Kriiiiiiiinnnngggggggg.....
Arggghhhh....suara telepon itu mengejutkanku. Haruskah ku angkat ?? Ragu tanganku untuk menjamah gagang telepon..
'Bagaimana jika itu dia?'
Ku pejamkan sejenak mata dan kemudian aku menarik nafas panjang. 'Bismillah..', gumamku.
'Hallo ??'
Tuut tuuttt tuuuttt....
Aku menghembuskan nafas lega dan meletakkan gagang telepon sesegera mungkin. Tiba-tiba..
Krrrriinggg.....kriiiiiinnnggg....
Ku sambar gagang telepon..
"Hallo ??"
"zzzzzz...aaa....ak....kuuu......ssssrrrkkkkk...."
Wajahku memucat.. Terkejut... Secara refleks tanganku melempar gagang telepon.
"itu dia....dia....arggghhhhh."
Segera aku mencabut semua kabel penghubung telepon yang ada dirumah. Seharusnya ini aku lakukan sejak 2 hari yang lalu.
Aku memeriksa semua pintu dan jendela, setelah yakin semua tertutup dan terkunci dengan rapat, aku berlari menuju kamarku dan membaringkan tubuhku di tempat tidur. Meringkukkan tubuh kurusku dibawah selimut dan berharap ini segera berlalu.
Aku terbangun dengan sakit kepala yang hebat. Sinar matahari yang mengintip dan menyorot langsung kewajahku dr balik tirai kamarku malah membuat kepala berdenyut kian hebat.
"Fu**ing morning !" gerutuku.
Aku masih mengantuk dan rasanya malas untuk beranjak dr tempat tidurku. Tak mungkin hari ini aku memberi alasan sakit kepala kpd Bos ku agar aku tidak usah masuk kerja hari ini. Apalagi hari ini aku ada rapat penting yang notabene akan berpengaruh kepada kenaikan gaji yg mungkin akan diberikan padaku.
Dengan enggan aku beranjak menuju kamar mandi.
Ku lajukan sedan tuaku dengan kecepatan 60 km/jam. Beruntungnya pagi ini jalan di jakarta tak begitu padat seperti hari-hari biasanya. Suara david cook mengalun indah, mengiringi perjalananku dan aku pun mulai berdendang.
"Sila.....?!"
Aku terkejut dan tak sengaja kakiku menginjak pedal rem. saat mobilku berhenti secara mendadak, kepalaku terkantuk kejendela mobil. Aku menoleh ke arah kiri dan kebelakang. Sumpah mati ! Aku mendengar ada suara yang memanggil namaku. Aku mengucapkan istigfar berkali-kali.
Tiiiiiiinnnnnnnn....tttttiiiiinnnnn..
Arghhh..mobilku mulai diklakson oleh pengemudi-pengemudi dibelakangku.
"BERENGSEK!", gerutuku.
Ku lajukan kembali sedan tuaku secara perlahan. Aku melirik ke arah jam, masih ada 15 menit lagi sebelum jam masuk kantor dan aku masih punya waktu untuk membeli secangkir kopi untuk menenangkan otak ku ini. Mungkin td hanya imajiku saja karna aku kurang tidur.
Aku melangkah menuju ruanganku dengan secangkir kopi hangat ditanganku. Aku buka pintu ruanganku, di atas meja kerjaku, diantara tumpukan berkas, aku melihat sebuah kotak panjang yang berhiaskan pita berwarna emas.
"apa itu ??", pikirku.
" Bu Sila, tadi ada kurir dari toko bunga yang mengantarkan itu untuk ibu."
Suara Siska mengejutkan aku yg tertegun didepan dipintu.
"oh iya, makasih ya sis.", ujarku seraya tersenyum kepada Siska, sekretarisku.
Aku menatap kotak misterius yang berhiaskan pita emas itu. Ku raih kartu yang terselip diantara pita. Kubaca perlahan kata yang terangkai didalam kartu tersebut.
' Untukmu dari segenap jiwa dan ragaku.'
"Tak ada nama pengirim, aneh...".
Aku membuka perlahan kotak itu.
"Aaaaaa..", aku menjerit seraya menghempaskan kotak tersebut.
Beberapa tangkai Mawar putih yang berlumuran darah.
Ini semua mulai membuatku takut. Dari telepon2 aneh, kartu2 ucapan tanpa nama pengirim, hadiah2 yang mengerikan. Beberapa hari ini hanya ditujukan kerumahku saja, tp hari ini datang ke kantorku. Bahkan setiap aku berpergian, aku merasa tidak tenang. Seakan ada seseorang yang memperhatikan aku.
Kuraih telepon selularku dan aku menelepon sahabat karibku.
" Mona.....tolongin gw..plis...".
" Kenapa sil ?? ".
" Malem ini elo bisa nginep dirumah gw ga ?? Ntar gw ceritain semua ke elo ya..plis mon...?! ".
" Kebetulan banget, baru aja gw mo sms loe..mobil gw masuk bengkel. Berhubung rumah loe deket sama kantor gw, jd gw mo nginep di rumah loe sampe mobil gw keluar."
" alhamdulillah...ntar pulang kantor elo gw jemput. Thanks ya Mon.."
Aku menarik nafas lega dan cepat2 membereskan bingkisan terkutuk itu.
Aku berusaha menenangkan diri sembari menghirup kopi hangat yg ku beli td.
" fokus sil...jam 10 harus presentasi..fokus....".
Ku pejamkan mata sejenak saat sakit kepala menyerang kembali.
Ahhh...Sial...aku harus mempersiapkan bahan presentasi...fokus....fokus....hufhh....
*
Anggap saja presentasi tadi lancar. Saat ini Aku tak perduli dengan kenaikan gaji atau apapun. Yang aku perdulikan adalah kejadian2 aneh yg terjadi akhir-akhir ini.
Aku kemudikan sedan tuaku menuju cafe yang berada diseberang kantor Mona. Otakku mulai letih dengan kejadian2 ini.
Sedan tuaku berhenti didepan cafe, terlihat seorang wanita yang berperawakan kurus menghampiri sedanku.
" sorry lama, tadi macet banget.".
" gpp...eh, ini gw udah beli makanan buat dirumah..sama cemilan."
" asik..! Eh, ga kerumah loe dulu ngambil baju ??"
" ga usah ah, dirumah loe kan masih banyak baju gw waktu nginep kemaren kemaren."
" ok deh. "
Ku lajukan sedan tuaku menuju rumah sembari bercakap-cakap dengan Mona.
**
Mona menghampiri aku yang duduk didepan TV.
"Kenapa loe sil ??"
Aku menolehkan wajahku ke arah Mona dan mulai menceritakan kejadian2 aneh selama beberapa hari ini.
"hmmm.....ga ada orang yang loe curigain ??"
"Enggak ada. Makanya ini bener2 buat gw takut."
"Dulu elo juga pernah gini kan?? Hampir mirip kejadiannya. Setiap kita pergi, elo selalu bilang kl ada yg ngikutin kita, sampe elo ketakutan dan ga mau keluar rumah sebulan."
"Masa sih ? Kapan Mon ? "
"2 tahun lalu. Dan itu berlangsung selama 4 bulan. Akhirnya itu berhenti sendiri kan ?!"
"Hufhhh....entahlah, Ga begitu inget gw. Yang jelas kali ini menakutkan banget."
"Sabar ya sayang..kan sekarang ada gw. Gw temenin elo sminggu ini dirumah. Biar engga ada yg macem2 sama elo."
Aku tersenyum lega mendengarnya.
Semenjak Mona menginap, sudah 2 hari terlewati dengan tenang. Tak ada bingkisan2 aneh dan telepon2 aneh lagi. Aku merasa lega. Tak ada lagi takut dan was-was.
Hari ini aku & Mona berencana menghabiskan malam dengan menonton beberapa DVD yang baru saja aku beli. Aku keluarkan semua cemilan dan soda kaleng dari kulkas.
"Mon.....lama amat sih ditoilet??", teriakku.
"iya...sabar....".
Aku tersenyum geli. Tiba2 'Krrrrriiiiinnngggg.......
Aku tersentak, dengan ragu aku mengangkat telepon. Aku terdiam menunggu suara dr ujung sana, berharap kl itu bukan 'dia'
Tuut...tuttt....tutttt..
Kututup telepon dengan perasaan aneh.
Kriiinnnggggg kriiiiiiiinnnnnnggggg..... Kriiiinnnngggg
Aku tertegun menatap telepon.
Kemudian dengan cepat kusambar gagang telepon.
" ssssss....iiiii....llllll.....aaaaaaa.. "
Aku membanting telepon dan segera ku cabut kabel telepon.
"Kenapa loe sil ??kok di cabut sih kabelnya ??"
Aku terkejut, ternyata Mona sudah berdiri dibelakangku.
"i...ittt..u..."
"ya ampun..loe knp sih?? Pucet gt..minum dulu nih."
Mona menyodorkan gelas yg berisi air putih kepadaku. Dengan segera ku ambil gelas tersebut dan kuteguk habis isinya.
"Ada apa sih sil ??", selidik Mona.
"hhhhh....td telepon itu lagi."
"hah..?? Masa sih??"
"iya, td 'dia' nelepon lg. Agak lama berdering baru gw brani angkat."
"gw ga denger apa2 dr toilet??"
"hufhhh..."
"yawdah...mending kita nonton aja sil..ga usah dipikirin ya..", ujar Mona.
**
Paginya Aku terkejut oleh bingkisan yang tergeletak didepan rumah. Secara spontan Aku berlari masuk kekamar dan menyeret Mona yang baru bangun dr tidurnya.
"Apaan sih sil...??"
"Itu liat..ada bingkisan lagi..", ujarku sambil menunjuk kearah pintu.
"Mana ? Eh iya...bungkusnya cantik."
"Serem. Gw ga berani liat apa isinya."
"Sini..gw aja yg buka."
Mona berjongkok sambil mengambil bingkisan didepan pintu.
"Sila...lucu bgt ini." ujar Mona seraya mengancungkan boneka kelinci mungil yg ada di dalam bingkisan tersebut.
"Engga ada yang aneh Mon ?"
"Engga tuh. Liat aja."
Aku meraih boneka tersebut dari tangan Mona.
Sepertinya semua normal. Tak ada darah, belatung, jarum, silet atau apalah itu.
"Kalau elo ga mau, buat gw aja ya Sil."
"Hmmmpphhh...ambil aja deh Mon. Gw masih takut. Apalagi pengirimnya ga jelas."
"Elo aja kali yang parno ga jelas. Udah ah, gw masih ngantuk."
Mona pun berlalu dan menuju ke kamar sembari memeluk boneka kelinci itu.
aku termangu didepan tv. Sesekali aku menghela nafas. Sedikit bingung dengan kejadian pagi ini.
"ah....sudahlah."
"hey...."
Aku terkejut dan terlonjak dari sofa.
"Monaaaaa.....ngagetin gw aja loe...ahhhh."
Mona tersenyum nakal.
"Nih...gw habis buat jus jeruk."
Aku menyeruput jus jeruk dingin yg diberikan Mona.
Segar....
Seketika aku lupa dengan segala hal yg memenuhi benakku, dan aku sibuk bercengkrama dengan sahabatku itu.
Aku terbangun dengan peluh disekujur tubuhku. Mimpi buruk.
Mimpi masa lalu..kenangan masa lalu.
kenangan dari kesalahan yang ingin aku hilangkan selamanya.
aku menatap Mona yg tertidur pulas di sampingku.
Ingatanku terlempar kebeberapa tahun lalu. Saat dimana aku masih seorang Sila yang labil dan rapuh..mencintai Adrian..memberikan segalanya untuk pria tersebut..termasuk mengkhianati sahabatnya sendiri..karena pria tersebut merupakan calon suami Mona. Sila yang labil dan rapuh. Mengetahui dari awal bahwa Adrian adalah tunangan Mona. Tapi ternyata Logikanya kalah dengan perasaan cintanya sehingga nekat berkali-kali mendatangi Adrian hanya untuk mengemis cinta. Membuang harga dirinya dan menggoda Adrian dengan cara apapun. Hingga akhirnya, seminggu sebelum pernikahan, Mona memergoki Sila dan Adrian sedang berciuman diatas ranjang. Mona mengamuk dan hampir bunuh diri. Seketika Sila kembali dalam kenyataan dan sadar telah melakukan kesalahan besar.
Sila menangis, merengek dan memohon maaf kepada Mona. Selama 4bulan Sila berusaha agar dia tak kehilangan sahabatnya. Mona pun memaafkan. Hingga sekarang Mona dan Sila tetap bersahabat.
"Maafin gw karna gw pernah ngancurin hidup loe Mon. Gw bodoh banget sampe ngerebut calon suami loe. Buat elo malu karna membatalkan perkawinan loe seminggu sebelum harinya."
Airmataku menetes, dan aku mencoba tidur kembali dengan perasaan galau.
***
Aku kesiangan.........
Dengan panik aku melompat dari ranjangku dan menyambar handukku. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku bergegas menuju garasi. Kulihat Mona dengan santainya mengunyah roti bakar sambil membaca koran.
"Mon, elo kok ga bangunin gw sih ?
Lho....kok elo belum mandi, emangnya elo ga kerja ?"
"Ngapain gw kerja, kan sekarang tanggal merah Sil."
Astaga, aku benar2 lupa kalau hari ini tanggal merah.
Aku melangkah lesu dan mendaratkan tubuhku ke kursi.
Mona melirikku dan tersenyum geli.
Ku lepas sepatuku, kemudian aku melangkah menuju ranjangku kembali.
Aku menggeliat malas diatas ranjang. Ku kerjapkan mataku perlahan. Sinar matahari bermain-main dikelopak mataku. Aku melirik jam mungil yang tergeletak diatas meja. Rupanya hari sudah siang dan aku tertidur sangat nyenyak.
Dengan gontai aku melangkah ke dapur, mengambil beberapa lembar roti tawar serta segelas susu.
Kringgggggg....
Aku meraih telepon.
"Hallo..."
Tak ada suara disebrang sana.
"Hallo...ini siapa??"
Masih tak ada suara yang terdengar. Dengan segera aku letakkan kembali gagang telepon.
Kriiiinnnnngggggggg..
Kriiiiiiiiinnnnnngggggggggg...
"Hallo...??"
Tutttt ttuuuuuutttt....
Ahhhh....
Kriiiinnnnggggg...
"Hallo.....ini siapa??"
"Akkkkk....aaaaaaa....akkkkkuuuuuu....beeennnnnn.....ciiiii...iiii.....kkkka.....mmmmuuuuuuu".
Seketika wajahku memucat..Aku lempar telepon dari tanganku.
Dengan panik aku menjauh dari telepon dan mencoba mencari Mona.
Tetapi Mona tidak ada.
Aku menarik nafas panjang, mencoba untuk menenangkan diri.
Ujung mataku menangkap secarik kertas asing berwarna biru muda diatas meja makan. Ku raih perlahan kertas itu.
' Sila sayang, gw kerumah nyokap sebentar. Td gw mau bangunin elo tp elonya tidur nyenyak banget..ga tega gw bangunin loe. Nanti kita shopping yuk...udah lama ga shopping bareng. Jam 3 gw tunggu di mall biasa ya. Mona.'
Aku menatap kertas biru muda ditanganku. Sepertinya aku sering melihat kertas yg seperti ini.
Tatapan mataku berhenti pada sebuah kotak kado yg tergeletak disamping vas bunga. Ku buka perlahan kotak itu.
Aku menjerit tertahan.
Kotak itu berisikan gaun putih yang penuh dengan bercak darah. Tanganku gemetar saat aku menemukan sebuah surat yang terselip didalamnya.
'Cecilia..aku sangat membenci kamu'
Nafasku tercekat diantara bau anyir darah yang menyeruak dari kotak tersebut.
Segera aku lemparkan kotak tersebut ke tempat sampah.
Aku berlari masuk ke kamar, aku raih tas, sepatu dan kunci mobilku. Aku bergegas menuju garasi, menyalakan mobil dan pergi dari rumah.
Nafasku mulai terasa normal, aku berusaha menenangkan diriku sendiri.
Tiba2 otakku menangkap ada kejanggalan.
Kertas surat2 terkutuk yg aku terima selama ini, berasal dan berwarna sama dengan kertas yg Mona tuliskan tadi.
Ah....tidak mungkin....
Tunggu dulu...
Setiap telepon dirumah berdering, Mona tidak pernah ada di samping atau didekatku, dan dia selalu berkata bahwa dia tidak mendengar ada dering telepon.
Enggak.....enggak mungkin itu Mona...
Pikiranku semakin kacau...
Aku harus memastikan kl yg menteror aku selama ini bukan Mona.
Sepulang dari shopping dengan Mona, otakku masih saja kacau.
Akupun memutuskan untuk mandi.
Tadi di mall, dia bersikap biasa saja.
Tak ada yang aneh.
Ahhh......aku tak ingin berfikiran macam2 lagi. Otak ku terasa berdenyut karena terlalu memikirkan hal ini.
Segar aku rasakan saat aku sudah selesai berpakaian. Dengan gontai aku melangkah keluar kamar dan menghampiri Mona yang sedang menonton tv.
"eh.....elo udah selesai, sekarang giliran gw mandi yah. Badan gw lengket bgt rasanya."
Mona berlari kecil ke dalam kamar dan mengambil peralatan mandinya.
Aku lihat Mona menggenggam sebotol lulur dan memasuki kamar mandi.
Tiba2 terlintas kembali kecurigaanku terhadapnya. Dalam otakku tersirat untuk memeriksa tas Mona.
Aku melangkah dengan hati2 menuju kamar.
Tas Mona tergeletak diujung ranjang.
Aku buka hati2 dan memeriksa barang2 Mona.
Aku tercekat..Sebuah map berwarna biru menyembul dari dalam tas.
Banyak kartu ucapan yg masih kosong, kertas berwarna biru muda, diary dan beberapa bon yang tertanggal sehari sebelum teror dimulai.
Aku buka perlahan diary itu.
Seketika air mataku menggenang saat membaca selembar kertas yang menggambarkan bahwa Mona masih membenci aku.
Akalku sulit untuk menerimanya.
Hingga saat aku membuka sebuah kotak yang berisikan jarum pentul, silet dan beberapa tabung yang berisikan cairan berwarna darah.
Kriiinngggggg.....
Kriiiiiiinnngggg...
Aku tersentak..
Seketika otakku berkata untuk memastikan bahwa kecurigaanku tidak beralasan, aku harus memastikan bahwa handphone Mona seharusnya ada dikamar.
Aku mencari..dan mencari, tapi tak aku temukan handphone Mona.
****
Aku terus mencari hingga kesudut kamar.
Aku meraih handphoneku.
Krinnngggggggg......
Kriiiiinnngggggg....
Telepon rumah berdering kembali,
Ku tekan nomer Mona
' telepon yang anda tuju sedang menerima panggilan, silahkan hubungi beberapa saat lagi.'
Sibuk........
Telepon Rumahku kembali berdering, dan aku berusaha menelepon handphone Mona kembali.
Masih tetap sibuk.
Dengan galau aku mengangkat telepon
"Hallo??"
"Aaaaaa...kkk..kuuuu....bbeeee...nnnn....ciiiiii......kkkkkaaaa....mmmuuuuu......seeeeehhhhaaaaarrruuussssnnnyaaa..kaaaamm...mmmuuu....mmmmmaaattttiiiii....ssssaaaaa...jjjjaaaa...."
Jantungku berdegup kencang...
Suara wanita, aku yakin itu adalah suara wanita.
Pikiranku kacau...kata2 itu sama persis dengan beberapa kata yang ku baca dalam diary Mona.
Seketika alam sadarku lenyap, aku berlari menuju dapur dan meraih pisau daging.
Aku kalut, aku berteriak dan menggedor pintu kamar mandi.
"Monaaaaaaaa.......keluuuuaaaarrrr loeeee......!! Ga usah pura2 lagi....gw udah tau semuanya.....keluar...!!"
Mona keluar dari kamar mandi dengan wajah bingung, dan seketika berubah pucat saat melihat pisau ditanganku.
"Sila......ada apa ini?"
"GA USAH PURA2 LAGI LOE..."
"Pura2 apa Sil?"
"SELAMA INI ELO YANG TEROR GW, SEMUA BINGKISAN, SEMUA TELEPON, ELO BENCI SAMA GW SAMPE PENGEN GW MATI ? BUNUH AJA GW SEKALIAN, GA USAH PURA2 LAGI JD SAHABAT YANG BAIK LOE!!", Aku berteriak, menangis seraya mengancungkan pisau ke depan wajah Mona.
Mona terkejut dan dengan refleks mundur ke belakang.
"Gw ga ngerti Sil, sumpah gw ga tau apa yang elo omongin..Pliz Sil...tenang.."
Aku semakin kalut mendengar penjelasan Mona. Semua palsu, aku tak bisa lagi mempercayainya, dengan segala bukti2 yang aku peroleh, aku terluka..Mona...sahabatku...sekaligus musuhku.
Aku kibaskan pisau daging itu secara membabi buta.
Darah menetes dari lengan Mona.
Aku berteriak kencang.
Ada seseorang memelukku erat dari belakang. Pisau dapur terlepas dari tanganku, Aku terus menjerit, hingga akhirnya aku terkulai dan hilang kesadaran.
**
Bau antiseptik menyeruak keseluruh ruangan. Tampak Mona dengan tangannya yang diperban duduk dengan wajah lelah.
"Mon, maafin gw. Seharusnya gw ga datang terlambat."
"Sebenarnya, ada apa ini. Tolong jelasin sama gw har."
Hary menghela nafas.
"Maafin kak Sila, Mon. Gw dateng karena td siang kak Sila telepon gw dan cerita ttg teror yang dihadapinya. Saat itu gw tau pasti ada yang ga beres. Tapi gw ga nyangka kalo jadi kayak gini."
Hary menunduk lesu.
"Dari awal, tidak pernah ada teror. Tidak pernah ada telepon dan bahkan kartu ucapan atau apapun itu yang diterima kak Sila, semuanya ga nyata."
Mona tertegun dan Hary menitikkan airmata. Koridor Rumah sakit kian sunyi seakan ikut membisu bersama mereka.
***
Aku mengerjapkan mata, mencoba bangun dari atas ranjang.
Tapi tubuhku tak juga dapat bergerak.
Aku mencoba menggerakkan tanganku.
Tapi tanganku terikat.
Aku menjerit...
menjerit sekuat tenaga..
Hey...
Namaku Cecilia.
Aku wanita anggun dan mempesona.
Aku wanita pintar dan kuat.
Dan tak ada wanita yang seperti aku.
Orang2 iri padaku dan rela berbuat apa saja untuk menjadi seperti aku.
Aku tahu orang2 selalu berusaha menjatuhkan aku dengan berbagai cara. Bahkan sahabatku termasuk ke dalam golongan orang2 tersebut.
Hey..
Namaku Cecilia.
Aku wanita bodoh yang terlena oleh emosi yang bernama cinta. Wanita bodoh yang mengkhianati sahabatnya sendiri.
Wanita yang hina dan seharusnya tak pantas hidup.
Aku menjerit
"AKUUU CECILIA, DAN AKU TIDAK GILA!"
Aku terus mencari hingga kesudut kamar.
Aku meraih handphoneku.
Krinnngggggggg......
Kriiiiinnngggggg....
Telepon rumah berdering kembali,
Ku tekan nomer Mona
' telepon yang anda tuju sedang menerima panggilan, silahkan hubungi beberapa saat lagi.'
Sibuk........
Telepon Rumahku kembali berdering, dan aku berusaha menelepon handphone Mona kembali.
Masih tetap sibuk.
Dengan galau aku mengangkat telepon
"Hallo??"
"Aaaaaa...kkk..kuuuu....bbeeee...nnnn....ciiiiii......kkkkkaaaa....mmmuuuuu......seeeeehhhhaaaaarrruuussssnnnyaaa..kaaaamm...mmmuuu....mmmmmaaattttiiiii....ssssaaaaa...jjjjaaaa...."
Jantungku berdegup kencang...
Suara wanita, aku yakin itu adalah suara wanita.
Pikiranku kacau...kata2 itu sama persis dengan beberapa kata yang ku baca dalam diary Mona.
Seketika alam sadarku lenyap, aku berlari menuju dapur dan meraih pisau daging.
Aku kalut, aku berteriak dan menggedor pintu kamar mandi.
"Monaaaaaaaa.......keluuuuaaaarrrr loeeee......!! Ga usah pura2 lagi....gw udah tau semuanya.....keluar...!!"
Mona keluar dari kamar mandi dengan wajah bingung, dan seketika berubah pucat saat melihat pisau ditanganku.
"Sila......ada apa ini?"
"GA USAH PURA2 LAGI LOE..."
"Pura2 apa Sil?"
"SELAMA INI ELO YANG TEROR GW, SEMUA BINGKISAN, SEMUA TELEPON, ELO BENCI SAMA GW SAMPE PENGEN GW MATI ? BUNUH AJA GW SEKALIAN, GA USAH PURA2 LAGI JD SAHABAT YANG BAIK LOE!!", Aku berteriak, menangis seraya mengancungkan pisau ke depan wajah Mona.
Mona terkejut dan dengan refleks mundur ke belakang.
"Gw ga ngerti Sil, sumpah gw ga tau apa yang elo omongin..Pliz Sil...tenang.."
Aku semakin kalut mendengar penjelasan Mona. Semua palsu, aku tak bisa lagi mempercayainya, dengan segala bukti2 yang aku peroleh, aku terluka..Mona...sahabatku...sekaligus musuhku.
Aku kibaskan pisau daging itu secara membabi buta.
Darah menetes dari lengan Mona.
Aku berteriak kencang.
Ada seseorang memelukku erat dari belakang. Pisau dapur terlepas dari tanganku, Aku terus menjerit, hingga akhirnya aku terkulai dan hilang kesadaran.
**
Bau antiseptik menyeruak keseluruh ruangan. Tampak Mona dengan tangannya yang diperban duduk dengan wajah lelah.
"Mon, maafin gw. Seharusnya gw ga datang terlambat."
"Sebenarnya, ada apa ini. Tolong jelasin sama gw har."
Hary menghela nafas.
"Maafin kak Sila, Mon. Gw dateng karena td siang kak Sila telepon gw dan cerita ttg teror yang dihadapinya. Saat itu gw tau pasti ada yang ga beres. Tapi gw ga nyangka kalo jadi kayak gini."
Hary menunduk lesu.
"Dari awal, tidak pernah ada teror. Tidak pernah ada telepon dan bahkan kartu ucapan atau apapun itu yang diterima kak Sila, semuanya ga nyata."
Mona tertegun dan Hary menitikkan airmata. Koridor Rumah sakit kian sunyi seakan ikut membisu bersama mereka.
***
Aku mengerjapkan mata, mencoba bangun dari atas ranjang.
Tapi tubuhku tak juga dapat bergerak.
Aku mencoba menggerakkan tanganku.
Tapi tanganku terikat.
Aku menjerit...
menjerit sekuat tenaga..
Hey...
Namaku Cecilia.
Aku wanita anggun dan mempesona.
Aku wanita pintar dan kuat.
Dan tak ada wanita yang seperti aku.
Orang2 iri padaku dan rela berbuat apa saja untuk menjadi seperti aku.
Aku tahu orang2 selalu berusaha menjatuhkan aku dengan berbagai cara. Bahkan sahabatku termasuk ke dalam golongan orang2 tersebut.
Hey..
Namaku Cecilia.
Aku wanita bodoh yang terlena oleh emosi yang bernama cinta. Wanita bodoh yang mengkhianati sahabatnya sendiri.
Wanita yang hina dan seharusnya tak pantas hidup.
Aku menjerit
"AKUUU CECILIA, DAN AKU TIDAK GILA!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar