Kamis, 15 Maret 2012

Koma ( memory..where should i keep you? )

Hari ini Mena terbangun dengan perasaan yang berantakan. Diraih telepon genggamnya yang tergeletak disamping bantalnya. Jam 7 pagi..masih jam 7 pagi dan Mena baru tidur selama 2 jam. Mena menarik guling dan mencoba untuk tidur kembali, tapi Mena tak dapat memejamkan matanya.

Akhirnya Mena menyerah, bangun dari ranjangnya dan menghidupkan laptopnya. Lagu Abdul & the coffee theory mulai melantun dari winampnya. Dan Mena mulai bersenandung, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Cukup setengah jam Mena habiskan untuk mandi dan berdandan rapi. Mena meraih tas dan kunci motor dari atas meja belajarnya. Bergegas Mena melangkah turun menuju ruang makan.
"Kamu mau kemana sayang, tumben jam segini udah rapi ?", Ujar Bunda yang sedang menemani Papa sarapan.
Mena menghampiri Bunda, duduk dan mengambil beberapa roti tawar, telur dan mentega.
"Mo kerumah Aria nih nda..iseng dirumah. Kan seminggu ini Mena ga kemana-mana.", ujar Mena sembari mengunyah perlahan roti tawarnya.
"Jangan pulang sampai tengah malem ya sayang.", Papa menyahut dari ujung meja.
"Siap pa..Mena kan ga pernah pulang sampe tengah malem..hehehe.."
"Iya..iya.." ujar papa sembari memeluk putri semata wayangnya.

Selesai sarapan, Mena mencium kening Bunda dan melangkahkan kaki kecilnya menuju garasi.

'Pagi yang cerah untuk jiwa gw yang sepi.', batin Mena. Dikenakan headphones-nya, lagu Peterpan mengalun perlahan membelai lembut indera pendengarannya. Mena tersenyum dan melajukan motornya, menembus jalanan yang mulai ramai.

**
"Ariaaa....bangun...udah pagi nihhh..!!", Mena berteriak sembari menggoyangkan tubuh Aria yang masih bergelung dibalik selimut. Aria menggeliat perlahan. Dilihatnya Mena, Anton, Okta dan Galih berdiri disamping ranjangnya.
Aria menggeliat dan meraih jam weker yang bertengger manis di atas meja kecil yang terletak disisi ranjang, masih jam setengah 9 pagi, dan teman-temannya berbondong membangunkan tidur nyenyaknya.

"wake up sleepyhead..", ujar Galih.
"Uh...gw masih ngantuk..", jawab Aria perlahan sembari menarik kembali selimutnya.
"Eh..anak perempuan ga baik bangun siang2 tau..", ujar Anton.
Mena dan Okta menarik selimut Aria dan menyeret Aria turun dari atas ranjang.

"iyaaaa...aaarggghhh..", Aria melangkahkan kakinya ke toilet dan membasuh wajahnya.

"Ngapain loe semua pagi2 kerumah gw?"
"Lha..kan kemaren elo yang bilang kalau hari ini ngumpul dirumah loe..gimana sih?! Masih muda udah pikun.", ujar Okta.
"Eh, iya ya..heee..gw lupa..", Aria menyeringai lebar.
Anton mengucek perlahan poni Aria yang masih basah.
Aria membuka jendela kamarnya, Sinar mentari menyinari kamar Aria yang berwarna merah terang.

"Gw lagi seneng..jadi gw mo cerita ke kalian semua..", ujar Aria sembari menghampiri Mena yang duduk diatas ranjang. Anton, Okta dan Galih mengikuti Aria dan duduk diatas ranjang.

"Akhirnya gw punya pacar..heeee..", ujar Aria.
"Akhirnyaaaa...", ujar Mena.
"Siapa pria yang tidak beruntung itu?", ujar Okta.
"Gw kira selama ini loe ga doyan cowok. Eh..ntar dulu..pacar loe cowok kan?!" Galih menambahkan.
"Ahhh..rese' loe semua ! Gw kan normal. Dan dia itu cowok beruntung karena dia jadi pacar pertama gw. Ummm..Inget Andre kan?! Cowok yang sering gw ceritain. Dia pacar gw.", Aria tersenyum bahagia.
Mena, Okta, Anton dan Galih tersenyum melihat Aria yang berbinar.
"Siang ini, gw mo ngenalin Andre sama kalian, sekalian mo traktir kalian makan."
"Waaaaaa..asik ditraktirrrrr...", Mena berteriak kegirangan.
"Jangan lupa bawa pasangan masing-masing ya...", ujar Aria.
"Sippp..", Anton dan Galih menjawab serentak.
Mena dan Okta terdiam.
"Aria..gw sama Okta kan ga punya pacar..", ujar Mena mengingatkan.
"Oh iya..gw lupa..maap..maap..hehehe..Loe berdua jangan jomblo kelamaan dong..kalo ga ada yang cocok loe berdua jadian aja..hahahaha..", Ujar Aria.
"Bener tu..kalian berdua kan deket banget..hahaha..", ujar Galih menambahkan.
Mena dan Okta saling berpandangan dan kemudian memandang Aria, Galih dan Anton yang masih saja tertawa.
"iiihhh...ogah gw pacaran sama dia..", ujar Mena sembari menunjuk Okta yang duduk disebelahnya.
"Gw juga ogah pacaran sama cewek jadi-jadian macem dia..", ujar Okta sembari menjauh dari Mena.
Anton, Aria dan Galih tertawa semakin kencang.
"Hati-hati kena tulah lho..ntar kalian malah jadi jatuh cinta..", Aria mengikik geli, menggoda Mena dan Okta yang makin sebal.
Mena melempar Aria dengan bantal. Tapi Tawa Aria tak kunjung berhenti.

"Udah..mending loe mandi sana daripada ngomong ga jelas.", Ujar Okta yang masih sebal.
"Siap Bang...!!!", Aria melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, menutup pintu kamar mandi, tapi kemudian kepala Aria menyembul dari balik pintu kamar mandi.
"Elo semua kecuali Mena, Keluar dari kamar gw..tungguin di Meja makan aja sana.", Aria kembali menutup pintu kamar mandi.
Anton, Galih dan Okta melangkahkan kakinya keluar dari kamar, meninggalkan Mena yang masih duduk diatas ranjang sendirian.

**
Mena memandang keluar jendela, Jalanan mulai terlihat sepi. Mena menghela nafas perlahan. Sudah 1 tahun semenjak Mena putus dengan Pras, Mena tak pernah lagi dekat dengan seorang pria pun. Yah..Anton, Galih dan Okta memang tak dihitung sebagai pria olehnya. Terlalu lama mereka berlima bersahabat. Sudah 3 tahun..ya..sudah 3 tahun mereka bersahabat.

Ingatan Mena terlempar kedalam kenangan 1 tahun yang lalu. Kenangan tentang Pras, Kenangan yang tak hanya indah, tetapi juga menorehkan sekelumit luka, perih..sakit.
Lamunan Mena memudar saat Aria mendekati dan menepuk bahunya.

"Still remember about him?", tanya Aria.
Mena menoleh dan menatap Aria, Mena kemudian menggeleng lemah dan tersenyum.
"Cepetan gih siap-siap."
Aria memeluk Mena dan membelai lembut rambut Mena yang mulai memanjang.

**
"Andre kenalin sahabat-sahabat terbaik aku.", ujar Aria tersenyum.
Andre tersenyum menatap Aria yang terlihat begitu manis hari ini.

"eh, kita mo makan dimana nih?", ujar Galih.
"Ditempat biasa aja ya, tempatnya kan nyaman banget, dan kita rame-rame gini.", ujar Anton.
"sip..sip..", Aria menyatakan persetujuannya.
"Kalau gitu, gw sama Galih jemput pacar dulu ya. Kita ketemuan disana aja."
"Ok deh, Okta sama Mena bareng gw sama Andre ya. mobil sama motor kalian tinggal aja dirumah gw."
Mena dan Okta mengangguk setuju.

**
Suasana restoran siang ini cukup ramai, beruntung Aria, Andre, Mena dan Okta mendapat tempat duduk yang nyaman. Tak berapa lama kemudian Anton dan Galih tiba bersama pasangan mereka masing-masing.

Mereka berbincang dan tetawa. Tak banyak waktu yang terlewati bagi Andre untuk menyesuaikan diri bersama mereka.

Mena memandang Aria yang terlihat penuh dengan binar bahagia. Mena tersenyum, Aria adalah satu-satunya sahabat wanita yang dia miliki. Aria cantik, putih dan menyenangkan. Walaupun usianya paling kecil diantara mereka berlima, Aria mampu berfikir dewasa.
Mena menatap Andre yang membelai lembut rambut Aria. Sepertinya Andre pria yang baik, dan cocok untuk bersanding dengan Aria.

Mena mengalihkan pandangannya ke arah Anton yang menggenggam jemari Sinta. Bagi Mena, Anton dan Sinta adalah pasangan serasi dan menyenangkan. Anton sudah seperti kakak laki-laki baginya, dan Sinta bagaikan kakak perempuan yang Mena impikan. Walaupun kadang Anton sering bersikap menyebalkan, tetapi Anton selalu bisa membuat Mena tertawa.

Mena menatap Galih yang sedang duduk merangkul Dinda. Pasangan ajaib yang selalu membuat Mena iri. Galih yang cuek dan terkesan berantakan bersanding dengan Dinda yang sangat feminim. Mena tersenyum kecil, Walaupun Galih terlihat cuek, tetapi Galih merupakan seorang teman yang sangat memperhatikan sahabat-sahabatnya. Dan bagi Mena Galih terkesan seperti seorang ayah.

Kemudian Mena memandang Okta. Okta yang terkesan pendiam, tetapi cerewet jika sedang berkumpul bersama mereka, Okta terkesan garang, tetapi hatinya sangat lembut dan ternyata rapuh. Okta yang selalu menemaninya saat Pras meninggalkannya demi wanita lain. Tiba-tiba sesuatu menggelitik hati Mena. Mena tersentak saat Okta menatapnya, Mena mengalihkan pandangannya dan meraih orange juice-nya yang masih tersisa.

'Ah..beruntungnya gw punya sahabat seperti mereka. Mereka tak pernah mencampuri urusan gw kl gw ga memintanya, mereka ga pernah menyindir atau mencoba mencari tau ataupun sok tau dengan apa yang gw rasain. Gw sayang banget sama mereka.'

Mena hampir saja terlonjak dari kusinya saat Aria melempar segumpal tissue ke arahnya.
"Jangan bengong aja donk..dari tadi diajak ngomong tapi ga nyaut-nyaut deh..", ujar Aria sambil merengut.
Mena menatap Aria..dan menatap mejanya yang hanya ada gelas orange juice-nya yang mulai kosong.
"Gw laper..makanan gw belom dateng..", ujar Mena lirih sembari memasang muka memelas.
Aria, Andre, Anton, Sinta, Galih, Dinda dan Okta tertawa. Mena hanya bisa memonyongkan bibirnya dan kemudian tertawa bersama mereka.

**
Mena mulai terbiasa melihat Okta datang setiap pagi untuk menjemputnya, sarapan dirumah bersama bunda dan papanya, terbiasa dengan suara Okta yg selalu mengucapkan selamat tidur untuknya. Toh ternyata tanpa terasa sudah 5 bulan terlewati dan semua berjalan sempurna, begitu sempurna. Sebenarnya tak ada yang berbeda dari saat mereka bersahabat ataupun seperti sekarang ini.

'Toh, ini hanyalah pacaran kontrak. Hehehe..aneh ya?! Pacaran kontrak. Tapi kenapa jantung gw ga pernah berhenti berdebar kl Okta ada dideket gw. plis jantung..gw ga mau merusak semuanya. Inget rules-nya..inget rules-nya!!!!', jerit Mena dalam hati.

Mena tersentak saat blackberrynya berbunyi nyaring. Dengan semangat menggebu Mena meraih Blackberrynya, berharap itu telepon dari Okta.
Mena terdiam memandang layar, dengan ragu Mena menjawab panggilan tersebut.
"Hallo..."
"Hallo..Mena??"
"Iya..ini Mena.."
"Mena..apa kabar?"
"Baik..ada apa?"
"Aku kangen kamu..Aku mau minta maaf..minta maaf untuk semua kesalahan Aku. Aku baru sadar kalau Aku sayang banget sama kamu, Aku ga bisa kalau kamu jauh dari aku. Mena..Aku.."
Mena terdiam, rasa sakit dan perih yang Mena kira telah hilang, kini menyeruak kembali dihatinya.
"Maaf Pras, Udah malem. Gw udah ngantuk. Bye!"

Airmata Mena menetes perlahan.
'Gw ga boleh nangis!! Gw ga boleh nangis!!!!!'
Blackberry-nya kembali berbunyi, dengan suara parau Mena menjawab panggilan tersebut.
"Mena, please..jangan dimatiin dulu telponnya. Aku mau kamu kasi aku kesempatan buat menebus semua kesalahan aku yang dulu. Aku ga minta balikan..aku mau nunjukin kalau aku nyesel, dan aku masih sayang banget sama kamu. Aku...."
Mena mematikan kembali teleponnya, tetapi blackberry-nya terus berdering..
Tak henti..
Mena mengangkat panggilan tersebut dengan gusar.

"NGERTI BAHASA INDONESIA? GW MAU TIDUR. ANNOYING BANGET LOE SAMPE MISSCALLS 5 KALI MALEM-MALEM GINI!!!", Teriak Mena.
"Marah-marah kenapa loe? Gw baru aja nelpon loe dah kayaknya."
"Ehh...uhhh..Okta..maaf..gw kira tadi..."
"Siapa? Emang ada yang gangguin loe malem-malem gini?
"Hufh..ga kok..bukan siapa-siapa ta."
"Ya kalo ga mau cerita sih gak apa2."
"Hee..maaf Ta...!! Eh iya..elo kenapa telpon?"
"eh iya, selama sminggu ini gw ga bisa anter jemput loe kekampus. Soalnya gw mesti ke Jogja ada acara keluarga."
"Kok mendadak sih Ta?"
"Nyokap gw baru bilang tadi sama gw. Gw aja kaget."
"Hufh..."
"Kenapa loe? Takut kangen sama gw ya?? Hahahaha."
"Yeeeee..pedeh loe!! Oktaaaa....jangan lupa oleh-oleh ya buat gw."
"Hahaha..kirain gitu. Mau oleh-oleh apa loe?"
"Mau gelang etnik sama batik tulis donggg.."
"Sip..sip..ntar gw bawain. Um...Mena?!"
"Yap? Knp Ta??"
"Ah..ga kenapa-kenapa..heee. Tidur loe..udah malem. Night Mena..sleep tight will ya?!"
"Thank you Okta..sweet dream ya Ta."

Mena mematikan teleponnya dan memandang layar blackberrynya sembari berkata, "I'm gonna miss you so much Okta."

Disebuah rumah yang berjarak beberapa km dari rumah Mena, Okta duduk diatas ranjangnya, menatap layar blackberry-nya, kemudian menghela nafas panjang.
"I'm gonna miss you so damn much Mena."


**
Pagi ini, hujan turun dengan lebatnya. Mena menggeliat diatas ranjang dengan malas dan ditarik selimutnya kembali.

'Hujan..males banget deh..hoooaaahmmm..terpaksa bawa mobil deh ini.'

knock knock..
"Non.."
"Iya Bi..?!"
"Ada temennya jemput, Non.."
Mena menyeritkan dahinya.
'Lho..bukannya hari ini Okta ga kuliah ya? Semalem kayaknya dia bilang mo ke Jogja hari ini.', batin Mena.
Ditatapnya jam weker yang baru saja berdering, waktu sudah menunjukkan pukul 7.15

"Suruh tunggu aja Bi, Mena mo mandi dulu."
"Baik Non."

Mena segera beranjak dari atas ranjang.

'Mungkin hari ini Okta masih bisa kekampus bareng gw, berarti nanti siang dia baru jalan. Yes..hari ini masih bisa ketemu.'

**
Setelah selesai bersiap-siap, Mena berlari kecil menuju ruang makan. Tapi tak ditemukan sosok Bunda, Papanya, maupun sosok Okta.

"Bi...Bunda sama Papa mana? Kok tumben pagi ini belum sarapan?"
"Bapak sama Ibu, tadi berangkat jam stengah 7 non. Kata Ibu, mau ke Bandung."
"Yah..kok Mena ga dikasi tau sih?"
"Tadi Non dibangunin Ibu, tapi Non Mena ga bangun-bangun."
"Uhhh..trus temen saya mana Bi?"
"Nunggu di ruang tamu Non."

'Lho, tumben-tumbenan Okta nunggu diruang tamu, biasanya diruang makan.',pikir Mena.

Mena melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, raut wajah Mena terkejut.

"Hai Mena.."
"Pras?! Ngapain disini?"
"Aku mo jemput kamu, nganterin kamu kekampus."
"Enggak perlu, bisa pergi sendiri."
"Diluar hujan deras, Aku tau kamu paling males bawa mobil, apalagi cuaca kayak gini."
"Orang bisa berubah Pras!"
"Mena..please..setidaknya hargain aku yang jemput kamu pagi ini."

Mena menghela nafas panjang.
'Ya Tuhan, gw berharap ada Okta disini.'

"Mena, yuk berangkat, udah jam segini."
Mena mengangguk lesu, dan berujar
"Gw ikut karena ngehargain elo ya. Besok ga usah repot-repot kayak gini lagi."
"Iya.."

"Bi..Mena berangkat ya.."

Mena pun berangkat ke kampus diantar Pras.
'Gw bete pagi ini, sangat bete. Arggghhh..gw ga berharap bisa ketemu lagi sama loe, Pras. Dan kenapa elo harus dateng kerumah gw. Hufhhh..gw bener-bener berharap Okta ada disini, dia pasti bisa buat gw lebih tenang.', batin Mena

**
Sepanjang perjalanan, Mena hanya membisu. Pras melirik Mena yang duduk disebelahnya.
"Kok, diem aja?", celetuk Pras.
"Ga ada bahan pembicaraan.", jawab Mena ketus.
"Kamu ga mau tanya kabar aku atau apa gitu?!"
"Keliatannya elo baik-baik aja, jadi ga usah ditanya kan?!"
"Oh..mmmm...Mena..Kamu masih marah sama aku?"
"Penting ya buat dijawab?!"
"Maaf...."
"Ga usah minta maaf. Ngapain pake acara jemput segala?"
"Aku mau memperbaiki semuanya, tentang kamu dan aku."
"Ga ada yang perlu diperbaikin. Udah berakhir dari 1 stengah tahun lalu kan?!"
"Aku sama Angela udah putus.."
"........", Mena terdiam
"Aku ternyata ga sesayang itu sama Angela. Dia ga bisa seperti kamu, selama pacaran sama Angela, Aku selalu mikirin kamu. Nyesel, kenapa aku harus ninggalin wanita seperti kamu hanya untuk Angela."
"...........", Mena kembali terdiam.
"Mena, aku bener-bener nyesel. Aku masih sayang......"
"Eh, udah sampe, gw turun ya. Harus buru-buru. Gw udah telat masuk kelas. Makasi tumpangannya.", potong Mena. Dengan segera Mena melepas seat belt-nya, membuka pintu dan berlari keluar mobil.

**
Mena melangkahkan kakinya menuju ruangan. Mena melirik ke arah jendela dikoridor, langit masih saja terlihat mendung, dan hujan turun walau tidak sederas pagi tadi. Mena menghela nafas perlahan. Mena merogoh tasnya, mencoba mencari Blackberry-nya.

'Aria, dimana?'
'Gw baru mo jalan kerumah Okta.'
'Ohh..elo ikut ke Jogja juga?'
'Iya, keluarga gw sama Anton jg ke Jogja.'
'Yah..gw sendirian dong..mana Galih lagi sibuk ditempat magangnya pula.'
'hehehe..sabar ya Mena sayang..ntar gw bawain oleh-oleh yang banyak kok. ☺ '
'Beneran ya.. \('-'.\) (/'-'.)/ \('-'.\)'

'Okta, lg apa?'
'Lg nungguin Aria sama Anton, baru keluar kelas ya?'
'Iya..Gw sendirian deh..hufh.'
'Cep cep cep..cuma seminggu kok perginya. Tadi kekampus naik apa loe?'
'mmm..naik mobil..'
'oh..untung aja loe ga nekat naik motor.'
'yeee..kan ujan Ta..ga mungkinlah gw naik motor kekampus.'
'Loe kan kadang-kadang suka ajaib.'
'sihal kau....!!'
'нɑнɑнɑ, masih hujan ya?'
'Iya..emang dirumah loe ga hujan?'
'Cuma gerimis aja.'
'Okta..'
'Yap?'
'Jangan lupa oleh-olehnya ya..heeee.'
'Iya Mena sayang..'
'Jeh..'
'hahahaha.'

"Mena..."
"Ngapain loe masih disini?"
"Nungguin kamu keluar kelas."
"Gw bisa pulang sendiri."
"Mena, tolong jangan kejam sama gw."
"Kejam? Elo apa gw yang kejam?! Pras, elo annoying banget. Sadar ga sih!! Elo udah selingkuhin gw dan ninggalin gw setahun yang lalu demi ce lain. Dan sekarang loe tiba-tiba muncul gitu aja didepan gw. Sok perhatian, minta maaf dan sebagainya. BASI BANGET LOE!!!"
"Mena..maafin Aku, please..aku harus gimana supaya kamu mau maafin aku. aku khilaf waktu itu."
"KHILAF??? HEBAT BANGET LOE KHILAF SELINGKUHIN GW SELAMA 4 BULAN. DAMN YOU PRAS!!"
"Maafin aku Mena.", airmata Pras mengalir.
"Gw udah maafin loe, tp tolong jangan ganggu gw lagi. Gw udah bahagia tanpa elo!"
Pras mendongakan wajahnya dan mengamit jemari Mena.
"Aku mohon Mena..Mohon banget. Aku sayang banget sama kamu. Aku ga bisa lupain kamu. Cuma kamu yang aku sayang..aku...", Airmata Pras mulai deras bercucuran.
Setiap orang yang lewat mulai melirik Mena dan Pras. Mena mulai merasa terganggu. Mena menarik tangannya yang digenggam Pras.
"Jangan kayak gini. Buat malu gw loe! Ayo pulang!!", Ujar Mena lirih.

Mena melangkah menerobos gerimis menuju tempat parkir, Pras berjalan mengikutinya dari belakang. Mena menarik nafas dalam-dalam.

'Hari ini sucks banget..i hate this day!!', batin Mena

**
Selama seminggu ini, Pras selalu setia mengantar Mena kekampus, menunggu Mena hingga pulang. Membuat Mena kian bingung, terjebak diantara rasa yang entah dia sendiri tak mengerti.

'Gw pengen cerita, tapi gw ga tau harus cerita ke siapa. Gw bingung..gw benci perasaan kayak gini.', Mena menghela nafas.

"Non..Ada temennya dateng Non."
"Suruh tunggu sebentar ya Bi, jangan lupa dibuatin minum."
"Iya Non."

'Siapa yang dateng malem-malem gini, masa Pras dateng lagi?! Kan tadi siang dia baru dari sini bawaain gw coklat.', batin Mena.
Mena melangkahkan kakinya dengan enggan menuju ruang tamu.

"Oktaaa..", jerit Mena.
Okta tersenyum menatap Mena.
"Loe kapan pulang dari Jogja..? Kok ga ngabarin gw sih?", ujar Mena sembari menghempaskan dirinya disofa.
"Tadi sore, gw emang sengaja ga bilang. kan gw mo ngasi kejutan."
"Gaya loe..sok ngasi kejutan. Ini kan udah malem ta..harusnya elo istirahat dirumah dulu, besok baru ke rumah gw. Kangen gw yaaaa??", Ujar Mena sembari tersenyum jahil.
"PD banget loe..ni oleh-oleh buat loe, nyokap, bokap sama bibi. Gw males bawain besok, banyak banget soalnya."
Mena melirik beberapa kantong belanja yang berada di kaki sofa.
"Banyak banget Ta.."
"Gw ga tau mana yang loe suka, jadi gw beliin aja yang banyak, biar loe ga rewel."
"Ah..elo Ta..kan ga gitu-gitu banget."
"hahaha.."
Mena terdiam, pikirannya tentang seminggu ini tak kunjung hilang.
"Mikirin apa loe?"
"gw lg bingung.."
"Bingung kenapa?"
"Pras.."
"Kenapa Pras?", Okta menyeritkan dahinya, tak menyangka nama Pras terlontar kembali dari bibir Mena.
"Selama elo ke Jogja, dia tiba-tiba muncul lagi. Minta maaf sama gw."
"Hmmm..trus loe bingung kenapa?"
"Apa yang harus gw lakuin?"
"Mena.."
"hufhhh..iya Ta?!"
"Elo masih sayang sama Pras?"
"Gw ga tau, yang gw tau selama beberapa bulan ini gw udah ga mikirin dia lagi. Tapi entah kenapa waktu dia muncul, perasaan gw sakit lagi."
"Mena..coba lihat apa yang sebenernya elo mau, gw cuma mau elo seneng. Ga sedih. Dan anak-anak juga pasti akan bilang hal yang sama kayak gw."
"Iya.."
"Gw pulang ya."
"Yah..kok cepet banget sih?!"
"Kan gw kesini cuma mo nganterin oleh-oleh aja. Ga enak kan udah jam segini gw masih bertamu kerumah orang."
"Kan elo udah biasa Ta, nyokap bokap gw juga ga bakal kenapa-kenapa kok."
"Ya..tadi kata loe gw harusnya istirahat dirumah aja..gimana sih? Sekarang gw mo pulang malah elo tahan..bilang aja kalo masih kangen sama gw kan?!", canda Okta.
"Ah..sihal loe..udah sana pulang. Makasi ya Ta oleh-olehnya."
"Sama-sama tuan putri."
"Tuhhh kan..ahhh..", ujar Mena sembari mencubit lengan Okta.

**
Okta menyetir sembari melihat ke arah kursi desebelahnya. Ada bingkisan kecil terbungkus manis tergeletak disana.
'Mungkin ini cuma bisa gw simpen aja, ga akan bisa gw kasi ke Mena. Hufh...Gw emang cuma bisa jadi sahabat aja buat dia. Seharusnya gw ga boleh mengharapkan hal yang lebih. Gw bodoh karena tiba-tiba kepikiran buatin dia liontin kayak gini.', Batin Okta.
Okta menatap liontin yang terukir wajah Mena dan terukir kata-kata 'always be with you'.

Okta menghela nafas dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seketika perasaan lelah mengelayuti hatinya.

**
'Emang cuma Okta yang bisa gw aja sharing. Mungkin gw sebenernya masih sayang sama Pras. Mungkin gw bisa kasi dia kesempatan kedua.', dan Mena pun terlelap.

**
Mena mulai membuka hatinya perlahan kepada Pras. Memulai kembali dari awal. Hanya saja perasaan Mena tak juga membaik. Seakan ada beban yang menghimpit di hatinya. Sudah 3 minggu berlalu, 2 hari lagi, Pacaran kontraknya dengan Okta akan berakhir. Mena meraih Blackberry-nya dan menelepon Okta. Okta yang baik, Okta yang selalu mendengarkan ceritanya tentang Pras.

"Hallo.."
"Hallo..knp Mena?"
"Lagi ngapain Ta?"
"Ga lagi ngapa-ngapain."
"Gw mo cerita dunkkkkk...."
"Cerita apa Mena?"
"Pras.."
"Oh..Kenapa sama Pras?"
"Hari ini gw jalan sama Pras. Dia baik banget. Gw dibawain coklat dan bunga mawar buat gw."
"oh..it's good for you."
"Yeap..he so nice Ta. Sepertinya dia bener-bener nyesel dan bener-bener mo balikan lagi."
"Trus??"
"Hmm..cuma gw belum yakin aja?!"
"Ohhhh..."
"Ahhh..respon loe jelek banget sih?!"
"Gw kan dengerin elo ngomong."
"Trus besok gw mau pergi sama Pras. Dia ngajakin gw dinner. Okta..he so sweet. And i love him when he doing a sweet things to me. Makes me happy. Pras jadi lebih manis daripada Pras yang dulu. Kmarin dia juga kecup kening gw. Its make me fly. Okta.........Pras baik banget. Pras...."
"Mena...stop it!! Bisa ga elo ga usah lagi ngomongin Pras."
"........Elo lagi bethe ya Ta? Gw ganggu ya??"
"hufhh..maaf Mena..gw gak apa-apa.."
"Beneran gak apa-apa? Hmmm..."
"yeap..gw cuma lagi capek aja. Trus Pras kenapa?"
"Kapan-kapan deh gw cerita lagi. Elo lagi ga mood dengerin cerita gw kayaknya. Mmm..besok elo mo kemana Ta?"
"Gak apa-apa. Ceritalah. Gw dengerin kok. Besok gw mo ke bengkel."
"oh. Yakin mo dengerin soal Pras?!"
"Bukannya dari kemarin-kemarin elo selalu cerita tentang Pras ya sama gw?! Pras begini..Pras begitu.."
"Iya sih..Okta..elo lg bethe banget ya?Gw ganggu banget ya?"
"Bukan elo yang ganggu gw Mena."
"Trus? kok gw yang kena sih?!"
"Gw bethe elo cerita Pras terus sama gw. Pras begini..Pras begitu..semua cerita loe selalu tentang Pras. Gw Muak..tolong sedikit aja loe hargain perasaan gw."
"Maaf Ta..gw ga tau kalo elo segitu ga sukanya sama Pras. Maaf."
"Gezz..why you so stupid Mena. Arggghhh.."
"Iya..gw bego..maaf Ta."
"ARGGGHHH..Never mind."
Tut tut tut...

**
Hari ini tepat 6 bulan Mena dan Okta bersama, walaupun hanya pacaran kontrak. Tapi sudah 2 hari ini Mena dan Okta tak bertegur sapa. Mena merasa kehilangan. Tapi terlalu gengsi walaupun hanya untuk menegur duluan.

'Bodo ah..sapa suruh ga sopan, waktu itu main matiin telpon gitu aja. Okta bodoh..gw..gw kangen..arggghhh..mending gw siap-siap deh, gw kan mau ngumpul sama Aria, Anton, Galih trus..Okta..hufhh'

Mena segera bersiap-siap, Gaun biru tuanya yang manis tergeletak diatas ranjang. Mena mengenakan gaunnya, mematut dirinya didepan cermin. Mengenakan highheels dan kemudian melangkah menuju garasi.

**
Mena terpana saat turun dari Mobilnya.
'Itu Pras..sama Angela..Damn!!'

Mena kembali masuk ke mobil dan mengambil Blackberry-nya didalam tas.
'Lagi dimana Pras?'
Mena mengintip dari jendela mobilnya.
'Aku lagi dirumah. Kangen kamu.'
'Oh..ga kemana-mana hari ini?'
'Enggak. Maunya ngajak kamu pergi, tapi kamu ga bisa, jadi ya dirumah aja.'

Mena mengintip Pras dari jendela mobilnya lagi. Pras bergandengan mesra dengan Angela, sesekali Pras mengecup kening Angela. Perasaan geram menyeruak ke dalam hati Mena, tapi entah mengapa rasa lega seakan melepaskan beban yang Mena tahan selama ini.
'Sekarang gw tau apa yang harus gw lakukan.'

Mena Turun dari mobil dan melangkah menuju arah Pras dan Angela yang sedang berpelukan mesra.
"Hai.."
Pras dan Angela terkejut mendengar suara mereka yang menyapa mereka.
"Mena.."
"Ga sengaja ya ketemu disini, kayaknya makin mesra aja."
Pras menatap Mena dengan tatapan bingung, dan Angela hanya tersenyum sinis melihat Mena.
"Udah ya, gw harus nyamperin temen-temen gw disana. Bye..have a nice night for you two.", Mena berlalu sembari tersenyum.

"Mena tunggu....biar gw jelasin semuanya..", Pras melepas pelukannya dari pinggang Angela dan berlari mengejar Mena.
Mena menoleh kearah jalan raya, berharap jalanan sepi sehingga Mena dapat menyebrang.
Pras mengamit lengan Mena.
"Mena..Please jangan salah paham.."
"........", mena tetap diam mengacuhkan Pras dan menepis tangan Pras yang mengamit lengannya.
"Pras..apa-apaan ini?", Jerit Angela.
"Enggak ada apa-apa kok Angel.", ujar Mena.
"Bohong!! Gw tau elo pasti berusaha ngerebut Pras lagi. Stay away from him Mena! Dia cuma sayang sama gw.", teriak Angela.
"Oh..well..he said that he'd broke with you. And wanted me to come back to his life.", Ujar Mena.
"Pras..apa-apan ini? JAWABBB...!!!"
".......", Pras terdiam dan menunduk.
Angela melempar tas tangannya ke arah Pras dan mendorong Mena dari trotoar. Mena terjatuh tepat dipinggir jalan. Kakinya terkilir.

"Ah...fuck kalian berdua. Jangan libatin gw dalam pertengkaran kalian ya. Kalian tu sama aja. Sama-sama Ular.", Mena berusaha berdiri dan menepis tangan Pras yang mencoba menolongnya.

"Enough!!! Stay away from me okay!!", Mena berjalan tertatih. Seketika tubuhnya menegang, seakan kaku dan hancur. Semuanya mulai mengabur dan Mena tak sadarkan diri.

**
Okta menatap tubuh Mena yang terbaring diatas ranjang. Aria menyentuh pundak Okta.
"Gw udah telpon nyokapnya Mena tadi, mereka segera kesini Ta."
"Ini salah gw..seharusnya tadi gw jemput Mena, seharusnya ini ga terjadi Aria.."
"Ini bukan salah loe Ta..", Aria menangis dan memeluk Okta.
"Mena udah sadar??", ujar Anton.
"Belum..darimana loe Ton?", ujar Okta.
"Gw habis dari ruang dokter, nanya keadaan Mena. Tapi gw disuruh nunggu sampe Nyokap Bokapnya Mena dateng."
"Galih mana Ton?", tanya Aria.
"Ke mini market beli makanan buat kita."

Tak beberapa lama Galih datang membawa bungkusan berisi sandwich, air mineral dan beberapa cemilan.
"Ada yang laper ga?"
"Gw...", Aria langsung menyerbu ke arah Galih.
"Gw mau sandwichnya dong Lih.", ujar Anton.
"Elo ga mau Ta?", ujar Aria sembari mengunyah sandwichnya.
"Gw ga laper...", ujar Okta lirih.
"Jangan kayak gitu, elo belom makan dari tadi siang, kalo elo mo ngejagain Mena, elo harus makan biar ada tenaga.", Ujar Anton.
"Bener kata Anton, Ta. Elo harus makan.", ujar Galih.
Aria dengan mulut penuh sandwich mengangguk setuju.

Dengan enggan Okta meraih sandwich yang disodorkan Galih. Okta mengunyah perlahan sandwich ditangannya dan menatap Mena yang terbaring.

Tak berapa lama Bunda dan Papa Mena tiba. Anton menemani Papa Mena menemui dokter, sedangkan Bunda ditemani Aria, Galih dan Okta diruangan Mena.

Setengah jam kemudian, Papa Mena dan Anton kembali keruangan. Bunda menatap Papa, berharap mendengar kabar baik. Tapi Papa hanya terdiam, dan memeluk Bunda.

"Pa..Mena pa..kenapa Mena? Kenapa Mena belum sadar pa? Apa kata dokter pa?", ujar Bunda sembari menangis.
"Mena gegar otak ringan Ma, tak ada yang patah, tapi dokter masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut lagi."
"Tapi kenapa Mena belum sadar Pa? Kalau hanya gegar otak ringan?!"

Papa hanya menggeleng lemah dan kembali memeluk Bunda.

"Lebih baik kalian pulang, ini sudah malam, nanti orang tua kalian khawatir lho.", Ujar Papa kepada Aria, Anton, Galih dan Okta.

"Gak apa-apa kok Om, Mama sama Papa Aria lagi pergi ke Surabaya dan Aria juga udah bilang kok ke Mama kalau hari ini Aria menginap disini."
"Anton juga udah bilang ke Mama kok Om, Mama yang nyuruh Anton buat nginep disini malahan."
"Kalo Galih kan rencananya nginep di rumah Okta Om, jadi ya Galih nginep disini nemenin mereka semua."
"Okta udah izin ke Orangtua kok Om kalo mo nginep disini.".
"Yasudah kalau begitu, yang penting kalian sudah izin ke orang tua kalian. Mena beruntung mempunyai sahabat seperti kalian.", isak Bunda.

**
Mena memandang awan yang bergerak cepat, Mena seakan terhisap kelangit. Matanya seakan berkunang-kunang. Dilayangkan pandangannya, hanya padang bunga. Beberapa orang berlalu-lalang ke arah barat, namun mereka seakan tak mengubris keberadaan Mena.

'Dimana gw?' batinnya.

Mena mencoba menyapa orang-orang yang berlalu-lalang, tetapi mereka tetap tak menggubris Mena. Mena memutuskan untuk mencoba mengikuti orang-orang tersebut. Mena terkejut saat orang-orang tersebut lenyap satu-persatu saat menyentuh sebuah benda bersinar.

'kemana mereka pergi?', Mena keheranan.

Hatinya tergelitik untuk menyentuh benda bersinar tersebut. Jemarinya terangkat perlahan, berusaha menjangkau benda bersinar itu. Namun jemari Mena terhenti saat seseorang menyentuh pundaknya. Mena menoleh perlahan.

"Okta..."
"Jangan pergi Mena."
Mena menandang Okta dengan ragu, memandang benda bersinar dan kemudian memandang sosok Okta yang masih berdiri disampingnya.

"Coba tengoklah kebelakang jika kamu pergi, lihatlah orang-orang yang akan kamu tinggalkan."

Sosok Okta menoleh kebelakang, Mena dengan refleks ikut menoleh. Mena melihat Bundanya yang menangis sedang dipeluk Papa. Mena melihat Aria, Anton dan Galih yang meneteskan airmata. Mena menoleh kembali ke arah Okta.

"Ayo kita pulang.", ujar Okta tersenyum sembari mengulurkan tangannya ke arah Mena.
Mena mengamit tangan Okta yang kemudian membawanya menjauhi benda putih bersinar itu..membawanya pulang.

**
Okta terbangun dari tidurnya, keringatnya bercucuran. Okta bermimpi tentang Mena yang berada di sebuah padang bunga dan Okta mengamit tangan Mena untuk membawanya pulang.

Okta membasuh peluhnya yang membasahi pakaiannya.
'Ah..iya..gw dirumah. Malam ini gw ga dirumah sakit. Jam berapa ini?', Okta menatap jam dindingnya..sudah jam 6 pagi. Tiba-tiba Okta dikejutkan oleh suara ringtone Blackberry-nya. Okta mengangkatnya perlahan. Okta terlonjak dari atas ranjang. Raut wajahnya menampakkan kegembiraan yang teramat sangat. Setelah menutup telepon, Okta berlari menyambar handuk dan bergegas mandi.

**
Mena mengerang lirih, kepalanya terasa sangat sakit. Dilihat Bundanya yang masih saja memeluknya. Ditatap Papanya yang membelai lembut keningnya. Dilayangkan pandangannya keseluruh ruangan yang asing. Bau antiseptik menyeruak, tak ada yang Mena ingat, hanya sebuah mimpi yang Mena ingat. Mimpi tentang padang bunga, disana ada orang-orang yang disayanginya.

**
Okta, Aria, Galih dan Anton datang dan segera memeluk Mena yang sedang mengunyah jeruk yang disuap oleh Bunda. Mena tersenyum menatap sahabat-sahabatnya satu-persatu. Tubuhnya masih terasa kaku akibat koma selama 3 hari ini. Tapi semuanya tetap membaik. Rasa hangat mengalir dihatinya. Mena tersenyum dan merasa bagaikan orang yang paling beruntung, hidupnya bahagia dan hangat oleh orang-orang yang disayanginya.

'Tuhan baik banget sama gw..hanya saja kadang gw kurang bersyukur. Tapi kini gw sadar dan bersyukur, gw dikasi kesempatan lagi buat ada ditengah-tengah orang-orang yang gw sayang, orang-orang yang berarti dalam hidup gw. Gw bersyukur dikasi kesempatan menghirup udara dan menjalani hidup gw kembali. Makasi Tuhan.', batin Mena.

**
Sudah 3 bulan berlalu semenjak kejadian itu. Hari-hari Mena berjalan normal, Okta kembali seperti dulu, menjemputnya saat Mena berangkat kekampus atau saat Mena akan pergi bersama Aria, Anton dan Galih.

Perasaan Mena kian besar terhadap Okta, entah mengapa seakan tenggelam kedalam rasa hangat yang mengebu. Wajah Mena selalu merona saat berdekatan dengan Okta. Jantungnya berdegup kian kencang saat Okta menatapnya. Dan hari ini, Mena begitu merindukan keberadaan Okta yang sudah seminggu ini jarang muncul.

Mena meneguk strawberry floatnya perlahan, angin sepoi-sepoi seakan membelai kulit Mena yang putih bersih.

"Bengong aja loe?!"
Mena terkejut saat Aria menegurnya.
"ehhh..iya..anginnya enak banget.", ujar Mena.
"Hmmm..mikirin apa loe?"
"Ga mikirin siapa-siapa Aria..", Ujar Mena.
"Ga mikirin siapa-siapa??", tanya Aria.
"Ehhh...uhhhh..", Mena berusaha menutupi kegelisahannya karena salah menjawab.
"Mena...."
"Kenapa Aria sayang??"
"Akhir-akhir ini gw ngeliat ada yang aneh sama loe?!"
"Apa yang aneh? Perasaan biasa aja deh."
"I smell something fishy..hmmm"
"Apaan sih Ariaaaa...", ujar Mena panik.
"You're in love right..", tebak Aria.
"Whattt??? In love with who?? Sok tau dehhh..", Mena menjadi lebih panik.
"Okta kan?!"
".............."
"Oh Mena..thats so obvious. Silly you..", seloroh Aria.
"Jelas banget ya keliatan?!"
"Yeap..i can see it clearly Mena.", jawab Aria yakin.
"Gw ga tau sejak kapan, tapi gw ga mau ngakuinnya. Gw takut kalo Okta tau, persahabatan kita jadi berantakan. Gw
Cuma bisa nyimpen ini sendiri. Gw bahagia dan nyaman banget ada dideket Okta, gw kangen kalo dia ga ada Aria. Tapi gw harus sadar kalo dia nganggap gw cuma sahabat, kayak adiknya, ga ada yang lebih.", ujar Mena lirih.
"Ohhhh...Menaaaa..."
"Please jangan sampe ada yang tau ya Aria.."
"Arggghhh..kenapa sih elo berdua bego banget."
Mena terkejut mendengar suara Anton.
"Anton..Galih..kalian kapan dateng?!"
"Gw sama Anton denger kok dari saat elo bilang kalo elo nyaman dan bahagia dan bla..bla..bla..."
"Arggghhhhh Aria...kok elo ga ngasi tau gw sih kalo mereka ada dibelakang gw!?"
Aria hanya bisa menyegir, Cengiran khasnya.
Anton dan Galih duduk mengapit Mena.
"Mena..elo sama Okta tuh bener-bener bego ya?!", Ujar Anton.
"Bego kenapa?", tanya Mena.
"Elo berdua tu saling jatuh cinta, tapi ga mau ngakuin perasaan kalian. Kalian tolol. Sumpah..gw gemes banget sama kalian berdua.", Ujar Anton sambil mengacak rambut Mena.
"Okta..in love with me to??"
"Iya Mena..cuma elo doang yang ga tau."
"Trus gw harus gimana?", Wajah Mena merona dan jatungnya berdegup kencang.
"Apanya yang gimana?",tanya Aria
"yaaaaa..."
"Tell him Mena..tell that you're in love with him. Kita ga apa-apa kok. Kita semua seneng kl elo berdua bahagia."
Aria dan Anton mengangguk, menyetujui perkataan Galih.

Hati Mena berbunga, dan bahagia.

**
Okta mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Malam ini Okta akan menemui Mena, tapi urusannya di Bandung membuatnya agak tertahan hingga sore. Sekarang sudah jam 7 dan Okta baru saja memasuki wilayah Jakarta.
'Aahhh..damn..gw ga sempet pulang dan mandi dulu. Untung gw bawa baju ganti. 1jam lagi gw harus sampai disana.'

**
Mena duduk manis menyeruput chocolatte float-nya. Perasaannya gelisah. Sudah jam 8 lewat 15 menit, tapi Okta tak kunjung datang.

'Tadi Okta bilang bakal dateng telat sih..eeerrrghhh..rasanya gw mau kabur pulang..jantung gw ga berhenti nyiksa gw..Gw malu..tapi gw kangen Okta..'

Mena memandang langit yang dihiasi rembulan. Mena tersenyum saat rembulan seakan menggodanya.

Satu jam berlalu, dan Okta masih saja belum muncul. Mena semakin gelisah.
Waktu berjalan kian lambat, Mena sudah menghabiskan Chocolate float-nya yang ke 5. Dan 4 jam pun berlalu, Okta belum juga muncul.
'Mungkin Okta kecapean dan tertidur, apa mungkin Okta udah ga punya perasaan itu lagi. Huffhhh..Okta..dimana loe..udah 4 jam gw disini dan elo belum juga dateng. Gw telpon tapi handphone loe mati.', gumam Mena.

Mena menyeruput kembali Chocolatte float-nya yang tersisa. Memanggil waiters, membayar bill dan memutuskan untuk pulang.

Mena melangkah menuju tempat parkir dengan gontai, rasa kecewa menggelayut di hatinya.

"Mena..."
Mena menoleh dan mendapat sosok Aria yang memucat dibelakangnya.
"Okta ga dateng Aria, mungkin cuma gw doang yang terlalu berharap."
"Mena..Okta kecelakaan, sekarang Okta dirumah sakit. Gw nyusulin elo kesini naik taksi soalnya elo susah dihubungin."

Wajah Mena memucat dan kemudian meloncat ke kursi kemudi yang disusul Aria masuk ke mobil. Mena mengemudi dengan kecepatan tinggi.
'How come..??please GOD..be nicer with me will ya?'

**
"Okta meninggal Mena..", Ujar Anton.
Tubuh Mena kaku, berlari ke ruang UGD dan menatap tubuh Okta yang terbaring..tak bergerak.
"Ga mungkin..baru aja gw mau bilang sama dia kalo gw sayang sama dia..gw mau dia tau..Taaa.....bangun..jangan ngerjain gw..elo ga mungkin pergi..Okta...bangunnnnn...banguuunnnn....", Mena menjerit histeris sembari menggoyangkan tubuh Okta yang terbaring tak bergerak. Airmatanya mengalir deras. Anton memeluk Mena yang masih saja mencoba membangunkan Okta.
Mena menjerit dan meronta..Airmatanya mengalir kian deras. Aria dan Galih memeluk Mena dan berusaha menenangkan Mena.
Mena menangis kian kencang.

**
Mata Mena yang sembab tersembunyi dibalik kacamata hitamnya. Mena menatap tanah merah gembur tempat dimana Okta baru saja dimakamkan.

'Okta..elo egois!! Elo pergi saat gw mulai sadar akan perasaan gw. Elo pergi sebelum gw sempat mengungkapkan isi hati gw. Lalu apa bedanya sekarang dengan kondisi koma? Kemana gw harus menyimpan semua kenangan tentang elo? Gw bodoh..teramat sangat bodoh. Seharusnya gw sadar lebih awal sebelum semuanya terlambat.'

"Mena.."
Mena menoleh menatap Anton. Anton membelai rambut Mena perlahan dan menyodorkan sebuah liontin.
"Ini liontin dari Okta. Sebelum Okta meninggal, dia bilang sama gw buat kasi ini ke elo. Okta juga bilang supaya elo harus selalu senyum, dan Okta sayang banget sama elo. Elo ga akan pernah sendirian Mena."
Mena meraih Liontin yang disodorkan Anton.
'Always be with you'
Airmata Mena mengalir. Anton memeluk Mena dengan erat.

'Yeap..you always be with me..hanya saja gw terlalu buta untuk menyadari itu..tapi saat gw sadar..semua udah terlambat.'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar