Jumat, 22 Februari 2013

Segenggam Cinta Untuk Dina

Dina menangis, hatinya pilu. Banyak lebam ditubuhnya. Dina meringis, mencoba bangkit dari ranjangnya. Jemari halusnya meraih gelas kaca di seberang ranjang. Mencoba menghilangkan dahaganya, tetapi untuk menelan saja rasanya sulit.Dina menatap dirinya didepan cermin. Menatap dirinya yang terefleksi menyedihkan.
'Cinta, itu yang membuatku memaafkanmu Doni !'

"Dina dan Doni, Pasangan yang membuat iri banyak orang.
Dina, dengan perawakannya yang semampai, cantik dan anggun, teduh bagai rembulan, sedangkan Doni, Pria Tegap, tampan dan mempunyai senyum yang menawan, bersinar seperti mentari pagi.
Saat Doni mengungkapkan isi hatinya, Dina hanya bisa terpaku tak percaya karena selama ini Dina pun menyimpan rasa yang sama. Namun, setelah setengah tahun berjalan, hari2 yang Dina lewati seperti dongeng pun sirna.
Doni yang pencemburu, Doni yang kasar, Doni yang egois dan Doni yang senang melirik wanita pun mulai terlihat. Dina bertahan karena perasaannya yang kian dalam untuk Doni. Bukan sekali dua kali Doni memukul Dina hanya karena hal sepele. Pernah sekalinya Dina terkapar di UGD karena ulah Doni, tapi ternyata hal itu tak membuat Dina meninggalkan Doni. Semua hanya karena cinta.Seperti saat ini, untuk kesekian kalinya Doni memukul Dina hanya karena Dina memergokinya sedang merayu anak semester baru. Tentu saja Doni tak melakukannya didepan banyak orang. Doni tak mau reputasinya hancur.

Dina masih termangu menatap tubuhnya yang penuh lebam, matanya sembab. Perlahan Dina merayap naik ke ranjang, menatap jam dinding yg berdetik memenuhi ruangan. Dina pun terlelap diantara isak tangisnya.

Mentari mengintip dari celah tirai, membangunkan Dina yang tertidur dalam resah. Dina menggeliat diatas ranjang. Sudut matanya menatap jarum jam.
Hari ini, tepat 2 tahun Dina dan Doni bersama
" Pagi datang dengan indah, semoga hari ini dapat ku lewati dengan indah TUHAN !! "

Pagi ini pun seperti biasa Doni menjemput Dina, yang berbeda hanyalah Doni datang dengan penyesalan yang dalam.Doni menatap Dina, membuat Dina terhenyuh dan menatap Doni yang meneteskan airmata penyesalan.
" Maafkan aku ! Aku khilaf, aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Maafkan aku karena melanggar janjiku untuk tidak memukulmu lagi. "
Dina terhenyak..mengangguk. Dan untuk kesekian kalinya Dina luluh dalam kata Maaf Doni.

Sudah hampir 2 minggu, sikap Doni berubah menjadi semanis kucing. Membuat Dina tersenyum bahagia.
" Aku mencintainya TUHAN, Jangan biarkan dia jauh dariku. Aku tak bs hidup tanpanya. "
Kata2 itu terus terucap dalam batin Dina.

Jam dinding berdetik bagai alunan musik, mengiringi gaduhnya suasana ruang UGD. Wangi obat2an menyeruak memenuhi ruangan. Sayup terdengar suara dokter dan suster yang sibuk merawat pasien. Diantara sadarnya, Dina menatap nanar ruangan. Pandangannya kabur, Dina tak dapat menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Berusaha mengingat apa yang terjadi.
Ah...iya....malam ini....malam ini seharusnya Dina dan Doni makan malam disebuah restoran mewah yang telah dipesan Doni. Masih terasa senda gurau mereka waktu memasuki pintu restoran. Masih terasa hangatnya kecupan Doni dikeningnya. Seakan malam ini begitu sempurna.Hingga saat seorang pemuda menghampiri meja mereka dan menegur Dina dengan lembut. Dina tersenyum melihat pemuda itu dan pemuda itupun berlalu.
Merah padam wajah Doni kala itu, hatinya terbakar cemburu. Ditariknya tangan Dina menuju tempat parkir. Mereka bertengkar. Dicengkramnya rambut indah Dina.Tangan Doni yang besar menghantam wajah Dina.
" Dasar Pelacur !! Merayu Lelaki lain didepanku. Kamu anggap apa aku ?? Aku sayang sama kamu, cinta kamu, tapi kelakuan kamu begini. "
" Dia teman kakakku. ", hanya itu yang dapat terucap oleh Dina, karena Doni kembali memukulnya.

Dina meringis, darah mulai mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.Telepon selular Doni berbunyi dan Doni dengan kasar mengangkat teleponnya. Dina berusaha melepaskan cengkraman Doni dari rambutnya. Tangan Doni terhentak, telepon selularnya terjatuh. Terdengar sayup2 suara wanita dengan genit dan manja..sang penelepon.
Dina geram, diinjaknya telepon selular Doni. Mereka bertengkar dengan hebat.Doni mendorong tubuh Dina kedalam mobil. Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajah Dina memucat
" Tolong berhenti ", jeritnya.
Doni menghentikan laju mobilnya.
" Aku lelah, lebih baik aku pulang naik taksi. ".

Dengan tertatih Dina melangkah keluar dari mobil. Hati Doni berkecamuk, dipenuhi amarah. Dilihatnya Dina yang berjalan menyusuri jalan. Pandangannya kabur, terbalut emosi yang membabi buta. Doni melajukan mobilnya kearah Dina dengan kecepatan tinggi.
Tubuh Dina terlempar ketepi jalan.
Doni tersentak.
" Astaga, apa yg aku lakukan ?! ".
Dengan panik Doni berlari menghampiri tubuh Dina yang bersimbah darah.
" Maafkan aku sayang. " ucap Doni lirih.
Jemari halus Dina terangkat lemah, mengusap airmata yang mengalir dipipi Doni.
" kamu tahu....aku sayang kamu. "Ucap Dina pelan.

Dina pun terkulai.

Dina mengingat apa yang terjadi. Antara bawah sadarnya yang mulai menghilang, Dina menggumam
" Aku tetap cinta kamu sampai akhir hembusan nafasku Doni. ", matanya pun terpejam.

" Dokter, pasien mulai kehilangan kesadaran..!! ", Sayup2 terdengar paniknya Dokter dan suster berusaha menyelamatkan jiwa Dina.
Tapi Dina tak terselamatkan..pergi meninggalkan dunia, membawa rasa cintanya.

Doni terduduk lesu, penyesalan tergambar di wajahnya. Terlambat untuk menyesali. Doni memandang langit melewati jeruji penjara
" Maafkan aku sayang.. " ucapnya lirih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar