Ida membuka matanya perlahan. Sunyi, sepi, tak ada suara. Ida
melangkahkan kakinya menyusuri lorong panjang, cahaya temaram menghiasi
lorong putih itu. Sunyi, senyap, tak ada suara.
Langkah Ida terhenti
disebuah pintu. Dengan ragu Ida membuka pintu itu perlahan. Suara-suara
mulai menyerang gendang telinganya. Bising.
Ida menatap sebuah
tubuh yang tebaring lemah dalam sebuah ranjang. Selang oksigen, infus
dan alat denyut jantung seakan berkata 'kami yang menyambung hidupnya
saat ini.'
Ida menghela nafas.
'siapa dia?'
Ida melangkahkan kakinya menghampiri ranjang.
Perlahan
disibakan rambutnya yang menutupi matanya, agar dapat melihat dengan
jelas wajah tubuh yang terbaring diatas ranjang tersebut.
Wajah Ida berubah pucat, kaku, tubuhnya bergetar hebat.
Ida mencoba menyentuh wajah tubuh dalam ranjang dan kemudian menyentuh wajahnya sendiri.
Ida mengenalnya, tak mungkin Ida salah. Tubuh itu adalah Dirinya.
Tubuh Ida bergetar kian hebat,
'Apa yang terjadi?'
Ida berusaha keras mengingat apa yang terjadi. Ingatannya terlempar disebuah kenangan.
Malam, sunyi, Ida mencoba menepis sepi dengan menghidupkan messengernya.
Tring..
And13 : Hi Da, tumben online?
Dreamer : Hei.. :)
And13 : senyum aja?
Dreamer : :) :)
And13 : lg Bad mood??
Dreamer : mungkin. :)
And13 : ?? Elo kenapa Da? Ceritalah.
Dreamer : nothing..just missing him. :)
And13 : oh..dia lagi.
Sms lah orangnya. Bilang kl elo kangen
Dreamer : udah. Tp td brantem :)
And13 : brantem kenapa?
Dreamer : Salah gw, gw yang mulai duluan. :(
And13 : hmm..
Seharusnya elo udahin semuanya Da.
Lagipula loe sama dia udah putus lama.
Dreamer : gw masih sayang.
And13 : ya ya ya..
Sampai kapan elo mau nungguin dia?
Sadarlah ! Itu cuma nyakitin diri loe sendiri.
Dreamer : udah lah, ganti topik aja.
And13 : You know something funny?
Dreamer : apa?
And13 : gw sayang sama loe, udah lama.
Dreamer : Dimana lucunya?
And13 : elo ga pernah sadar itu, walaupun gw tau elo masih nungguin dia.
Gw masih tetep sayang sama elo.
Dreamer : itu ga lucu. Itu pathetic !
And13 : kita sama elo juga pathetic!
Dreamer : thanks!
And13 : sampai kapan elo mo nungguin dia?
Dreamer : Ok then. Bye !!
And13 : elo marah? elo tau sendiri kl dia ga akan kembali sama elo.
Klik..
Ida menghapus nickname And13 dari contact list messengernya.
'Gw hapus elo dari hidup gw. Gw ga butuh temen yang ga bisa untuk bener2 temenan.'
Ah..bukan..bukan
hal itu yang harusnya Ida ingat. Ida berusaha memacu otaknya, mengingat
kepingan kenangan yang berputar dipikirannya. Tentang apa yang
sebenarnya terjadi, hingga Ida terbaring seperti ini. Ingatan Ida
kembali melayang ke sebuah kenangan.
"Lihat gw! Sentuh gw! Gw bukan mimpi! Gw NYATA!"
"Elo cuma mimpi, ga akan bisa jadi nyata!"
"Apa selama ini gw diri didepan loe, gw ngomong sama loe, elo sentuh gw, itu semua cuma mimpi buat elo?"
"Iya. Semuanya cuma mimpi."
"HENDRA !! GW NYATA, GA CUMA SEKEDAR MIMPI! LIHAT GW..LIHAT!!"
"Selama ini elo cuma ngasi gw mimpi, elo ga pernah ngelihat gw sama sekali. Sekarang gw sadar kl elo cuma mimpi belaka."
"Gw lihat elo, gw ga pernah menganggap elo mimpi, tp elo ga pernah sadar."
"ELO YANG GA PERNAH SADAR! ELO EGOIS, ELO KERAS, ELO GA PERDULI SAMA GW. APA ARTINYA GW BUAT ELO SELAMA INI DA?"
"DAN SEKARANG ELO NGEBALES SEMUA HAL YG ADA DIPIKIRAN LOE TTG GW? ELO MINTA SEMUA MULAI LAGI DARI AWAL, TAPI LIHAT SEKARANG!"
"Semuanya udah terlambat, elo yang buat gw jadi kayak gini."
"Mungkin kalo gw mati, elo baru sadar kl semua ini bukan tenteng balas dendam, tp ttg mulai semua dari awal lagi!"
Ida berlalu, airmatanya mengalir deras. Semuanya hanya mimpi, benar..semuanya memang hanya mimpi.
Ida membasuh wajahnya yang berurai airmata. Tak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Ida menghapus airmatanya.
'Gw benci airmata.'
Ida
melajukan kendaraannya dengan kencang. Ida, memarkirkan kendaraannya di
sebuah mini market untuk membeli persediaan rokoknya yang mulai menipis
dikamar. Saat Ida melangkahkan kakinya keluar dari mini market, Ida
melihat seorang anak kecil yang terjatuh di pinggir jalan. Ida berlari,
menghampiri sosok anak tersebut. Ida membantu anak itu berdiri. Ida
berusaha menenangkan anak tersebut yang mulai menangis kencang.
Ujung
mata Ida menangkap sesuatu yang melaju kencang, dengan refleks Ida
mendorong anak itu menjauh. Tiba-tiba semua gelap. Suara kendaraan mulai
mengabur, tergantikan oleh jeritan asing dan suara-suara mulai
mengabur.
Ida tersentak, Ditatap tubuhnya yang terbaring lemah diranjang.
Airmatanya seakan berlomba untuk keluar, tapi saat Ida menyentuh
wajahnya, tak ada airmata.
'Inikah rasanya koma?'
Ida memandang
tubuhnya yang terbaring lemah. Disentuhnya perlahan wajah tubuhnya yang
pucat. Dilayangkan pandangannya mengitari ruangan. Tak ada satupun
keluarga yang menungguinya saat ini.
Sudah sebulan sejak kejadian itu.
Sudah sebulan Ida terbaring koma disini. Apakah selama sebulan ini terus
seperti ini?
'Apa yang harus aku lakukan?'
Ida tersentak saat merasakan sentuhan halus dipundaknya. Ida menoleh, dan menatap sesosok lelaki yang tersenyum kearahnya.
"kamu siapa?", tanya Ida. Tetapi lelaki itu hanya tersenyum lembut kepadanya.
"Apakah kamu juga hantu seperti aku?".
"Aku bukan hantu dan Aku juga bukan manusia."
"Malaikatkah?", ujar Ida terkesima.
"Mungkin dan mungkin juga Aku adalah iblis."
Ida tersentak saat lelaki itu menjawab pertanyaannya. Ditatapnya lelaki itu dengan ragu.
'Malaikat
itu bersinar, tetapi lelaki itu tidak. Iblis itu menakutkan, tetapi dia
tidak. Hufhh..okelah gw belum pernah liat wujud Malaikat dan Iblis.
Tapi bukannya di semua cerita Iblis & Malaikat digambarkan begitu?!
Kl dia bukan Iblis, Malaikat ataupun Hantu lalu?'
Lelaki itu tersenyum dan kemudian berkata, "Aku cuma salah satu makhluk kasat mata ciptaan Tuhan."
Ida tersenyum masam mendengar kata yang dilontarkan lelaki itu.
"Aku disini hanya untuk menemanimu."
"Menemani Aku? Untuk apa?"
"Untuk melihat."
"Aku tidak buta."
Lelaki itu tersenyum kembali dan berkata, "Bukan secara harafiah, tetapi menggunakan hati."
Jujur
saat ini Ida diliputi oleh kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa yang ingin Dia perlihatkan kepada Ida?
Banyak
pertanyaan yang berputar di pikirannya. Seakan Lelaki itu dapat membaca
apa yang Ida pikirkan, lelaki itu berkata, "Hanya waktu yang bisa Aku
berikan. Agar kamu bisa benar-benar melihat."
Ida menolak tegas,
saat ini Ida hanya ingin berada disini, dikamar ini, bersama tubuhnya
yang sekarat. Tetapi lelaki itu tak juga jera. Selama seminggu ini,
lelaki itu terus muncul, hanya duduk, tersenyum dan memandang Ida yang
tak mau pergi dari sisi ranjang.
Hingga akhirnya Ida menyerah, dan berkata.
"Oke, Mau loe apa sebenernya?"
"Ikut aku..", ujar pria itu sembari tersenyum.
"Gw ga mau. Gw mau disini, nemenin diri gw sendiri."
"Kenapa?"
"Karena
engga ada satupun selama seminggu ini keluarga gw ada buat nungguin gw.
Setidaknya biar tubuh gw engga ngerasa kesepian."
"Tubuh itu cuma tubuh, hati dan perasaan hanya ada di kamu seorang. Ikut Aku, agar kamu dapat melihat dengan hatimu."
"Emangnya apa sih yang mau elo tunjukin ke gw?"
Lelaki
itu mengulurkan tangannya ke Ida. Dengan ragu Ida mengamit tangan
lelaki itu. Perlahan rasa nyaman seakan mendekap Ida dengan lembut. Ida
terbuai dalam rasa nyaman yang sudah lama tidak dirasakannya. Langkahnya
terasa ringan saat Ida menyusuri lorong bersama lelaki itu.
Mereka tiba di taman rumah sakit.
"Matahari hari ini indah ya?", ujar lelaki itu.
Ida
mendongakkan kepalanya, mencoba memandang matahari. Tak ada silau, tak
ada sakit yang menyerang mata. Matahari terlihat jelas di matanya.
Sesuatu yang tidak pernah Ida lihat selama hidupnya dengan mata
telanjang, dan kini Ida dapat melakukannya.kemudian Ida hanya mengangguk
pelan.
Lelaki itu mengamit tangan Ida yang masih terpaku
memandang matahari. Pemandangan terlihat mulai mengabur, seperti mereka
berjalan melintasi ruang waktu dengan kecepatan tinggi.
Mereka berhenti di sebuah ruangan. Ruangan yang tak asing untuk Ida.
"Ma, hari ini tolong jenguk Ida dirumah sakit."
Suara itu mengejutkan Ida, Dipalingkan wajahnya, berusaha mencari asal suara tersebut, suara papanya.
"Papi
kan tau, hari ini Mama sibuk, kerjaan Mama tidak bisa ditinggalkan.
Kenapa bukan Papi aja yang jenguk Ida, itu kan anak Papi bukan anak
Mama."
Ida terhenyak saat mendengar kata2 itu, Matanya menatap sosok mamanya yang muncul dari balik pintu.
"Ma,
Ida anakmu juga, bukan hanya anakku. Hari ini Aku harus keluar kota.
Ah..mungkin aku bisa menyempatkan waktu sebentar saja untuk
menjenguknya."
"Ida bukan anakku, dia anak kamu dengan mantan istrimu
yang dulu. Aku mencoba menyayangi dia seperti anakku sendiri, tapi Ida
tidak pernah menganggapku sebagai Mamanya."
"Tapi setidaknya Ma, jenguklah Ida walau hanya sekali. Hanya Ida anak kita satu2nya." ujar papa lirih.
Ida
merasakan hatinya perih. Mungkin apa yang dikatakan oleh Tante Mira
benar. Berapa kali Tante Mira berusaha mendekatkan dirinya kepada Ida,
tetapi Ida selalu menolak. Baginya Tante Mira tidak akan bisa menjadi
Mamanya, Baginya Tante Mira hanyalah wanita perusak rumah tangga mama
dan papanya. Dan Ida selalu menolak saat Papa-nya meminta Ida untuk
memanggil Tante Mira dengan sebutan Mama.
Ditatapnya sosok
Papa-nya yang muncul dari balik pintu kamar mandi. Gurat-gurat halus
mulai muncul diwajahnya. Ingin rasanya Ida memeluk Papa-nya, tetapi saat
Ida berusaha menyentuh, Ida hanya menembus sosok papa-nya.
Lelaki itu mengelus rambut Ida perlahan dan mengamit kembali jemari Ida.
"Ayo kita pergi dari sini."
Mereka pun berlalu. Ida kembali merasakan sensasi nyaman dalam dirinya.
"eh, elo siapa sih sebenernya? Ya kalo ga mau bilang, setidaknya elo
kasi tau nama loe. Biar gw enak manggilnya. Kan ga mungkin elo gw
panggil eh eh terus."
"Aku ga punya nama."
"lho, kok gitu? Nama gw Sefrida Ananta Setiani, elo bisa panggil gw Ida."
"iya, aku tau."
"uh..nama loe siapa?"
"Kamu bisa panggil Aku sesuka hati kamu."
"mmmm...kalo gitu, mulai sekarang elo gw panggil Fahmi ya?!"
"Nama yang bagus." ujar lelaki itu sembari tersenyum.
"Sekarang kita mau kemana nih?"
"Lihat saja nanti."
Ida
memejamkan matanya saat pemandangan mulai mengabur karena kecepatan
yang kian lekat. Tapi perasaan nyaman itu tak kunjung hilang. Ida
semakin terbuai, berharap saat ini waktu dapat berhenti.
Langkah
mereka terhenti disebuah kamar. Ida melihat sekeliling, ujung matanya
terhenti disebuah pigura yang bertengger di atas rak buku.
'Hendra..'
Ida melepaskan genggaman Fahmi dari tangannya. Melangkahkan kakinya dan menyetuh photo Hendra.
'ah..andai aku dapat menyentuh..'
Ida
melihat sebuah agenda tergeletak setengah terbuka disamping pigura. Ida
dapat melihat tulisan dan sebuah photo dalam agenda tersebut.
Hatinya
tergelitik ingin membaca isi agenda tersebut. Tapi apa daya, Ida tak
dapat menyentuh apapun. Hanya Fahmi yang dapat Ida sentuh.
"Sini Aku bantu."
Fahmi perlahan mengambil Agenda tersebut. Membukanya perlahan.
Ida terkesiap melihat ternyata photonya terpasang disana. Dibacanya perlahan tulisan-tulisan itu.
'Kamu..kamu hanya mimpi..mimpi indah yang aku inginkan menjadi sebuah kenyataan.
Kamu..kamu adalah cinta..tapi hanyalah cinta dalam mimpi..
Apakah kamu tau..seberapa besar perasaan ini?
Kamu..kamu mengambil semuanya..
Dan pergi..
Membawa harapan, cinta dan mimpiku.
Jika membenci semudah itu..
Aku ingin membencimu..
Tapi ternyata..cinta ini membutakan aku..
dan mengalahkan rasa benciku padamu.
Lihatlah aku..
Bodohkah aku..?
apa aku yang terlalu larut dalam mimpiku..
atau aku yang memang tak pantas untuk menggenggam hatimu?'
Andai
saja Ida dapat mengeluarkan airmata, mungkin saat ini airmata Ida sudah
deras mengalir. Ida memalingkan wajahnya, mencoba menghapus luka
dihatinya yang kian menganga lebar.
Apa itukah yang Hendra rasakan?!
Apa Hendra juga tau apa yang dirasakannya tak jauh berbeda?
Apa yang salah disini?
Apaaaa?????
Ingin rasanya Ida berteriak kencang hanya untuk mengeluarkan beban yang dirasakannya saat ini. Tapi apakah semua ada gunanya?!
Fahmi meletakkan agenda tersebut kembali pada tempatnya. Kemudian Fahmi merengkuh Ida ke dalam pelukannya.
Pelukan Fahmi begitu hangat, seakan menghapus semua kepedihan yang Ida rasakan saat ini.
"Lebih baik kita kembali kerumah sakit.", ujar Fahmi.
Ida mengangguk perlahan.
Mereka kembali melangkah, dan Fahmi tak juga melepaskan pelukannya.
Ida merasa tentram dan damai. Tetapi pikirannya tak juga berhenti menyiksanya.
'Andai waktu dapat kembali pada saat itu. gw mau mulai semuanya dari awal.'
Ida merasakan tubuhnya melayang. Ditatapnya Fahmi yang masih mendekapnya
erat. Sesampainya dirumah sakit. Dekapan Fahmi mengendur dan lepas. Ida
menatap Fahmi.
"Makasi ya hari ini."
Fahmi hanya tersenyum.
"Sama-sama."
"eh iya, tadi waktu ditempat Hendra, elo bisa nyentuh barang. Elo bisa nyentuh yang lain gitu?", tanya Ida heran.
"Iya, Aku bisa menyentuh benda berwujud."
"oh...enak ya..?! Tapi kenapa gw ga bisa kayak gitu?."
"Karena aku dan kamu berbeda Ida?."
"Apanya
yang beda? Elo bukan manusia, elo juga bukan hantu. Gw juga bukan hantu
kan?! Buktinya tubuh gw masih bernyawa disana.", ujar Ida sembari
menunjuk tubuhnya yang terbaring koma diatas ranjang.
"Nanti..ada saatnya kamu akan tau siapa aku.", Fahmi tersenyum dan kemudian menghilang.
Ida memonyongkan bibirnya saat menyadari Fahmi hilang dari pandangannya.
'huhh..susah amat sih hanya untuk bilang dia itu siapa?! Bikin penasaran aja.'
Ida
tersentak saat derit pintu mengganggu lamunannya. Papa Ida berdiri
didepan pintu dan melangkah perlahan. Hati Ida bergetar, ingin memeluk
Papa-nya.
Rindu..rindu..rindu..rindu..
Perlahan Papa Ida melangkah menuju ranjang, membelai rambut Ida yang tergerai diatas bantal dan mengecup keningnya perlahan.
Ida seakan merasakan kebuah kecupan hangat dikeningnya saat Papa mengecup kening tubuhnya yang terbaring koma.
"Cepat sembuh sayang, cepat sadar dari tidurmu..papa rindu gelak tawamu. Papa rindu anak kesayangan Papa."
Ida dapat melihat Papa-nya menitikkan Airmata.
Ida terhenyuh
'Ida juga kangen Papa.', ujar Ida lirih.
Setelah meletakkan beberapa kuntum mawar putih ke dalam vas, Papa Ida mengecup kembali kening Ida.
"Papa
bawakan bunga kesukaan kamu. Maafkan Papa sayang. Hari ini Papa belum
bisa menemani kamu dirumah sakit. Papa harus keluar kota untuk beberapa
hari."
Papa membelai lembut kening Ida, dan kemudian melangkah pergi.
Ida
menatap punggung papanya dari pinggir ranjang. Apa pekerjaan memang
lebih penting daripada dirinya? Ida hanya berharap, sekali saja, hanya
untuk kali ini, Papanya lebih mengutamakannya dibanding pekerjaan.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Itu hanyalah harapan yang tak mungkin terjadi.
Ida
menatap jarum jam yang berdetik didinding. Dan memandang tubuhnya yang
terbaring koma. Perasaan kasihan menyeruak dihatinya.
'kasihan
ya loe..udah seminggu gw disini, tapi yang gw liat cuma suster dan
dokter yang lalu lalang ke kamar loe. Dan baru hari ini gw liat bokap
kesini, dan itupun cuma sebentar. Sebenernya ada dan engga ada elo,
semua tetep sama aja. Engga ada yang berubah dan engga ada yang ngerasa
kehilangan.'
Ida memalingkan wajahnya dari ranjang, melangkah menuju jendela dan
menatap keluar. Kerlip lampu menghiasi langit yang mulai gelap. Rembulan
dengan malu-malu menampakkan wujudnya, sinarnya lembut dan sedih.
Seperti hati Ida saat ini.
Ida terkejut oleh suara derit pintu.
Ida menoleh dan menatap sosok Tante Mira yang melangkah kesisi tubuhnya
yang koma diatas ranjang. Tante Mira membelai lembut rambut Ida yang
terurai.
"Maaf sayang, Mama..eh..tante baru bisa jenguk kamu lagi."
Tante Mira menyeret sofa yang berada diujung ruangan ke dekat ranjang.
"Ah,
Rupanya hari ini, papa menyempatkan dirinya untuk menjengukmu." ujar
tante Mira setelah melihat rangkaian mawar putih yang terangkai indah di
atas meja. Tante Mira tersenyum.
"Kamu tau sayang? Dokter
mengatakan bahwa jika ada seseorang mengajakmu berbicara, walaupun kamu
ada dalam keadaan koma sekalipun, kamu dapat mendengar.
Sudah seminggu lebih mama..eh..tante tidak berbicara denganmu.
Maaf, tante sibuk mengurus kerjaan tante.
Uh..sebenarnya agak janggal mama..eh..
Ah..sudahlah..
Tante sayang kamu Ida..
Ingin sekali Tante mendengar kamu memanggil dengan sebutan Mama.
Tante sudah anggap kamu sebagai anak Tante sendiri.
Tapi kamu selalu menolak.
Kadang itu sangat menyakitkan buat tante.
ahh..kenapa tante malah curhat sama kamu?!" Tante mira tersenyum, tetapi ida dapat melihat mata tante Mira yang berkaca-kaca.
"Hari ini, rumah masih tetap sepi tanpa ada kamu.
Papamu masih saja sibuk dengan urusan kantornya.
Kadang tante kagum dengan kamu yang bisa mengerti keadaan papamu yang selalu sibuk dan jarang dirumah.
Tante Mira kadang ngambek sama Papamu..hehehe..mungkin tante memang kekanakan..tapi tante kesepian sayang..
Ah...kenapa tante jadi curhat lagi.."
Ida
menatap tante Mira yang berbicara dengan tubuh Ida yang koma.
Didengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Tante Mira secara
perlahan.
Sekejam itukah Ida terhadap Tante Mira?
Selama
ini, Ida hanya menganggap Tante Mira penuh kepura-puraan. Tak pernah
tulus. Karena sakit hati lebih menguasainya dari waktu ke waktu. Saat
Ida menghadapi perceraian orangtuanya karena orang ketiga diantara
mereka. Dan orang ketiga itu adalah Tante Mira.
"Tante bingung harus cerita tentang apa lagi.", mata tante Mira terlihat menerawang.
"Apa kamu mau mendengar awal pertemuan tante sama papamu?
Papamu dulu sering datang kerestoran tante untuk makan siang, sama rekan-rekan kerjanya.
Tante melihat kalau papamu orangnya cukup kikuk.
Anehnya wibawanya terpancar dari dirinya.
Tante berteman dengan Papamu semenjak papamu tak sengaja menjatuhkan saus steak ke baju tante.
Waktu itu, wajah papamu dipenuhi dengan rasa bersalah sayang.
Lucu,
tante melihatnya Papamu seperti remaja yang tertangkap basah melakukan
kesalahan oleh gurunya saat itu." Tante Mira tertawa kecil dan meneguk
air mineral yang ada digenggamannya.
"semenjak saat itu Tante Mira berteman dengan Papamu.
Papamu sering bercerita tentang kamu..
Anak gadis satu-satunya yang sangat dia sayangi.
Papamu bercerita tentang mamamu..
Wanita yang dia cintai saat itu.
Tante berteman dengan Papamu selama 2 tahun. Tak pernah sekalipun Tante dan papamu bertemu ditempat lain.
Hanya direstoran pada saat makan siang.
Bagi tante, pertemanan itu hanya seperti tante yang pemilik restoran dan Papamu adalah pengunjung tetapnya.
Tak lebih.
Tante terbiasa mendengar cerita-cerita pengunjung yang datang.
Waktu itu, tante hanya punya satu restoran.
Tante sempat tidak berbincang dengan papamu selama hampir 8 bulan karena Tante sibuk mengurus pembukaan cabang restoran tante.
Saat tante bertemu kembali dengan Papamu, wajahnya terlihat sedih.
Awalnya papamu hanya terdiam dan berusaha menceritakan tentang pekerjaannya.
Tapi saat Tante bertanya tentang kabar keluarga kalian,
Wajah papamu terlihat sangat sedih.
Dan akhirnya papamu bercerita tentang masalah rumah tangganya.
Tante hanya bisa berempati.
Dan dua bulan kemudian papamu datang kerestoran dan bercerita bahwa papa dan mamamu telah bercerai.
Itulah pertama kalinya tante melihat papamu menangis dihadapan tante.
Sebulan
setelah perceraian itu, Mamamu datang ke restoran tante..memaki-maki
tante..mengatakan bahwa tantelah perusak rumah tangga mereka.
Saat itu juga pertama kalinya tante bertemu kamu..", Tante Mira terlihat menerawang jauh.
Ida mencoba mengingat kenangannya sendiri.
Saat
itu Ida berumur 15 tahun. Tiba-tiba saat pulang sekolah mama
menjemputnya. Wajah mamanya saat itu dipenuhi dengan amarah. Saat mereka
tiba di sebuah restoran, Ida melihat mamanya menghampiri seorang
wanita. Mama menampar wanita tersebut, jeritan..makian mama terdengar
jelas saat itu. Ida melerai dan menyeret mamanya pergi. Mama menangis
didalam mobil, berkata bahwa wanita itu yang membuat mama bercerai
dengan papa. Papa yang berselingkuh dengan wanita penggoda. Papa yang
selama ini begitu dibanggakan oleh Ida dan sosok kebanggaannya mulai
tergantikan oleh rasa kecewa.
"Kamu tau sayang, papamu tidak pernah sekalipun berselingkuh,
Tante akui bahwa papamu seorang pria yang tampan dan pasti banyak wanita yang tertarik kepadanya.
Tetapi untuk berselingkuh, papamu tak akan terbersit keinginannya untuk itu.
Banyak hal yang papamu sembunyikan darimu..tentang mamamu..
Papamu tidak ingin kamu membenci mamamu.
Karena tante tau, jauh dilubuk hatinya, papamu masih menyayangi mamamu.", Tante Mira tersenyum masam.
"Sejujurnya, alasan papamu bercerai dengan mamamu..
Karena mamamu berselingkuh dengan rekan kerja papamu.
Dan papamu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Dan ternyata hal itu terjadi berulang kali..dengan orang yang sama.
papamu diam dan memaafkan mamamu karena mamamu menangis dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Papamu memikirkan kamu..
Tapi saat itu perselingkuhan kembali terjadi, dan papamu melihatnya sendiri.
Akhirnya papamu memutuskan untuk bercerai.
Papamu tau kamu kecewa saat itu terhadapnya. Tapi papamu tak ingin membebanimu dengan semua kenyataan itu."
Ida tersentak, benarkah itu semua?
Seingat
Ida, memang ada salah seorang rekan kerja papa yang sering berkunjung
kerumah. Dan kebetulan dia adalah teman mama sewaktu kuliah dulu.
Sehingga
Ida tak menghiraukan jika saat pulang kerumah, Pria itu juga beberapa
kali berada dirumah, berbincang dengan mamanya diruang tengah.
Lalu..mana
yang harus dia percaya. Semua hal yang dianggapnya benar selama 7 tahun
ini, bahwa papanya berselingkuh seakan menjadi absurd.
Tante
Mira masih saja berceloteh, tetapi Ida tak dapat mendengarkan dengan
jelas. Pikirannya mulai kacau seakan serpihan kenangan mulai mengikatnya
kuat dan Ida merasa sesak dihatinya.
"Setahun setelah perceraian itu, Papamu meminta Tante untuk menikah dengannya.
Dengan cara yang teramat lucu..
Papamu berdiri didepan tante.. Wajahnya memerah..
Dan berkata 'menikahlah denganku'
anehnya
saat itu tante hanya bisa terdiam, selama 33 tahun tante hidup, tak
pernah ada seorang priapun yang berkata ingin menikahi tante.
Papamu hanya menatap tante dengan wajahnya yang memerah.
Setengah jam berlalu dalam kesunyian.
Dan akhirnya tante mengangguk..
Mengiyakan lamaran papamu.", Binar mata Tante Mira saat ini terlihat begitu indah, seakan penuh dengan cinta.
'Tante
Mira cantik, penyabar dan hebat..sekarang gw mengerti mengapa papa
memilihnya sebagai pengganti mama. Walaupun mama memang tak akan pernah
tergantikan dihati gw maupun papa.'
Ida menatap Tante Mira yang tertidur sembari menggenggam jemari Ida yang terbaring diatas ranjang.
Tiba-tiba Ida merasakan sentuhan hangat dipundaknya. Ida menoleh menangkap sosok Fahmi yang berdiri disebelahnya.
"Fahmi?"
"Sudah cukupkah kamu melihat?"
"Iya, gw sekarang tau semuanya."
"Sekarang semua tergantung kamu."
"Maksud loe?"
"Sekarang
semua terserah apa keputusan kamu, ingin melanjutkan hidupmu atau
berhenti sampai disini.", ujar Fahmi sembari tersenyum.
"Tapi gw sekarat disana!", Ida berkata dengan suara tercekat sembari menunjuk ke ranjang.
"Semua
tergantung Kamu. Kamu tak dapat kembali jika keinginanmu untuk hidup
pun tak ada. Dan itu yang terjadi denganmu selama ini."
Ucapan Fahmi
membuat Ida tertegun. Memang selama ini rasa enggan untuk kembali
kerumah atau apapun itu mengukung Ida untuk tetap seperti ini.
'kalau
gw cuma mimpi dan ga bisa menjadi kenyataan, biarlah semua tetap
seperti ini. Biarlah gw cuma bisa menjadi mimpi selamanya.'
Ida
menatap Fahmi yang masih menatapnya denga tatapan itu. Tatapan yang
seakan menentramkan jiwanya. Nyaman..damai..seakan menghapuskan segala
keresahan hatinya..seakan memeluknya kedalam perasaan kasih yang tulus.
"Kasi gw waktu sebentar lagi. Gw masih butuh sedikit waktu lagi."
Ida menatap Fahmi dengan ragu. Dan kemudian berkata, "Tolong antar gw ke suatu tempat. Tempat dimana dia berada."
Fahmi tersenyum dan mengamit jemari Ida yang terulur kearahnya.
Mereka kembali melangkah, menembus waktu..menembus malam.
Ida melihat sosok Hendra yang terduduk diam dikamarnya. Sosok Hendra terlihat sedih.
"Ida..gw
kangen..tapi gw ga tau apa yang harus gw lakukan lagi..kalau yang
namanya cinta sesakit ini, gw ga mau mencintai elo. Tapi kenapa gw ga
bisa berhenti? Gw mau elo jadi kenyataan, apa segitu sulitnya? Apa gw ga
bisa jadi kenyataan buat elo? gw emang pengecut, ga bisa ngeliat elo
terbaring disana. Ga ga kuat kalo gini terus-terusan. apa jadinya kalo
elo ga ada lagi?! Gimana gw menjalani hidup gw? Semuanya kosong dan ga
berarti. Gw bisa ketawa diluar sana. Tapi hati gw engga. Tuhan, apa elo
emang bener-bener ada?"
Hendra menangis tanpa suara. Dan Ida pun
menangis dalam hatinya. Direngkuhnya Hendra kedalam pelukannya, walaupun
Ida tau itu akan menjadi hal yang sia-sia, karena Ida tidak dapat
menyentuh.
'Tuhan..tolong sekali ini saja..izinkan gw buat merasakan..', jerit Ida dalam hati.
Hangatnya tubuh Hendra dipelukannya menghangatkan tubuh Ida.
'Terima kasih Tuhan..terima kasih.' dan Ida pun menangis.
**
Fahmi menatap Ida yang berdiri dihadapannya.
"Fahmi, makasi ya buat semuanya. Sekarang gw sadar dan gw tau apa yang harus gw lakuin."
Fahmi tersenyum,
"eh..Fahmi..apa kita bisa ketemu lagi?"
"Ada saatnya nanti kita bisa ketemu lagi..ada saatnya nanti."
Fahmi
mengecup lembut kening Ida. Ida memejamkan matanya dan beberapa saat
kemudian Ida merasakan tubuhnya bagai tersedot lubang hitam.
***
Matahari
mengintip malu-malu dari balik jendela rumah sakit. Ida mengerjapkan
matanya perlahan, ujung matanya menatap sosok Tante Mira yang masih
tertidur disisian ranjang. Ida melepaskan jemarinya yang digenggam
hangat oleh Tante Mira. Tangannya membelai lembut rambut Tante mira yang
terurai..hangat.
"Mama..", ujar Ida lirih.
Tante Mira terbangun
dan menatap Ida dengan terkejut. Seketika Tante Mira menangis melihat
Ida yang telah membuka matanya. Tante Mira memeluk erat tubuh Ida.
Hangat..seperti hangatnya pelukan seorang Ibu.
"Mama..", ujar Ida kembali.
"Ini Tante sayang.."
"Iya..tante Aku yang sekarang menjadi Mamaku."
Tante Mira menatap Ida dan kemudian memeluknya kembali. Airmata terus mengalir deras dikelopak matanya yang indah.
"Iya sayang..Aku mama kamu..mamamu.."
Tante Mira melepaskan pelukannya dan bergegas memanggil dokter.
****
Seorang bayi laki-laki mungil berada dipelukan Ida saat ini.
Tatapan hangat dan senyumnya yang menghangatkan hati Ida. Ingatan Ida
terlempar kesebuah kenangan 4 tahun lalu yang mulai memudar. Tentang
seorang lelaki..yang mempunyai senyuman seperti ini, matanya, bibirnya
dan saat Ida mendekap bayi mungil itu, Ida seakan kembali merasakan hal
yang sama saat lelaki itu mendekapnya erat.
"Mau kamu beri nama apa anak kita sayang?"
Ida
menatap sosok suaminya yang berdiri disisi ranjangnya..sosok suami yang
sangat Ida cintai dengan sepenuh hati. Kemarin, esok dan
seterusnya..Hendra.
"Fahmi..namanya Fahmi..", ujar Ida tersenyum dan mengecup lembut tubuh bayi mungilnya.
Kemudian Ida berbisik lembut,
'kamu benar..ada saatnya nanti kita bisa ketemu..ada saatnya nanti..'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar