aku hanya butuh mereka berjalan disampingku dan berjuang bersamaku. Tetapi toh kenyataan berkata lain.


Aku tertawa, ya..ya..ya..
Manusia memang makhluk-makhluk Bangsat, Biadab dan Serakah. Mereka menyerukan keadilan, tetapi Apa itu keadilan??
Yang mereka ingin hanyalah keadilan untuk diri sendiri dan golongan mereka.
Dan Ironisnya..Aku merupakan salah satu dari mereka..salah satu dari makhluk yang dinamakan Manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar