Pemandangan didepan mataku malam ini begitu indah. Bagaikan sebuah surga dengan keharuman yang memikat indera penciumanku. Kakiku perlahan menyusuri rumput yang terlihat malu diantara cahaya rembulan dan temaramnya lampu taman.
Setapak demi setapak, Aku melangkah, menyentuh bunga-bunga di sekitarku dengan lembut, bagaikan menyentuh seorang kekasih dengan penuh rasa kasih, penuh rasa cinta.
"Kalian kebanggaanku..Kalian kekasihku..kalian adalah harga diriku.", ujarku lembut.
Aku tersenyum dan menciumi kelopak bungaku perlahan.
Ah, lihatlah kumpulan bunga Lilac itu, begitu indah. Warnanya merah muda berpadu dengan warna putih, terlihat cantik bagaikan dewi dari legenda Yunani. Terlihat menari diantara hembusan angin semilir malam ini. Begitu terlihat segar, muda, polos seperti sebuah cinta pertama.
"Ya, cinta pertama..", gumamku lembut.
Anganku berkelana jauh, ke sosok seorang wanita yang berkulit putih, pipinya kemerahan, bibirnya berwarna merah muda, tersenyum lembut memanggil namaku.
Cintaku..cinta pertamaku.
Bibirku kembali memulas senyum bahagia. Dan membelai lembut kelopak bunga Lilac-ku, mencium aromanya, begitu menyegarkan, begitu memabukkan. Sebuah bunga yang mengingatkanku akan sebuah kenangan masa lampau yang masih terasa segar di ingatan.
Ah, bunga Clematis terlihat begitu cerdas malam ini. Seperti untaian rasa ingin tahu, batangnya bergoyang lembut, kelopaknya seakan menatap dengan rasa penasaran. Seperti ada hal yang magic menyelimutinya, berpadu dengan sinar rembulan yang berwarna kuning keperakan.
Lalu, bunga Daisy seakan ikut menyemarakkan suasana taman malam ini. Warna kuning, merah, ungu dan putih seperti bercumbu indah disana. Seperti sesosok wanita yang mempunyai nama yang menyerupai bunga ini, penuh warna, mencumbuiku dengan kesederhanaan.
Dan kemudian bunga Buttercup yang berwarna kuning, terlihat kekanakan diantara bunga lainnya. Mempesona diruku seperti sosok wanita yang pernahku cintai (?) saat itu.Polahnya yang kekanakan, menyilaukan mataku diantara sinar rembulan yang timbul tenggelam diantara awan malam.
Lihatlah bunga Freesia disana, terlihat seperti sebuah lonceng, manis, terlihat menari bagaikan seorang ballerina diatas panggung. Membujukku dengan tariannya, merayuku dengan gemulainya, menyentuhku dengan keanggunannya.
Ballerinaku..ballerinaku terkasih.
Ballerinaku..ballerinaku tercinta.
Bunga..bunga..bunga..
Mereka wanitaku, menggambarkan wanita-wanitaku.
Senyum tipis tersirat di bibirku, mengingat mereka, melihat mereka dalam sosok taman bungaku. Aku berpaling dan kemudian masuk kedalam gudang penyimpanan, mengambil tumpukan bunga terakhir untuk menghiasi taman surgaku, white roses.
Aku menenggelamkan akar mawar putih ini dengan perlahan, dengan kasih. Bagaikan membelai seorang kekasih yang selalu Aku inginkan untuk selamanya untukku.
"Ini hadiah terakhir untuk surga kecilku, ini hadiah terakhir untuk diriku.", gumamku.
Aku tersenyum puas, melihat mawar putihku berdiri indah diatas tanah gembur. Aku kembali melangkahkan kakiku masuk kedalam gudang, mengeluarkan nampan dari perapian pembakaran, menaruhnya diatas meja dan kemudian memilah tumpukan abu dan tulang-tulang yang terlihat sedikit hangus dari atas nampan, memasukkannya ke sebuah mangkuk berukuran sedang yang terbuat dari batu, menumbuknya perlahan hingga hancur.
Aku mengambil abu dan tulang-tulang yang sudah hancur beberapa sendok dan kemudian mencampurnya ke dalam pupuk dalam tungku kecil.
"Dan disinilah kamu kekasih terakhirku, kekasih terakhirku.", ujarku lembut.
Aku memasukan sisa abu dan tulang yang sudah ku tumbuk hancur kedalam sebuah toples bening, menutupnya dengan rapat dan kemudian menberikan label "MAWAR".
Aku melangkah keluar bersama pupuk mawarku. Menaburnya perlahan diatas mawar putih yang terlihat tersenyum kepadaku.
Surgaku sempurna.
Tamanku sempurna.
Aku menatap rak yang berada di gudang penyimpananku dari pintu yang terbuka lebar. Toples-toples kaca ber-label Lila, Clea, Desi, Bella, Frisca, dan yang terakhir Mawar seakan menatapku dengan penuh cinta. Aku kembali menatap bunga-bunga tercintaku.
Aku tersenyum, saat angin malam berhembus memainkan helai-helai rambutku yang mulai memutih. Diantara hembusan angin, gendang telingaku seakan mendengar bunga-bungaku membisikan kata cinta.
"Kami akan selalu menemanimu...kami akan selalu ada disisimu.."
"Bunga-bungaku...kekasih kekasihku..kalian adalah cinta dalam hidupku..kalian akan selalu ada disini..bersamaku..selamanya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar