Jumat, 31 Januari 2014

Pameran Dua Ruang

RUANG PERTAMA


Ada sebuah ruang. Ada banyak gambar disana, ada banyak potret disana, ada banyak wajah disana, ada banyak nama disana.

Ada sebuah ruang dengan banyak potret tentang banyak wajah cantik dan seorang pria. Ada potret seorang gadis berpelukan dengan seorang pria, ada potret seorang gadis bercumbu dengan seorang pria, ada potret seorang gadis berciuman mesra dengan seorang pria, ada potret seorang gadis dengan seorang pria.
Masing-masing potret hanya ada satu gadis dengan seorang pria, masing-masing potret dengan gadis yang berbeda, tetapi hanya ada satu pria.

Ada sebuah ruang. Ada banyak gambar disana, gambar-gambar yang berisikan kata-kata cinta, kata-kata rayuan, kata-kata semu, kata-kata kosong, kata-kata yang terlihat begitu menjanjikan.
Kata-kata untuk setiap gadis yang berbeda, dari seorang pria.

Ada sebuah ruang, ruang pameran. Pameran yang berisikan sebuah percobaan yang disebut cinta, pameran yang terbuka untuk umum yang di sajikan oleh seorang pria. Pameran yang berisikan tentang cinta ( ? ) kepada gadis-gadis cantik. Satu-persatu gambar dipertontonkan disana, satu-persatu kata di buat menjadi pertunjukan disana, satu-persatu wajah dan keintiman mereka dipertontonkan disana, tanpa rasa jengah sedikitpun.

Ada sebuah ruang, sebuah ruang pameran. Orang-orang mulai berdatangan, untuk melihat, untuk memuji, untuk cemburu, untuk mengagumi, betapa cantiknya wajah-wajah tersebut. Rasa puas menggeluti pemilik pameran, rasa bangga atas potret-potret tersebut, atas wajah-wajah, keintiman, kata-kata menjanjikan, yang di pertontonkan di ruang pameran.

Ada sebuah ruang, ruang pameran, pameran tentang cinta ( ? ), tentang sejarah, tentang hal yang dia jalani sekarang. Dipertontonkan, dipamerkan di sebuah ruang, ruang pameran untuk umum.


RUANG KEDUA


Ada sebuah ruang, ruang kedua. Ada banyak gambar, ada banyak potret, ada dua wajah, ada banyak ekspresi dari seorang gadis dan seorang pria. Ada banyak cerita tergambar disana, hanya dari satu wajah, satu wanita.

Ada sebuah ruang, ruang pameran kedua. Ruang yang penuh dengan gambar, potret, cerita seorang gadis, gadis masa lampau. Ruang yang berdebu, tak tersentuh.
Ruang yang sepertinya tak untuk dikunjungi oleh umum, bahkan untuk pemilik pameran sendiri.
Ruang yang seakan tabu untuk tersentuh, dikunjungi, bahkan dipertontonkan kepada umum. Bahkan untuk pemilik pameran.

Ada sebuah ruang, ruang pameran kedua. Ruang pameran pribadi, yang hanya akan disentuh, dikunjungi, saat pemilik pameran resah dan tersiksa oleh kata 'Rindu'. Ruang pameran pribadi yang seakan selalu menghantui, bahkan saat pemilik pameran telah menutup rapat ruang pameran kedua.

Ada sebuah ruang, ruang pameran kedua. Berdebu, usang, dan tabu untuk dipertontonkan. Ruang yang bercerita tentang rasa tulus, tentang pedih, tentang luka, tentang bahagia, yang tabu untuk dipamerkan, dipertontonkan kepada khalayak ramai. Ruang yang hanya bisa di nikmati untuk diri sendiri. Ruang yang terlalu menakutkan untuk dibuka kembali. Ruang yang penuh dengan wajah seorang gadis, cerita seorang gadis, yang berdebu, usang.
Ruang dengan pintu yang tertutup rapat, jendela yang tertutup, tanpa lampu, hanya gelap...hanya gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar