Minggu, 04 Maret 2012

Tiga Dalam Cinta

*
Nasya termangu menatap malam dari teras rumahnya. Hanya suara kendaraan yang sesekali terdengar memecah kesunyian malam. Nasya menghela nafas, malam kian larut tetapi suaminya tak kunjung pulang. Kekhawatiran menusuk dalam hati Nasya. Bukannya Nasya tak mencoba untuk menghubungi suaminya. 5 jam yang lalu Nasya mencoba menghubungi telepon genggam suaminya, tetapi hanya kotak suara yang Nasya dapatkan. Saat Nasya menghubungi telepon kantornya, Satpam kantor berkata bahwa suaminya sudah pulang dari 5 menit yang lalu. "Dimana kamu sayang ? Tak ingatkah bahwa hari ini adalah hari yang istimewa ? Hari perkawinan kita yang ke 4 tahun ?". Nasya memejamkan matanya perlahan dan merapatkan sweater khasmir kesayangannya. Dinginnya malam mulai menusuk karena hujan tak kunjung berhenti.

Nasya terbangun saat merasa tubuhnya seakan terayun diudara. Aroma yang tak asing menyeruak kedalam hidungnya yang bangir.
"ah..maaf aku membangunkanmu sayang. Dan maaf karena aku pulang terlalu malam, membuatmu menungguku didepan teras hingga selarut ini."
Nasya tersenyum melihat wajah suaminya yang ternyata menggendongnya menuju kamar.
"Tak apa sayang." ujar Nasya lirih.
Nasya memejamkan mata saat suaminya mengecup lembut keningnya.
"Aku, sudah menyiapkan makan malam untukmu sayang, mungkin sudah dingin. Biar aku hangatkan untukmu."
"Nasya, aku tak lapar. Aku hanya lelah. Maaf."
"Ah..sudahlah, biar aku rapikan makanan di meja makan terlebih dahulu. Aku sudah menyiapkan piyamamu diatas ranjang. pergilah mandi dan tidurlah sayang."
Nasya sedikit kecewa, sepertinya makanan yang dia siapkan tersia2, dan sepertinya Sofyan juga tidak mengingat hari istimewa ini.

Nasya terbangun oleh sinar mentari yang bermain di wajahnya. Perlahan Nasya menggeliat dan menoleh ke sisi ranjang. Kosong..tak ada sofyan disisinya. Nasya duduk perlahan, menatap jam dinding, sudah jam 7 pagi. Hampa..tetapi kicau burung seakan mengejek Nasya pagi ini. Nasya beranjak dari ranjang menuju ruang makan. Nasya menatap meja makan yang rupanya telah tersedia sarapan, bingkisan kecil dan sebuah kartu. Perlahan Nasya meraih kartu tersebut dan membacanya.
"Maafkan aku sayang karena melupakan hari perkawinan kita kemarin, maafkan aku sayang karena tidak membangunkanmu pagi ini dan mengecupmu saat aku akan berangkat kerja, maafkan aku sayang karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, maafkan aku sayang karena aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu. Terimakasih karena telah menjadi bagian dari hidupku.. Aku mencintaimu. Suamimu."
Airmata Nasya merebak perlahan, mungkin Sofyan bukan suami yang romantis, tetapi Sofyan tetaplah Sofyan yang amat Nasya cintai. Nasya membuka bingkisan dan kemudian terkejut. Sebuah kejutan yang indah, gaun berwarna merah dan sillueto yang indah. Nasya berlari kecil dan bergegas mencoba gaun tersebut. Gaun tersebut melekat dengan sempurna dalam tubuh Nasya. Nasya meraih teleponnya dan menghubungi suaminya.
"Sayang..terimakasih..aku juga mencintaimu, maaf karena aku terlambat bangun hari ini."
"Tak apa sayang. Aku tidak tega membangunkan kamu yang tidur dengan pulasnya. jadi aku hanya bs membuatkanmu sarapan."
"Ah..terima kasih sayang. Selamat bekerja hari ini. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Nasya melepas gaun indah itu dan menggantungnya dilemari. Nasya bergegas menghabiskan sarapannya dan memulai rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.
Saat Nasya merapikan kamar, tiba2 terdengar suara telepon, tapi Nasya yakin itu bukan miliknya. Nasya mencari sumber suara tersebut. Ternyata itu reminder dari telepon selular suaminya yang tertinggal dikamar. Nasya tertegun saat melihat isi reminder tersebut. 'ingat memesan hotel seta di Bandung untuk hari sabtu selama 3 hari.'
Ah..mungkin Sofyan lupa mengatakan padanya bahwa hari sabtu Sofyan harus keluar kota. Saat Nasya mematikan reminder, Nasya kembali tertegun. Dilayar terpampang jelas photo suaminya dengan seorang wanita yang cukup dikenalnya. Nasya terduduk lesu, pikirannya bingung. Nasya memberanikan diri untuk memeriksa telepon selular tersebut. Inbox dan gallery berisikan hal yang cukup mencengangkan baginya. Tetapi Sofyan tidak mungkin berselingkuh. Nasya begitu yakin Sofyan tidak mungkin berselingkuh karena Sofyan sangat mencintai Nasya.

Malam harinya, Nasya menyambut kepulangan Sofyan dengan gaun merah barunya. Nasya mengecup lembut kening Sofyan yang mengagumi betapa cantiknya Nasya dalam balutan gaun tersebut.
"Kemarin, kita tidak sempat merayakan ulang tahun pernikahan kita. Tapi tidak ada kata terlambat sayang. Aku sudah menyiapkan makan malam yg istimewa untukmu."
Nasya mengamit lengan suaminya dengan mesra. Seakan bernostalgia, mereka menikmati makan malam dengan gembira. Mengulang kembali kisah sewaktu mereka belum menikah. Setelah itu mereka duduk berpelukan menikmati malam. Nasya merasa bahagia, bahagia karena memiliki suami selembut dan sebaik Sofyan.
"Sayang, sabtu pagi aku harus pergi ke Bandung. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku tangani sendiri."
Nasya menatap wajah suaminya dengan lembut.
"Selama berapa hari sayang?"
"Aku usahakan hari minggu malam aku sudah kembali ke Jakarta."
"Bolehkah aku ikut bersamamu? Sudah lama aku tidak pergi ke Bandung?".
"ah..sayang..maaf, tapi aku tak enak dengan staff yang lain jika kamu ikut serta. Lain kali aku akan mengajakmu liburan kesana."
Nasya memandang suaminya dengan perasaan khawatir, seketika Nasya teringat photo2 mesra suaminya dengan wanita itu.

"Siapa saja staff kamu yang ikut serta sayang?"
"Lina dan beberapa pegawai baru yang harus aku berikan banyak pengarahan mengenai proyek ini."
Nasya menghela nafas. Lina, sekertaris suaminya semenjak 2tahun lalu. Lina, wanita yang menawan tapi membuat Nasya cemas hari ini karena Lina adalah wanita yang ada diphoto itu.
"Aku pasti akan menyempatkan diri untuk membelikan kesukaanmu."
Nasya tersenyum dan mengecup lembut pipi suaminya.
"Tidurlah sayang, besok kamu harus bekerja."
Nasya beranjak menuju kamar dan disusul oleh suaminya.

Tidak seperti biasanya Nasya berdandan siang ini. Dikenakannya jeans hitam, kaus berwarna abu kesukaannya dan dipadukan dengan kets kesayangannya. Nasya pun beranjak menuju garasi. Tiba-tiba saja Nasya ingin berbelanja dan menghabiskan waktunya diluar rumah hingga sore nanti, sesuatu hal yang amat sangat jarang dilakukannya selama setahun terakhir ini.
Nasya tiba disebuah Mall dan bergegas menuju butik-butik ternama yang berada disana.
Tak kurang dari satu jam, Nasya sudah membawa beberapa kantung dikedua tangannya. Setelah merasa puas berbelanja, Nasya merasakan perutnya mulai menuntut untuk diisi makanan. Nasya melangkahkan kakinya menuju tempat makan favoritnya bersama suaminya sewaktu mereka masih berpacaran. Tiba-tiba Nasya menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah pucat dan kemudian Nasya berlalu.

Sesampainya dirumah Nasya melempar semua kantung belanjaannya. Pikirannya kacau, Nasya berusaha menenangkan dirinya dan berusaha memungkiri apa yang tadi dilihat oleh kedua matanya.

Waktu berjalan kian cepat, dan hari Sabtu pun tiba. Nasya berdiri didepan rumah mengantarkan kepergian suaminya ke Bandung. Pikirannya melayang dan kian kacau.
Saat kendaraan suaminya menghilang dari pandangannya, Nasya melangkah masuk ke dalam rumah.
Nasya menghenyakkan tubuhnya ke dalam rengkuhan sofa.
Matanya yang indah sesekali menatap jam dinding yang bedetak memecah ruangan.
Tak tahan dengan segala dilema yang membuncah disanubarinya, Nasya bergegas membasuh tubuhnya di kamar mandi, menyiapkan tas jinjingnya dan memanaskan sedannya.
Nasya nekat menyusul sofyan ke Bandung.

Udara Bandung siang ini cukup panas, Nasya hanya bisa menahan geram karena ternyata Hotel yang dicari tak mudah untuk ditemukan. Setelah 2 jam berputar dan bertanya kepada orang sekitar, akhirnya Nasya menemukan Hotel tersebut. Hotel kecil yang cukup cantik. Seketika hati Nasya meragu, 'Apa yang sebenarnya aku lakukan? Seharusnya aku mempercayai suamiku.'
Nasya kembali menghidupkan sedannya, tapi kemudian matanya menangkap sosok suaminya yang bergandengan mesra dengan seorang wanita. Mereka terlihat bahagia dan sesekali jemari Sofyan mengelus rambut wanita itu.
Airmata Nasya menggenang dipelupuk matanya.
Nasya bergegas turun dan mengikuti Sofyan, menunggu hingga Sofyan dan wanita itu menaiki lift. Nasya menunggu dan menunggu. Hingga akhirnya Nasya melangkah dengan berat menaiki Lift.
Nasya menguatkan dirinya saat memergoki Sofyan berciuman mesra dengan wanita itu di depan pintu kamar hotel.
Nasya berdiri cukup lama di belakang mereka, sampai sofyan akhirnya menyadari kehadiran Nasya.
Nasya hanya tersenyum pahit dan kemudian berlalu. Nasya sempat melihat Sofyan berlari mengejarnya. Tapi Nasya tak perduli, yang Nasya inginkan hanyalah pulang ke rumah.

**
Sofyan memacu kendaraannya dengan cukup kencang. Senyum masih menghiasi bibirnya yang dihiasi kumis tipis. Hari yang menyenangkan untuknya. Menghabiskan waktu dengan Lina. Sofyan melemparkan pandangannya ke belakang, dilihatnya sebuah bingkisan yang berisikan sebuah gaun. Gaun yang baru saja Sofyan belikan untuk Lina. Gaun indah yang akan sangat cantik sekali jika Lina mengenakannya. Sofyan kemudian menatap jam tangannya, sudah jam 11 malam. Sofyan melajukan mobilnya semakin kencang, sudah terlalu larut dan Nasya hanya sendirian dirumah. Seketika hatinya diliputi perasaan bersalah, bersalah karena mengkhianati Istrinya.

Sesampainya dirumah, Sofyan melihat Nasya tertidur di teras. Hatinya kian diliputi rasa bersalah. Sofyan mengangkat tubuh Nasya perlahan, seakan takut untuk membangunkan Nasya.

Tapi ternyata Nasya terbangun, mengejutkannya. Ditatap wajah Nasya dengan lembut saat Nasya mengecup lembut dirinya.
'Tidurlah sayang' ujarnya.

Sofyan membaringkan tubuh Nasya dengan lembut keatas ranjang. Sofyan menatap lekat wajah Nasya yang tertidur pulas.
'Bidadariku tersayang, maafkan aku.'
Sofyan mengecup lembut kening Istrinya, dan melangkah keluar kamar. Sofyan melangkahkan kakinya menuju dapur, seketika tubuhnya kaku saat menatap meja makan. Sebuah kue coklat kesukaannya dengan ukiran indah terhidang diatas meja.
Sofyan kian diliputi perasaan bersalah, melupakan ulang tahun pernikahannya yang ke 4 dengan Nasya. Sofyan benar-benar melupakan hari penting ini.
Sofyan melangkahkan kakinya menuju garasi. Diraihnya bingkisan yang seharusnya Sofyan berikan untuk Lina.
'Biarlah gaun ini aku berikan untuk Nasya.' pikirnya.

Bukannya Sofyan tidak mencintai Nasya. Sofyan mencintai Nasya dengan sepenuh hatinya. Segalanya akan Sofyan berikan untuk Nasya. Menikahi Nasya adalah Impian dan kebahagiaan terbesar untuknya.
Tetapi saat ini cintanya terbagi, untuk Nasya dan juga untuk Lina.
Lina adalah seorang wanita yang sangat berbeda. Pertemuannya pertama kali saat Sofyan menjadikan Lina sebagai sekretarisnya. Lina wanita cerdas dan mandiri, membuat Sofyan bergetar saat menatapnya. Hal yang sama saat Sofyan menatap Nasya.
Sofyan berusaha menepis segala hal yang dirasakannya untuk Lina. Hingga saat Sofyan tanpa sadar merapatkan bibirnya kedalam bibir Lina. Lina menangis dan Sofyan hanya tertegun, meraih Lina ke pelukannya. Semenjak hari itu Sofyan menjalin hubungan dengan Lina.

Sofyan menggeliatkan tubuhnya disofa dan kemudian tertidur pulas.

Keesokannya, saat Sofyan pulang dari kantor, Nasya menyambutnya dengan riang. Nasya mengenakan gaun itu. Sangat cantik. Betapa Sofyan mencintai Nasya, dulu, esok dan seterusnya.
Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang2, bernostalgia tentang dahulu. Sofyan bahagia, menginginkan kebahagiaan ini untuk selamanya. Tetapi sosok Lina terus saja melekat dipikirannya. Nasya bagaikan Bidadari langit dan Lina bagaikan Dewi bumi. Sofyan menderita, sangat menderita, karena Sofya mencintai mereka sekaligus dan Sofyan membutuhkan mereka.

Sabtu ini Sofyan berangkat ke Bandung. Ditatap wajah Nasya yang mengantar kepergiannya. Hatinya resah, kian merasa menderita. Tetapi Sofyan tidak sanggup untuk memilih, terlalu pengecut untuk kehilangan salah satu dari mereka.

Sofyan melajukan mobilnya menjemput Lina dan melajukan mobilnya menuju Bandung. Sepanjang perjalanan Sofyan hanya terdiam sambil sesekali menatap Lina yang duduk terdiam di sampingnya. Tidak seperti biasanya Sofyan melihat Lina terdiam seperti ini.
Sofyan menggenggam lembut jemari Lina yang lentik. Sofyan menangkap perasaan gelisah dalam wajah Lina.
'Mas, aku merasa bersalah sama mbak Nasya. Aku wanita jahat, merebut kamu dari sisinya.'
Sofyan terhenyuh, dan kemudian berujar 'Aku yang bersalah karena mencintai kalian berdua, aku yang bersalah karena aku membutuhkan kalian.'
Dan mereka pun terdiam sepanjang perjalanan.

Sesampainya di Bandung, Sofyan memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah restoran. Sembari menikmati makanan yang mulai terhidang, Sofyan membicarakan banyak hal kepada Lina, membuat Lina kembali tersenyum.
Setelah mereka menghabiskan waktu berbelanja di wilayah Dago, Sofyan dan Lina memutuskan untuk ke Hotel yang sudah di pesan Sofyan beberapa hari yang lalu.

Sesampainya di Hotel, Lina menggandeng lengan Sofyan dan sesekali mengelus rambut Lina denga mesra. Sofyan bahagia menatap wajah Lina yang berbinar manja.
Sofyan mengecup bibir Lina di depan pintu kamar, merasakan hangatnya bibir yang lembut Lina bersentuhan dengan bibirnya.
Seketika Sofyan terkejut saat merasakan seseorang menatap mereka. Sofyan memalingkan wajahnya dan menatap Nasya yang berdiri di belakangnya. Nasya hanya tersenyum dan berlari meninggalkan Sofyan yang masih memeluk Lina.
Saat Sofyan tersadar, Sofya bergegas mengejar Nasya tapi Nasya sudah menghilang. Sofyan merasakan kepedihan yang kian lian mengerogoti hatinya. Penyesalan jauh lebih besar terasa.

***
Lina merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Senyum tak lepas dari bibirnya yang ranum, mengingat waktu yang dihabiskannya bersama Sofyan hari ini.
Lina menatap langit yang kian mendung dari balik jendela kamarnya. Tiba-tiba hatinya gelisah.
Pikirannya kembali ke dalam kenangan setahun yang lalu.
Pertemuannya yang pertama dengan Sofyan.

Dimata Lina, Sofyan adalah lelaki yang tampan dan sopan. Lelaki cerdas yang hidupnya sempurna. Lelaki yang dikaguminya dan Lina juga mengagumi Istri Sofyan, Nasya. Sofyan dan Nasya adalah pasangan yang serasi, mereka sempurnya. Terkadang Lina ingin menjadi sosok yang seperti Nasya. Cerdas, anggun dan mandiri. Dan Lina ingin mempunyai seorang pendamping seperti Sofyan. Entah sejak kapan perasaan Lina berubah dari mengagumi Sofyan menjadi perasaan cinta. Tetapi Lina berusaha menepis perasaannya, karena Lina cukup tahu diri bahwa dia tak mungkin memiliki Sofyan yang sudah memiliki seorang istri.
Hingga suatu ketika, Lina tanpa sadar mendapati bibirnya bersentuhan dengan bibir Sofyan. Lina tertegun dan menangis. Dirinya tak sanggup lagi menahan perasaannya yang kian membesar dari hari ke hari.
Perasaannya sakit saat Sofyan kemudian memeluknya dengan erat, dan semenjak itu Lina mulai berhubungan dengan Sofyan.

Lina memang bahagia bersama Sofyan, tetapi perasaan bersalahnya kian hari kian bertambah besar. Jujur saja Lina bingung harus berbuat apa. Hatinya menjerit dan meronta, logikanya berkata untuk meninggalkan Sofyan, tetapi Lina merasa tak sanggup. Cintanya kepada Sofyan begitu besar.

Sabtu ini Lina menunggu Sofyan menjemputnya untuk pergi ke Bandung. Lina teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Lina dan Sofyan memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang terletak di salah satu Mall besar. Saat itu Lina menggandeng mesra lengan Sofyan. Tetapi kemudian Lina seperti melihat sosok Nasya menatap mereka dari kejauhan. Lina tidak bisa meyakinkan dirinya apakah itu hanyalah sebuah halusinasi karena rasa bersalahnya, ataukah itu nyata.
Seketika lamunan Lina buyar oleh suara klakson mobil. Lina mengangkat wajahnya dan melihat Sofyan yang sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya.

Sepanjang perjalanan Lina hanya bisa terdiam dan Sofyan pun terdiam. Lina terkejut saat Sofyan mengenggam lembut jemarinya.
'Mas, aku merasa bersalah kepada mbak Nasya. Aku wanita jahat merebut kamu dari sisinya.'
'Aku yang bersalah karena aku mencintai kalian berdua, aku yang bersalah karena membutuhkan kalian.'
Kemudian mereka kembali terdiam sepanjang perjalanan.

Lina berusaha menahan airmata yang memberontak liar dipelupuk matanya. Sepertinya Sofyan menyadari hal itu karena Sofyan mengajaknya untuk menyantap makanan disebuah restoran dan membuatnya tertawa oleh celotehan2 lucu. Perasaan Lina mulai membaik, tetapi rasa bersalah tak juga hilang dari hatinya.

Setelah menghabiskan waktu dengan berbelanja, mereka pun menuju hotel yang telah di pesan beberapa waktu yang lalu. Lina menggandeng manja di lengan Sofyan yang kekar. Sesekali Jemari Sofyan mengelus lembut rambut Lina yang halus. Membuai Lina dalam kebahagiaan yang tidak terhingga. Sesampai didepan pintu kamar, Lina merasakan Sofyan merengkuhnya ke dalam pelukan dan mengecup bibirnya dengan Lembut. Lina merasa bagaikan di awang2. Seketika Lina merasakan tubuh Sofyan menegang dan melepaskan ciumannya. Lina mengalihkan wajahnya yang memerah kearah wajah Sofyan. Baru Lina Menyadari bahwa Sofyan memandang ke arah lain. Nasya..Nasya berdiri di sana..menatap Lina dan Sofyan. Lina melihat Nasya tersenyum sedih dan kemudian Nasya Berlari, pergi.
Airmata Lina merebak dan jatuh dengan deras, perasaannya kian berdosa saat Sofyan melepaskannya dan berlari mengejar Nasya. Bukan ini yang diinginkan Lina, Lina tidak pernah berniat menghancurkan rumah tangga orang yang dikaguminya, Lina tidak pernah ingin menjadi orang ketiga.

****
Semenjak kejadian di Bandung sabtu lalu, Nasya tetap bersikap seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk suaminya, menyambut kepulangan suaminya setiap sore. Hanya saja ada yang berbeda. Nasya dan Sofyan jarang berbicara dan Sofyan pun hanya terdiam dan menyibukkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan di kamar setiap malamnya.
Sesekali Nasya memergoki suaminya menatap sesuatu sambil berurai airmata. Nasya hanya bisa berlalu dan menenggelamkan dirinya dalam buku-buku.

Dua bula berlalu setelah kejadian itu, tubuh Sofyan kian mengurus, dan lingkar hitam di matanya kian terlihat.
Nasya melangkah perlahan menghampiri suaminya yang tenggelam dalam pekerjaannya.
'Apakah kamu begitu mencintainya?'
Tetapi Sofyan hanya terdiam menatap Nasya dan airmatanya mulai merebak. Nasya memeluk suaminya dengan perasaan sayang dan hancur. Kemudian Nasya membimbing suaminya yang masih saja berurai airmata. Dipeluk tubuh suaminya dengan kasih, dibelain rambut suaminya dengan lembut hingga suaminya tertidur.

Nasya melajukan sedannya memecah kesunyian malam.
Batinnya merasakan kelelahan yang teramat sangat.
Nasya menghentikan sedannya disebuah rumah. Dengan sedikit ragu, Nasya menekan bel.

Lina terkejut mendapati Nasya didepan rumahnya malam ini. Dengan ragu Lina mempersilahkan Nasya untuk masuk, tetapi Nasya menolak dengan halus dan memilih untuk duduk di teras.
'Cintakah kamu kepada suamiku?'
Pertanyaan Nasya membuat Lina berurai airmata. Tak ada kata yang bs terucap dari bibirnya. Seketika dirasakan sebuah tangan memeluknya dengan lembut. Nasya memeluknya dengan kasih dan mereka menangis dalam heningnya malam.

Nasya tidak perlu sebuah jawaban malam itu. Baginya sudah cukup jelas apa yang dirasakan oleh Sofyan dan Lina. Nasya juga tak mungkin berpisah dari Sofyan. Ditatapnya perutnya yang mulai membuncit. Nasya sudah mengandung selama 5 minggu. Mungkin ini jalan yang terbaik.
Ditatapnya hiasan dan janur yang menghiasi rumahnya. Ditatapnya ranjang yang dihiasi kelopak mawar. Ini hari bahagia untuk suaminya dan Lina.
Nasya hanyalah seorang wanita biasa yang merelakan suaminya berbagi dalam cinta..Tiga cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar