Minggu, 17 Februari 2013

Suatu Malam

Aku melajukan mobilku dengan perlahan. Kutatap jalanan lengang dan sepi yang membentang didepanku. Pandanganku mulai kabur karena airmata yang menggenang di pelupukku. Rasanya aku ingin menangis, berteriak, melempar segala benda yang ada. Hatiku sakit, Hatiku diliputi perasaan takut dan bersalah.

Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan baik. Sudah 6 tahun berlalu semenjak kejadian itu. Tapi keadaan tak juga kian membaik. Beribu kata maaf yang Aku ucapkan tak juga menghapus luka yang membekas dihati mereka. Aku bersalah, Aku berdosa. Taukah mereka? Akupun belum memaafkan diriku sendiri atas semua kesalahanku.
Aku sadar bahwa beribu kata maaf, tidak akan mengembalikan waktu, tidak akan menghapus kesalahanku, tidak akan menghilangkan segala perbuatanku. Aku sadar semua itu. Tapi apa lagi yang harus Aku lakukan?
Bertahan menghadapi mereka dan Aku berubah.
Aku berhenti mengkonsumsi obat2an, Aku berhenti mengkonsumsi alkohol. Aku menjalani rehabilitasiku dengan baik.
Yang Aku pinta hanya satu, tolong terima Aku dengan baik, dengan tulus.
Tapi mereka tetap membenciku dan tatapan mereka yang seakan membunuh jiwaku perlahan.

Andai Aku dapat memutar waktu, Aku ingin kembali ke waktu itu. Waktu dimana Obat2an itu menguasaiku, membuatku terlena dan membuat Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku, membunuh adikku sendiri.

Airmataku mengalir kian deras. Masih teringat jelas dalam ingatanku kejadian malam itu, malam 6 tahun yang lalu.
Aku hanya berdua dengan adik kecilku. Aku terbenam dalam buaian alkohol dan tubuhku mulai menuntut obat2an masuk ke aliran darahku. Tapi Aku tak menemukan obat2an yang biasa aku sembunyikan dibalik ranjangku. Persediaanku habis. Aku menggendong adik kecilku dan mendudukkannya di dalam mobil. Aku melajukan mobilku dengan kencang dalam pengaruh alkohol, mencoba menuju tempat penyediaku. Dalam perjalanan pulang, Aku menyetir dengan keadaan mabuk karena alkohol & obat2an. Aku lalai dan kecelakaan itu terjadi. Adik kecilku meninggal ditempat. Masih teringat dengan jelas dikepalaku, tangan mungilnya yang terkulai, erangan paraunya yang menghilang perlahan dan matanya yang menatapku yang mulai kehilangan kesadaran.
Aku menyesal..sangat menyesal.
6 tahun berlalu, dan Aku juga belum dapat memaafkan diriku sendiri.
6 tahun berlalu dan Aku tetap saja belum dimaafkan oleh mereka.
Aku lelah.

Airmataku mengalir kian deras dan Aku melajukan kendaraanku kian kencang. Aku ingin mati! jika kematian dapat menghilangkan kesalahanku, Aku pasrah!
Aku terjunkan kendaraanku kedalam jurang yang terhampar didepanku. Jika kematian datang saat ini, Aku rela..pasrah..mungkin kematian dapat membebaskan Aku dari perasaan yang menyiksa ini.
Kendaraanku membentur sisi jalan dan menerjang jurang. Saat mobilku terguling, Aku masih tersadar dengan airmata yang tak kunjung berhenti mengalir. Serpihan kaca melukai tubuhku yang terlempar di dalam mobil. Aku masih tersadar saat kendaraanku berhenti terguling dan Aku masih dapat melihat darah yang mengalir dari perutku yang terhimpit rangka mobil. Aku tersenyum menyambut kematian.

Aku terbangun disebuah ranjang kecil, beberapa selang terlihat mengelilingi tubuhku. Aku mengerjapkan kelopak mataku perlahan. Sakit, perih tak tertahan. Aku melihat sosok Ayah dan Bundaku yang terduduk di sisi ranjang. Mereka menangis dan memeluk tubuhku yang terbalut perban.
Dengan susah payah Aku mengerjapkan kembali kelopak mataku.
Kematian belum menjemputku, Tuhan memberikan Aku kesempatan untuk menjalani hidupku dan membuka mataku, bahwa mereka masih menyayangiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar