Minggu, 27 Oktober 2013

The Road

Mengintip dengan mata menyipit dari balik punggung lelaki tua yang duduk di depanku. Dapat terlihat lelaki tua ini duduk dengan tegak, mengendarai motor dengan hati-hati. Memperhatikan jalan di depannya dengan tekun, tanpa harus mencoba beraksi dengan kecepatan tinggi ataupun melanggar rambu seperti pengendara lainnya.
Aku kembali mengintip dengan mata menyipit dari punggung lelaki tua yang duduk di depanku.

Ada satu jalan didepan. Satu jalan dengan dua jalur. Jalur pertama, menuju ke tempat tujuanku. Kadang terhenti karena traffic light, kadang berbelok, kadang pula harus melambat karena ada halangan-halangan kecil yang muncul. Tetapi tetap saja Aku harus melewati jalan tersebut untuk mencapai tujuanku bukan ?!

Ada satu jalan didepan. Satu jalan dengan dua jalur. Jalur kedua, menuju kembali ke tempat awal, jalur untuk kembali ke titik awal. Tempat yang aman dan nyaman, tanpa Aku harus memikirkan banyak hal, tanpa Aku harus bersusah-payah, berpeluh, bertarung dengan teriknya matahari yang menyengat. Tempat dimana Aku dapat melindungi diriku, tanpa harus keluar dari sana.
Tetapi, bukankah itu sama saja Aku tidak dapat mencapai tujuanku ?
Karena Aku hanya kembali dan kemudian duduk di tempat yang paling nyaman di dunia.
Lalu, untuk apa Aku berpeluh, menghabiskan beberapa waktuku menempuh jalur pertama yang sebentar lagi mencapai tujuanku, jika akhirnya Aku memutuskan untuk berputar balik dan kembali ke tempat awal ? ke titik awal ?
Sia-sia bukan ?

Matahari menyengat dengan garang, menerpa wajahku yang mulai terbalut debu. Aku menghela nafas, mengirup udara yang terbaur dengan debu dan polusi. Aku menikmatinya, menikmati perjalananku siang ini menuju tempat tujuanku. Apapun itu, Aku akan menikmatinya..kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar