Dina menangis, hatinya pilu. Banyak lebam ditubuhnya. Dina
meringis, mencoba bangkit dari ranjangnya. Jemari halusnya meraih gelas
kaca di seberang ranjang. Mencoba menghilangkan dahaganya, tetapi untuk
menelan saja rasanya sulit.Dina menatap dirinya didepan cermin. Menatap
dirinya yang terefleksi menyedihkan.
'Cinta, itu yang membuatku
memaafkanmu Doni !'
"Dina dan Doni, Pasangan yang membuat iri banyak
orang.
Dina, dengan perawakannya yang semampai, cantik dan anggun, teduh
bagai rembulan, sedangkan Doni, Pria Tegap, tampan dan mempunyai senyum
yang menawan, bersinar seperti mentari pagi.
Saat Doni mengungkapkan isi
hatinya, Dina hanya bisa terpaku tak percaya karena selama ini Dina pun
menyimpan rasa yang sama. Namun, setelah setengah tahun berjalan, hari2
yang Dina lewati seperti dongeng pun sirna.
Doni yang pencemburu, Doni
yang kasar, Doni yang egois dan Doni yang senang melirik wanita pun
mulai terlihat. Dina bertahan karena perasaannya yang kian dalam untuk
Doni. Bukan sekali dua kali Doni memukul Dina hanya karena hal sepele.
Pernah sekalinya Dina terkapar di UGD karena ulah Doni, tapi ternyata
hal itu tak membuat Dina meninggalkan Doni. Semua hanya karena
cinta.Seperti saat ini, untuk kesekian kalinya Doni memukul Dina hanya
karena Dina memergokinya sedang merayu anak semester baru. Tentu saja
Doni tak melakukannya didepan banyak orang. Doni tak mau reputasinya
hancur.
Dina masih termangu menatap tubuhnya yang penuh lebam, matanya
sembab. Perlahan Dina merayap naik ke ranjang, menatap jam dinding yg
berdetik memenuhi ruangan. Dina pun terlelap diantara isak
tangisnya.
Mentari mengintip dari celah tirai, membangunkan Dina yang
tertidur dalam resah. Dina menggeliat diatas ranjang. Sudut matanya
menatap jarum jam.
Hari ini, tepat 2 tahun Dina dan Doni bersama
" Pagi
datang dengan indah, semoga hari ini dapat ku lewati dengan indah TUHAN
!! "
Pagi ini pun seperti biasa Doni menjemput Dina, yang berbeda
hanyalah Doni datang dengan penyesalan yang dalam.Doni menatap Dina,
membuat Dina terhenyuh dan menatap Doni yang meneteskan airmata
penyesalan.
" Maafkan aku ! Aku khilaf, aku tak pernah bermaksud untuk
menyakitimu. Maafkan aku karena melanggar janjiku untuk tidak memukulmu
lagi. "
Dina terhenyak..mengangguk. Dan untuk kesekian kalinya Dina luluh
dalam kata Maaf Doni.
Sudah hampir 2 minggu, sikap Doni berubah menjadi
semanis kucing. Membuat Dina tersenyum bahagia.
" Aku mencintainya TUHAN,
Jangan biarkan dia jauh dariku. Aku tak bs hidup tanpanya. "
Kata2 itu
terus terucap dalam batin Dina.
Jam dinding berdetik bagai alunan musik,
mengiringi gaduhnya suasana ruang UGD. Wangi obat2an menyeruak memenuhi
ruangan. Sayup terdengar suara dokter dan suster yang sibuk merawat
pasien. Diantara sadarnya, Dina menatap nanar ruangan. Pandangannya
kabur, Dina tak dapat menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Berusaha
mengingat apa yang terjadi.
Ah...iya....malam ini....malam ini seharusnya
Dina dan Doni makan malam disebuah restoran mewah yang telah dipesan
Doni. Masih terasa senda gurau mereka waktu memasuki pintu restoran.
Masih terasa hangatnya kecupan Doni dikeningnya. Seakan malam ini begitu
sempurna.Hingga saat seorang pemuda menghampiri meja mereka dan menegur
Dina dengan lembut. Dina tersenyum melihat pemuda itu dan pemuda itupun
berlalu.
Merah padam wajah Doni kala itu, hatinya terbakar cemburu.
Ditariknya tangan Dina menuju tempat parkir. Mereka bertengkar.
Dicengkramnya rambut indah Dina.Tangan Doni yang besar menghantam wajah
Dina.
" Dasar Pelacur !! Merayu Lelaki lain didepanku. Kamu anggap apa
aku ?? Aku sayang sama kamu, cinta kamu, tapi kelakuan kamu begini. "
"
Dia teman kakakku. ", hanya itu yang dapat terucap oleh Dina, karena Doni
kembali memukulnya.
Dina meringis, darah mulai mengalir dari hidung dan
sudut bibirnya.Telepon selular Doni berbunyi dan Doni dengan kasar
mengangkat teleponnya. Dina berusaha melepaskan cengkraman Doni dari
rambutnya. Tangan Doni terhentak, telepon selularnya terjatuh. Terdengar
sayup2 suara wanita dengan genit dan manja..sang penelepon.
Dina geram,
diinjaknya telepon selular Doni. Mereka bertengkar dengan hebat.Doni
mendorong tubuh Dina kedalam mobil. Doni melajukan mobilnya dengan
kecepatan tinggi. Wajah Dina memucat
" Tolong berhenti ", jeritnya.
Doni
menghentikan laju mobilnya.
" Aku lelah, lebih baik aku pulang naik
taksi. ".
Dengan tertatih Dina melangkah keluar dari mobil. Hati Doni
berkecamuk, dipenuhi amarah. Dilihatnya Dina yang berjalan menyusuri
jalan. Pandangannya kabur, terbalut emosi yang membabi buta. Doni
melajukan mobilnya kearah Dina dengan kecepatan tinggi.
Tubuh Dina
terlempar ketepi jalan.
Doni tersentak.
" Astaga, apa yg aku lakukan ?!
".
Dengan panik Doni berlari menghampiri tubuh Dina yang bersimbah darah.
"
Maafkan aku sayang. " ucap Doni lirih.
Jemari halus Dina terangkat
lemah, mengusap airmata yang mengalir dipipi Doni.
" kamu tahu....aku
sayang kamu. "Ucap Dina pelan.
Dina pun terkulai.
Dina mengingat apa yang
terjadi. Antara bawah sadarnya yang mulai menghilang, Dina menggumam
"
Aku tetap cinta kamu sampai akhir hembusan nafasku Doni. ", matanya pun
terpejam.
" Dokter, pasien mulai kehilangan kesadaran..!! ", Sayup2
terdengar paniknya Dokter dan suster berusaha menyelamatkan jiwa Dina.
Tapi Dina tak terselamatkan..pergi meninggalkan dunia, membawa rasa
cintanya.
Doni terduduk lesu, penyesalan tergambar di wajahnya. Terlambat
untuk menyesali. Doni memandang langit melewati jeruji penjara
" Maafkan
aku sayang.. " ucapnya lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar